
Setelah beberapa saat perbincangan Abel dan Exelle harus terhenti karena Abel harus segera pulang. Sebab sang suami mendadak harus pergi ke luar kota untuk perjalanan bisnis, dan itu mengharuskan Abel membantu suaminya menyiapkan segala apa yang akan di bawanya nanti.
"Eh, nak. Maafkan tante telah menyita waktu mu, tapi tante harus segera pulang karena ada urusan mendadak." Ucap Abel pada Exelle setelah menutup panggilan di ponsel nya.
"Oh, sayang sekali tante. Padahal aku masih ingin banyak bertanya pada tante tentang mendiang papa dan mama ku." Jawab Exelle dengan wajah murung.
Oh, sungguh kasihan anak ini.
"Ehm, lain waktu kita bisa bertemu kembali, Nak. Mau kan?"
"Sungguh? Tante mau menemui ku kembali? Aku mau banget tante, terimakasih sebelumnya." Ujar nya kembali dengan wajah senang.
"Ehm... Kau bisa menyimpan nomormu di ponsel tante." Ucap Abel sembari menyodorkan ponselnya pada Exelle. Dengan cepat Exelle meraih ponsel itu lalu mengutak atik nya sebentar, lalu memberikannya kembali pada Abel. Dilihatnya sebuah nomor tersimpan di layar ponsel Abel dengan nama Exelle.
"Baiklah, nanti tante akan menelpon mu lain waktu di saat senggang." Ujar Abel dengan senyuman.
"Siap tante, terimakasih sekali lagi." Jawab Exelle dengan sedikit membungkukkan badannya.
Dia anak yang baik. Ku pikir tadinya dia sungguh liar, sikapnya yang terkadang selalu meremehkan awal mengenalnya di awal pasti akan menganggapnya anak yang nakal.
Kembali Abel berucap dalam hati.
.
.
.
Sampai dirumah Abel tampak lesu. Terkadang dia terhanyut dalam lamunan, terkadang gagal fokus, terkadang pula air matanya mendadak mengalir dengan sendirinya.
"Sayang ku, ada apa dengan mu? Aku hanya pergi beberapa hari saja. Mengapa kau begitu sedih sampai menangis seperti itu, kemari!"
Suami Abel tampak kebingungan melihat istrinya kini berbeda. Tak seperti biasanya, lalu meraih tubuh Abel dan dipeluknya erat-erat.
"Hah, aku hanya terbawa suasana saja. Aku tak apa, kau pergilah hati-hati, Honey. Ingat selalu mengabariku saat tiba di luar kota." Ujar Abel dengan menyeka air matanya.
"Tapi ada apa? Apakah terjadi sesuatu? Katakanlah..." Tanya suami Abel kembali.
Bagaimana aku harus mengatakannya, suami ku? Ini tentang masa lalu ku, dan tentang putera kita.
"Tidak ada. Aku hanya sedikit kurang enak badan, istirahat sebentar sudah akan pulih nantinya."
"Kau membuatku tidak tenang, aku takut jika aku pergi kau akan jatuh sakit nantinya. Suhu badan mu juga sedikit hangat sayang, kau begitu pucat." Ucap Suami nya lagi, seraya menempelkan telapak tangan kanannya di kening Abel.
"Hemm... Aku sungguh akan baik-baik saja saat istirahat nanti." Jawab Abel meyakinkannya.
"Baiklah, aku akan berangkat sekarang. Dan jangan lupa istirahat, jangan sampai kelelahan, jaga putera kita Joe. Aku sangat menyayangi kalian, hem.."
"Yah... Baiklah, baiklah. Kau tenang saja, ayo aku antar sampai di teras depan."
"Kau masih kuat untuk berjalan sampai di bawah?"
"Ih, memangnya aku selemah itu?"
"Hahaha, aku tahu kau sangat kuat." Suami Abel menggodanya dengan mencolek dagu istrinya itu. Lalu kemudian beranjak melangkah bersama menuruni anak tangga hingga sampai di teras depan.
Kemudian suaminya memasuki mobil dan melajuka nya perlahan. Abel melambaikan tangan dengan kecupan manja sampai bayangan suaminya menghilang dari pandangan.
🌻🌻🌻
Sementara di lain tempat...
"Exelle... Hai, nak... Cuma oma, yang tampan. Hei..." Panggil oma Exelle setelah melihat nya berjalan dengan tatapan kosong melewati oma nya yang baru saja berpapasan dengannya di ruang tamu.
Exelle memasuki rumahnya dengan pikiran linglung, kedua kaki dan tangannya tergerak sendiri di bawah alam sadarnya. Hingga dia melewati oma nya yang muncul untuk menyambutnya.
"Eh, oma. Hehe, maaf oma. Exelle jadi ngelamun, hehe..." Jawab Exelle dengan salah tingkah. Membuat oma nya mengernyit menatapnya heran.
"Ada apa, cucu ku? Apa kau ada masalah? Katakan. Biarkan orang-orang opa mu yang menyelesaikannya dengan baik sesuai keinginanmu."
"Tidak, oma. Aku, aku hanya... Sedikit kepikiran akan satu hal." Jawab Exelle dengan ragu.
"Apa itu, Nak?"
"Oma, maafkan aku. Bolehkah aku bertanya satu hal yang serius?" Jauh di lubuk hati Exelle sedikit ragu dan takut untuk bertanya tentang kedua orang tuanya. Namun kali ini harus.
"Katakan, tidak perlu minta maaf nak." Jawab oma nya dengan mengelus lembut bahu cucu satu-satunya itu.
"Ehm, apakah... Eh.. Papa ku sungguh sungguh meninggal karena kecelakaan? Dimana makamnya? Selama ini, oma selalu melarang ku untuk datang ke makam papa dan mama."
Sontak kedua mata oma nya terbelalak hingga melotot begitu besar menatap wajah cucunya itu.
"Kaau.. Untuk apa, me-na-nyakan hal ini?" Tanya nya dengan terbata-bata.
"Aku hanya ingin bertemu dengan mereka, walau pun hanya terlihat dalam bentuk gundukan tanah makam, oma. Pliss, biarkan aku berziarah ke makam papa dan mama."
"Tidak. Ini belum saatnya, suatu hari kau akan kami bawa ke makam mama mu, Eliez."
Degh!!!
Exelle terperangah menangkap jelas ucapan oma nya yang hanya menyebut makam mama nya, Eliez.
"Jadi benar, papa ku masih hidup." Ucap Exelle dengan suara lirih menundukkan wajahnya.
"Tidak. Siapa yang berani berkata bohong pada mu, nak? Papa mu sudah meninggal. Ah, sudah lah. Jangan lagi membahas hal ini, kau masih terlalu dini."
"Oma, aku sudah dewasa. Aku sudah mengerti, ada apa sebenarnya. Jika papa dan mama meninggal karena kecelakaan, pasti makam mereka pun bersanding bukan?"
"Exelle..."
"Oma, bukan kah oma pernah membahasnya diam-diam dengan opa jika mama pernah mengalami sakit parah? Dan papa selalu sibuk bekerja hingga hubungan mereka retak. Dan oma sering sekali terdengar memaki dan bersumpah serapah menyebut nama papa."
"Exelle... Apa kau diam-diam sudah berani menguping pembicaraan oma dengan opa mu hah?"
"Jadi itu benar. Papa memang masih hidup, dan kecelakaan itu hanya cerita bohong yang sengaja oma dan opa buat untuk mengelabuiku, hingga akhirnya aku jauh dari papa. Iya bukan?"
"Exelle!!!" Omanya menaikkan nada suaranya hingga membuat Exelle terkejut. Karena sebelumnya dia tidak pernah sedikitpun mendapat perlakuan seperti ini dari oma nya.
Exelle tersenyum tipis, kedua matanya berubah merah basah. Dia sedang menahan dirinya dari amarah dan kekecewaan.
"Baiklah oma, jika oma masih bersikeras untuk menyembunyikan ini semua. Aku akan mencarinya sendiri, aku akan mencari dimana papaku jika dia masih hidup. Kalaupun papa sudah menjadi abu, aku akan tetap mencari dimana abu itu di letakkan."
Lalu Exelle membalikkan badannya beranjak pergi dari hadapan oma nya. Membuat oma nya ketakutan jika Exelle akan pergi meninggalkan rumah begitu saja.
"Tunggu, tunggu nak. Jangan pergi dulu, kau belum mengerti apa-apa, kau hanya mendengar cerita bohong dari orang yang akan menghancurkan hidupmu. Jangan pergi!!!" Teriak oma nya untuk menghalangi langkah Exelle yang begitu cepat berlalu pergi keluar dari ruangan.
"Exelle!!!" Teriak oma nya lagi sembari setengah berlari mengejar langkah cucunya.
Brugkh...
Omanya terjatuh tak sadarkan diri tepat di tengah pintu yang terbuka.