
Setelah mengantar Kirana, Rendy memanggil Beni untuk menemuinya dirumah.
Selesai mandi, Beni sudah menunggunya dibawah diruang tengah rumahnya.
"Bos, ada apa... 'BUGH!'
Rendy langsung memberi bogeman diwajah tampan Beni hingga sudut bibir Beni mengeluarkan darah.
Beni mengusapnya dan dia sudah bisa menebak kalau Bosnya pasti akan menghajarnya karena masalah dirinya yang mengajak Kirana mengikuti dia sore tadi.
"Bos, aku... 'BUGH!'
"Diam kamu!" Bentak Rendy penuh penekanan dan menatap tajam Beni.
Beni kembali mendapat bogeman sebelum menyelesaikan kalimatnya.
"Aku selalu mengandalkanmu Ben. Aku juga udah menaruh kepercayaan penuh kepadamu karena aku sangat percaya dengan Papaku yang udah memilihmu jadi tangan kananku. Tapi apa yang udah kamu lakukan ke aku hah? Kamu sengaja mau bikin Kirana makin benci sama aku dan nganggep aku laki-laki yang berengsek?!" Ucap Rendy dengan sangat marah dan kecewa terhadap Beni. "Oh, atau jangan-jangan kamu suka sama dia?"
Lanjutnya Rendy dengan tersenyum sinis.
"Hah?" Beni benar-benar terkejut mendengar ucapan Rendy hingga terbelalak. "Bos, mana mungkin aku suka sama mbak Kirana yang jelas-jelas dia itu calon istrimu!"
Rendy hanya tersenyum sinis menatap Beni. "Bahkan dia nolak aku dan malah terang-terangan muji kamu didepanku." Ucap Rendy. "Atau mungkin dia sukanya sama kamu." Lanjut Rendy kemudian berjalan kesofa dan duduk disana. "Buatkan aku kopi!" Imbuhnya ketika Beni juga sudah berbalik dan ingin duduk membantah ucapan Bosnya ini.
Tapi kemudian Beni melangkah pergi ke dapur untuk membuatkan Rendy kopi.
Beni menghela nafasnya panjang lalu menggelengkan kepalanya merasa heran dan tidak mengerti dengan Bosnya. "Aku rasa, Bos memang udah beneran cinta sama mbak Kirana. Dia keliatan cemburu?" Gumam Beni sambil tersenyum miring dan menuangkan air panas kedalam cangkir yang udah dia isi kopi hitam kemudian mengaduk sebentar dan segera membawanya ke Rendy.
"Bos, aku minta maaf. Tapi, kamu dengerin aku dulu."
Ucap Beni sambil meletakkan secangkir kopi diatas meja didepan Rendy lalu dia duduk disofa sebelah.
Rendy hanya diam malas menanggapi Beni. Tapi, dia tetap menunggu Beni bicara.
Tidak mendapat respon dari Rendy, tapi Beni tetap harus mengatakannya. "Bos. Aku yakin kalo Mbak Kirana itu cintanya sama kamu. Dia keliatan cemburu dan kesel waktu liat kamu sama Lena ke Hotel." Ucap Beni dengan serius.
Rendy hanya mendekus dengan wajah dingin sambil mengambil cangkir dan meminum kopinya kemudian meletakkan lagi ke meja.
"Bos, apa kamu nggak ngerasa kalo mbak Kirana punya perasaan khusus ke kamu?"
Beni kembali terbelalak mendengar ucapan Rendy yang menurutnya sangat konyol. "Bos, itu karena cara dia buat nutupin rasa canggung dan gugup dia saat ketemu kamu. Kenapa malah jadi aku?" Beni membantah ucapan Rendy.
"Teserah kamu mau ngomong apa! Dan terserah dia mau gimana sikapnya ke aku, ke kamu atau siapapun. Aku nggak peduli!"
Rendy kemudian beranjak naik dan masuk kedalam ruang kerjanya meninggalkan Beni yang menjadi tidak enak hati kepada Bosnya yang udah selalu baik kepadanya. Tidak hanya Rendy yang baik kepadanya, tapi Pak Bagas papanya Rendy selama ini selalu baik kepada keluarganya.
Beni telah bertekad akan mengabdikan dirinya kepada keluarga Pradipta sebagai balas budinya atas kebaikan Pak Bagas yang sudah membiayai pengobatan ibunya.
...
Malam ini, Rendy masih terjaga. Sudah jam dua lebih, tapi dia masih berkutat dengan laptopnya diruang kerja.
Dia tidak bisa tidur dan memilih untuk mengecek kembali pekerjaannya.
Tiba-tiba saja bayangan Olivia terlintas dalam pikirannya. Rendy menghentikan pekerjaannya lalu mengernyitkan keningnya. "Sial! Ngapain jadi keinget dia?!" Gumam Rendy sambil mengusap wajahnya.
Rendy menutup laptopnya dan beranjak pergi ke kamarnya. Dia memaksakan untuk tidur meski tidurnya tidak nyenyak tapi dia tetap tertidur.
Rendy terbangun karena ponselnya berdering diatas nakas samping tempat tidurnya. Dia bangkit duduk dan melihat jam dinding dikamarnya sudah jam lima pagi. Lalu dia mengambil ponselnya.
Rendy mengernyit karena melihat nomor tidak dikenal sedang memanggilnya. Nomor itu dari luar negeri.
Rendy tidak langsung menerimanya. Dia berpikir sejenak, mungkin temannya yang sedang menelponnya. Karena dia punya banyak teman di luar negeri.
Dia pun menerima panggilan telepon tersebut. "Hallo. Who's this?"
Suaranya terdengar serak dan sexy.
"Rendy..tolong aku.."
Rendy semakin mengernyit dan wajahnya tampak terkejut saat mendengar suara dari seberang telepon.
"Oliv?"
................