Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 130



"Tante, tante baik-baik saja?" Ucap Abel membangunkan ku dari lamunan. Lalu aku segera memapah tante Lina kembali.


"Kasihan Axelle, dia pasti sangat ketakutan dengan semua ini..." Kembali mama Ammar menangis sesunggukan.


"Tante, sabar ya." Ucap Abel terus berusaha menenangkan nya. Aku sungguh tak mampu lagi berkata banyak.


"Sayang, ayo kita ke pemakaman." Ajak Nia tiba-tiba menghampiri Kevin. Seketika aku menoleh nya dengan berusaha tersenyum ramah.


"Nia, apa kabar?" Sapa ku dengan lirih.


"Kau.. Disini?" Tanya nya dengan ekspresi terkejut begitu mendengar sapaku.


Dan aku bingung harus menjawabnya bagaimana, tatapannya tetap sama seperti malam itu. Begitu tajam dan sinis.


"Aku..."


"Dia kemari bersama sahabat dekat Ammar yang kebetulan juga teman dekat Fanny, Abel." Jawab Kevin menyela sembari menunjuk ke arah Abel yang tengah berdiri merangkul tante Lina.


"Aku Abel." Sapa Abel memperkenalkan diri, dengan mengulurkan tangan kanannya.


"Aku Nia, istri Kevin." Jawab Nia dengan dingin.


"Oh..." Ujar Abel dengan singkat melirik ke arah ku dan Kevin bergantian.


"Tante, ayo kita ke pemakaman. Tak apa, kita akan menemani tante disana." Ajak Abel kemudian, tante Lina mengangguk dengan isakan tangisnya.


Ku lihat Nia mulai merangkul tangan Kevin dengan begitu erat, tampak Kevin sedikit salah tingkah. Abel menatapku sesekali kemudian melirik kembali ke arah Nia dan Kevin.


"Sayang,"


Panggil seseorang yang tidak terpikirkan sama sekali oleh ku dari arah belakang.


"Irgy, kau... Ke-mari???" Tanya ku dengan membelalakkan kedua mataku. Irgy langsung meraih tubuhku dalam pelukannya di hadapan semuanya.


"Maafkan aku datang terlambat, aku benar-benar mencemaskan mu. Beruntung Kevin langsung menanggapi saat aku menelponnya tadi untuk menjagamu sebelum aku datang." Jelas Irgy padaku.


Aku menatap Kevin sejenak, Ia tersenyum dengan anggukan. Sedangkan Nia terperangah melepas rangkulan tangannya sejak tadi.


"Aku baik-baik saja yank, ayo kita ikut ke pemakaman. Ehm, aku harus menemani tante Lina." Jawab ku kemudian.


"Nak, apakah dia suamimu?" Tanya tante Lina di sela kesedihannya sejak tadi sembari menyeka air matanya.


"Iya tante, dia.. Irgy, suami Fanny." Jawab ku menyentuh lengan Irgy.


"Nak, kau pasti adalah laki-laki yang sangat baik dan tulus sehingga Fanny memilihmu sebagai suami."


Irgy kebingungan dengan menatapku, setelah mendengar ucapan tante Lina yang menghampirinya, menyentuh tangan Irgy.


"Eh, sayang. Beliau tante Lina, mama Am-mar." Jawab ku memperkenalkan dengan terbata-bata. Aku ragu, bagaimana setelah ini Irgy akan bersikap setelah mengetahui bahwa kini bersama dengan ibu dari mantan kekasihku dulu.


"Oh, makasih tante. Saya Irgy, suami Fanny. Saya ikut berduka atas kepergian menantu tante, semoga Tuhan mengampuni segala dosa nya."


Tante Lina terdiam menatap Irgy dengan mata berkaca-kaca kembali.


"Hatimu sungguh tulus." Jawab nya singkat sembari berbalik ke arah depan melangkah kembali di papah oleh Abel.


Sesampainya di pemakaman, kami berada di tempat yang sedikit jauh. Sengaja untuk melindungi tante Lina dari kericuhan seperti tadi. Hanya Nia dan Kevin yang berada di antara keluarga besar Eliez. Sesekali Kevin melihat ke arah kami, seolah mengisyaratkan sesuatu.


Dan kembali terdengar isakan tangis dengan berbagai kata umpatan dan teriakan juga sikap shock bahkan sangat terlihat jika kedua orang tua Eliez sangat tidak merelakan kepergian Eliez yang tak terduga. Sehingga membuat tante Lina kembali menderu dengan tangisan tertahan.


Aku dan Abel memeluknya, berusaha menenangkannya. Aku sangat memahami betul apa yang beliau rasakan kali ini. Abel menatapku, aku meringis berusaha menahan air mata yang sudah ikut membendung. Abel menggelengkan kepalanya mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja.


🌻🌻🌻


POV AMMAR


Setelah Andi mendapat kabar bahwa Eliez sedang kritis, dan salah mama Eliez memintanya agar segera membawa Ammar kerumah sakit detik itu juga. Dengan cepat Andi langsung menuju ruang kantor Ammar, Andi kebingungan mengetahui di ruangan tersebut Ammar pun tidak ada.


Kemudian Andi bertanya pada seluruh staff yang di temuinya di kantor. Salah satu dari mereka bilang tanpa sengaja melihat jika Ammar menaiki tangga menuju atap gedung kantor ini. Dengan langkah setengah berlari Andi menaiki tangga.


Sesampainya di gedung, benar saja. Ammar terlihat sedang menyandarkan tubuhnya pada pagar tembok dengan sebatang rokok di jemarinya. Ia terlihat menikmati hisapan demi hisapan rokok nya.


"Pak Ammar, apa yang anda lakukan disini hah? Kenapa anda tidak mengangkat telepon dari nyonya besar?" Ujar Andi mengejutkan Ammar dengan nafas Andi yang tersengal-sengal.


"Ada hal buruk apa lagi?" Tanya nya dengan santai. Sembari terus menghisap ujung batang rokoknya, dan menyembulkan asap dari mulutnya ke arah Andi. Sehingga Andi terbatuk-batuk dengan kedua tangan yang berusaha mengibas asap tersebut.


Ammar menghentikan aktifitas merokoknya dan menatap Andi dengan tatapan tajam.


"Kau berani menakutiku?" Tanya Ammar dengan tatapan yang sangat menyeramkan bagi Andi.


"Pak.. Marahnya nanti saja, bebas akan bagaimana. Yang terpenting saat ini bapak harus segera kerumah sakit." Jawab Andi gemetaran.


Kemudian kembali ponsel Andi berdering berkali-kali. Andi merogoh ponsel di saku celananya dengan cepat, dan langsung menerima panggilan tersebut yang di ketahuinya dari keluarga Eliez.


"Ya Nyonya, saya sedang bersama pak Ammar. Sebentar lagi kami sampai di rumah sakit." Jawab Andi gugup. Sedang Ammar masih santai dengan sikap dinginnya.


"Apa? Mak..maksud Nyonya? Ta..tapi Nyonya, kami..."


Panggilan telepon di ponselnya terputus begitu saja. Andi yang sejak tadi berdiri tegak di hadapan Ammar tersungkur begitu saja. Ammar mengernyit melihat sikap Andi.


"Ada apa? Mereka mengumpatku lagi? Aku sudah terbiasa." Ucap Ammar dengan cetus.


"Nona Eliez sudah tiada pak, apakah anda puas???" Jawan Andi dengan suara lirih.


Dengan sigap Ammar berdiri tegak menatap Andi yang tersungkur di hadapannya dengan kedua tangan menutupi wajahnya.


"Shit !!!"


Ammar mengumpat lalu berlari meninggalkan Andi. Dengan cepat Andi membangunkan diri kembali lalu menyusul Ammar, langkah Ammar begitu cepat. Sehingga dengan sekuat tenaga Andi mengejarnya sampai tiba di mobil Ammar. Andi langsung memasuki mobil yang Ammar kendarai tanpa aba-aba lagi.


Andi mulai ketakutan namun tak berani menegur Ammar yang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Andi hanya bisa mengatupkan kedua bibirnya seraya berdoa di dalam hati untuk keselamatannya.


Tiba dirumah sakit Ammar langsung keluar dari mobilnya dengan cepat di susul oleh Andi dari belakang. Dalam hati Andi bergumam sembari melangkah setengah berlari.


Oh Tuhan, semoga keluarga nona Eliez tidak menyalahkan pak Ammar atas meninggalnya nona Eliez. Meski ini sangat jelas akan kesalahan pak Ammar yang tak lagi memperhatikan nona Eliez sejak menikah.


"Untuk apa kau datang kemari? Semua sudah terlambat. Pergi kau dari sini, pergi !!!"


Langkah Andi terhenti saat dilihatnya mama Eliez begitu murka pada Ammar dan melarang Ammar memasuki ruangan dimana jenazah Eliez masih di tangani oleh dokter.


Tatapan keluarga besar Eliez begitu mengerikan menatap Ammar. Sedangkan Ammar memohon dan memaksa untuk tetap memasuki ruangan.


Plak !!!


Andi terkejut kembal ketika sebuah tamparan mendarat di pipi Ammar oleh mama Eliez. Ammar menyeringai dengan perlakuan itu.


"Tampar aku ma, ayo tampar lagi jika itu bisa menghidupkan Eliez kembali." Ucap Ammar menantang.


"Kau memang laki-laki jahat, kau ********, kau tidak tau diri, apa ini ucapan terimakasih mu setelah semua yang kita berikan dan Eliez lakukan untuk mu hah? Atau ini sengaja kau lakukan untuk membalas dendam karena Eliez dulu pernah meninggalkanmu?"


Mama Eliez menangis dengan teriakan pilu memukuli dada bidang Ammar.


"Ma, pliss izinkan Ammar melihat wajah istriku yang terakhir kali." Ucap Ammar dengan suara lirih. Andi meringis mendengar ucapan itu, ini yang pertama kalinya Ammar memohon pada keluarga Eliez.


"Apa? Heh, kenapa baru sekarang kau peduli pada Eliez? Kenapaaa? Malangnya puteriku, nasibnya begitu sial memilih suami ******** sepertimu."


Ammar terdiam dengan ucapan mama Eliez kali ini, seberapa keras Ammar memaksa untuk masuk namun benerapa bodyguard yang ikut berjaga di pintu masuk ruangan jenazah Eliez begitu ketat.


"Papa, papa."


Ammar terhentak ketika mendengar panggilan dari suara mungil puteranya. Yang hadir tiba-tiba di gendong oleh baby sister. Ammar menitikkan air mata hendak merangkulnya. Namun dengan sigap papa Eliez menghadangnya.


"Kau bukan menantu kami lagi, pergi dari sini atau kami akan memaksamu keluar dari rumah sakit ini." Ujarnya pada Ammar dengan cetus.


"Pa, aku..."


"Apa kau tuli? Keluar dari sini sekarang juga." Ucap Papa Eliez kembali dengan nada lantang. Membuat Ammar mundur perlahan, menatap pilu ke arah pintu ruangan jenazah Eliez yang begitu ketat di jaga oleh beberapa bodyguard. Lalu Ammar pergi dengan wajah menunduk.


Andi yang mengetahui hal itu menghampiri Ammar dengan cepat.


"Pak..." Panggilnya dengan ragu.


"Tak apa, aku baik-baik saja. Aku ingin sendiri," Jawab Ammar.


"Tidak, saya akan menemani bapak kemanapun bapak pergi." Jawab Andi tegas.


Ammar terus melangkah mengabaikan ucapan Andi yang terus berlarian mengejar langkah Ammar yang begitu cepat. Tanpa berani membantah lagi, tekad Andi hanya satu. Dia tak ingin membiarkan sosok seorang Ammar yang sejak dulu banyak membantunya hingga Andi berhasil sukses dalam pekerjaan.