
Rendy berjalan dengan cepat dan terlihat terburu-buru saat keluar dari lift khusus menuju ruang meeting. Disana sudah ada Siska yang menunggunya. "Selamat pagi Pak Rendy. Klien sudah menunggu sepuluh menit yang lalu." Ucap Siska menyapa dan memberitau Rendy.
"Ya. Kita langsung saja." Ucap Rendy lalu masuk kedalam ruang meeting dengan perasaan tidak enak karena terlambat datang dan membuat klien barunya menunggu lama.
"Selamat pagi. Maaf saya terlambat dan membuat anda menunggu." Seru Rendy dengan wajah bersalahnya namun tetap tersenyum ramah.
"Oh selamat pagi Pak Rendy. Tidak perlu minta maaf. Tidak masalah kok." Ucap klien Rendy juga dengan ramah lalu berjabat tangan.
"Terimakasih Pak Dodi. Kalau begitu kita langsung mulai saja meetingnya." Ucap Rendy sambil menjabat tangan Pak Dodi selaku klien barunya lalu mereka duduk dan memulai meetingnya dengan serius.
Setelah satu jam lebih, meeting selesai. Rendy keluar dari ruangan meeting diikuti Siska dibelakangnya setelah Pak Dodi dan asistennya pergi.
Rendy menghela nafasnya lega karena meetingnya berjalan dengan lancar. Meski ia selalu berhasil menjalin kerja sama dengan pengusaha-pengusaha ternama, ia tetap masih punya rasa takut kalau gagal.
Rendy memang memiliki skil yang tinggi untuk menjalankan bisnis. Skilnya didapat dari Papanya yang telah sukses membangun perusahaan Pradipta Grup hingga sebesar ini. Rendy hanya meneruskan saja. Tapi skil yang dimiliki Rendy mungkin diatas Bagas Papanya. Hanya saja, Rendy yang memiliki kerendahan hati seperti Nadine Mamanya, ia selalu merasa masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan Papanya yang menurutnya sangat hebat.
Setelah Rendy masuk kedalam ruangannya, Siska menyerahkan berkas-berkas hasil meeting tadi kepada Rendy. "Ini berkas-berkas hasil meeting tadi Pak."
"Oke, kamu boleh pergi." Ucap Rendy sambil meraih berkas-berkas tersebut untuk diperiksa kembali olehnya.
"Baik Pak. Permisi." Pamit Siska kemudian berbalik dan keluar.
Tak lama, ada suara ketukan pintu dan Beni masuk dengan membawa berkas ditangannya.
"Selamat pagi Bos." Ucap Beni dengan sopan dan hormat.
"Pagi Ben. Gimana?" Balas Rendy dengan menatap Beni.
Beni langsung menyerahkan berkas yang ia bawa kepada Rendy. Rendy menutup berkas hasil meeting tadi dan menyingkirkannya kesisi meja lalu meraih berkas dari Beni.
"Semua informasi ada disini Bos." Ucap Beni dan Rendy segera membuka lalu membaca semua berkas yang diberikan Beni yang berisi informasi tentang Olivia dengan tidak sabar.
Tak hanya informasi tertulis saja yang diberikan oleh Beni, namun ada beberapa foto Olivia yang diambil oleh Beni.
"Sialan!" Umpatnya dengan menggertakkan giginya dan meremas foto yang dipenggangnya.
Ia menghela nafasnya panjang mencoba untuk meredam emosinya dan tenang. "Nggak! Ini nggak mungkin!" Gumamnya yang merasa tidak percaya dengan informasi juga foto-foto yang diberikan Beni.
Rendy mencoba menghubungi Olivia kembali. Terhubung, namun Olivia tidak mengangkat telepon darinya. Rendy sudah hilang kesabaran dan ia segera beranjak dari tempatnya lalu pergi ke tempat dimana Olivia berada saat ini. Tentu saja Beni yang mencantumkan alamat tempat tinggal Olivia didalam informasinya tersebut.
"Bos!" Beni menghentikan langkah Rendy.
"Aku harus memastikan sendiri Ben. Aku masih belum bisa percaya dengan semua informasi yang kamu berikan." Ucap Rendy dengan menatap Beni.
"Kalau begitu, aku akan mengantar Anda Bos." Ucap Beni dan mereka pergi bersama dengan Beni yang mengemudikan mobil membawa Rendy ke sebuah apartemen dimana Olivia berada saat ini.
Dalam perjalanan menuju apartemen baru tempat tinggal Olivia, Rendy tak henti-henti terus memikirkan kekasihnya yang selama hampir empat tahun ini sangat dicintainya dan dipercayainya. Hati dan pikirannya mencoba untuk mengelak dan tidak percaya dengan semua informasi yang diberikan oleh Beni tadi.
"Ben, lebih cepat lagi!" Titah Rendy kepada Beni dengan sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan.
"Baik Bos!" Jawab Beni dengan fokus menyetir. Meski jalanan ibu kota selalu ramai dan macet, Beni berusaha untuk mencari celah untuk bisa cepat sampai ke apartemen tempat tinggal Olivia yang baru.
Rendy menghela nafasnya kasar dan ia juga harus lebih bersabar lagi untuk sampai ke tempat yang ditujunya. Hampir satu jam perjalanan, akhirnya mobil Rendy yang dikemudikan Beni sampai di depan apartemen baru yang saat ini menjadi tempat tinggal Olivia.
"Aku turun disini aja!" Seru Rendy dan langsung membuka pintu mobilnya lalu turun. Beni memarkirkan mobilnya dan segera menyusul Bosnya.
Banyak sekali yang ingin ditanyakan oleh Rendy kepada Olivia. Kenapa Olivia pindah dari apartemen sebelumnya? Karena apartemen yang sebelumnya juga belum lama ditempatinya. Lalu apa maksud dari semua foto-foto yang ia dapat dari Beni tadi?
Sesampainya di depan unit apartemen Olivia, Rendy memencet bell. Tak ada jawaban juga tak ada yang membukakan pintunya. "Apa benar ini unit apartemen Olivia?" Gumamnya karena sudah tiga kali ia memencet bell, tapi tak ada yang membukakan pintu untuknya.
Rendy pun merasa tidak yakin kalau ini adalah unit apartemen baru Olivia. Ia berbalik dan melihat Beni berjalan menghampirinya.
"Ben, kamu yakin ini unit apartemen Olivia?" Tanya Rendy yang masih belum mempercayai Beni.
"Aku sangat yakin Bos." Jawab Beni dengan penuh keyakinan.
Rendy kembali menghela nafasnya Ia sudah tidak sabar lagi menunggu dan ia memutuskan untuk pergi dari sana. Namun, saat hendak melangkah, Rendy dikejutkan dengan apa yang dilihatnya didepan mata.
................