Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 168



Menjelang pagi, aku terbangun dan ku lihat Irgy begitu dekat dengan ku. Hingga aku bisa mencium kembali dengan sangat jelas aroma khas tubuh suami ku ini. Dan tersadar jika aku tertidur dalam pelukannya, yang hanya berbantal lengannya yang berurat.


Baru saja 4 hari, aku tidak melihatnya saat tidur sedekat ini. Tapi rasanya sudah seperti bertahun-tahun lamanya. Dia sedikit terlihat lebih tua dengan berbagai bulu yang tumbuh di sekita bibir dan dagunya. Aku mencoba untuk bangun perlahan agar tidak membangunnya juga, jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi.


Dia memang sungguh peka, saat hendak beranjak bangun dari tidur dia justru menarikku kembali dalam pelukannya. Sehingga membuatku jatuh ambruk kembali di dadanya yang bidang itu.


Cup !!!


"Selamat pagi istriku," Ucapnya setelah mengecup keningku dengan bibirnya yang hangat. Ku tengadahkan sedikit wajahku untuk melihatnya, dia masih memejamkan matanya.


"Aku sudah bangun, tapi aku ingin tetap seperti ini dulu. Sebagai perwakilan memeluk anak-anak ku di dalam sana, dia juga pasti sangat ingin ku peluk."


"Cih, dasar gombal. Pagi-pagi sudah merayu wanita hamil," Jawab ku sedikit merengek manja.


"Hemm, karena wanita hamil ini begitu cantik dan seksi. Maka dari itu aku selalu ingin menggodanya seperti ini,"


"Iiih, dasar. Kau memang menyebalkan, kau semakin pintar merayu apakah kedatangan Nana mu itu membuatmu jadi berani bertingkah?" Tanya ku kembali menengadah.


Seketika dia membuka matanya dan melirikku kemudian mengeluh nafas panjang.


"Sayaaang, sudah lah. Jangan lagi menyebut dan membahas namanya dalam rumah tangga kita. Apa kau sungguh rela aku di rebutnya?"


"Oh jadi mulai nantang nih?"


"Tuh kan, tetap saja aku yang salah. Apa kau tidak cemburu mendengar namanya di sebut kembali seperti itu?"


"Harusnya kau sudah tau jawaban ku sebelum aku menjawabnya sendiri. Huh !!!"


"Hihihi, sudah lah. Jangan memperdebatkan hal ini lagi sayang, karena ada satu hal lagi yang ingin ku tanyakan. Aku sudah menahan diri untuk tidak melontarkannya, tapi..."


"Tapi apa hah?"


"Sebenarnya aku..."


"Aku apa?"


"Aku takut kau marah jika ku lontarkan semuanya."


"Aku justru akan lebih marah jika kau tidak juga menyampaikannya padaku."


"Aku merindukanmu, bisakah aku meminta kewajiban mu sebagai istri pagi ini?" Bisiknya di telinga ku membuatku terbelalak menatapnya. Dia tersipu malu dengan wajah memerah di pipinya.


"Cih, apakah kau tidak melihat kondisiku saat ini sedang hamil bayi kembar."


"Aaah, sayang. Aku tahu, aku tidak akan membuatmu kesakitan dan merasa lelah."


"Tidak. Kau mendapat hukuman selama beberapa bulan ke depan, siapa suruh membuatku kecewa dan marah."


"Sayang, sayang. Pliss jangan begitu sayang, kau bisa menghukumku yang lainnya saja. Tapi jangan hal beginian, pliss. Sayang.."


"Tidak ya tidak, aku harus segera mandi. Lalu membantu bunda sama bibi Asri di dapur, aku sudah sangat lapar. Kau lanjutkan tidur saja atau menemani Pelangi nanti," Jawab ku mendorong tubuhnya kemudian aku beranjak turun dari ranjang.


"Sayaaang, aaah ayo lah. Sekali saja, aku merindukan mu." Teriak Irgy merengek bak anak kecil sementara aku berlalu memasuki ruang kamar mandi.


Kemudian saat di kamar mandi aku tiada henti2nya menertawakan Irgy karena aku berhasil memberinya pelajaran. Aku tahu betul sifat dan ambisinya, untuk memberinya pelajaran hanya ini lah satu-satunya kelemahannya.


🌻🌻🌻


Sarapan pagi sudah siap tertatap rapi di meja, aku yang sejak tadi sudah lebih dulu banyak mencicipi setiap hidangan sarapan pagi ini, masih saja belum merasa kenyang meski mulut terasa lelah.


Ku dengar suara cekikikan dan tawa lepas Pelangi yang sudah terbangun sejak tadi asyik bercanda dengan papa nya, Irgy.


"Nak, ayo panggil mereka. Sarapan pagi sudah siap," Ujae ibu memerintahku.


Aku mengangguk sembari menatapnya tanda mengerti.


"Pelangi, ayo sarapan dulu Nak." Teriakku memanggil Pelangi yang kemudian datang berlari dengan ceria di susul oleh Irgy.


Ibu menggelengkan kepalanya mendengarku hanya memanggil Pelangi saja untuk pergi sarapan.


"Yeay, makaaan. Uwauw..." Ucap seru Pelangi.


Ibu tersenyum dan segera menyiapkan sarapan untuk Pelangi. Sedangkan tampak Irgy masih berdiri menatap kami semua. Membuat ibu bertanya padanya,


"Tuan puteri belum mempersilahkan rajanya bu, dia mengabaikan rajanya." Ujarnya melirikku.


"Pffftt.. Hahaha, kau ini ada-ada saja. Ayo duduk cepat,"


"Cih, dasar gombal. Pagi-pagi sudah buat drama, duduk ya duduk saja. Kau bukan anak kecil lagi bukan?"


"Tuh kan Bu, istriku selalu memarahiku sejak aku sampai disini. Pagi ini pun begitu, aku jadi sedih."


"Aku siram nih pakai teh panas. Jika masih bertingkah begitu,"


"Fanny, jangan begitu. Jangan lupa kalian, ada anak kecil. Nanti dia menirunya, ingat kau sedang hamil." Ucap ibu menegur ku.


"Maafkan aku Bu, habisnya Irgy selalu menggoda ku sejak pagi tadi." Jawab ku dengan suara lirih. Dan Irgy tersenyum puas meledekku kemudian duduk di kursi sebelah Pelangi.


"Oma, hamil itu apa?" Tanya Pelangi menyeletuk sembari memegang dua sendok makan.


"E,eh.. Hamil itu..." Ibu ku melirik ke arah ku dengan Irgy bergantian.


"Bu, biar aku saja yang menjelaskannya." Jawab Irgy kemudian.


"Pelangi, dengarkan papa. Hamil itu artinya di perut seorang wanita ada dedek bayi sedang tidur, dan kalau sudah waktunya dia akan keluar melihat dunia ini seperti Pelangi saat di perut mama dulu."


"Oh.." Jawab Pelangi singkat. Entah dia mengerti atau tidak.


"Jadi, setelah ini Pelangi juga akan mempunyai seorang adik. Eh tidak, dua orang sekaligus. Wah, Pelangi jadi punya teman bermain dirumah nanti."


"Ehm, Pelangi maunya Lucky aja jadi teman main."


Aku dan ibu beserta Pelangi terhentak sejenak, kami saling memandang satu sama lainnya. Aku mulai ragu, bagaimana jika Pelangi tidak bisa menerimanya?


"Ehm, nak. Apakah kau tidak suka memiliki seorang adik?"


Pelangi menggelengkan kepalanya, menatap Irgy dengan wajah polosnya. Aku semakin ragu, aku semakin khawatir. Tampak ibu menghela nafas panjang kemudian mendekati Pelangi.


"Cucu oma yang pintar, habiskan dulu makan nya ya. Nanti keburu dingin,"


"Baik oma," Jawab Pelangi menurut.


"Ayo kalian selesaikan sarapannya dulu." Ujar ibu memerintahkan kami untuk segera menyekesaikan sarapan pagi.


Aku dan Irgy saling menatap ragu, sepertinya ini akan sulit untuk membuat Pelangi mengerti dan mambuatnya menerima jika dia akan segera memiliki adik nantinya.


Setelah sarapan pagi, Irgy mengajak ku kembali ke rumah kami di kota Besar. Ibu tampak sedih karena harus kembali berpisah dengan Pelangi, yang baru di temuinya beberapa hari saja.


"Yeay yeay, Pelangi mau ketemu Lucky." Ucap Pelangi dengan riang gembira.


"Cucu oma, siapa Lucky?"


"Lucky teman Pelangi Oma." Jawab Pelangi dengan senyuman berbinar-binar.


"Hmm.. Apakah dia laki-laki?"


"Iya oma, dia sangat baik dan banyak bicara."


"Oh ya? Hahaha, apakah dia tampan?"


"Apa itu tampan oma?"


"Seperti Pelangi cantik,"


"Lebih cantik Pelangi oma. Lucky seperti robot."


Kemudian kami tergelak tawa akan jawaban Pelangi kali ini sembari menuju ke mobil untuk segera kembali ke rumah kami.


"Hati-hati kalian di jalan ya, jika ada apa-apa hubungi segera bunda."


"Tentu saja bu, jangan khawatir. Saat sudah tiba nanti, Irgy pasti akan meminta ibu datang kerumah kami untuk menemani Fanny. Irgy paham betul, wanita hamil memang kerap sekali lebih ingin dekat dengan ibu nya."


"Kau memang menantu terbaik Nak, jaga diri baik-baik juga Fanny ya. Jangan terlalu ambil hati jika dia selalu marah tidak jelas nantinya. Ibu hamil kadang memang selalu lebih sensitif."


Irgy tersenyum melirikku kemudian.