
"Nona Fanny, kau baik-baik saja?" Ucap istri dari sahabat Irgy tadi.
"Ehm, bisakah kau memanggil ku Fanny saja? Agar aku lebih nyaman."
"Oh, baiklah." Jawabnya dengan terus menatapku ragu. Sementara aku berulang kali menghela nafas dalam-dalam.
"Fanny, maafkan aku. Aku sungguh tidak menyangka jika Hanna akan hadir dalam reuni kali ini, berulang kali kami mengadakan reuni tapi dia tidak pernah hadir."
Aku hanga tersenyum tipis menanggapi. Aku ingin bertanya siapa Hana yang sebenarnya tapi kenapa mulutku terasa terkunci begini.
"Tak apa, lagi pula ini acara kalian. Kenapa harus meminta maaf padaku?" Jawab ku berusaha menahan diri.
"Aku tahu kau pasti merasa tidak nyaman dengan candaan kami tadi, tapi itu semua hanya masa lalu mereka."
Oh jadi mereka sungguh pernah memiliki hubungan di masa lalu...?
Bagaimana aku mengorek semuanya saat ini, aku... Aku bingung.
"Fanny, apa kau masih terkejut dengan kedatangan Hana tadi? Kau sangat kebingungan ku lihat tadi?"
"Oh, aku.. Aku hanya..."
"Tunggu, atau kau belum tahu siapa Hana sebelumnya? Iya." Kembali Ia menyela ucapan ku yang belum usai.
"Oh, eh.. Haha, aku? Ehm, aku tahu wanita itu. Sayang sekali dulu Irgy melepasnya. Padahal dia cantik dan berkelas juga pintar."
Dengan susah payah aku berpura-pura memutar obrolan. Seolah aku memang tahu tentang wanita yang bernama Hana itu.
"Aku juga terkejut saat mendapat undangan pernikahan kalian, ku pikir.. Eh, maksud ku. Mereka dulu.." Jawab nya seolah menahan sesuatu.
"Tapi apakah benar Hana selalu meledek Irgy sedemikian konyolnya?"
"Ehm, tidak. Itu hanya kata umpatan kecil dari Hana karena Irgy tidak kunjung menyatakan perasaannya secara langsung. Hanya melalui aku dan suami ku saja mengatakan perasaan nya untuk Hana. Sementara Hana juga menyukainya."
"Jadi suami mu saat ini adalah teman sekolah?" Aku sedikit tekejut mendengar hal ini.
"Hihi, ehm.. iya, dia kami teman sekelas sejak SMP lalu di pertemukan kembali di SMA. Kami saling menyukai sejak di bangku SMP, dan suami ku melamarku setelah kita berhasil meraih gelar sarjana bersama. Oleh sebab itu, aku tahu benar bagaimana kisah mereka. Karena semua yang ada disini juga menjadi saksi kisah cinta mereka."
Aku seakan terhenti bernafas mendengar penjelasannya yang membuatku semakin yakin jika Hana memang wanita pertama yang berhasil menumbuhkan benih cinta di hati Irgy saat itu.
"Lalu bagaimana mereka akhirnya putus?"
"Gigy dan Nana adalah pasangan yang selalu jadi bahan gosip kami di sekolah, Mereka selalu di pasangkan dalam pemilihan apapun di sekolah termasuk ketua dan wakil osis. Peringkat mereka selalu kejar-kejaran,"
"Waw.."
Bahkan mereka sudah memiliki panggilan khusus satu sama lainnya. Iya bukan?
Hanya kata itu yang mampu ku ucapkan di balik hatiku yang mulai bergetar hebat. Tangan ku serasa gemetaran namun berusaha untuk tetap tenang.
"Fanny, kau baik-baik saja? Kau tiba-tiba berkeringat begitu." Pertanyaan nya mengejutkan ku.
"Eh, aku? oh, hahaha, mungkin efek udara disini. Sedikit pengap," Jawab ku dengan mengibas-ngibas tangan kiriku ke arah wajah ku. Dengan mata yang ku putar-putar menghadap keatas.
"E,eh.. Apakah AC yang begitu besar disini tidak berfungsi?" Ujarnya dengan polos melihat sekeliling.
"Lanjutin dong, ceritanya tadi. Aku kan juga ingin tahu kisah masa lalu suami ku Irgy," Ucapku kemudian. Mencoba memancingnya kembali.
"Oh, kita sampai dimana tadi? Aku jadi lupa. Maaf, faktor kelelahan mengurus anak yang begitu banyak. Hahaha." Jawabnya kikuk.
"Apakah mereka berpacaran lama?"
"Mereka selalu mengelak saat kami bertanya apakah mereka sudah jadian atau belum, namun aku bisa melihatnya dari sikap mereka dan wajah mereka yang selalu tersipu malu ketika saling bertemu."
"Haha, lucu sekali mereka." Jawab ku garing.
Tuhan, pliss... Aku kuat, aku kuat untuk terus mendengar semua ini. Walau bukan dari mulutku sendiri...
"Sangat lucu, mereka terlihat begitu romantis setiap saat disekolah. Lalu mereka sempat...."
"Sayang, kemari sebentar."
"Eh, Fanny. Aku kesana sebentar ya, tak apa kan kau sendiri disini?"
"Baik lah, jangan memikirkan ku. Nikmatilah, ini pesta kalian."
Lalu wanita ity tersenyum meninggalkan ku sendiri. Lalu dengan bersamaan air mata ku terjatuh ketika aku berbalik membelakangi acara di dalam. Ku tatap langit malam dari ketinggian gedung ini, indahnya langit malam yang bertaburan bintang sedikit memberiku ketenangan.
Kemudian seseorang menyapaku dari arah belakang, dengan cepat aku menyeka air mata yang membasahi pipiku.
"Hai, bolehkah aku menemanimu disini?"
Ya, dia wanita yang sejak tadi ku dengar cerita manisnya dengan suami ku Irgy.
Aaaarght... Sial, kenapa dia menghampiriku kemari. Lalu Irgy? Dimana dia, kemana? Shit !!!
"Hmm..." Jawab ku singkat.
"Haha, aku sungguh tidak menyangka akan bertemu Irgy dengan istrinya disini. Kau pasti wanita yang sangat baik dan lembut hati, sehingga Irgy memilihmu menjadi pilihan hatinya yang terakhir."
Cih, sok tahu.
Jawab ku dalam hati..
"Lalu bagaimana dengan mu?" Tanya ku dengan nada bicara yang mati-matian ku tahan agar tak nampak sebuah kecetusan akan sikap ku.
"Aku? Maksudmu dengan ku? Ehm, saat itu aku memang sedikit shock saat mendengar kabar dari group alumni SMA kami. Kemudian Gigy keluar dari group tanpa tahu sebabnya apa."
"Apa kau masih mencintai suami ku?" Tanya ku spontan begitu saja.
"Apa? Hahaha, aku.. Ah, sudah lah. Tidak penting bagaimana aku dengan Gigy saat ini dan sebelumnya. Dia sudah menjadi milikmu, lagi pula aku sudah bertunangan dengan orang pilihan orang tua ku."
Halah, sok nolak. Aku sudah bisa membaca ekspresi mu ini, dasar...
"Aku hanya bertanya apakah kau masih mencintai suami ku? Karena yang ku tahu, cinta pertama sulit di lupakan." Tanya ku memaksa. Lalu dia menatap ku dengan tatapan berbeda kali ini.
Mari kita lihat bagaimana reaksinya itu? Haha.. Kau pikir aku bodoh menangkap sikap yang terlihat jelas dari ekspresi wajah mu itu.
"Lalu jika jawaban ku iya, apakah kau akan mengembalikan Gigy padaku?"
Brengsek. Elu ngajakin gue perang dunia? Atau mau gue jambak aja rambut yang sejak tadi elu kibas-kibas manja mulu.
Aku terdiam sesaat dengan mulut terkatup rapat, hanya hati ku yang berani mengatainya diam-diam.
"Hahaha, astaga. Lucu sekali ekspresimu ini, aku hanya bercanda saja. Hahaha, oh my God. Ayo lah, jangan tegang begitu. Apa aku terlihat serius memintamu demikian?"
Aku menyumbingkan senyum masam menanggapinya.
"Eh, kau lumayan jago melawak. Tapi sayang, kau salah tempat untuk berduel dalam hal konyol seperti ini. Ehm, sayang bukan jika nanti terdengar oleh teman-teman mu yang resek itu. Kau akan terlihat mengemis cinta suami orang," Jawab ku kemudian.
Mendadak ekspresinya memucat, kemudian merah padam. Dia gusar, dengan menggosok-gosok meremas kedua tangannya bergantian.
"Hahaha, astaga. Aku hanya bercanda, kenapa kau gusar begitu. Padahal kau yang memulainya sejak tadi," Jawab ku dengan tertawa lepas. Rasanya aku benar-benar ingin terus menghujaninya dengan kata-kata umpatan halus.
"Oh, eh, mmh... Kau memang unik dan cerdik. Aku mulai mengerti, kenapa Gigy memilihmu sebagai istri. Ku harap kau akan bersungguh-sungguh menjaga nya sebagai cintamu sampai akhir. Dia adalah laki-laki yang selalu penuh kelembutan dan kasih sayang, melepaskannya begitu saja sungguh suatu penyesalan terbesar. Aku titip dia di hatimu."
Amarahku kian memuncak saja. Mendengarnya berkata demikian Tuhan...
"Sayang, aku mencarimu sejak tadi. Ternyata kau disini, udara sangat dingin disini. Nanti kau demam, pakai jas ku."
Lalu Irgy datang menghampiriku sembari memakaikan jas nya untuk menutupi pundakku yang sedikit terbuka. Tepat di hadapan Hana, apakah Irgy melakukannya sengaja kali ini? Heh, aku tidak peduli lagi.
"Tidak perlu. Aku justru gerah maka dari itu aku berdiam diri disini mencari udara untuk mendinginkan tubuhku." Ku tepis jas yang Irgy berikan padaku. Membuat Irgy terkejut akan sikap ku ini.
"Woah, romansa pasutri yang mengesankan. Sebaiknya aku pergi saja, aku tidak ingin merasakan iri karena tidak ada yang memakaikan sebuah jas di pundak ku. Hihi.." Jawab Hana cekikikan di depan ku.
"Jika kau mau, kau pakai saja jas Irgy. Aku sudah bosan memakainya setiap hari, boleh kan suami ku... Nana mu memakai jas bekas mu?" Ucap ku menatap wajah Irgy yang memucat.
"Upz, lagi-lagi kau mengajakku bercanda. Hahaha, sudah lah. Kalian bisa melanjutkan obrolan berdua, aku akan menemui yang lainnya lagi. Terimakasih atas sambutan konyolmu itu Fanny. Semoga kita bisa bertemu lagi lain waktu ya, dan... Gigy, eh maksud ku Irgy. Sampai jumpa," Ucapnya berlalu dengan melambaikan tangan ke arah ku. Dan melempar senyuman manisnya namun sangat jelas hatinya pilu menatap Irgy.