Because, I Love You

Because, I Love You
#70



Kirana terbelalak mendengar ucapan Rendy yang menurutnya sangat tidak masuk akal dan membuatnya sangat kesal. "Kamu ini kenapa sih selalu ngomong sembarangan?!"


Kirana kemudian melangkah kearah pintu dan membukanya lalu masuk begitu saja tanpa mempersilahkan Rendy masuk.


Rendy menghela nafasnya kemudian berbalik dan masuk kedalam lalu menarik tangan Kirana hingga Kirana berbalik dan menatapnya.


"Lepasin!" Pekiknya sambil menghempaskan tangan Rendy.


"Liat kamu marah gini, aku jadi yakin kalo yang aku katakan tadi memang benar." Ucap Rendy yang membuat Kirana semakin kesal dan ingin marah.


Tapi, diluar sana masih ada Bunda Siti yang dari tadi masih memperhatikan kearah rumahnya. Kirana pun hanya bisa diam saja tidak ingin ribut dengan Rendy yang pasti akan menarik perhatian Bunda Siti nantinya.


"Kenapa diem? Nggak bisa jawab? Aku bener kan?"


"Cukup Mas! Aku capek, nggak mau ribut sama kamu. Lagian, kamu kenapa sih suka banget bikin aku kesel? Nyebelin!" Ucap Kirana dengan kesal.


Rendy menghela nafasnya. Entah mengapa dia suka melihat Kirana mengomel seperti ini kepadanya. Mungkin karena Kirana mirip dengan adik perempuannya yang cerewet dan mudah marah.


"Sebenernya aku kesini cuma mau liat keadaan kamu. Tapi, keliatannya kamu udah sehat." Ucap Rendy yang masih berdiri sambil memperhatikan Kirana.


"Aku udah baikan." Ucap Kirana acuh.


'Tok Tok Tok!'


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Rendy dan Kirana menoleh bersamaan kearah pintu.


"Maaf mengganggu." Seru Bunda Siti yang penasaran dengan Rendy.


"Bunda?" Seru Kirana sedikit terkejut lalu menghampiri Bunda Siti.


Rendy hanya berdiri diam, ingin tau ada keperluan apa lagi ibunya Haris ini.


"Ayo Bun masuk dulu." Kirana mempersilahkan Bunda Siti masuk dan Bunda Siti melangkah masuk kemudian melihat Rendy.


"Kamu temennya Kirana ya?" Tanya Bunda Siti ingin memastikan.


Kirana seketika terpaku sesaat dan merasa cemas. Cemas kalau Rendy mengatakan dirinya adalah pacarnya.


"Saya..." Rendy melirik sekilas Kirana. "Saya pacar Kirana, Bu. Salam kenal, nama saya Rendy." Lanjutnya dengan ramah dan tersenyum memperkenalkan diri.


"Pacar?" Bunda Siti melotot karena terkejut kemudian menoleh kearah Kirana yang juga terbelalak terkejut mendengar ucapan Rendy.


"Eeeh enggak enggak! Bukan! Dia cuma temen aku kok Bun!" Pekik Kirana dengan cepat tidak mau mengakui Rendy sebagai pacarnya.


Rendy hanya terus menatap Kirana dan senyumnya langsung menghilang. Hatinya kecewa.


Meski dia selalu ingat dengan persyaratan yang diberikan Kirana kepadanya, tapi Rendy memang sengaja mengatan itu. Dia tidak peduli dengan syarat yang diberikan Kirana.


"Kirana, jujur sama Bunda!" Ucap Bunda Siti dengan menatap Kirana.


Kirana menyadari tatapan Rendy kepadanya. Dia merasa bingung. Tapi, dia juga merasa sangat kesal. Kenapa Rendy melanggar persyaratan yang diberinya?


Kirana memegang kedua tangan Bunda Siti dan menatapnya untuk meyakinkannya. "Bunda, Kirana masih belum mau punya pacar. Kirana lagi fokus kerja ngumpulin uang buat Ibu dikampung. Biar Ibu bisa berhenti kerja dan dateng kesini lagi."


Bunda Siti mengangguk sedikit tersenyum dan mempercayai Kirana. "Bunda percaya sama kamu. Bunda selalu berharap, kamu cuma akan bersama dengan Haris nantinya." Ucap Bunda Siti dengan serius sangat mengejutkan Kirana.


Rendy yang terus memperhatikan mereka hanya memicingkan matanya dan wajahnya semakin dingin. Hatinya memanas. Meskipun dia masih bimbang dengan perasaannya terhadap Kirana, tapi dia merasa tidak rela jika Kirana dekat dengan laki-laki lain.


Kirana sekilas melirik pada Rendy dan dia menyadari perubahan wajah Rendy yang menjadi tidak enak dilihat.


"Emm..maksud Bunda apa ya?" Tanya Kirana dengan perasaan yang tidak enak.


"Nanti saja Bunda jelasinnya. Bunda ada urusan. Bunda pergi dulu ya." Jawab Bunda Siti sambil mengusap sisi wajah Kirana dengan tersenyum. "Mari nak Rendy." Imbuhnya dengan ramah dan Rendy sedikit mengangguk kemudian Bunda Siti berbalik dan pergi.


Kirana menoleh menatap Rendy dan Rendy juga menatapnya dengan wajah dingin.


Tentu saja Rendy sangat mengerti maksud dari perkataan Bunda Siti tadi. Bunda Siti sengaja mengatakan itu kepada Kirana didepannya, mungkin untuk memberi peringatan kepadanya kalau Kirana hanya akan bersama dengan Haris.


"Mas, kamu kenapa bilang kalau kamu pacar aku sih?" Tanya Kirana.


Rendy hanya diam dan terus menatapnya dengan dingin. Kirana yang merasa kesal dan ingin marah malah menjadi takut melihat sorot mata Rendy yang seperti ini.


Kirana menggigit bibir bawahnya dan meremas ujung kaosnya.


Batin Kirana kemudian mamalingkan wajahnya menatap kearah lain.


Rendy menghela nafasnya sambil memalingkan wajahnya. Dia ingin sekali marah tapi dia menyadari kalau dia tidak berhak untuk marah. Hubungannya dengan Kirana masih belum jelas.


Rendy berjalan ke samping dan duduk di sofa lalu menatap Kirana. "Duduk sini. Aku mau ngomong sama kamu." Ucap Rendy terdengar lembut dan serius.


Seketika Kirana menoleh menatapnya. Wajah Rendy sudah berubah dan tidak ada kemarahan lagi diwajahnya yang tampan. Kirana pun duduk disampingnya.


"Bisa kamu jelasin ke aku, sebenernya hubungan kamu sama Haris gimana sih?" Tanya Rendy dengan menyerongkan tubuhnya menghadap Kirana.


"Kan aku pernah bilang, aku sama kak Haris nggak ada hubungan apa-apa. Kita emang deket karena udah kenal dari kecil. Aku udah anggep dia kakakku sendiri." Jawab Kirana apa adanya. Karena memang begitulah perasaan Kirana terhadap Haris.


"Terus? Kenapa ibunya ngomong gitu tadi?" Tanya Rendy lagi.


"Aku juga nggak tau kenapa Bunda Siti ngomong kayak gitu." Jawab Kirana dengan mengerucutkan bibirnya.


"Aku cuma nggak mau jadi orang ketiga dan merusak hubungan orang." Ucap Rendy sambil meluruskan posisi duduknya lagi dan termenung.


Mendengar ucapan Rendy barusan, Kirana jadi teringat dengan cerita Rendy yang dikhianati Olivia.


Mungkin Rendy masih merasa sakit hati dan kecewa. Hubungan mereka berakhir karena adanya orang ketiga yang merusaknya.


"Mas?" Kirana memanggil Rendy sambil menyentuh tangannya dan Rendy menoleh menatapnya. "Emm..aku buatin minum dulu ya?"


Merasa bingung mau bilang apa dan Kirana menawarkan minum untuk Rendy.


"Nggak usah. Kamu siap-siap aja. Aku mau ngajak kamu ke konferensi pers sore ini." Ucap Rendy


"Konferensi pers? Apa kamu mau ngumumin tentang hubungan kita?" Tanya Kirana dengan terbelalak sedikit panik.


"Iya." Jawab singkat Rendy.


"Mas! Apa kamu lupa dengan syarat yang aku buat untuk kamu?"


"Aku nggak lupa. Mungkin kamu yang melupakan sesuatu."


"Apa maksud kamu?"


Rendy menyerongkan lagi posisi duduknya menghadap Kirana dan menatapnya serius.


"Pertama, aku belum mengatakan kalo aku setuju dengan syarat kamu. Kedua, kamu nggak minta aku tanda tangan sebagai tanda bukti kesepakatan diantara kita." Ucap Rendy dengan menyeringai.


Kirana melotot kepadanya lalu memukul lengan berotot Rendy. "Iiiih! Kamu tuh ya..aku jadi merasa lagi dijebak kalo gini!"


"Kamu udah tanda tangan dan kamu nggak bisa mengelak lagi." Ucap Rendy dengan tersenyum lebar.


"Kalo gitu kita putus aja! Kamu cari perempuan lain sana!" Kirana mejadi kesal dan ingin marah.


Rendy terkekeh mendengarnya. "Ada lagi yang mungkin kamu lupa, atau mungkin kamu nggak baca semua isi persyaratan dari aku."


"Apa?"


Rendy merogoh saku jasnya dan mengambil lipatan kertas yang didalamnya ada tulisan tentang persyaratan darinya yang sudah ditanda tangani oleh Kirana.


Rendy membuka lipatan kertasnya lalu memberikannya pada Kirana.


Kirana menerimanya dan membacanya dengan teliti semua tulisan didalam kertas tersebut.


Ini memang persyaratan yang pernah dibaca olehnya dan ada tanda tangannya dibawah. Kirana terbelalak ketika melihat ada tambahan syarat dibagian bawah.


"Ini..apa-apaan ini? Kenapa kemarin aku nggak liat ada syarat seperti ini?" Pekik Kirana bertanya sambil menoleh menatap Rendy. "Ini pasti akal-akalan kamu kan Mas?!" Pekik Kirana merasa tidak terima.


"Akal-akalan gimana? Itu salah kamu sendiri karena kamu nggak teliti dan gegabah." Jawab Rendy dengan mengerutkan alisnya. "Sekarang udah jelas? Cepat sana mandi! Aku tunggu kamu." Lanjut Rendy sambil merebut kertas persyaratan dari tangan Kirana dan melipatnya lagi lalu dia simpan disaku jasnya kembali.


Kirana mendengus kesal tapi dia juga tidak bisa menolak. Hanya mengepalkan tangannya menahan segara rasa didalam hatinya Yang bercampur aduk. Dia segera beranjak unuk mandi.


Rendy menyunggingkan senyumnya merasa menang.


................