
Tiba akhirnya, dimana waktu aku harus berpisah dengan puteri ku, jauh darinya, merelakan dia hidup mandiri di negeri orang. Yah, bisa saja. Kapanpun aku mau menjenguknya disana, tinggal lama dengannya, tapi sayang. Entah karena impiannya yang begitu besar, entah karena dia terlalu ingin fokus belajar atau... Ah, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Pelangi melarangku untuk sesering mungkin pergi menjenguknya selama kuliah di LN.
Dan lebih membuatku terkejut, Abel berpamitan untuk pergi ke luar kota tanpa menemuiku lebih dulu, begitupun Joe. Pelangi bilang Joe mengurungkan niatnya untuk kuliah di tempat yang sama dengan Pelangi. Dengan bangak alasan yang tak ku mengerti, ini memang sedikit aneh. Pikirku, tapi.. Ah, biarlah. Mungkin dengan begitu, puteriku Pelangi bisa lebih fokus dalam belajar. Jika terus bersama Joe aku bisa pastikan jika mereka hanya akan lebih fokus dalam hubungan saja.
Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas, bagaimana saat itu Joe ketika masih bersama Pelangi, mereka selalu lebih menghabiskan waktu berdua saja. Meski itu terbilang dalam hal positif, namun sebagai ibu dan memiliki masa lalu yang buruk sepertiku, aku mulai khawatir. Benar kata bunda, beliau bilang... Aku akan semakin merasa was-was ketika puteriku sudah beranjak dewasa.
Menjadi mahasiswa di kampus terbesar serta terbaik di dunia tentu menjadi impian semua pelajar bukan? Yah, dimana... Segala cerita baru akan dimulai dengan hal yang berbeda. Khususnya dalam hal bercinta, hal itu lah yang selalu aku tekankan pada Pelangi untuk menjadi pribadi yang tak mudah tumbang dalam perihal perasaan.
"Nak, berhati-hatilah. Jaga diri baik-baik, jangan telat makan, kemanapun kau pergi selalu teliti sekitar, kau juga harus menelpon mama dan papa sesering mungkin. Kau memang keterlalun, kau menolak kami untuk mengantatmu ke LN." Ujar ku ketika sudah mengantarnya di Bandara. Lisa yang berdiri di sisinya tertawa cekikikan.
Aku dan Irgy juga si kembar sudah mengantarnya di bandara, Jeni dan Lucas pun ikut menemani. Kedua orang tua lisa tidak bisa ikut mengantarnya karena mereka adalah terbilang pekerja keras. Masing-masing memiliki perusahaan, ayah Lisa seorang direktur, sedangkan ibunya sebagai dokter kecantikan dan sudah mendirikan klinik pribadi.
"Iih, mama. Sejak tadi sudah ratusan kali mama bicara seperti itu padaku. Pa... Mama tuh," ujarnya merengek manja pada Irgy, papanya.
"Hmm... Maklumi saja, mama mu kan memang super cerewet. Dia belum pernah berpisah dengan mu, sebelumnya. Dan papa... Papa akan sangat merindukanmu, Peri kecilku."
"Aah, pa-pa. Aku bukan peri kecil lagi."
Dengan manja Pelangi memeluk Irgy, aku pun memeluknya dengan hati yang bergejolak, tangisan ku sudah ingin meluap rasanya. Ku lihat ketiga sahabatnya pun menangis menyaksikan kami merangkul haru Pelangi.
"Kakak, hati-hati ya disana. Jangan pacaran terus, ingat menelpon kami juga." Ujar si kembar menggoda kakaknya. Pelangi hendak menjitak mereka berdua, namun di tahannya saat mereka sudah memekik terlebih dahulu.
"Hah, untuk kali ini kakak akam membiarkan kalian menggoda kakak seperti itu. Karena kakak akan sangat merindukan kalian nantinya. Jangan nakal dirumah, jangan merepotkan papa dan mama terus ya."
Lalu Pelangi menghampiri ketiga sahabatnya yang sudah berdiri menunggunya sejak tadi.
"Hikzt... Princess cold, aku akan sangat merindukan kebersamaan kita. Kalian jaga diri baik-baik disana, kita harus tetap saling memberi kabar ya." Ujar Lucas memeluk Pelangi. Lalu kemudian mereka saling merangkul bersama.
"Aku akan sangat merindukan kalian. Dalam keadaan apapun kita harus tetap menjaga keutuhan persahabatan kita. Tak peduli jarak kita saat ini." Ujar Jeni.
Lalu kemudian terdengar suara pengumuman untuk pemberangkatan pesawat yang akan di tumpangi Lisa dan Pelangi.
"Lisa. Tante titip Pelangi ya, kalian harus saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Jikapun nantinya kalian akan menghadapi masalah yang sama, tetaplah saling merangkul bersama."
"Siap tante, jangan khawatir. Aku dan Pelangi bukan lagi sahabat. Kita semua saudara. Iya kan teman-teman?" Jawab Lisa seraya menatap semua sahabatnya. Mereka mengangguk dengan wajah sedih akan berpisah satu sama lain.
Aku tersenyum lega. Bersyukur puteriku Pelangi masih di kelilingi sahabat terbaik dan setia selama ini. Pelangi pun melangkah pergi dengan Lisa, menarik koper mereka. Memasuki ruangan dimana kami sudah tidak bisa menemaninya bersama. Sesekali Pelangi menoleh ke belakang, menatap kami, melambaikan tangan dengan senyuman paksa.
Fokuslah belajar anak ku, kejarlah cita-cita dan impianmu. Semoga Tuhan selalu melindungimu, semoga Tuhan mengabulkan semua harapanmu kelak. Banggakan kami sebagai orang tuamu, Nak.
Aku menangis tersedu dalam pelukan Irgy ketika Pelangi sudah menghilang dari pandangan ku...
🌹Halo semua, dengan author disini, kembali menyapa kalian. Semoga masih setia dan memberikan like juga vote untuk karya ku ini, btw... Beberapa hari ini aku udah sering crazy up loh. Eh iya untuk episode selanjutnya akan lebih fokus pada musim pertama kehidupan Pelangi sebagai mahasiswi baru, akan banyak kejutan di dalam nya. Mohon bersabar dan tetap mendukung, tidak terima komentar hujatan untuk Author. Big hug untuk kalian semua...🌹