
Tiga minggu kemudian.
Rendy sedang berada di ruang rapat bersama para petinggi perusahaan dan beberapa staf perusahaan.
Saat sedang memimpin rapat, ponsel yang diletakkan di meja terus bergetar. Rendy meliriknya.
'Olivia?' Gumamnya dalam hati.
Namun, ia tidak merespon panggilan telepon dari kekasihnya dan membiarkannya hingga panggilan itu berhenti dengan sendirinya.
Hampir dua jam ia berada di dalam ruang rapat membahas masalah yang sedang terjadi di cabang perusahaan yang ada di Surabaya. Bagaimanapun juga, Rendy harus segera berangkat ke Kota Pahlawan secepatnya untuk membereskan masalah di sana.
Meski ia belum lama menjabat sebagai pimpinan perusahaan, tapi ia sudah mendapat kabar yang membuatnya benar-benar pusing.
Selesai rapat, Rendy bersama Pak Sony, Beni dan Siska, sekretarisnya kembali ke ruangannya.
Karena terjadi masalah di cabang perusahaan yang ada di Surabaya, Pak Sony diminta Rendy untuk hadir dalam rapat kali ini.
"Tolong buatkan kopi!" Titah Rendy kepada Siska begitu masuk ke dalam ruangannya.
"Baik, Pak." Jawab Siska dan langsung bergegas keluar menuju pantry.
Rendy dan Pak Sony duduk di sofa sedangkan Beni, asisten pribadi Rendy tetap berdiri seperti patung.
"Aku benar-benar pusing, Om." Rendy memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Om yakin, kamu pasti bisa menangani masalah ini, Mas Rendy." Pak Sony memberikan semangat dan dukungan kepada Rendy, karena ia sangat yakin dengan kemampuan Rendy.
"Tapi Om, aku takut membuat Papa kecewa kalau sampai aku gagal menangani masalah ini." Ucap Rendy yang merasa pesimis.
Rendy merasakan ponsel di dalam saku jasnya bergetar. Ia segera merogoh, mengeluarkan ponselnya lalu menerima panggilan dari Olivia yang sejak tadi tidak dihiraukannya.
Pak Sony yang ingin berbicara mengurungkan niatnya dan memilih diam menunggu Rendy menerima panggilan telepon.
"Ya, honey. Ada apa?" Tanya Rendy begitu mengangkat telepon dari Olivia.
"Rendy, kenapa baru diangkat telepon dari aku?! Dari tadi aku nungguin kamu!" Olivia memarahi Rendy dengan suara yang terdengar keras membuat Rendy langsung terdiam sesaat kemudian menyadari sesuatu.
'O ****! Oliv hari ini datang, kenapa aku bisa lupa?' Gumam Rendy dalam hati merutuki dirinya yang seketika teringat jika Olivia pagi ini akan tiba di bandara.
Sebelumnya, Olivia mengabari Rendy jika dirinya akan datang untuk menemuinya. Dan pagi ini, ia sudah sampai di ibu kota. Rendy juga mengatakan akan menjemputnya di bandara. Tapi, Rendy benar-benar lupa karena mendadak ia harus memimpin rapat penting pagi ini.
"Kamu tunggu aku, aku akan segera ke sana sekarang juga jemput kamu." Ucap Rendy sambil bangkit berdiri.
"No! Lupakan saja! Aku sudah sampai di apartement sekarang! Sebaiknya kamu urus saja pekerjaanmu itu dan tidak perlu memikirkan aku!" Ucap Olivia dengan marah dan langsung menutup sambungan teleponnya begitu saja.
"Sial!" Gumam Rendy juga merasa sangat kesal sekaligus bersalah.
Ia begitu merindukan kekasihnya ini, namun ia malah melupakannya dan malah terus sibuk memikirkan masalah yang kini sedang dialami cabang perusahaannya yang ada di Surabaya.
"Ada apa, Mas Rendy?" Tanya Pak Sony yang sedari tadi memperhatikan Rendy.
"Om, aku pergi dulu, ada urusan mendadak. Masalah cabang perusahaan, kita bahas nanti setelah urusanku selesai." Ucap Rendy sambil bangkit berdiri.
"Baiklah, silahkan." Pak Sony tidak berani melarang Rendy, karena dia melihat perubahan wajah Rendy yang tampak sedang menahan marah, entah marah pada siapa.
Padahal, ada yang ingin dibicarakan oleh Pak Sony terkait masalah yang kini sedang terjadi di cabang perusahaan yang ada di Surabaya. Jika ditunda, takutnya akan semakin kacau.
"Pak Rendy, ini kopi Anda." Siska menunjukkan kopi di atas nampan yang dibawanya pada Rendy.
"Kamu berikan saja ke Om Sony." Jawab Rendy kemudian ia mengingatkan Beni. "Kamu nggak perlu ikut!"
"Tapi Bos, aku—"
Tanpa menghiraukan jawaban Beni, Rendy sudah melangkah keluar dan pergi begitu saja dengan terburu-buru membuat Siska dan yang ada di dalam ruangannya menatap bingung.
"Em, ini Pak Sony, kopinya untuk Anda saja." Siska pun meletakkan kopi yang dibawanya di atas meja di hadapan Pak Sony.
"Terima kasih." Pak Sony tanpa sungkan langsung meraih kopi itu dan mengecapnya.
Seketika wajahnya berubah ketika merasakan kopi yang begitu pahit di lidahnya. "Bueh! Pahit sekali ini, Siska? Apa kamu sengaja ingin meracuni saya?"
Beni yang masih berdiri di tempatnya ingin sekali tertawa, namun ia tahan karena takut dosa.
Sedangkan Siska dengan wajah tanpa dosa ingin membela diri. "Loh, itu kopi permintaannya Pak Rendy, Pak. Mana mungkin saya berani menaruh racun di dalamnya."
"Bos Rendy menyukai kopi hitam tanpa gula, Pak. Itu bagus untuk kesehatan jantung. Mungkin Anda bisa membiasakannya supaya terhindar dari serangan jantung." Sambung Beni yang langsung membuat Pak Sony melotot marah padanya.
"Diam, kamu!"
Tiba-tiba ponsel Pak Sony berdering. Ia meletakkan kembali kopinya dan segera mengangkat panggilan telepon dari Pak Bagas, Papanya Rendy. "Ya, Pak Bagas?"
"Sony, di mana Rendy? Tolong berikan teleponnya ke Rendy karena ponsel anak itu tidak aktif." Tanya Bagas dari seberang telepon terdengar tidak sabar.
"Mas Rendy baru saja pergi karena ada urusan yang mendadak, Pak. Apa ada yang ingin disampaikan? Nanti saya akan menyampaikannya pada Mas Rendy kalau dia sudah kembali." Tawar Pak Sony.
"Pergi? Pergi kemana? Ada urusan apa dia?" Tanya Bagas.
"Saya kurang tahu, Pak. Mas Rendy tidak mengatakan ke saya. Tapi, sepertinya Mas Rendy ditelepon oleh—" 'Apa aku harus memberitahu Pak Bagas?' Pak Sony tidak melanjutkan kalimatnya membuat Pak Bagas penasaran.
"Oleh siapa? Katakan saja!"
"Mas Rendy ditelepon oleh seorang wanita kemudian buru-buru pergi, Pak." Akhirnya Pak Sony memberitahu Pak Bagas.
Hening, tidak mendengar suara dari Bagas karena Bagas terdiam. Bagas langsung dapat menebak jika Rendy pasti sedang menemui Olivia saat ini. Siapa lagi yang bisa membuat anak itu buru-buru pergi dan meninggalkan pekerjaannya begitu saja kalau bukan Olivia?
"Apa dia pergi sendiri?" Tanya Bagas kembali setelah terdiam sejenak.
"Iya, Pak." Jawab Pak Sony.
Terdengar suara helaan nafas dari Pak Bagas.
"Apa Beni ada di sana? Kalau ada, tolong bilang ke dia untuk menyusul Rendy dan minta dia untuk mengabariku." Perintah Pak Bagas dengan tegas tidak terbantahkan.
"Baik, Pak." Jawab Sony dan Bagas menutup sambungkan teleponnya.
Pak Sony segera menyampaikan perintah dari Pak Bagas pada Beni, asisten pribadi sekaligus bodyguard Rendy. "Pak Bagas menyuruhmu untuk menyusul Mas Rendy sekarang juga dan kamu juga disuruh untuk mengabari Pak Bagas."
"Baik. Saya permisi." Beni langsung bergegas pergi mencari keberadaan Bosnya.
......................