
Seakan Abel tak mampu bergerak kembali di sekujur tubuhnya. Bibirnya terasa terkunci rapat, bahkan untuk sekedar menelan ludah saja terasa kering tenggorokannya. Ketika Abel melihat Ammar sudah berdiri di depannya, yang sudah mendengar semua ucapan Abel tadi.
"E,eh.. Ka,kau.. Se,sejak kapan disini?" Tanya Abel kikuk.
"Siapa Joe sebenarnya? Apa dia..."
"Bukan. Dia bukan anak mu!!!"
"Aku belum menjawabnya, tapi melihatmu seperti itu.. Sepertinya Joe benar anak ku, iya bukan?" Tanya Ammar dengan melangkah lebih dekat dengan Abel. Perlahan Abel mundur satu langkah dari Ammar.
"Nyonya, haruskah aku lapor Tuan besar?" Tanya asisten Abel dengan panik, yabg semula tadi berada diantara mereka.
"Tidak usah mbok, jangan. Pergilah, ini masalah pribadiku. Dan tolong, jangan sampai Joe melihat ini semua." Titah Abel pada asisten rumahnya.
Si mbok menurut lalu pergi meski dengan hati penuh kecemasan, ia takut jika majikannya terancam hal-hal yang tak di inginkan.
Kini hanya tinggal Ammar dan Abel saja berdua di ruang dapur.
"Kau masih tidak mau menjawabnya dengan jujur?" Tanya Ammar kembali.
"Apa kau tuli? Aku sudah menjawabnya."
"Lalu kenapa sejak tadi kau begitu gelisah sejak aku mengajak bicara puteramu?"
"Itu, itu karena... Aaarght, sudah lah. Kenapa kau terus mendesakku, Tama? Tidak bisakah kau urusi saja kehidupan mu dengan puteramu itu."
Ammar terdiam sejenak, menatap wajah Abel begitu lekat.
"Abel, maafkan aku untuk semua yang sudah terjadi dulu. Tapi jika hari itu, kita telah..."
"Kau tenang saja. Aku sudah menggugurkannya, jauh sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menerima lamaran suamiku."
"Tapi kenapa, kenapa kau begitu kejam?"
"Kau bilang aku kejam? Lalu apa kau berharap aku akan membesarkan anak itu?"
"Aku..."
"Jawab aku, Tama. Jika aku memilih untuk membesarkan anak itu, apakah kau mau mengakuinya sebagai puteramu?" Tanya Abel dengan suara lirih. Ammar sedikit membelalakkan kedua matanya mendengar pertanyaan itu.
"Dimana anak itu sekarang? Apakah dia sungguh Joe?"
"Jawab saja!!!" Bentak Abel.
"Aku akan bertanggung jawab dan mengakuinya sebagai puteraku."
"Meski kau tahu saat itu aku dan Andi masih berhubungan?" Tanya Abel kembali.
"..............."
Ammar mengatupkan kedua bibirnya tanpa kata.
"Kau bahkan masih ragu."
"Apakah Andi tahu jika kita sudah melakukannya berkali-kali saat itu, Abel?"
"Oh my God. kau melupakan perjanjian kita tadi."
"Maafkan aku, Abel. Maaf untuk semua yang sudah terjadi, maaf karena aku begitu egois, maaf karena aku menjadikanmu pelarian saat itu."
Kenapa aku jadi ingin menangis melihatnya memohon maaf demikian, aku tidak tahu perasaan apa ini. Tapi rasanya, justru aku yang merasa berdosa. Maafkan aku, Joe memang anak kita. Tapi maaf, jangan memaksaku mengakuinya. Itu akan menyakiti putera kita nantinya.
"Pffft... Sejak kapan kau bisa melontarkan kata maaf setulus itu? Apakah sejak kau menikah dengan gadis gila itu? Hahaha, ku pikir kau tidak akan pernah bisa bersungguh-sungguh melupakan Fanny dan menikah dengan wanita lain." Ujar Abel seketika. Mencoba mengalihkan perhatian Ammar, agar tidak selalu mendesaknya.
"Tentang Fanny... Apakah kau tahu bagaimana kabarnya saat ini?"
"Cih, dasar. Sekali kau ********, tetap saja ********. Untuk apa kau masih menanyakannya hah? Dia sudah bahagia. Jangan coba kau berani mengusiknya, atau aku akan..."
Ucapan Abel terhenti ketika melihat Ammar menundukkan wajah lesu. Abel mengerutkan keningnya melihat Ammar tampak sedih, lalu dia menatap Abel dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Apakah aku sungguh tidak pantas hanya sekedar ingin tahu kabarnya saja, Abel?"
"Ah, sudah lah. Jangan terus mengingatnya, walau bagaimanapun kau sudah menikah saat ini bukan. Belajar menerima kenyataan, atau jangan bilang jika kau... Masih... Mencintai Fanny?" Tanya Abel mendettenya.
Apa kini kau percaya bagaimana Ammar menanggapi pertanyaan Abel tersebut?
Dia tersenyum, namun air mata tidak bisa berbohong soal hati yang begitu dalam bukan?
"Ya ampun. Kau menangis??? Oh Tuhan, apa itu berati hingga saat ini kau masih mencintai Fanny? Kau gila!!!"
Abel terkejut dengan menutupi mulutnya dengan sepuluh jemarinya. Seakan tidak percaya akan hal ini. Bagaimana mungkin? Tanya Abel dalam hatinya.
"Ini bukan kau. Kau yang saat ini sungguh terlihat jauh lebih tenang dan mudah meneteskan air mata. Apa kini kau selemah itu? Hahaha, aku tidak percaya ini. Hah," Abel mengipas-ngipas wajahnya kembali dengan sepuluh jari jemarinya.
"Bantu aku, Abel. Perlahan aku ingin mencoba berdamai dengan semua yang telah ku lakukan di masa lalu, terkhusus puteraku. Exelle, bantu aku untuk menemuinya."
"Aakh, kau selalu menyusahkanku dari dulu. Kenapa bukan kau saja yang datang secara baik-baik untuk menemuinya hah?"
"Apa kau pikir semudah itu? Itu sebabnya aku meminta bantuanmu."
"Kau memang payah, tolong jangan memaksaku untuk datang berkunjung kerumah mendiang Eliez, apa kau ingin membunuhku?"
"Apa kau percaya, jika kedua orang tua Exelle menjadi salah satu orang terkaya dan di segani di kota ini. Entah bagaimana itu bisa terjadi dalam sekejab, bahkan mereka sudah berhasil membeli sebuah rumah sakit dan beberapa klinik di kota ini yang berkembang cukup pesat."
Abel yang sejak tadi dengan serius berubah gemetaran kedua tangannya, seketika kembali ia terbayang dengan sosok anak remaja yang bersama Pelangi saat di mall kala itu.
Tidak, ku harap bukan dia. Tuhan, cukup. Jangan kau buat mereka terbelenggu dalam kisah masa lalu kembali.
"Abel, hei. Abel, kenapa kau melamun?"
"Ah, eh.. Ya, maaf. Aku, aku jadi melamun."
"Pliss, bantu aku. Aku sudah mencoba untuk membayar beberapa detektif, namun hasilnya selalu saja nihil. Ku mohon, bantu aku untuk menyelesaikan semua keresahan ku selama ini. Aku rindu anak ku, rindu putera ku."
"Hah, baiklah. Baiklah, berikan aku waktu. Jangan terburu-buru begitu, tidak perlu memohon seperti itu. Kau menyedihkan sekali," Jawab Abel dengan memutar kedua bola matanya jengah. mencoba menyanggupi meski hatinya sedikit ragu.
Sontak Ammar memeluk tubuh Abel, dia mendekapnya penuh rasa bahagia sebagai ungkapan rasa terimakasihnya kepada sahabat lamanya itu.
"Hei, jangan begini. Lepaskan aku!!!" Dengan sedikit kasar Abel melepaskan pelukan Ammar dan mendorongnya. Ammar menjauh beberapa langkah akibat dorongan kuat kedua tangan Abel. Membuat Ammar sedikit tertawa geli akan sikap Abel demikian.
"Apa, apa hah? Mengapa kau tertawa geli seperti itu?" Tanya Abel dengan bibir yang cemberut.
"Hihi, maafkan aku. Aku hanya terbawa suasana akan kedekatan pertemanan kita, aku lupa jika batasan kita saat ini sudah berubah. Aku senang melihat perubahan sikap mu barusan, kau tidak lagi seperti dulu."
"Cih..." Abel memalingkan wajahnya dari Ammar. Lalu mereka tertawa lepas berdua di ruang dapur, seolah kembali terkenang pertemanan mereka yang begitu dekat di masa lalu.