Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 162



Perjalanan ini sungguh sedikit menegangkan, ini pertama kali aku mengemudi sendiri dengan di temani seorang anak kecil yang sejak tadi duduk di samping ku penuh keceriaan dan kegembiraan. Dengan riang gembira bernyanyi dan berhitung, sesekali menyebut abjad berkali-kali meski itu masih belepotan.


Aku jadi terbawa suasana, tertawa riang bersama gelak tawa Pelangi yang bertingkah lucu sejak tadi. Plong rasanya, sejenak aku bisa melupakan segala masalah yang ku hadapi saat ini. Dengan tetap fokus mengemudi aku ikut bernyanyi dan berhitung mengikuti arahan Pelangi.


Tak terasa aku sudah memasuki jalanan kota mengarah ke rumah ibu ku, setelah berjam-jam dalam perjalanan. Kami berhenti hanya disaat Pelangi merasa ingin buang air kecil dan kehausan.


Memasuki halaman rumah ibu, aku memencet klakson mobil lebih dulu. Dan tak berapa lama kemudian bibi Asri membuka pintu rumah ibu yang kemudian di susul oleh ibu. Mereka menyambutku dengan senyuman hangat, aku hendak keluar lebih dulu untuk membukakan pintu pada Pelangi namun dia sudah lebih dulu turun lalu berlari memeluk ibu ku.


"Omaaa, oma baiiik..." Panggil Pelangi dengan teriak.


"Hallo... Upz, aw. Aduh, oma sudah tidak kuat lagi menggendong cucu oma yang sudah besar ini." Sambut ibu dengan memeluk dan menciumi Pelangi berkali-kali. Tampak dia kesusahan untuk menggendong Pelangi.


"Bunda.." Panggil ku kemudian dan memeluk ibu, mencium kedua pipinya bergantian.


"Selamat datang nona, selamat datang nona kecil..." Sapa bibi Asri.


Aku tersenyum menanggapinya. Kemudian ibu mengajak kami segera masuk ke dalam.


"Kalian pasti sangat lelah, bibi Asri sudah menyiapkan kamar untuk kalian berdua."


"Oma, oma. Nanti Pelangi mau tidur sama oma baik," Celoteh Pelangi dengan comelnya.


"Aah, sungguh.. Ehm, oma senang mendengarnya."


"Tapi Pelangi haus oma, Pelangi mau jus." Celotehnya lagi.


"Nona kecil, bibi sudah menyiapkan semua yang nona sukai. Ayo sama bibi sini," Ujar bibi Asri. Pelangi menanggapinya dengan riang gembira.


"Bunda, Fanny sangat lelah dan merasa sedikit mual. Kepala rasanya pening, Fanny ingin merebahkan tubuh sebentar." Ucapku kemudian pada ibu.


"Eh, baik lah Nak. Saat makan malam nanti bunda akan membangunkan mu."


Aku mengangguk kemudian langsung menuju kamar yang sudah ibu siapkan. Kamar yang selalu aku gunakan selama ada dirumah ibu sewaktu-waktu.


Sebelumnya aku membereskan segala perlengkapan ku dengan Pelangi. Hingga rasanya aku sungguh merasa remuk di sekujur tubuhku.


Aku merebahkan diri sejenak, melepas lelah selama dalam perjalanan kemari. Pikiran ku kosong, perlahan mataku mulai mengantuk dan aku terlelap tidur.


Sesaat kemudian aku merasa jika waktu tidur ku begitu singkat, aku di kejutkan oleh suara ketukan pintu dan suara ibu yang memanggilku berulang kali. Membuatku terbangun dengan kondisi kepala masih terasa berat dan pening.


Ku lirik jam di pergelangan tangan ku, menunjukkan pukul 7 malam. Aku terperanjat kemudian melangkah menuju pintu kamar. Untuk membukanya karena suara ibu masih terdengar terus memanggilku.


"Ya bunda, maaf Fanny ketiduran." Jawab ku dengan setengah mata terpejam.


"Waktunya makan malam nak, ayo makan dulu. Setelah itu kau lanjutkan istirahat kembali."


"Hemm, baiklah. Aku segera keluar, aku akan membersihkan diri dulu bunda." Jawab ku dengan suara lemas.


Dengan langkah gontai aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu, untuk kembali membuat tubuhku segar kembali.


Setelah itu, ku pikir tadinya akan segar dan merasa nyaman kembali setelah mandi. Tapi tidak, justru sekujur tubuhku terasa semakin lemas. Aku jadi sedikit demam, ah.. Aku benci kondisi yang membuatku harus jatuh sakit. Aku benci minum obat, aku harus kuat, gumam ku dalam hati.


Kemudian aku keluar kamar meski kedua langkah kaki ku terasa menggigil dan gemetaran saat ku langkahkan satu demi satu. Hingga tiba di meja makan, aku mencium aroma masakan ibu yang telah lama ku rindukan.


"Hmm... Aku sudah lama merindukan aroma khas ini." Ujar ku sembari mengenduskan hidungku.


"Makan yang banyak Nona, ini semua ibu yang masak. Sengaja beliau memasak sebanyak ini untuk anda dan nona kecil."


"Terimakasih Bi, kau juga berjasa selalu setia dan siaga menjaga ibu selama jauh dari ku."


"Ini sudah menjadi tugas bibi non. Baik lah, selamat menikmati makan malam, bibi ke dapur dulu untuk melanjutkan pekerjaan."


"Bi, gak ikut makan nih?" Tanya ku lagi.


"Masih kenyang non, nanti saja." Jawabnya dengan senyuman hangat.


"Ehm, baiklah." ujar ku menanggapi lalu kemudian meletakkan satu porsi nasi di tambah dengan beberapa daging serta sayuran yang di masak se lezat mungkin oleh ibu.


"Nak, pelan-pelan makannya. Nanti pencernaan mu terganggu Fanny," Ujar ibu ku ketika aku makan begitu lahapnya.


"Fanny lapar sekali bunda." Jawab ku singkat serta terus menyantap makan malam ku.


"Ma, ayo lomba makan." Tiba-tiba Pelangi berucap hal yang membuat ibu ku tertawa geli.


"Ayo, siapa takut."


"Gak boleh curang ya Ma," Jawab Pelangi mengancam. Aku terus menyantap makanan ku tanpa henti begitu juga dengan Pelangi. Kami sungguh terlihat seolah sedang kelaparan saja.


Setelah puas dan merasa kenyang aku menegak segelas air putih. Sedangkan Pelangi masih asyik menyantap makan malam nya di temani oleh ibu ku yang sudah selesai lebih dulu menghabiskan makan malam nya.


"Fiuht... Kenyang." Ujarku menarik nafas dalam-dalam karena perut ku begitu begah terasa.


Kemudian aku beranjak pergi lebih dulu dari meja makan, aku berniat untuk pergi ke teras depan rumah. Aku duduk di sebuah kursi yang tersedia sejak awal di teras depan rumah ibu. Malam ini langit begitu cerah dengan sinar rembulan yang sangat jelas terasa menyinari seluruh halaman depan rumah ibu.


Aku duduk menengadahkan kepala ke atas, ku pejamkan mata sejenak. Entah kenapa tiba-tiba aku mulai berlinangan air mata yang terus mengalir membasahi pipi ku. Aku teringat ketika awal berjumpa dengan Irgy kala itu. Aku teringat akan masa-masa indah kami berdua, tak perduli seberat apapun ujian kami selama ini. Aku tetap mempercayainya sebagai suami yang paling ku kagumi.


Ah, ada sedikit perasaan rindu kegombalannya datang menyelimuti. Tapi ku benci, aku benci kekecewaan ini. Pikiran ku terus melayang jauh menelusuri setiap bayang-bayang masa indah awal kami saling mengenal dan jatuh cinta. Seolah pikiran ku kini sedang berjalan-jalan menapaki masa-masa indah hubungan kami.


Andai saja kau mau lebih dulu terbuka padaku tentang masa lalu mu dengan wanita itu, Irgy. Aku tidak akan sekecewa ini... Apakah aku salah jika butuh waktu untuk menenangkan diri sejenak? Berharap kita sama-sama saling intropeksi diri, membenahi setiap masalah kita yang terjadi saat ini.


"Nak, apa kau belum mengantuk?" Tanya ibu yang kemudian menduduki kursi kosong di sebelah ku.


"Ah, bunda. Ehm, tadinya ngantuk. Sampai air mata mu terus mengalir, hehe." Jawab ku dengan berpura-pura.


"Tidurlah, ini sudah malam. Pelangi sudah terlelap, dia terlihat begitu kelelahan."


"Hem, bunda tidurlah lebih dulu. Aku masih ingin disini bunda,"


"Baiklah, jangan lama-lama diluar. Udara malam tidak baik untuk kesehatan Nak," Jawab ibu sembari hendak kembali memasuki ruangan.


"Bun,bunda..." Panggil ku dengan ragu. Ibu berbalik menoleh ku dan aku menundukkan wajah saat beliau menatapku yang seolah memancingku untuk memulai bicara lebih dulu.


"Apakah.. Bunda tidak ingin bertanya alasan ku tiba-tiba pulang kemari bund?" Ucap ku lagi.


Ibu tersenyum menatapku kemudian duduk kembali di kursi tadi.


"Nak, apa bunda masih boleh menasehatimu seperti saat kau masih remaja dulu?"


Aku terdiam menundukkan wajah lalu air mataku menetes satu per satu dari kedua mata ku.


"Fanny, kau mendengar bunda Nak?"


Aku hanya mengangguk tanpa berani menatap kembali wajah ibu.


"Nak, dengarkan bunda. Saat ini, kau sudah menikah. Kau sudah menjadi seorang ibu pula, bunda tidak tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian saat ini. Tapi Nak, tidak seharusnya kau pergi meninggalkan rumah dalam keadaan emosi serta tanpa izin suamimu Irgy."


Degh !!!


Darimana ibu tahu jika aku pergi tanpa izin suami, serta aku begitu emosi.. Mungkin kah Irgy lebih dulu menelpon ibu?


"Apakah.. Irgy memberitahu bunda sebelum aku sampai disini? Iya?"


"Ya, suami mu begitu panik dan khawatir saat di telepon tadi. Tapi dia melarang bunda memberitahu mu, dia mengizinkan mu untuk meredakan amarah mu disini sampai kau benar-benar tenang dan memaafkan Irgy, menerima Irgy kembali seperti dulu."


Aku sudah menduganya, bibi pasti langsung mengabari Irgy atas kepergian ku tadi.


"Bunda, salah kah Fanny seperti ini?"


Aku mulai sesunggukan dalam tangis ku.


"Nak, semenjak menikah. Kau bukan lagi tanggung jawab bunda. Kau sepenuhnya milik suami mu Irgy, seberat apapun masalah kalian. Selesaikan dengan baik Nak, jangan berlarut-larut dalam emosi kasihan Pelangi."


"Fanny takut bunda, Fanny masih menyimpan rasa trauma yang begitu besar dari setiap hubungan di masa lalu Fanny. Sejujurnya, Fanny terlalu mencintai Irgy. Sehingga Fanny takut seseorang merebutnya dari kehidupan Fanny."


"Bunda mengerti itu, tapi masa lalu bukan lah hal yang patut kau takuti nak. Jangan selalu menyamakan setiap hal yang terjadi pada mu saat ini tidak berarti kau kembali jatuh di lubang yang sama bukan?"


"Tapi Fanny kecewa dengan Irgy bunda, dia tidak pernah jujur, dia tidak pernah mengizinkan Fanny memasuki masa lalu nya dahulu. Fanny benci itu,"


"Apakah Irgy tergiur dengan godaan wanita itu?" Tanya ibu membuatku terhentak.


"Bagaimana bunda tahu jika kami bertengkar karena seorang wanita di masa lalu?"


Ibu tersenyum mendenger pertanyaan ku.


"Kau lupa? Jika ibunda mu ini sudah lebih dulu terlahir ke dunia ini. Setiap permasalahan dalam hubungan berumah tangga memang tidak selalu sama. Tapi kita harus tetap siaga, jangan pernah lemah. Jadikan setiap masalah dan ujian dalam rumah tangga kalian sebagai ikatan agar kalian semakin harmonis dalam rumah tangga."


"Maafkan Fanny bunda, jika kali ini Fanny terlalu egois dan salah."


"Tidak nak, bunda tidak menyalahkan mu dalam hal ini. Setiap wanita mungkin akan berperilaku sama jika sudah menyangkut hal tentang perasaan cemburu, marah, atau kecewa sekalipun."


"Fanny sangat mencintai Irgy bunda, sangat mencintainya. Apakah bunda percaya itu?"


"Hahahaha, jika kau tidak mencintainya begitu besar kau tidak akan kabur kerumah ini. Iya bukan?"


"Aaah, bunda. Jangan meledek Fanny, aku tahu bunda sudah pasti akan melindungi dan lebih membela Irgy." Jawab ku dengan bibir manyun.


"Fanny, Fanny... Kalian memang sudah di takdirkan berjodoh dan akan selalu bersama sampai akhir hayat. Jadi untuk apa kau khawatir jika Irgy akan berpaling?"


"Lalu apa yang harus Fanny lakukan saat ini bunda? Jujur, rasa kecewa ini masih begitu membakar hati dan pikiran Fanny."


"Tenangkan lah hatimu Nak, kau masih di selimuti oleh emosi sesaat. Bunda sudah meminta izin pada Irgy, agar membiarkan mu menenangkan pikiran mu sementara disini. Sedangkan Irgy masih begitu sibuk dengan urusan kantornya. Setelah semua kembali normal Irgy akan menjemput kalian kemari. Lagi pula, bunda masih sangat merindukan Pelangi cucu bunda satu-satunya."


"Tapi bunda... Fanny masih belum ingin bertemu dengan Irgy, Fanny tidak ingin berkomunikasi dulu dengan nya."


"Sampai kapan nak?"


Aku menggelengkan kepala akan pertanyaan ibu yang singkat ini. Karena aku pun tidak tahu kapan hatiku akan kembali tenang dan meredakan kekecewaan ini...


"Sudah, jangan lagi berpikir hal yang aneh. Terkadang, dalam kehidupan berumah tangga sering kali kita merasa bosan atau jengah dengan sikap dan perlakuan pasangan kita. Kita hanya butuh menjauh sesaat untuk saling mengerti dan membenahi diri dari pemicu terjadinya setiap masalah itu sendiri."


"Aku mengerti bunda."


"Hubungan dalam rumah tangga tanpa masalah, kadang juga jadi penyebab retaknya hubungan itu sendiri nak, apa mau tahu itu?" Tanya ibu ku kembali.


Lagi dan lagi aku menggelengkan kepala menjawabnya.


"Maka dari itu, belajarlah mulai sekarang dari masalah yang kalian hadapi saat ini..."