Because, I Love You

Because, I Love You
#12



Setelah memeriksa berkas-berkas yang diberikan Siska, Rendy segera pergi bersama Siska ke ruang pertemuan. Di sana sudah ada Pak Andi bersama asisten dan sekertaris pribadinya yang menunggu.


"Selamat pagi, Pak Andi. Maaf, sudah membuat Anda menunggu." Rendy menyapa dengan sopan dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan kliennya.


"Selamat pagi juga, Pak Rendy. Tidak perlu meminta maaf, karena saya juga baru datang." Jawab Pak Andi dengan senyum ramah. "Ternyata, Anda masih sangat muda dan ganteng."  Lanjutnya memuji Rendy.


"Terima kasih atas pujian Anda, Pak. Anda juga masih terlihat muda." Balas Rendy sedikit bergurau. "Mari kita langsung mulai saja!"


...


Beberapa waktu kemudian, meeting telah selesai dengan lancar dan mereka telah sepakat menjalin kerja sama.


"Terima kasih banyak, Mas Rendy. Sepertinya kurang pantas jika saya memanggil Anda dengan sebutan Pak. Anda masih terlalu muda, hahaha." Gurau Pak Andi yang usianya tak jauh beda dengan Papa Rendy.


"Sama-sama, Pak Andi. Silakan Anda ingin memanggil saya apa saja terserah, senyamannya Anda saja." Rendy tersenyum.


Mereka saling berjabat tangan kembali sebelum Pak Andi berpamitan pergi meninggalkan Pradipta Grup.


Rendy merasa puas karena meeting pagi ini berjalan lancar dan bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan milik Pak Andi.


Ia kemudian kembali ke ruangannya bersama Siska, sekertarisnya.


"Tolong buatkan kopi hitam tanpa gula." Titah Rendy pada Siska sambil duduk di kursi kebesarannya.


"Baik, Pak." Siska meletakkan berkas-berkas yang ia bawa di atas meja kerja Rendy dan segera pergi untuk membuatkan kopi.


Drrt...drrt...drrt 🎶


Ponsel Rendy yang diletakkan di atas meja bergetar dan berdering. Ia melirik ke arah layar ponselnya dan melihat ada panggilan masuk dari Olivia.


Rendy meraih ponselnya dan mengangkat panggilan telepon dari kekasihnya. "Ya honey, ada apa?"


"Honey, dari tadi aku menelponmu kenapa baru diangkat?" Terdengar suara Olivia yang manja dari ujung telepon.


"Aku baru selesai meeting." Jawab Rendy datar.


Terdengar Olivia mendengus kesal dari ujung telepon. "It's ok! Em, honey...aku lagi butuh uang saat ini. Maksudku, aku akan menggantinya kalau aku kembali nanti." Ucap Olivia dengan lembut dan suara manja sengaja mencari perhatian dari Rendy yang memang selalu menuruti apapun permintaannya.


"Berapa yang kamu butuhkan?" Tanya Rendy.


"Em, seratus lima puluh juta. Tapi, kalau kamu keberatan...tidak juga tidak apa-apa, aku—


"Aku akan transfer sekarang juga." Sahut Rendy memotong ucapan Olivia.


Di kejauhan sana, wajah Olivia langsung sumringah.


Yes!!! Batinnya sambil menggigit bibirnya menahan rasa bahagia karena yakin jika Rendy pasti akan langsung memberinya tanpa berpikir panjang dan tidak pernah menanyakan untuk apa uang sebanyak itu.


Rendy terlalu mempercayai Olivia selama ini dan berharap Olivia juga selalu mempercayainya. Karena selama ini, Olivia begitu cemburuan. Hanya melihat Rendy sedang mengobrol dengan teman wanitanya saja, Olivia akan langsung marah.


Tak lama, ada notifikasi masuk dari Bank di ponsel Olivia disusul dengan suara Rendy dari ujung telepon.


"Udah aku transfer, kamu bisa cek."


Olivia kegirangan. "Thank you very much, honey. Aku sangat mencintaimu!"


Olivia memang sangat mencintai Rendy. Namun, dia sering merasa bosan dengan Rendy yang selalu menolak untuk menyentuhnya. Tetapi, Olivia juga tidak akan pernah memiliki niat untuk melepaskan Rendy.


Selain sangat mencintai Rendy, Olivia juga sangat membutuhkan Rendy. Lebih tepatnya, sangat membutuhkan uang dari Rendy.


Rendy begitu tampan juga kaya raya. Terlebih lagi, sekarang ini Rendy telah menjadi penerus bisnis Papanya. Tentu saja hal itu membuat Olivia semakin ingin meminta Rendy agar segera menikahinya dan menjadikannya Nyonya Pradipta.


Siapa yang tidak ingin menjadi istri dari Rendy? Masih muda, pintar, sangat tampan, gagah dan kaya raya? Setiap wanita yang melihatnya pasti akan langsung tertarik padanya.


...


Sore harinya, jam pulang kerja.


Kirana tidak langsung pulang karena Haris juga lembur hari ini dan tidak bisa menjemputnya. Jadi, Kirana ingin jalan-jalan sekalian berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari.


Ia berjalan di sepanjang trotoar menuju supermarket yang tidak jauh dari tempatnya bekerja.


Sambil berjalan, pandangan matanya menyapu sekeliling mengamati jalanan ibu kota yang selalu ramai.


"JAMBRET!!!"


"TOLOOOONG...ADA JAMBRET!!!"


Tiba-tiba Kirana mendengar suara teriakan dari ujung jalan. Ia menghentikan langkahnya dan melihat ada seorang pria berpenampilan seperti preman dan seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang berlari ke arahnya.


'Tampaknya, orang yang berpenampilan seperti preman itu yang diteriaki jambret oleh ibu-ibu itu deh?' Batin Kirana menebak-nebak karena ibu-ibu itu berlari dengan terengah-engah mengejar preman sambil terus berteriak menyebutnya jambret.


Jiwa kepahlawanan Kirana pun mendadak muncul. Ia merasa geram melihat si jambret yang tega menjambret seorang ibu-ibu paruh baya.


'BRUKKK!'


"Ahh!" Pekik si jambret yang jatuh tersungkur karena tersandung kaki Kirana yang memang sengaja menjegal si jambret sialan itu.


"Dasar jambret nggak tau diri! Sini balikin tasnya!" Ucap Kirana dengan geram sambil merebut tas dari tangan si jambret yang masih tersungkur di trotoar.


"Hei!!! Jambret sialan!!! Rasakan ini!!!" Ibu-ibu yang dijambret tadi melepas sandalnya dan memukuli si jambret tersebut penuh emosi.


"Aduh, aw...awh! Ampun!" Si jambret mengaduh kesakitan karena pukulan dari ibu-ibu itu.


"Bu, ini tas ibu, kan?" Tanya Kirana membuat ibu-ibu korban penjambretan itu menghentikan pukulannya pada si penjambret.


"Iya, benar. Ini tas saya. Makasih banyak ya mbak. Untung ada kamu, kalau enggak...pasti tas saya sudah dibawa kabur sama jambret sialan macam dia!" Jawab ibu-ibu tersebut menerima tasnya kembali dari tangan Kirana dan memelototi si jambret.


Si jambret bangkit berdiri dan menatap Kirana dengan geram, karena Kirana telah menggagalkan aksinya. "Kurang ajar, lo! Dasar cewek sialan!"


"Awas mbak!" Teriak ibu-ibu korban jambret saat melihat si jambret ingin memukul Kirana.


Kirana langsung menoleh ke arah si jambret dan ia reflek memejamkan matanya sambil menaikkan kedua tangannya untuk melindungi serangan dari si jambret yang ingin memukulnya. "Ahh!"


'BUGH!'


"Dasar sampah! Beraninya sama perempuan!"


"Ahh..." Si jambret kembali jatuh terbaring di trotoar saat tiba-tiba mendapat pukulan dari seseorang di wajahnya yang begitu keras hingga hidung dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Sukurin! Rasain! Hajar lagi, Mas! Orang seperti dia memang harus diberi pelajaran, biar kapok!" Ibu-ibu korban penjambretan begitu emosi dan meminta pada seorang laki-laki yang baru saja memukul wajah penjambret itu untuk memberikan pelajaran lagi agar kapok.


Kirana yang masih menutupi wajahnya, perlahan menurunkan tangannya kembali dan melihat ke arah si penjambret yang telah terkapar tak berdaya. Kemudian pandangannya beralih ke arah seorang laki-laki yang berdiri di dekatnya.


'Ya Tuhan! Dia ini, kan...'


Kedua bola mata Kirana langsung membola karena terkejut melihat sosok laki-laki yang baru saja menolongnya.


................