Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 289



Di rumah sakit...


Exelle terduduk diam saat dokter membersihkan serta menangani luka di kepalanya. Sesekali ia meringis menahan rasa nyeri meski sudah di suntik bius sebelumnya. Lucas menemaninya dengan berdiri mondar mandir di luar ruangan. Di sisi lain dia memikirkan kondisi Joe.


Di ruang yang berbeda, Jeni dan Lisa dengan setia menemani Pelangi yang sudah mendapat penanganan dari dokter untuk segera sadarkan diri.


"Iya, tante. Maaf, kami membuat khawatir. Kami masih sedang mengerjakan sesuatu. Lucas baru saja memecahkan gelas termahal milik tante nya, jadi kami masih membantunya membersihkan ruangan kita, sangat kotor."


Klik!!!


Panggilan berakhir.


Itu yang di sampaikan Lisa padaku. Dia menelpon ku untuk menyampaikan bahwa mereka akan benar-benar pulang terlambat. Aku sedikit lega, Lisa menjelaskannya demikian.


🌻


Kemudian Lisa menarik nafas dalam-dalam, di dalam ruangan tempat Pelangi masih tak sadarkan diri.


"Hah, ini seperti mimpi buruk bagiku." Ujar Lisa memijit mijit batang hidungnya.


"Hem, aku tidak percaya jika malam perayaan kelulusan kita harus di suguhkan dengan simbahan darah." Jawab Jeni dengan menyilangkan kedua tangannya di atas perutnya.


"Iiih, kasihan Princess cold kita. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia tahu semua ini, dia pasti akan sangat setress bukan? Atau mungkin malah trauma psikisnya, Joe benar-benar brengsek. Apa yang merasukinya, bisa sampai setega ini?"


"Sejak awal di kafe, aku sudah mencoba mengamati gerak geriknya. Apa kau lupa, beberapa kali dia meminta maaf dan membandingkan dirinya dengan Exelle?"


"Iya, saat itu aku hanya menganggap karena dia cemburu berat. Itu hal biasa bukan? Ah, memalukan. Aku sangat bodoh sampai kecolongan seperti sekarang ini." Lisa mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Exelle bilang mereka bersaudara, satu ayah. Apa kau percaya?" Tanya Jeni pada Lisa.


"Aaaah... Entahlah, aku jadi merinding lagi mengingat hal itu. Mereka sangat jauh berbeda bukan?"


"Akh..."


Terdengar suara Pelangi mengadu. Dia sudah sadarkan diri dengan memijit kedua sisi ujung keningnya.


"Eh, Princess cold. Kau sudah sadar?" Lisa dan Jeni menghampirinya.


Pelangi beranjak bangun dan duduk menoleh ke kanan dan ke kiri sekitar ruangan.


"Ada apa?" Tanya Pelangi kemudian.


"Eh, kau... Kau tadi tiba-tiba pingsan di to-i-let. Ehm, yah. Di toilet kau pingsan." Jawab Lisa, begitupun Jeni yang mengangguk mantap.


"Pingsan? Bukankah tadinya aku bersama Joe di toilet? Dan aku..." Pelangi terdiam sejenak berusaha mengingat apa yang terjadi sembari memijat ujung keningnya. Dia masih merasakan pening di sekitaran kepalanya.


"Sebelum aku tidak ingat apapun lagi, aku masih sempat merasakan jika Joe mencoba menciumku lagi."


"So what?" Jeni dan Lisa terkejut kompak.


"Astaga, apaan sih bikin kaget aja. Kenapa kalian terkejut begitu? Aku sudah melawannya lalu tidak ingat apa-apa lagi." Jawab Pelangi lagi.


"Ah, maksud kami.. Kami hanya terkejut. Sepertinya kau hanya bermimpi buruk saja tadi, karena kau pingsan di toilet." Jeni mencoba terus meyakinkan Pelangi, kali ini Lisa hanya mengangguk ucapan yang di sampaikan oleh Jeni.


"Lalu dimana Joe dan Lucas? Ah, ya ampun. Aku juga lupa jika Exelle mau menjemputku, dimana tasku? Dia pasti menunggu ku disana." Pelangi turun dari ranjang sembari menengok jam tangan nya.


"Hei hei, tenanglah sebentar. Kau baru saja sadarkan diri, sudah. Tak apa, nanti Exelle akan menyusul."


"Tapi dimana Joe?" Pelangi masih menanyakan nya.


"Joe, dia.. Sudah pulang baru saja. Karena maminya menelpon dia bilang ada hal penting. Jadi kami menyuruhnya pulang lebih dulu." Jelas Lisa dengan canggung.


Pelangi menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Apa, hah? Apa kau tidak percaya? Joe sedang ada urusan mendesak. Dia pulang dengan buru-buru setelah dokter memastikan kau baik-baik saja." Jelas Lisa kembali.


"Sudah lah, kenapa kau hanya peduli pada Joe saja? Apa kau masih peduli dan mencintainya?"


"Astaga. Kalian sangat aneh, apakah kalian menyembunyikan sesuatu dariku" Ujar Pelangi dengan tersenyum tipis menggoda Lisa dan Jeni.


"Eh, jaket siapa ini? Apakah milik Joe?" Tanya Pelangi kembali setelah pandangannya sampai pada sebuah jaket di sisinya.


"Itu... Itu milik..."


"Itu milikku, cewek galak."


Ujar datang dengan memakai kaos putih polos menghampiri ke ruangan Pelangi saat ini. Sebuah perban yang melekat di bagian belakang kepalanya masih bisa dia sembunyikan karena berhadapan dengan Pelangi.


"Hei, Ex. Kau sudah disini ternyata?" Pelangi menyambutnya dengan ramah.


"Hem, iya. Aku tadi menyusul kalian, lalu pergi sebentar jalan-jalan dengan Lucas. Iya kan Luc?" Jawab Exelle melempar tanya pada Lucas. Sontak Lucas salah tingkah dan kikuk di depan Pelangi.


"Ah, ya. Tadi, dia mengajakku dan terus menggodaku, Princess cold. Ih, aku jijik berdekatan dengannya."


"Oh. Hahahaha, sejak kapan kalian sudah daling akrab begitu?" Pelangi tertawa lepas.


"Sejak tadi. Hihi, dia menggemaskan." Ujar Exelle lagi sembari tertawa cekikikan.