Because, I Love You

Because, I Love You
#28



Sesampainya di gedung megah perusahaan Pradipta Grup, wajah Rendy terlihat begitu suram tanpa ekspresi. Mungkin karena suasana hatinya saat ini sedang sangat tidak baik.


Bahkan Rendy tidak menghiraukan sapaan dari beberapa karyawannya yang dilewatinya. Seolah dia tidak melihat dan mendengar mereka.


Pikirannya terus tertuju pada Olivia. Ia masih belum bisa percaya dengan kenyataan yang telah didapatinya. Kekasih dan teman baiknya selama ini berselingkuh dibelakangnya.


Mungkin Rendy harus menemui Andreas setelah ini. Ia juga butuh penjelasan dari Andreas. Apa Andreas akan jujur kepadanya atau akan membuat alasan yang tidak masuk akal seperti Olivia?


Rendy menghela nafasnya dalam-dalam ketika sampai didepan ruangan kantornya kemudian masuk.


Tak lama, rekan bisnisnya datang dan langsung dipersilahkan masuk oleh Rendy.


Mereka duduk disofa untuk membahas proyek pembangunan hotel dan apartemen di beberapa kota besar. Tak terasa kurang lebih dua jam, pertemuan mereka berakhir dan Pak Davit rekan bisnis Rendy segera pamit undur diri.


Siska mengantar kepergian rekan bisnis sang Bos hingga masuk kedalam lift lalu kembali keruangan kantor Presiden Direktur untuk membereskan berkas-berkas.


"Apa Pak Rendy perlu sesuatu?" Tanya Siska dengan penuh perhatian yang melihat Rendy sedang duduk bersandar dikursi kebesarannya sambil memijat pangkal hidungnya dan tampak sedikit pucat. "Emm..maaf. Tapi Pak Rendy terlihat agak pucat." Lanjut Siska yang masih memperhatikan Rendy.


Rendy mengangkat wajahnya dan menatap Siska dengan mengernyit. "Kamu buatin aja saya kopi." Jawab Rendy.


"Tapi Pak..Pak Rendy sudah menghabiskan empat cangkir kopi dan sepertinya Bapak belum makan. Maaf, saya hanya khawatir kalau Pak Rendy kena asam lambung." Ucap Siska dengan gugup namun ia begitu perhatian dengan Bos tampannya ini.


"Kamu nggak perlu sok perhatian dengan saya Siska! Tugas kamu hanya melakukan pekerjaan sesuai dengan perintah saya bukan? Jadi lakukan saja pekerjaanmu dengan baik!" Ucap Rendy dengan keras dan begitu marah membuat Siska seketika terkejut dan gemetar karena takut. Ini pertama kalinya Rendy terlihat semarah ini dan membentaknya begitu keras.


"Ba..baik Pak." Jawab Siska kemudian langsung bergegas keluar menuju pantry membuatkan kopi untuk sang Bos.


"Hufff! Ada apa dengan Pak Rendy hari ini?" Gumamnya dengan menghela nafas panjang setelah keluar dari ruangan Presiden Direktur kemudian berjalan cepat menuju panty.


Rendy kembali menghela nafasnya dalam-dalam untuk meredam segala emosinya lalu mengusap wajahnya. Hati dan pikirannya semakin terasa kacau.


Ia tidak mau seperti ini. Ia harus bisa fokus dan melupakan sejenak permasalahan yang ada untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda hari ini.


Rendy pun membuka kembali berkas-berkasnya satu per satu untuk ia periksa dan ia tanda tangani.


'Tok Tok Tok!'


Terdengar suara ketukan pintu lalu pintu terbuka. Siska masuk dengan membawa secangkir kopi pesanan Rendy.


"Ini kopi anda Pak." Ucap Siska sambil meletakkan secangkir kopi tersebut dimeja sang Bos.


"Makasih." Ucap Rendy tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang ia baca.


"Sama-sama Pak. Kalau begitu saya permisi." Ucap Siska dan Rendy hanya sedikit mengangguk. Siska pun segera keluar dan kembali ke mejanya.


...


Sore harinya.


Seluruh karyawan Pradipta Grup berhamburan keluar dari gedung megah tersebut karena sudah waktunya jam pulang kerja.


Kirana bersama Yolanda dan Rossa juga berjalan bersama keluar dari gedung megah Pradipta Grup sambil berbincang.


"Weekend besok kita jalan yuk? Nonton kek, belanja kek. Gimana?" Tanya Rossa kepada Yolanda dan Kirana.


"Boleh, ayuk!" Jawab Yolanda dan Kirana masih terdiam sedikit melamun.


"Ki, kamu gimana? Mau nggak?" Tanya Rossa sambil menyenggol lengan Kirana dengan sikutnya.


"Ya ampun Ki. Makanya jangan melamun terus. Kamu kenapa sih? Hari ini banyak melamun. Lagi ada masalah? Kamu tadi juga terlambat datang, kenapa?" Sambung Yolanda bertanya dengan serius pada Kirana.


"Iya Ki. Kamu hari ini nggak seceria biasanya. Ada apa sih? Kalau ada masalah, kamu cerita aja ke kita." Ucap Rossa sambil memeluk lengan Kirana.


"Enggak kok. Aku baik-baik aja. Mungkin karena aku semalam lembur dan masih ngantuk nih." Jawab Kirana dengan tersenyum membuat kedua teman baiknya tidak banyak bertanya lagi.


"Sorry deh Ki, gara-gara kita, kamu jadi lembur sendirian semalam." Ucap Yolanda dengan rasa bersalah.


"Iya Ki. Sorry ya? Sebagai permintaan maaf, weekend besok aku traktir kamu makan sepuasnya deh. Gimana?" Lanjut Rossa dengan tersenyum lebar.


"Bener nih mau nraktir aku makan sepuasnya?" Tanya Kirana dengan mata berbinar.


"Iya serius!" Jawan Rossa.


"Ok deh." Jawab Kirana dan mereka pun berpisah diparkiran perusahaan Pradipta Grup.


Seperti biasa, Rossa dan Yolanda pulang bersama dengan mobil Yolanda. Sedangkan Kirana menunggu Haris lewat untuk pulang bersama.


Namun saat ia menunggu Haris disebelah pintu gerbang perusahaan Pradipta Grup, ada sebuah mobil mewah keluar dan berhenti didepannya.


Penumpang dibelakang membuka kaca jendela mobilnya dan menatap Kirana yang sedang berdiri sendirian menunggu seseorang.


"Kirana?"


"Hah? Pak Rendy?" Sapa balik balik Kirana sedikit terkejut karena Kirana sedang melamun.


"Kamu mau pulang? Ayo, biar saya antar." Tanya Rendy sekaligus menawarkan tumpangan pada Kirana.


"Emm..terimakasih banyak Pak. Tapi maaf, saya sedang menunggu seseorang." Jawab Kirana dengan tersenyum canggung dan gugup merasa tidak enak.


"Oh, kamu sedang menunggu pacar kamu?" Tanya Rendy dari dalam mobil.


"Apa? Pacar?" Tanya balik Kirana dengan bingung.


"Laki-laki yang sering antar jemput kamu itu." Ucap Rendy membuat Kirana terkekeh.


"Oh itu. Dia teman sekaligus tetangga saya Pak. Bukan pacar saya." Jawab Kirana dengan tersenyum geli.


"Oh, kalau begitu saya duluan. Kamu hati-hati." Ucap Rendy lalu menutup kaca jendela mobilnya dan mobilnya kembali melaju.


Kirana tertegun sejenak sambil memegang dadanya karena jantungnya kembali berdegup kencang mendapat perhatian dari Pak Presiden Direktur yang tampan idola semua karyawan wanita diperusahaan tempatnya bekerja.


"Ya ampun kenapa sih Pak Rendy sweet banget gitu. Apa dia memang selalu baik kepada semua orang ya? Kenapa aku selalu GR begini tiap dia perhatian sama aku?" Gumam Kirana sambil membayangkan sikap ramah dan lembutnya Rendy terhadapnya.


"Kirana!" Seru Haris sambil membunyikan klakson motornya seketika menyadarkan Kirana dari lamunannya.


"Hah? Kak Haris?" Kirana terlihat terkejut melihat Haris yang sudah berhenti didepannya.


"Kamu lagi mikirin apa sih? Aku panggil-panggil dari tadi loh." Tanya Haris sambil menyodorkan helm pada Kirana.


"Hehe..enggak kok Kak." Jawab Kirana dengan menyengir lalu memakai helm sambil duduk membonceng Haris. Mereka pun segera pulang bersama.


................