Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 304



Tiba di halaman bawah, Pelangi merogoh ponsel di tas gandengnya. Hendak mengirim pesan singkat pada Exelle karena belum juga nongol. Belum sempat terkirim pesan itu, terdengar suara klakson mobil. Kali ini berwarna merah yang tak kalah mewah, milik Lucky.


"Haah, akhirnya." ujar Lisa lega.


Langsung saja, Exelle membuka mobilnya. Disusul oleh Lucky kemudian, dengan ekspresi terperangah Exelle menatap wajah Pelangi yang begitu cantik malam ini. Begitupun Lucky, namun dengan cepat dia sadarkan diri dan memalingkan tatapannya.


"Heh, kumat laagi deh. Hemm... Baru sadarkah jika my Princess cold secantik itu?" ujar Lisa menyela.


"Cantik." ujar Exelle dengan mata tanpa berkedip.


"Ayo, berangkat. Aku sudah mulai kedinginan." ajak Pelangi dengan mengabaikan ucapan Exelle barusan.


"E,eh. Baiklah, ayo."


"Iiih..." Lisa mendecak kesal saat mereka hendak memasuki mobil, seketika saja mereka yang mendahului hendak masuk mobil menoleh kembali mendengar Lisa begitu.


"Apa lagi, Sa?" tanya Pelangi kebingungan.


"Kenapa tidak ada yang memuji kecantikan ku sih?" ujarnya dengan wajah cemberut.


"Astaga. Hei, apa kau tidak ingin memujinya?" balas Exelle dengan mendongakkan wajahnya pada Lucky.


Dia hanya terdiam seperti kebingungan.


"Pffftt..." Exelle menahan tawa geli karena sikap saudaranya itu. Kemudian Pelangi memasuki mobil lebih dulu dan akhirnya pun Lisa menyusul dengan wajah cemberut.


Lantas mereka pergi menuju sebuah restoran setelah Exelle melajukan mobilnya dengan perlahan. Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di sebuah restoran mewah. Dengan buru-buru Exelle keluar hendak membukakan pintu mobil untuk Pelangi.


"So sweet banget sih, kalian." goda Lisa. Pelangi hanya tersenyum kecut membalas godaan Lisa.


.


.


.


.


.


Mereka sudah tiba di dalam ruangan, duduk bersama dalam satu meja saling berhadap-hadapan. Pelangi duduk dengan sedikit kikuk karena meja yang melingkar depannya terasa begitu kecil dan membuatnya semakin dekat berhadapan dan menatap wajah Lucky secara dekat.


"Kalian pesan saja makanan apapun yang menurut kalian enak disini, aku yang mentraktirnya kali ini." Ujar Exelle berlagak sombong.


"Waah, asyiiik..." Lisa menggosok-gosok telapak tangannya dengan senyuman riang.


Kini mereka masih terdiam tanpa memulai pembicaraan masing-masing sembari menunggu pesanan mereka tiba.


"Hei, cewek galak. Gimana, setelah beberapa hari di kota ini?" tanya Exelle memulai pembicaraan.


"Aku, sudah tentu kau tahu jawaban nya. Aku sangat senang, bisa di terima di kampus terbaik, bertemu dengan saudara ku, bertemu papa, dan yang paling utama aku bisa bersama selalu dengan orang yang mu sayangi."


Pelangi salah tingkah ketika Exelle menjawabnya demikian.


"Ehhem, ehhem." Lisa berdehem menggoda mereka. Sementara Lucky hanya terdiam menundukkan wajah, menyimak dengan santai namun dalam hatinya mendadak saja terasa sesak dan sangat sakit terasa.


Apakah karena namanya sama dengan teman masa kecilku? Sehingga terkesan aku sedang menyaksikannya di miliki orang lain.


Ujar Lucky dalam hatinya.


"Cih, apa lu, Sa? Gangguin aja." balas Exelle dengan cetus.


"Iiih bisa gak sih. Kalian menahan diri untuk tidak memamerkan keharmonisan di depan ku? Aku merasa hanya dijadikan kambing congek disini. Iya kan, cowok cuek?"


"E,eh... Itu.. maaf, itu hak Exelle. Aku tidak akan melarangnya." Jawab Lucky membela Exelle.


"Hahaha. Thank you, my bro." Exelle tertawa puas.


"Aduh, kalian. Bisa gak sih, akur sebentar saja." bentak Pelangi dengan cetus.


"Ups, maafkan aku. Cewek galak, habisnya.. Lisa tuh, iri liat kita begini."


"Ih, siapa juga yang iri." ujar Lisa memalingkan wajahnya dengan bibir manyun.


Hingga sesaat kemudian, seorang pelayan datang membawa beberapa menu makanan yang mereka pesan tadi.


"Yeay... Makaan..." Dengan riang Lisa bertepuk tangan.


Dengan cepat Pelangi hendak menyantapnya, namun Lisa menahannya.


"Eeeh, tunggu bentar. Ayo kita foto bareng dulu, aku akan mengirimnya untuk Lucas dan Jeni."


Kembali Pelangi meletakkan sendok dan garpu di atas piringnya dengan wajah murung.


"Huhft, aku jadi rindu mereka. Apa kabar ya, mereka..." Ujar Pelangi dengan lirih.


"Aaah, jangan sedih dong. Aku jadi sedih juga nih, Princesa cold." Ucap Lisa sembari memeluk Pelangi dari samping.


"Jangan sedih, cewek galak. Kau jadi jelek tau, sudah lah. Nanti kalian akan berkumpul lagi, ketika semua sama-sama sukses." ucap Exelle berusaha menghibur.


Pelangi menatap wajah Exelle yang melempar senyuman nyengir. Kemudian beralih tatapan pada wajah Lucky yang menatapnya dengan wajah serius, lalu tanpa di sengaja Lucky mengangguk memberikan isyarat yang membuat Pelangi terhentak, ia salah tingkah lalu menundukkan wajah juga.


"Ayo, kita foto." ujarnya kemudian mengalihkan.


Lisa dengan cepat meraih ponselnya lalu mereka berfoto, satu kali pengambilan gambar di ponsel Pelangi. Lisa tampak mendengus lagi, ia menatap wajah Lucky yang memasang tampang datar tanpa berekspresi.