Because, I Love You

Because, I Love You
#61



"Aku mau kasih ini." Jawab Beni sambil menyodorkan paperbag dengan logo buah apel kepada Kirana.


Kirana tidak langsung menerimanya. Ia hanya menatapnya saja. Ia tau kalau yang dibawa Beni adalah ponsel tapi ia masih tetap bertanya. "Ini apa Pak?"


"Ini hadiah untukmu." Jawab Beni dengan sedikit tersenyum.


"Hadiah? Tapi aku nggak ulang taun dan juga nggak ikut undian apapun." Ucap Kirana dengan wajah polosnya.


"Anggap aja hadiah ini sebagai peemintaan maafku karena sudah membohongimu semalam. Aku harap kamu mau nerima ini." Ucap Beni dengan tulus menatap Kirana.


"Maaf Pak aku nggak bisa terima hadiahnya. Tapi aku udah terima permintaan maaf Pak Beni kok." Ucap Kirana juga dengan senyum tulusnya.


"Kalo gitu makasih. Tapi kamu tetap harus terima ini. Aku tau kamu butuh benda ini kan?"


Kirana terdiam dan berpikir sejenak. Memang ia sangat butuh ponsel. Apalagi ia belum bisa membeli ponsel baru untuk saat ini. Ia harus menabung dulu kalau ingin membelinya.


Kirana pun tersenyum dan matanya berbinar. "Begini aja Pak, gimana kalo HP ini aku beli. Tapi aku bayarnya nyicil ya?" Tanya Kirana bernegosiasi dengan Beni.


Beni mengernyit merasa sangat heran. Baru kali ini ia mengenal perempuan yang menolak pemberian dari orang lain. Padahal ponsel yang ia beli ini cukup mahal. Tapi Kirana tidak mau menerimanya malah ingin membayarnya dengan mencicil.


Ada perasaan kagum dalam hati Beni terhadap pacar baru Bosnya ini.


"Oke, terserah kamu aja. Asal kamu mau terima ini dan ikut aku." Jawab Beni membuat Kirana langsung melotot dan waspada.


"Ikut Pak Beni?!" Pekiknya.


"Maksudku ikut aku untuk membantuku mbak. Jangan salah paham." Jawab Beni yang membenahi ucapannya karena melihat Kirana panik.


"Maaf Pak. Aku nggak mau kalo itu menyangkut Pak Bosmu yang nyebelin itu!" Tolak Kirana dengan tegas.


"Mbak Kirana. Kali ini aku beneran butuh bantuan kamu! Bos sedang sakit. Dia demam tinggi. Aku nggak tau dia tidur atau pingsan. Sekarang dia sedang diapartemennya karena nggak mau membuat repot orang rumah." Ucap Beni memberi penjelasan kepada Kirana agar Kirana mau ikut bersamanya mengurus Rendy yang sedang sakit.


Kirana terdiam dan terpaku mendengar kalau Rendy sakit dan demam tinggi. Ia pun teringat saat tadi menatap wajah tampan Rendy yang memang terlihat pucat dan tidak seperti biasanya. Hatinya pun merasa cemas.


"Ya udah, aku ganti baju dulu Pak. Pak Beni silahkan duduk dulu." Ucap Kirana yang membuat Beni merasa lega karena Kirana mau ikut bersamanya ke apartemen Rendy.


...


Sesampainya di apartemen Rendy, Beni menekan beberapa digit angka untuk membuka pintunya.


"Mari mbak, silahkan masuk." Beni mempersilahkan Kirana masuk.


Kirana berjalan masuk sambil memperhatikan sekeliling ruangan. Semalam ia sudah datang kesini dan belum menyadari ternyata apartemen Rendy benar-benar sangat luas dan bagus juga elegan. Sangat cocok dengan karakter seorang Rendy.


Tidak begitu banyak barang didalamnya dan sangat rapi juga harum.


"Eh, ngapain kamu kesini?"


Kirana merasa terkejut saat mendengar suara seorang wanita yang sudah tidak asing lagi baginya. Ia berbalik dan menatap kearah sumber suara.


Beni pun terkejut saat melihat siapa yang baru saja keluar dari kamar Bosnya.


"Mbak Olivia?"


"Kamu ngapain kesini?" Tanya Olivia kembali kepada Kirana yang terlihat sedang menatapnya dengan tatapan sulit dimengerti.


"Mbak Olivia sendiri ngapain tiba-tiba ada disini?" Sahut Beni dengan wajah dinginnya menatap Olivia.


Olivia tersenyum sinis sambil bersedekap menatap Beni. "Aku kesini karena tadi Rendy telpon aku. Ternyata dia lagi sakit dan aku kesini juga mau merawatnya."


Beni mengernyit mendengar jawaban Olivia. Ia merasa tidak percaya. Tidak mungkin kalau Rendy menelponnya apalagi memintanya datang ke apartemennya.


Tapi, bagaimana Olivia bisa masuk kedalam apartemen Rendy?


Ada dua kemungkinan. Mungkin saja Rendy yang memintanya datang lalu membukakan pintu untuk Olivia. Atau Olivia tau password apartemen milik Rendy ini.


"Em..Pak Beni, karena sudah ada Olivia, sebaiknya aku pulang lagi aja." Ucap Kirana yang sejak tadi hanya terdiam. Ia memilih untuk segera pergi dari sini karena perasaannya merasa dipermainkan.


Kalau memang Rendy masih mencintai dan menginginkan Olivia, untuk apa dia melibatkan dirinya dalam masalah percintaannya ini? Untuk apa juga memintanya menjadi pacarnya?


Kirana merasa kalau Rendy memang laki-laki yang sangat berengsek. Bahkan setelah ia menerimanya untuk menjadi pacarnya dan memberi persyaratan kepadanya, jelas-jelas Rendy tidak peduli dengan persyaratan dari Kirana. Entah tidak peduli atau Rendy memang tidak membacanya. Atau mungkin ia melupakannya karena memang tidak peduli dengannya.


Yang membuat Kirana sangat kecewa dan merasa dipermainkan, Kirana masih sangat ingat ucapan Rendy yang mengatakan kalau dia benci dikhianati.


Tapi nyatanya malah dia sendiri yang telah berkhianat kepadanya!


"Tunggu dulu mbak!" Beni langsung mencegah Kirana untuk tidak pergi.


"Hey! Dia mau pergi, jadi biarain aja dia pergi! Ngapain kamu halangi dia?" Pekik Olivia dengan geram pada Beni.


"Karena mbak Kirana pacarnya Bos, dan mbak Kirana lebih berhak berada disini. Jadi sebaiknya kamu yang pergi dari sini." Ucap Beni dengan tegas dan menatap dingin Olivia.


"Kamu juga nggak berhak nyuruh aku pergi dari sini! Kamu pikir kamu ini siapa hah?! Kamu cuma kacungnya Rendy dan aku nggak akan pernah sudi nurutin perintah kamu!" Teriak Olivia dengan penuh emosional kepada Beni.


Ucapan Olivia sama sekali tidak membuat Beni merasakan apapun. Beni sudah tau sejak awal bagaimana Olivia. Dia sudah tidak terkejut lagi dengan apa yang diucapkan Olivia.


"Pak Beni, udahlah Pak. Nggak perlu ribut-ribut gini. Kasian Pak Bosmu lagi sakit, ntar keganggu istirahatnya. Sebaiknya aku pulang aja. Nggak masalah siapa aja yang mau dateng dan merawat Mas Rendy. Yang terpenting dia bisa cepet sehat lagi kan?" Sahut Kirana dengan tenang dan mencoba untuk menenangkan suasana.


"Tapi mbak...


"Apaan sih Ben ribut-ribut?! Nggak tau apa aku lagi pusing?!"


Tiba-tiba Rendy keluar dari kamar karena tidurnya terganggu dengan suara ribut-ribut diluar kamarnya.


Dasi, jas dan sepatu sudah terlepas. Dan kancing kemeja Rendy juga hampir semuanya terlepas. Sedikit memperlihatkan dadanya yang bidang.


Rendy yang masih setengah sadar, ia berusaha menyadarkan dirinya dan merasa terkejut saat melihat ada sosok Kirana berdiri disamping Beni.


Ia sedikit memicingkan matanya menatap Kirana. "Kamu? Ngapain kamu ada disini?"


"Honey, kenapa kamu bangun?" Olivia pun langsung berjalan mendekati Rendy dan memeluk lengannya dengan manja.


Rendy kembali terkejut ternyata juga ada Olivia disini. "Oliv? Kamu juga ngapain kesini?" Tanya Rendy dengan mengernyitkan keningnya.


................