Because, I Love You

Because, I Love You
#113



Beberapa hari kemudian, Kirana baru saja keluar dari salah satu rumah sakit swasta di Jakarta untuk mengecek kondisi kakinya diantar Haris. Kirana sudah bisa berjalan meskipun memakai tongkat sebagai alat bantunya berjalan.


"Sekarang kita mau kemana Nona?" Tanya Haris setelah sampai parkiran.


"Makasih banyak kak udah nganterin aku. Kita pulang aja. Kak Haris pasti capek kan?" Jawab Kirana dengan tersenyum manis.


Semenjak batal menikah dan Rendy mengalami kecelakaan, Kirana masih belum mendapat kabar dari Rendy juga Beni. Kirana juga tidak bisa menghubungi mereka karena nomor mereka tidak aktif sehari setelah Rendy diterbangkan ke Jerman.


"Siapa bilang aku capek? Kamu pikir aku selemah itu?" Tanya Haris dengan pura-pura merajuk.


"Bukan gitu maksud aku, kak. Aku cuma....." Ucap Kirana tidak melanjutkan ucapannya lalu sedikit menundukkan wajahnya.


Kirana selalu merindukan Rendy. Entah bagaimana keadaan dia sekarang? Apakah lukanya begitu parah? Kenapa sudah hampir seminggu belum ada kabar.


Kirana juga masih mengambil cuti dan akan mulai berangkat bekerja minggu depan. Dia tidak tau apa yang akan terjadi nanti saat dia pergi kekantor bertemu dengan semua orang disana.


Pasti mereka semua sudah mengetahui berita mengenai kecelakaan maut yang menimpa pimpinan perusahaan mereka.


Kirana juga terus merasa bersalah. Kecelakaan Rendy terjadi karena Rendy ingin mendatanginya dan menikahinya pagi itu. Tapi, semuanya gagal. Apa yang diharapkan Kirana terjadi. Tidak jadi menikah karena memang dia belum siap untuk menikah. Tapi juga bukan dengan musibah seperti ini juga kan?


Setiap malam, Kirana selalu menangis merenung membayangkan ketika dirinya bersama dengan Rendy. Meskipun sering bertengkar, tapi Rendy selalu mengalah dan memakai segala cara untuk membuat Kirana tersenyum tidak marah lagi kepadanya.


Kirana sangat merindukan kekasihnya.


"Hey! Malah ngalamun. Gimana? Kita jalan-jalan dulu ketaman. Mau nggak?" Tanya Rendy sambil menepuk pelan lengan Kirana membuat Kirana tersadar dari lamunannya.


"Em..boleh deh." Jawab Kirana dengan mengangguk dan tersenyum kecil.


...


Sesampainya ditaman kota, Haris dan Kirana duduk disalah satu bangku panjang dan menyaksikan banyak anak-anak yang bermain dan berlarian disana.


Kirana tersenyum kecil saat melihat ada sepasang suami istri yang mengajak bermain dua anaknya laki-laki dan perempuan. Sepertinya selisih anak itu tidak banyak. Besarnya hampir sama. Yang laki-laki mungkin kakaknya karena lebih besar dan tinggi. Dan sepertinya usia mereka antara tiga sampai lima tahun.


Haris menoleh melihat Kirana yang terlihat tersenyum lalu mengikuti arah pandangnya. Dia pun ikut tersenyum. "Aku jadi bayangin kalau punya istri dan anak nanti. Pasti seneng ya bisa ngajak jalan-jalan ketaman dan bermain-main." Ucap Haris membuka percakapan sambil memperhatikan pasangan suami istri yang sedang bermain-main dengan kedua anaknya. Terlihat begitu bahagia.


Kirana menoleh menatap Haris lalu tersenyum. "Makanya, kak Haris buruan cari pacar terus lamar dia dan nikah deh. Aku nanti doain deh biar kak Haris cepet dapet momongan yang lucu-lucu." Ucap Kirana diselingi kekehan kecil.


Haris hanya diam menatap Kirana yang sudah bisa ceria lagi seperti sebelum-sebelumnya. Gimana aku mau cari pacar kalau yang aku cintai itu kamu Ki. Tapi, hati kamu udah dimiliki orang lain.


Gumam Haris dalam hati.


"Kak, udah sore dan juga mendung. Kita pulang yuk? Keburu hujan." Ucap Kirana sambil menatap keatas langit yang tertutup awan mendung.


"Ya udah yuk."


...


Malam harinya.


Kirana sedang membaca novel favoritnya sambil duduk bersandar ditempat tidur. Dia mendengar ada suara ketukan pintu dari luar. Dia melihat jam dinding yang ada didalam kamarnya sudah hampir jam sebelas malam. "Siapa malam-malam begini yang datang?" Gumamnya kemudian meletakkan novel dikasur lalu meraih tongkatnya dan turun dari tempat tidur.


Kirana berjalan keluar dari kamar menuju ruang tamu dan membuka pintu. Seketika matanya terbelalak karena terkejut. "Mas..mas Rendy?!" Pekiknya dengan wajah yang terkejut sekaligus senang dan langsung memeluk kekasihnya yang sudah hampir dua minggu tidak ada kabar.


"Kenapa kamu nggak ngabarin aku sih Mas? Aku nungguin kamu. Aku khawatir banget sama kamu." Ucap Kirana sambil menangis dalam pelukan Rendy.


Rendy melepaskan pelukannya dan menatap lekat Kirana. Dia mengusap air mata yang membasahi wajah cantiknya dengan tersenyum. "Maaf, aku kesini cuma pengen lihat kamu. Aku kangen sama kamu, Ki."


"Aku juga kangen sama kamu, Mas." Balas Kirana.


Rendy tersenyum lalu melepaskan pelukannya. Dia mengecup kening Kirana dan menatapnya. "Aku nggak bisa lama-lama. Aku harus pergi. Kamu jaga diri kamu baik-baik ya." Ucap Rendy kemudian perlahan melangkah mundur.


"Mas, kamu mau pergi kemana?" Pekik Kirana dengan wajah paniknya. Namun Randy seolah tidak menghiraukannya. Hanya terus tersenyum menatap Kirana lalu berbalik dan pergi. "Mas! Mas Rendy! Jangan pergi Mas!" Teriak Kirana.


Kirana mencoba mengejar langkah Rendy yang begitu cepat. "Mas Rendy! Aawh!" Teriak Kirana saat bayangan Rendy semakin menghilang dari pandangannya kemudian dia terjatuh. "Mas Rendy jangan pergi Mas!" Kirana masih terus berteriak memanggil Rendy sambil menangis.


"Mas..."


"Mas Rendy..jangan pergi Mas.."


"Mas!" Seketiak Kirana terbangun dan duduk dengan nafas yang terengah seperti habis maraton.


Dia mengusap wajahnya. "Ternyata cuma mimpi." Gumamnya sambil menatap jam dinding dikamarnya yang sudah menunjukkan pukul dua lebih lima belas menit dini hari.


Kirana meraih gelas yang berisi air putih dinakas samping tempat tidurnya lalu dia meneguknya hingga tandas. Dia meletakkan kembali gelasnya lalu membaringkan tubuhnya mencoba untuk tidur lagi.


Tapi ternyata Kirana tidak bisa tidur lagi. Dia memikirkan Rendy yang sering datang dalam mimpinya. Tapi dalam mimpinya barusan, terlihat begitu jelas wajah Rendy yang tidak seperti biasa. Terlihat pucat dan terus menatapnya dengan tersenyum kepadanya.


"Gimana keadaan kamu sebenarnya Mas? Aku bener-bener khawatir sama kamu. Kenapa kamu nggak kasih kabar sih? Aku kangen Mas." Gumamnya sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir karena begitu merindukan laki-laki tampan yang telah membuatnya semakin jatuh cinta kepadanya.


Kirana terus terjaga hingga langit terlihat terang.


'Tok Tok Tok!'


Kirana tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara ketukan pintu. Dia masih terus mengingat mimpinya semalam. Dia berharap Rendy datang dan saat membuka pintu rumahnya, yang dilihat adalah sosok tampan kekasihnya.


Kirana sedikit tersenyum kemudian beranjak turun dan keluar dari kamarnya lalu membuka pintu.


"Pagi Ki!"


Kirana terdiam dan terpaku sejenak. Hatinya merasa kecewa karena ternyata yang datang Haris. Namun Kirana memaksakan dirinya untuk tersenyum kepada Haris yang selama ini selalu menjadi teman sekaligus kakak yang baik untuknya.


"Pagi juga Kak." Balas Kirana.


"Aku bawain sarapan buat kamu. Ini spesial dari Bunda katanya. Kamu harus memakan habis atau Bunda akan marah sama kamu." Ucap Haris sambil menaikkan sebelah tangannya yang membawa kotak makanan memperlihatkan pada Kirana.


Senyum Kirana melebar. "Astaga Bunda." Ucapnya sambil mengambil kotak makanan dari tangan Haris. "Sampein ke Bunda makasih banyak ya Kak. Aku jadi ngerepotin Bunda sama kamu terus." Sambungnya.


"Udah nggak usah lebay gitu. Aku sama Bunda nggak pernah merasa direpotkan kok. Ya udah, kamu buruan sarapan gih! Keburu dingin. Aku mau siap-siap berangkat kerja." Ucap Haris dengan tersenyum.


"Ya udah. Kak Haris hati-hati dijalan ya." Ucap Kirana dan Haris mengangguk lalu mengusap puncak kepala Kirana kemudian berbalik dan pergi.


................