Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 178



Aku hampir tidak percaya ini, ketika melihat Pelangi berlari begitu antusias menghampiri sosok yang memangggilnya tadi. Dan ini, awal pertama kali aku mendengar suaranya begitu lantang memanggil nama Pelangi.


Tampak mereka saling melempar senyum satu sama lain, dan Lucky sedikit kikuk kemudian memeluk Pelangi. Kemudian menepuk-nepuk kedua bahunya, membuat Pelangi semakin tersenyum lebar.


"Lucky, kapan kau disini? Apakah disini rumah mu?" Tanya Pelangi melihat sekeliling.


"Ehm, tidak. Tapi aku selalu diajak kemari oleh ayah angkat, tapi kali ini berbeda. Kami datang dengan calon ibu tiriku,"


"Apa itu ibu tiri?"


"Kau tidak akan mengerti, aku baru saja akan membelikanmu hadiah. Tapi kau sudah disini," Ujar Lucky.


"Aku sedang membeli bonek-boneka itu." Tunjuk Pelangi ke arah toko yang dimana kami masih berdiri menatap mereka. Kemudian Pelangi menarik tangan Lucky menghampiri kami.


Entan lah, aku semakin heran saja. Kenapa seakan Pelangi selalu di pertemukan meski di lain tempat, tapi.. Tunggu !!!


Dimana para pengawal dan suster yang selalu menjaga Lucky?


"Halo mama Pelangi, apa kabar tante?" Sapa Lucky dengan sikap yang sudah biasa dia lakukan padaku. Serta dia memberikan sikap santun dan penuh hormat ke arah Irgy, kak Rendy dan istrinya.


"Ha,halo Nak. Hey, tante sangat terkejut kau disini." Sapa ku dengan gelagapan.


"Maaf tante, telah membuatmu merasa tidak nyaman. Setiap tahun ayah angkatku selalu mengajakku kesini." Jawabnya sembari melempar senyum pada Pelangi.


"Apakah dia yang bernama Lucky?" Tanya kak Shishi kemudian.


"Hemm... Dia menggemaskan bukan?" Jawabku menjelaskan.


"Uuuhm. Dia sungguh anak yang tampan dan santun, apakah tante boleh memelukmu?" Ucap kak Shishi kembali.


Tampak Lucky melihat sekeliling sebelum menjawab akan ucapan kak Shishi.


"Kakak ipar..." Panggilku seraya menggelengkan kepala dan memberikan isyarat pada kak Shishi untuk tidak mendekati Lucky.


"Hey Nak, apa kau yang bernama Lucky? Huh, coba kemari." Kali ini kak Rendy menghampiri Lucky kemudian langsung menyentuh kedua bahu nya lalu memutar-mutar dan meraba-raba sekujur tubuh Lucky. Membuat Lucky sedikit ketakutan.


"Kakak, kau menakutinya." Ucap ku sembari menariknya ke arahku.


"Maafkan paman sayang, paman hanya ingin memastikan apakah kau sungguh manusia? Hehe," Jawab kak Rendy membungkukkan badannya menatap dengan dekat wajah Lucky yang hanya terpaku diam.


"Lucky, jangan takut. Mereka adalah om dan tante Pelangi, tapi kau.. Ehm, dimana para pengawalmu nak?" Tanya mu melihat sekeliling untuk memastikan.


"Aku datang dengan ayah angkat dan calon ibu tiriku tante," Jawabnya ragu sembari menundukkan wajah.


Wah.. Akhirnya, aku akan mengetahui sosok di balik sikap Lucky ini. Siapa orang tua nya itu?


"Woah, dia sungguh berbeda." Ujar kak Rendy dengan seruan, memuji sikap Lucky yang begitu terlihat dewasa dan santun.


"Lucky, ayo kita main bersama." Ujar Pelangi menyela.


"Ehm, Pelangi.. Biarkan Lucky mendapat izin dahulu dari orang tua angkatnya ya." Jawab Irgy menahan.


"Pelangi mau sama Lucky pa, kita akan main bersama. Iya kan Lucky?"


"Maafkan aku Langi, tapi aku harus kembali mencari ayah angkatku." Jawab Lucky, kemudian dia terlihat sedang mencari-cari sesuatu dan meraih satu boneka karakter Mickey dan minnie kemudian merogoh kantongnya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang yang begitu banyak.


"Ini untuk mu, dan ini untuk ku. Kita sama-sama memilikinya, simpan baik-baik untuk ku." Ucapnya lagi sembari memberikan boneka karakter minnie yang lebih dulu pada Pelangi.


"Waaaaow, kau membelinya untuk ku? Terimakasih." Jawab Pelangi dengan senyuman lebar dan meraih boneka tersebut.


"Tuan muda, tuan. Apakah tuan baik-baik saja? Apakah ada yang terluka?"


Tiba-tiba datang suster Lulu dengan tiga orang bodyguard sekaligus yang serba berjas hitam, sikap mereka terlihat lebih sangar menatap ke arah ku juga Irgy dan lainnya.


"Suster, Lucky baik-baik saja. Jangan panik begitu," Ucap ku.


"Oh Nona, ternyata kau. Huuh... Syukur lah, tuan muda bersama kalian. Aku hampir saja kehilangan nyawaku jika sampai tuan muda belum kami temukan." Jawabnya dengan tubuh setengah membungkuk penuh hormat kepada ku.


"Eh, apa sampai segitunya suster?" Tanya ku dengan tegas.


"Maafkan aku bi, aku telah membuat bibi dan lainnya mencariku dengan ketakutan." Jawab Lucky lebih dulu menghadap ke arah suster Lulu dengan membungkukkan setengah badannya dengan tangan di atas dadanya.


"Tidak, tidak tuan muda. Jangan meminta maaf, tapi ku mohon jangan lagi kabur dari penjagaan kami, jika tidak kau tahu hukuman apa bagi ku nantinya?"


"Bisakah mau merahasiakan ini dari ayah angkat, Bi?" Tanya Lucky dengan wajah penuh ketakutan.


"Lucky, biarkan tante yang menegur ayah angkatmu itu. Dia sudah terlalu mengekang kehidupan mu, Huh..." Ucapku menyela pembicaraan mereka.


"Tapi Tuan muda sudah melanggar aturan yang sejak dulu sudah di sepakati." Jawab suster Lulu. Dan lagi-lagi ucapan ku sejak tadi terabaikan oleh mereka.


Busyet, aku juga manusia woey. Aku berbicara sejak tadi pada kalian..


"Suster Lulu, apa sampai sebegitunya? Kasihan Lucky." Aku membantah kembali.


"Mohon maafkan aku Nona, ini sudah menjadi aturan dan tugas saya sejak dulu. Saat tuan muda diberikan kelonggaran bermain di tempat keramaian seperti ini tua muda tidak boleh jauh dari kami satu langkah pun."


"Astaga. Apakah anak ini sungguh di jaga ketat? Ada apa dengan nya? Apakah dia anak kesultanan yang di curi?" Ucap kak Rendy dengan terengah-engah.


"Ehm, Lucky. Kembalilah pada ayah angkatmu. Katakan jika kau tidak akan mengulanginya lagi, aku yakin ayah angkatmu begitu karena sangat menyayangimu Nak." Ucap Irgy kemudian.


Lucky mengangguk ragu kemudian melangkah maju lebih dekat dengan suster dan beberapa bodyguardnya yang kini mendadak bertambah lagi. Sungguh, suasana ceria diantara kami tadi berubah menjadi tegang walau kini kami berada dalam keramaian.


"Lucky..." Panggil Pelangi dengan suara lirih. Lucky menolehnya kemudian berbalik menghampiri Pelangi kembali.


"Aku harus kembali pada ayah angkat dan calon ibu tiri ku. Maafkan aku Pelangi, jangan sedih ya." Ucap Lucky dengan mengusap rambut di kepala Pelangi. Aku sedikit terharu, sikapnya kian semakin mirip dengan sosok Kevin.


"Hemm.. Apa kita tidak bisa bermain bersama lagi?" Tanya Pelangi.


"Aku tidak tahu, tapi di sekolah nanti kita pasti akan bertemu dan bermain lagi."


"Janji?" Tanya Pelangi.


"Aku janji, jangan sedih ya."


Tiba-tiba Lucky kembali memeluk tubuh Pelangi seolah dia ingin membuat Pelangi tenang dan tidak bersedih. Lalu berpamitan pada kami dengan membungkukkan setengah badannya kemudian melambaikan tangan kepada kami yang mematung sejak tadi.


"Woah, pemandangan apa ini? Kenapa terkesan kita sedang menonton romansa anak kecil? Oh astaga." Ucap kak Rendy, membuat kami tersadar dan saling menatap satu sama lain.


"Pelangi, ayo sini." Panggilku kemudian, disaat Pelangi masih menatap punggung Lucky di balik tubuh kekar nan tinggi besar mengiringnya dari belakang.