
"Lucky, aku.. Aku harus segera masuk. Aku tidak ingin Lisa semakin berpikir macam-macam padaku." Ujar Pelangi setelah merasa puas melihat pria yang di rindukannya selama ini.
"Tunggu. Aku, aku masih..." Ucapan Lucky terhenti.
"Masih apa?"
Lucky mengatupkan kedua bibirnya lalu tersenyum hangat menggelengkan kepalanya menatap wajah Pelangi lekat.
"Tidak... bukan apa-apa. Hem, sebaiknya kau kembali ke atas. Kita akan bertemu kembali besok." Ujarnya kemudian.
"Hem, baiklah. Eh tapi, bagaimana dengan Lisa? Aku.. Jujur aku takut untuk mengatakan jika kita sudah saling mengenal sejak kecil. Aku takut Lisa akan berpikir macam-macam padaku."
"Ku pikir tak apa, karena Lisa akan semakin senang nantinya jika nyatanya kita saling kenal dekat. Iya bukan?" Jawaban Lucky begitu tenang dan santai. Justru membuat Pelangi mengerutkan keningnya heran.
Apa-apaan sih aku? Kenapa harus takut jika Lisa tahu bahwa aku dan Lucky saling mengenal sejak kecil, bukan kah tak apa? Memangnya kenapa? Kita tidak sedang melakukan satu hal yang aneh bukan?
"Eh, heem. Sebaiknya kita memberitahu Lisa besok, dan Exelle juga tentu akan sangat senang mendengar hal ini." Sahut Pelangi begitu yakin.
"Kita akan memberitahu Lisa besok, sebelum dia berpikir hal yang jauh jika nantinya tiba-tiba melihat kita seakrab ini."
Pelangi mengangguk mantap setelah Lucky menuturkan hal demikian. Lalu Pelangi membuka pintu mobil untuk segera keluar dan kembali ke atas, dengan cepat Lucky menyusul keluar dan membuka payung serta mengantarnya hingga di teras depan apartemen. Sesekali mereka saling melirik, saling salah tingkah dan menahan deguban jantung yang tiads hentinya sejak tadi. Mereka melangkah bersama dan berada dalam satu payung berdua.
"Ehm, terimakasih. Sudah mengantar sampai disini dengan payung itu, sebenarnya aku bisa saja berlari kemari." Ujar Pelangi setelah sampai di depan teras.
"Kau baru saja mengelap sekujur tubuhmu yang basah kuyup tadi, nanti kau sakit." Jawab Lucky dengan lembut melempar senyumnya lagi pada Pelangi. Di pandanginya begitu lekat wajah Pelangi, gadis yang selama in ada dalam hati dan pikirannya serta ada dalam urutan penantian panjangnya.
"Hey, Lucky. Ada apa? Kau ngelamun ya? Hihihi."
Lucky terhentak setelah mendengar Pelangi memanggilnya berulang kali seraya melambaikan tangan di depan wajahnya.
"Oh. Eh, aku.. cih, aku hanya sangat senang akhirnya bisa melihatmu lagi, gadis kecil yang selalu manis, santai, cuek, tapi perhatian sejak kecil dulu." Jawab Lucky seadanya dengan apa yang kini dipikirkannya.
"Dih. Apaan sih, jangan coba menggodaku ya. Gak pantes tau gak sih, kamu itu kan si raja dingin dan kaku."
"E,eh.. Maafkan aku, aku tidak bermaksud demikian. Aku hanya menyampaikan apa yang ada dalam hati dan pikiran ku saat ini, Langi." Jawab Lucky lagi, hal itu kini membuat mimik wajah Pelangi berubah memerah kembali. Ada rasa senang, gemas, mau, dan bahagia mendengar Lucky berkata demikian. Memang, sejak kecil dulu Lucky juga kerap sekali menggodanya dengan candaan kecil hingga kini dia kembali demikian meski kenyataannya dia masih kaku dengan sikapnya yang mungkin terbiasa berada di tengah lingkungan kesultanan.
"Hah, ya ya ya. Aku sudah terbiasa dengan kata maaf dan sikap mu yang masih kaku ini. Bertahun-tahun kita terpisah ku pikir kamu sudah membuat suatu perubahan yang membuatku tidak percaya jika itu kau." Sahut Pelangi meledekinya.
"Hum... Aku akan belajar mulai detik ini, khusus untukmu, Langi." Jawab Lucky dengan tersenyum lebar. Pelangi membalasnya dengan tawa geli, karena itu tidak mungkin bukan? Seorang Lucky berubah menjadi pria yang banyak bicara dan selalu gombal, juga kadang perayu.
"Ya sudah, gih. Pulang, sampai dirumah jangan lupa langsung berendam dengan air hangat. Kau harus merelaxasi tubuhmu yang sudah basah kuyup sejak tadi, jangan sampai sakit."
"Siap bu dokter cantik." Balas Lucky dengan memulai kebiasaannya, membungkukkan setengah badannya di hadapan Pelangi.
"Cih, dasar." Ujar Pelangi tersenyum kecil meledekinya lagi.
Lalu kemudian Lucky beranjak pergi menuju mobilnya lebih dulu. Dia berlarian kecil untuk segera sampai di dalam mobil, sebelum memasuki mobilnya dia masih menoleh ke belakang lalu melambaikan tangannya dengan senyuman manis pada Pelangi. Begitupun Pelangi membalasnya.