
"Silahkan duduk." Ucap Rendy mempersilahkan Kirana duduk disofa sambil berjalan menuju sofa dan duduk disana disusul dengan Kirana dan juga Beni.
Rendy duduk di single sofa. Kirana duduk disofa panjang dan Beni duduk disofa seberang.
"Apa kamu sudah menyiapkan jawabannya?" Tanya Rendy yang langsung ke intinya. "Saya harap, kamu beri jawaban sesuai dengan keinginan saya Kirana." Lanjutnya dengan serius menatap Kirana.
"Emm..saya nggak tau harus jawab apa Pak? Tapi saya memang sudah berniat ingin membantu Pak Rendy sebagai balas budi saya kapada Bapak yang sudah banyak membantu saya dan sudah menolong saya malam itu." Ucap Kirana sambil meremas jari tangannya dengan perasaan yang gelisah.
"Saya nggak butuh balas budi kamu. Saya nolong kamu karena memang saya nggak suka ada yang berbuat maksiat diperusahaan saya. Dan saya juga punya kewajiban untuk melindungi semua karyawan saya." Ucap Rendy.
Kirana terdiam dan sedikit menundukkan wajahnya. Ia semakin merasa gelisah.
Beni juga hanya diam dan menyimak pembicaraan mereka.
"Lalu, apa jawaban kamu sekarang?" Tanya Rendy lagi yang melihat Kirana hanya diam saja.
"Emm..saya.." Kirana tampak gelisah dan bingung juga sangat gugup.
Duuuh gimana ini?
Lanjut Kirana dalam hati.
Rendy bangkit dan berpindah tempat duduk disamping Kirana. Membuat Kirana menoleh dan menatapnya dengan jantung yang berdegup cepat.
Rendy meraih tangan Kirana dan menggenggamnya membuat Kirana terbelalak dan jantungnya semakin berdegup cepat.
Oh astaga! Ngapain sih Pak Rendy harus pindah tempat duduk dan ini..pake pegang tanganku segala?!
Jerit Kirana dalam hati semakin merasa tidak karuan melihat Rendy yang menatapnya lekat begitu dekat ditambah Rendy yang menggenggam tangannya.
"Kenapa tangan kamu dingin banget?" Tanya Rendy dan Kirana langsung menarik tangannya lalu memalingkan wajahnya.
Rendy hanya tersenyum merasa lucu melihat sikap Kirana yang jelas sekali merasa sangat gugup dan tubuhnya juga sedikit gemetar.
"Santai aja Kirana. Nggak usah gerogi. Saya cuma mau kamu memberi jawaban sekarang juga. Kamu terima saya atau enggak?" Ucap Rendy bertanya dengan terus menatap Kirana.
Beni yang hanya diam saja, ia mengulum senyumnya memperhatikan sang Bos yang terus mendesak Kirana.
Bos ini memang nggak berperasaan.
Batin Beni lalu menghela nafasnya.
Ia menilai Rendy tidak berperasaan karena Rendy terus mendesak Kirana untuk menjawabnya. Sedangkan Beni dapat melihat tingkah Kirana yang terlihat jelas dimatanya kalau Kirana merasa sangat gugup sekaligus gelisah. Beni juga tau kalau Kirana mengagumi bahkan telah jatuh cinta kepada sang Bosnya yang tampan ini.
Tapi tidak dengan Rendy. Mungkin Rendy memang tertarik dengan Kirana yang terlihat polos dan tidak neko-neko. Beni menilai kalau Rendy ingin memanfaatkan kepolosan Kirana saja saat ini.
"Baik. Saya terima!" Ucap Kirana dengan tegas tanpa ragu.
Rendy kembali tersenyum mendengar jawaban Kirana.
"Tapi saya punya syarat!" Lanjut Kirana sambil menatap serius Rendy seketika senyum Rendy memudar dan menatap Kirana dengan mengerutkan keningnya.
"Katakan aja apa syaratnya!"
Rendy tidak langsung menjawab dan terdiam sejenak merasa heran. Ia meminta Kirana untuk menjadi pacarnya karena ia ingin menunjukkan ke semua orang terutama pada media kalau ia memang sudah tidak memiliki hubungan dengan Olivia melainkan dengan wanita lain yaitu Kirana.
Rendy juga tidak menyangka dengan syarat yang diberikan oleh Kirana. Ia pikir, Kirana akan meminta imbalan berupa uang mungkin. Atau kenaikan gaji. Atau mungkin hal yang lain berupa materi. Ternyata gadis manis yang memang sangat polos ini hanya meminta untuk merahasiakan hubungannya ini kesemua orang.
"Kalau Pak Rendy keberatan, maaf saya juga keberatan untuk menerima Pak Rendy." Lanjut Kirana yang melihat Rendy hanya diam saja.
"Tunggu!" Ucap Rendy. "Kenapa kamu nggak mau semua orang tau kalau saya pacar kamu?" Lanjut Rendy bertanya dengan heran. "Apa saya terlihat buruk dimata kamu? Atau kamu takut membuat kecewa laki-laki lain yang sedang dekat dengan kamu?" Imbuhnya dengan menaikan sebelah alisnya.
Kirana terkekeh geli. "Seharusnya kata-kata itu lebih pantas saya tujukan ke Pak Rendy!" Ucap Kirana.
Rendy terbengong merasa tidak mengerti. "Apa maksudmu?"
"Apa Pak Rendy nggak nyadar? Semua karyawati disini suka sama Bapak! Apa jadinya kalau mereka semua tau saya jadi pacar Pak Rendy? Mereka pasti patah hati dan benci dengan saya Pak. Saya nggak mau itu!" Jawab Kirana dengan menatap serius Rendy.
Rendy terkekeh geli mendengar apa yang dikatakan Kirana. "Kamu bilang kalau semua karyawati disini suka sama saya?" Tanya Rendy dan Kirana hanya mengangguk. "Termasuk kamu?" Tanya Rendy lagi dengan menaikkan sebelah alisnya menatap Kirana yang seketika menjadi salah tingkah.
"Hah? Emm..saya..saya..aawh!" Jawab Kirana dengan tergagap lalu mengaduh karena Rendy menyentil keningnya. "Kenapa Pak Rendy nyentil saya? Sakit Pak!"
"Sudah sana, kembali bekerja! Saya sudah terima jawaban dan persyaratan dari kamu. Mulai sekarang kamu sudah resmi jadi pacar saya!" Tegas Rendy sambil bangkit berdiri namun Kirana terpaku dan terdiam tak bergerak.
"Kenapa diam? Kamu masih ingin disini? Saya nggak keberatan kalau kamu masih ingin disini nemenin saya kerja." Lanjut Rendy dengan menyeringai membuat Kirana langsung berdiri tegap.
"Saya permisi Pak!" Ucapnya dan langsung melangkah ingin segera keluar dari sini tapi saat melangkah, kakinya tersandung kaki meja.
"Aaawh!" Pekiknya saat terjatuh dalam pelukan Rendy dan mereka saling menatap.
Beni yang sedari tadi hanya diam ikut bangkit berdiri dan berdehem untuk menyadarkan mereka berdua yang baru saja resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. "Ehem!"
Seketika Kirana melepaskan tangannya yang memegang erat lengan Rendy dan kembali salah tingkah. Rendy hanya sedikit tersenyum dan bersikap biasa saja.
"Emm..saya permisi Pak." Ucapnya lagi dengan menunduk dan sangat gugup lalu segera berjalan keluar. Tapi Rendy menghentikannya.
"Tunggu!"
Kirana berhenti dan berbalik menatap Rendy. "Ada apa lagi Pak?"
"Selesai jam kerja nanti, datang lagi kesini." Ucap Rendy dengan menatap lekat Kirana.
Kirana terpaku sejenak lalu mengangguk. "Baik Pak." Ucapnya lalu segera keluar dari ruangan Rendy.
Kirana menghela nafasnya panjang setelah keluar dari ruangan Pak Presdir.
"Hey! Ngapain kamu nemuin Pak Rendy lagi?"
Kirana terkejut saat Siska tiba-tiba sudah berdiri didepannya dan menanyainya dengan wajah sadisnya.
"Emm..nggak ada apa-apa kok Bu. Cuma membahas pekerjaan aja." Jawab Kirana dengan menyengir. "Maaf Bu, saya masih banyak pekerjaan. Permisi!" Lanjut Kirana kemudian dengan cepat berjalan melewati Siska dan tidak menghiraukan wajah Siska yang menatapnya dengan tidak suka juga masih ingin bertanya lagi.
"Hey, aku belum selesai ngomong!" Seru Siska sambil menatap langkah Kirana yang sudah semakin jauh darinya. "Kurang ajar banget dia!" Lanjutnya dengan mengeraskan rahangnya merasa jengkel.
................