Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 309



Dengan dorongan hati yang memaksa Lucky untuk tetap mengejar langkah Pelangi dari belakang, dia tak pedulikan lagi amarah Pelangi tadi. Karena hari memang sudah gelap, entah kenapa jalanan menjadi sepi. Tanpa lalu lalang orang satupun di jalanan menuju apartemen Pelangi tinggal.


Setelah langkah Pelangi sampai di halaman bawah apartemennya, dia berbalik badan dan menatap tajam wajah Lucky.


"Aku tidak tahu jika kau memiliki jiwa yang keras kepala. Atau kau memang tuli? Aku bilang pergi! Jangan pernah muncul lagi!" Pelangi menaikkan nada bicaranya.


"Katakan, kenapa kau begitu marah dan tidak ingin melihatku lagi? Apa salah ku?" Tanya Lucky memberanikan diri menatap wajah gadis yang saat ini sesunggukan menahan tangisnya.


"Kau tidak akan mengerti. Kau hanya akan mentertawaiku, hah.. Lupakan saja, aku tidak perlu menjelaskannya."


"Baiklah, aku akan pergi. Aku tidak akan pernah muncul di hadapan mu lagi, selamat malam."


Lucky kemudian berlalu pergi membalikkan badannya tanpa ragu lagi, dalam hatinya hanya merasakan sesak yang teramat dalam. Tidak tahu mengapa ini bisa terjadi pada hatinya saat ini. Mendengar Pelangi menyuruhnya pergi, seakan hatinya semakin patah. Belum juga dia berhasil menyembuhkan hatinya di masa kecil nya kala itu, kini kembali terulang hal yang sama.


Sedang Pelangi mulai berjalan dengan langkah cepat, dengan tergesa-gesa dia memasuki ruang lift. Hingga kini tiba di depan pintu apartemen nya, dengan cepat dia memencet tombol beberapa angka password untuk nya memasuki ruangan.


Setelah pintu berhasil terbuka, dilihatnya bibi Yasmin sudah menyambutnya dengan senyuman. Pelangi sedikit terkejut lalu dengan kasar menyeka sisa air matanya.


"Eng, nona. Kau menangis? Ada apa nona? Katakan pada bibi." Bibi Yasmin menyapanya dengan kebingungan dan sedikit cemas.


"Gapapa, Bi. Pelangi cuma capek saja, oh iya si Lisa mungkin akan pulang terlambat. Malam ini dia ada acara di luar, Pelangi ke kamar dulu ya, bi." Jawab Pelangi malas sembari langsung memasuki kamarnya.


"Ta,tapi non?" Bibi Yasmin menghentikan ucapannya dengan helaan nafas panjang.


"Kasihan nona Pelangi, ada apa dengan nya? Ehm, jika aku mengadu pada tuan Kevin. Aku takut membuat beliau gelisah dan khawatir lalu pekerjaannya disana akan terbengkalai. Ah, tidak. Sebaiknya aku bertanya dulu pada nona Lisa." Ujar bibi Yasmin berbicara sendiri.


Di lain tempat...


Lucky kembali ke kampus menuju mobil yang di parkirnya di halaman kampus. Pikiran dan hatinya kalang kabut, ada rasa sakit yang sungguh tak bisa dia luapkan dalam amarahnya. Sekujur tubuhnya sampai gemetaran meremas setir mobilnya saat dia hendak mengemudi menuju rumah tinggalnya.


Sesampainya dirumah, dia langsung menuju ruang dapur untuk meraih satu botol air mineral di lemari pendingin. Lalu meneguknya sampai habis, padahal cuaca diluar masih lah musim dingin. Tapi kali ini hati nya sedang memanas, nafasnya terengah-engah setelah menghabiskan satu botol air mineral.


"Hah, apa yang salah dengan ku. Kenapa dia begitu membenciku, sementara kami baru bertemu bukan? Aku pun tidak genit saat berhadapan dengannya, berbeda dengan Exelle." Ujar Lucky meremas kembali botol minuman yang di genggamnya. Dan baru kali ini dia merasa bersalah besar namun kesal, dia sangat kesal.


Diamnya sejak tadi, mulai terbersit untuk mengetahui siapa sosok gadis yang membuatnya mulai penasaran itu. Dia mulai memutar-mutar pikirannya, apa yang akan di lakukan untuk mengetahui bagaimana caranya menghadapi karakter Pelangi yang aneh baginya.


🌻🌻🌻


"Astaga, Lisa!" Pelangi sungguh terkejut saat dilihatnya sahabatnya itu sudah menatapnya dengan tajam di sisinya.


"Katakan, apa ada sesuatu yang terjadi selama aku pergi dinner malam tadi?" Tanya Lisa dengan nada serius.


"Eh, ti-tidak. Memangnya apa?" Jawab Pelangi kikuk seraya beranjak dari posisi tidurnya. Ia hendak pergi ke kamar mandi dan menghindari introgasi sahabatnya itu.


"Kau hampir semalaman membuatku kerepotan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tiba-tiba saja kau menangis, kau teriak, tapi kau tidur dengan nyenyak. Mimpi buruk apa yang sedang kau alami semalam, Princess cold? Kau sangat sedih. Aku sampai ikut menangis."


"Oh? Benarkah?"


Astaga. Apakah aku mulai terjerat lagi dengan mimpi di masa kecilku? Aku tidak mau hal itu kembali mengusik ketenangan ku saat ini. Tapi jujur. Melihat cowok menyebalkan itu, membuatku meyakini jika dia adalah Lucky. Lucky ku di masa kecil, haha. Gila, ini gila!!!


"Hei, hello." Lisa menjentikkan dua jemarinya tepat di hadapan wajah Pelangi. Membuatnya terkejut dengan mengedipkan kedua matanya.


"Oh, itu. Iya, aku.. Ehm, hanya mimpi buruk. Pagi ini aku baik-baik saja, tak perlu khawatir. Aku mandi duluan ya,"


"Eh, Princess cold. Tunggu, masih ada yang ingin aku ceritakan. Ini sungguh diluar dugaan, tapi aku sangat bahagia. Aku seperti memenangkan sebuah lotre malam tadi, aku jadi tidak sabar." Ujar Lisa dengan penuh semangat terlihat jelas di nada bicaranya.


"Apaan?" Tanya Pelangi dengan nada malas menoleh ke arah Lisa.


"Si cowok cuek, hihi. Dia mengirim pesan singkat padaku, dia bilang ingin berbincang dengan ku saat jam kuliah berakhir. Woah, apakah aku sudah memiliki level yang sederajat dengan mu Princess cold, di kejar-kejar cowok tampan tanpa harus menebar pesona ku pada mereka. Uuugh..." Lisa terlihat sedikit genit pagi ini.


A,apa? Dia mengajak Lisa bertemu? Dasar cowok menyebalkan. Apakah dia sengaja ingin membalasku. Baru saja kemarin dia membuatku menangis karena sikapnya, dan saat ini dia pun...


"Iih, Princess cold. Kau menyebalkan, ku pikir kau akan ikut senang dan mengucapkan selamat padaku. Ish, dasar " Lagi-lagi Pelangi dibuat terkejut dari lamunan nya, dengan decakan dan celotehan sahabatnya itu.


"Hmm, congrat. Semoga kau betah dengan cowok seperti nya."


"Aaah, tentu. Karena ku pikir dia akan sangat romantis bila bertemu dengan orang yang dicintainya, mungkin saat ini masih demikian dinginnya. Tapi lihat saja, nanti. Aku akan meluluh lantahkan hatinya hanya padaku saja, huh. Mo-na-li-sa, miss beauty. Siapa yang akan tahan dengan godaan pesona cantik ku." Lisa mulai berangan-angan. Pelangi yang mengenal betul karakter sahabatnya itu, langsung saja membanting pintu kamar mandi dengan sedikit keras.


"Omo, Aaaakh. Princess cold, bisakah kau pelan sedikit. Kau sangat sensitif, apakah sedang datang bulaaan?" Teriak Lisa diluar kamar mandi.


Sedangkan Pelangi di dalam menggerutu dan mengumpat kesal. Mengingat jika Lucky mengajak Lisa bertemu untuk berbincang, entah kenapa tiba-tiba saja. Apa yang di rencanakannya.