
"Oh my God. Ini skan terjadi kiamat, Princess cold kita marah. Aduh, gimana ini?" Lisa mulai cemas setelah Pelangi keluar dari kafe di susul oleh Joe yang mengejarnya dari belakang.
"Matilah kalian, siapa yang memulai ide lebih dulu hah? Na-kal kalian, untung saja kalian tidak menyeretku ke dalam hal ini. Atau tidak, wuuuh.. Aku tidak bisa membayangkannya." Ucap Lucas dengan menggetarkan sekujur tubuhnya.
"Jen.." Panggil Lisa, setelah melihat sahabatnya itu termenung menatap pintu keluar kafe.
"Jeen..." Panggil Lisa kembali lebih lantang, membuatnya terhentak dan menoleh.
"Apaan sih, Sa. Pakai teriak segala,"
"Elu yakin baik-baik saja?"
"Udah lah, Sa. Jangan di bahas lagi, kita sudah sepakat sebelumnya." Jawan Jeni mengalihkan tatapannya dari wajah Lisa.
Kemudian Lisa memeluk tubuh Jeni dari arah samping. Jeni terkejut namun berusaha untuk tetap sok cool, meski air mata kian membendung di pelupuk matanya.
"Jen, elu emang sahabat gue yang terbaik. Terimakasih elu mau memahami dan menyerah untuk tidak menyakiti hati elu sendiri. Dan tetap menjaga keutuhan persahabatan kita."
"Cih, apaan sih. Lebay lu, Sa."
"Jen, gue tahu ini berat buat lu. Tapi Princess kita pantas untuk berbahagia bukan? Selama ini, dia sudah cukup menutup diri. Tapi bukan berarti elu juga tidak berhak ngedapetin cinta elu."
"Berisik, lepasin gue. Jangan manja deh, peluk-peluk segala. Risih gue, Sa." Jeni hanya terus meronta untuk melepaskan diri dari pelukan manja Lisa.
"Enggak mau, pokoknya gue pengen peluk elu terus. Gue tahu elu pengen nangis tapi elu malu kan sama gue?"
Jeni terdiam, mulai melemah tanpa perlawanan. Lalu kemudian terdengar suara isakan tangisnya yang tertahan.
"Iih, jangan nangis. Aku jadi ikutan nangis, aaah... Jeni, i love you."
"Cih, apaan sih lu. Sa, berhenti godain gue daritadi."
"Huwwaaaaa... Kalian sedih, aku jadi ikutan sedih. Peluk peluk, aku mau peluk kalian."
Akhrinya Lucas pun memeluk kedua sahabatnya, Lisa dan Jeni. Tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Jeni kian terisak di peluk oleh Lisa dan Lucas, berkali-kali dia menarik nafas nya dalam-dalam.
"Aku sudah cukup memiliki kalian sebagai sahabat baik ku selama ini, bahkan kalian tetap mempercayaiku dalam hal ini." Ucap Jeni dengan suara lirih.
"Karena kita tahu, elu baik Jen. Dan elu juga sayang kan dengan Princess cold kita?"
"Tentu. Dalam keadaan apapun dia selalu ada dan mensuport gue, cinta bisa di cari dari lain sosok. Tapi sahabat yang baik seperti kalian, aku tidak akan mungkin mendapatkannya lagi dari orang lain."
"Tunggu, Joe bukan beneran cinta pertama elu kan Jen?" Tanya Lisa tiba-tiba.
"Enggak lah, gila lu ya. Gue memang suka sama Joe, gue.. Gue jatuh cinta, tapi gue berhasil menahan diri. Cinta pertama gue udah gue simpan baik-baik untuk cowok lain."
"Sungguh? Siapa dia?" Lisa terkejut hingga menaikkan kedua alisnya tinggi-tinggi. Karena selama ini dia tidak pernah menceritakan tentang hal ini.
"Ehm, gue malu. Gue yakin kalian gak akan percaya siapa dia, atau malah kalian akan merebutnya dari gue."
"Dih, selera kita beda ya. Huh," Celetuk Lucas dengan menyembikkan bibir bawahnya.
"Iih, siapa sih Jen.."
"Mulai deh, Lisa. Miss kepo lu,"
"Gue cium nih kalau elu gak kasih tau gue." Ancam Lisa kemudian. Sebab dia tau jika Jeni paling jijik akan hal itu.
"Op-pa Jie Chang Wook!!!"
"Apa?" Serentak Lucas dan Lisa melontarkan tanya.
"Tuh kan, kalian gak percaya."
"Jeeeeeeniiiiiiiii!!!"
Kemudian Lucas dan Lisa meneriakinya dengan lantang, membuat Jeni terpaksa menutup kedua telinganya terduduk serta membungkukkan tubuhnya di sofa.
Sedangkan di luar, Joe terus mengejar Pelangi yang berlarian menuju sisi jalan untuk menghentikan taxi agar cepat sampai dirumahnya.
"Langi, tunggu.. Pelangi, pliss.. Aku belum selesai bicara." Joe terus mengejar langkah Pelangi yang begitu cepat.
"............"
"Langi, stop." Kini Joe berhasil menarik tangan Pelangi dan menariknya untuk berhenti di hadapan Joe.
"Ok, ok. Aku salah, aku sudah keterlaluan kali ini. Aku mengerjaimu, aku menggodamu dahulu, aku sengaja melakukannya agar kau mau mengakui perasaan kita selama ini."
Pelangi masih terdiam memalingkan wajahnya dari hadapan Joe. Kemudian dia menangis terisak, membuat Joe semakin merasa bersalah. Joe melangkah lebih dekat pada tubuh Pelangi kemudian perlahan memeluk nya, di dekapnya dengan hangat tubuh sintal gadis yang berhasil dia taklukkan hatinya saat ini.
"Cup cup cup, maafkan aku.. Langi, jika ingin mengumpatku lagi aku rela menerimanya."
"Kau mempermalukan ku, kau membuatku seperti orang bodoh di depan para sahabatku. Kau jahat," Ucap Pelangi di sela isakan tangisnya.
"Sssttt... Aku terpaksa melakukannya, untuk meyakini hatimu. Maafkan aku, maafkan aku."
Pelangi melepas pelukan Joe dengan mendorong tubuhnya pelan.
"Apa kau pikir ini lucu? Bagaimana dengan Jeni yang telah kau berikan harapan palsu hah?"
"Hahaha, harapan palsu apaan? Ini justru ide dari Lisa dan Jeni sejak awal. Astaga, aku juga korban disini. Dan aku sudah menerima kesepakatan mereka dari awal."
"Tapi siang itu, kalian... Upz," Pelangi menghentikan ucapannya dan menutup bibirnya dengan lima jari tangan kanannya.
"Hemm... Jadi bener kan, siang itu kamu mendengar semua yang kami bicarakan? Jadi aku juga di kerjain disini, kau cewek bodoh dan jahil. Kau lebih jahat dariku, huh."
"Itu karena, karena... Ehm,"
"Apaan hah? Saat itu Jeni memang serius menyatakan perasaannya. Tapi dua hari kemudian, saat dia izin sekolah. Dia memintaku untuk bertemu di kafe. Dan ternyata disitu pun ada Lisa. Mereka sungguh peduli dan menyayangimu."
"Huwwaaaaaaa... Hikzt, hikzt... Huu wu hu..." Pelangi kian menjadi dalam tangisannya.
"Hey, sssttt... Ada apa? Kenapa kau semakin menangis Langi?" Joe kebingungan dengan kembali mendekap erat tubuh Pelangi karena mulai mengundang perhatian orang di sekitar.
"Mereka jahat, mereka tertular oleh mu. Mengerjaiku dengan konyol begini, aku salah apa? Salah apa pada kalian, huwaaa..."
"Cih, hahaha. Astaga, kau ini. Menggemaskan sekali," Dengan tanpa sadar Joe mengecup kening Pelangi membuat tangisan Pelangi berhenti. Lalu mereka mulai canggung satu sama lain.
"Ja,jadi.. Bagaimana dengan hubungan kita selanjutnya, Langi?" Joe bertanya dengan gugup.
"A,apa maksudmu?"
"Hah, aku butuh kepastian dong." Jawab Joe dengan wajah kesal.
"Oh, eh, ehm.. Ya, ya, aku.. Terserah kau saja lah. Huh, udah tahu perasaan ku masih saja bertanya." Pelangi salah tingkah dengan suara yang semakin lirih terdengar. Kaki nya berulang kali dia gerakkan untuk menutupi rasa nervousnya.
"Jadi mulai sekarang kita pacaran?"
"Iih, tauk ah."
"Jawab dong, aku mau kau menjawabnya dengan tegas. Langi,"
"Dih, apaan sih masih nanya lagi." Wajah Pelangi mulai memerah. Hatinya bergetar, terasa hawa panas dingin mulai menyerang kembali.
"Jawab enggak. Kalau enggak aku teriak nih, bilang I LOVE YOU."
"Joe... Kau menyebalkan, iya iya kita pacaran. Puas?"
"Yess. Hahaha, yeah... Akhirnya, huhu.. Terimakasih baby, aku mencintaimu." Dengan tawa bahagia dan riang Joe memeluk tubuh Pelangi dengan sangat erat. Pelangi tersenyum malu-malu membalas pelukan Joe.
"Itu berarti, kecupan bibir tadi sebagai tanda kita sudah sah sebagai pacar. Hihi," Bisik Joe di telinga Pelangi, dengan kasar Pelangi mendorong tubuh Joe. Namun nihil, Joe sudah bisa menebaknya. Pelangi akan mendorongnya karena rasa malu. Oleh sebab itu Joe semakin mempererat pelukannya.
"Dasar gila, cowok nyebelin, pencuri!!!"
"Hahaha, Aku mencintaimu!!!"
"Aku tidak akan mendengarnya." Bantah Pelangi dengan sedikit kesal.
"Aku mencintaimu!!!"
Joe terus saja menggoda Pelangi dengan ucapan tersebut, dalam hatinya dia sungguh merasakan kebahagiaan yang tiada tara.
Terimakasih Tuhan...