
Andreas masih berdiri diam dan terus memperhatikan detik-detik perpisahan dua sejoli dihadapannya ini dengan tenang. Ia berharap hubungan Rendy dan Olivia benar-benar berakhir.
Rendy sudah tidak ingin berlama-lama lagi. Ia melepaskan pelukan Olivia dan menatapnya. "Jaga dirimu baik-baik." Ucap Rendy dengan tenang lalu beralih menatap Andreas. "Sekarang kalian nggak perlu lagi diam-diam untuk menjalin hubungan. Aku udah melepas Olivia untukmu. Jaga dia baik-baik." Lanjut Rendy dengan tegas menatap Andreas.
Andreas menghela nafasnya lalu mengangguk sebagai jawaban atas ucapan Rendy.
"Enggak Ren! Aku nggak mau putus. Sampai kapanpun aku nggak mau hubungan kita berakhir!" Teriak Olivia yang masih tidak terima dengan keputusan Rendy.
"Maaf Oliv. Aku udah nggak bisa. Sebaiknya kamu lupain semuanya tentang kita. Aku juga akan berusaha untuk melupakan semuanya terutama rasa kecewa yang aku rasakan ini." Ucap Rendy masih dengan tenang. "Aku masih banyak urusan pekerjaan, jadi aku harus pergi." Lanjut Rendy lalu berbalik dan melangkah pergi dengan cepat meninggalkan unit apartemen Andreas.
"Rendy! Tunggu!" Teriak Olivia yang mengejar Rendy.
Andreas pun segera mengambil kaosnya yang tadi ia letakkan disofa dan memakainya sambil mengejar Olivia.
Olivia terus memanggil Rendy yang sudah melangkah cepat pergi meninggalkannya. Ia juga terus mengejarnya. Ia tidak rela kalau hubungannya dengan Rendy berakhir begitu saja. Saat ia mengejarnya, Andreas langsung menarik lengannya dan menyeretnya dengan paksa untuk kembali masuk ke unit apartemennya.
"Andreas! Kamu apa-apaan sih? Aku harus kejar Rendy!" Pekik Olivia dengan sangat marah.
"Kamu jangan gila Oliv!" Bentak Andreas dengan mencengkram kedua lengan Oliv dan menatapnya.
"Lepasin aku! Aku nggak akan biarin Rendy ninggalin aku Andreas!" Olivia menghempaskan tangan Andreas namun Andrean mendorongnya hingga pinggung Olivia membentur dinding.
Andreas mengungkungnya di dinding, tidak akan membiarkannya pergi mengejar Rendy. Harapannya telah tercapai. Hubungan Olivia dengan Rendy telah berakhir. Ia tidak akan pernah membiarkan Olivia kembali pada Rendy apapun yang terjadi.
"Andreas, aku mohon biarkan aku pergi! Kamu tau kan, aku sangat mencintai Rendy?" Ucap Olivia sambil menangis membuat Andreas mengambil dua langkah mundur menjauh sambil menatap Olivia merasa sangat kecewa dengan ucapannya.
"Apa kamu nggak cinta sama aku Oliv?" Tanya Andreas dengan menatap lekat Olivia.
"Selama ini aku sangat mencintai kamu! Aku selalu ada saat kamu sedang membutuhkan seseorang disampingmu yang nggak pernah kamu dapatkan dari Rendy!" Lanjut Andreas dengan mengeraskan rahangnya menahan emosinya.
"Cukup Andreas, cukup!" Teriak Olivia menghentikan Andreas.
"Kenapa? Kamu masih mau ngejar Rendy?" Tanya Andreas. "Kalau begitu, kejar dia!" Lanjutnya dengan membentak Olivia.
"Asal kamu tau Oliv! Rendy nggak bakal mau kembali lagi sama kamu!" Ucap Andreas membuat Olivia semakin marah.
"Enggak! Nggak mungkin! Rendy sangat mencintai aku! Aku yakin, dia pasti akan kembali lagi denganku!" Ucap Olivia dengan mengeraskan wajahnya dan mengusap kasar wajahnya yang terkena air mata.
Ia kemudian keluar dan menutup pintu dengan membantingnya. Andreas menghela nafasnya dan mengusap wajahnya dengan kasar lalu menghantam tembok dengan kepalan tangannya cukup keras untuk melampiaskan segala emosinya.
"Aku nggak akan biarin kamu kembali lagi dengan Rendy, Oliv!" Gumamnya dengan menggertakkan giginya.
Andreas pun pergi dan diam-diam mengikuti kepergian Olivia.
...
Olivia menghubungi asistennya untuk
re-schedule pekerjaannya hingga seminggu kedepan. Karena ia tidak bisa bekerja dengan hati dan pikiran yang sedang kalut seperti ini. Ia ingin fokus pada Rendy dulu dan ia harus bisa membuat Rendy untuk tetap melanjutkan hubungan mereka.
Olivia mencoba menghubungi Rendy namun Rendy tidak mengangkat teleponnya. Ia terus menelpon Rendy dan Rendy masih tidak mengangkatnya.
"Please honey! Angkat teleponnya!" Gumam Olivia sambil menyetir ia terus menelpon Rendy. Namun tetap saja tidak ada jawaban dari Rendy.
"Sial!" Olivia memukul setirnya merasa frustasi karena Rendy tidak juga mengangkat panggilan teleponnya.
Olivia menambah kecepatan mobilnya menuju kediaman Pradipta untuk menemui Rendy. Semenjak ia kembali dari London, ia belum pernah datang ke rumah Rendy. Bahkan Rendy belum pernah memberikan alamat kediamannya kepada Olivia.
Lalu, bagaimana Olivia bisa tau kediaman Pradipta? Tentu saja kediaman Pradipta sangat mudah ditemukan. Alamat kediaman keluarga Pradipta telah menyebar diinternet. Tak heran karena nama Pradipta sudah cukup terkenal dikota ini karena merupakan keluarga terkaya dengan bisnisnya yang juga telah menyebar luas diberbagai kota besar ditanah air.
Tak lama, Olivia telah sampai didepan pintu gerbang kediaman Pradipta. Ia turun dari mobilnya dan menatap takjub kemegahan rumah milik Rendy. Lebih tepatnya, milik orang tua Rendy.
Ia merasa sangat bodoh selama ini telah mengkhianati Rendy dengan berselingkuh dengan Andreas.
Olivia menghela nafasnya lalu menekan bell yang ada disisi pintu gerbang.
Ada satpam yang selalu berjaga disana lalu membukakan pintu gerbang disisi kiri.
"Eh Mbak? Mbak ini kan Olivia Alexandria? Benar kan?" Tanya Satpam tersebut dengan terkejut sekaligus berbinar lalu tersenyum lebar merasa senang karena ada model sekaligus artis cantik dan sexy yang tiba-tiba mendatangi kediaman majikannya ini.
"Benar Pak. Saya kesini mau ketemu sama Rendy. Apa Rendy ada?" Tanya Olivia berusaha tersenyum ramah.
"Apa? Mas Rendy? Mbak Olivia ini temannya Mas Rendy ya?" Tanya balik satpam tersebut dengan melebarkan senyumnya.
"Saya pacar Rendy! Apa Rendy ada? Kalau ada, saya mau ketemu dia!" Tanya Olivia yang sudah tidak sabar lagi sambil ingin nyelonong masuk.
"Eh tunggu mbak!" Satpam tersebut menghalangi Olivia. Meski Olivia seorang artis terkenal dan mengatakan bahwa dirinya pacar majikannya, satpam tersebut tetap harus waspada untuk tidak sembarangan menerima tamu sekalipun tamu itu adalah sang idolanya sendiri.
"Mbak Olivia tunggu dulu disini sebentar!" Lanjut satpam tersebut kemudian berbalik dan menghubungi Rendy melalui intercom yang ada didalam pos satpam.
"Mas Rendy!"
"Ada apa Pak?"
"Ini ada pacarnya nyariin Mas Rendy!"
Tidak terdengar suara Rendy dari seberang sana.
"Wah, Mas Rendy hebat ya, ternyata Mbak Olivia sang model dan pemain film yang cantik dan sexy itu pacarnya mas Rendy..." (tut tut tut).
Rendy langsung memutus sambungan intercom tersebut dan beranjak turun kebawah. Beni yang baru saja membuat kopi sendiri, ia melihat Bosnya turun dengan tergesa-gesa dan tampak cemas, ia segera meletakkan kopinya dimeja dan menyusul Rendy keluar.
"Honey!" Seru Olivia yang masih berdiri dipintu gerbang lalu berjalan dengan langkah cepat kearahnya.
"Mau apa kamu kesini?" Tanya Rendy dengan memicingkan matanya menatap Olivia.
Satpam yang tadi beserta temannya hanya memperhatikan Olivia dan Rendy dari pos jaga. Mereka terus memuji dan merasa kagum dengan Rendy. "Mas Rendy hebat ya? Nggak nyangka kalau ternyata Olivia Alexandria itu pacarnya!" Ucap satpam yang tadi dengan tersenyum lebar.
"He em. Nggak heran juga sih. Mas Rendy kan ganteng. Tajir lagi. Siapa yang nggak mau jadi pacarnya?" Sambung teman satpam lain.
"Mereka sangat cocok. Yang ceweknya cantik, cowoknya ganteng. Kalau mereka nikah dan punya anak, pasti anaknya lucu!" Ujar satpam yang lainnya lagi dan diangguki mereka bersama sambil terus memperhatika Rendy dan Olivia yang sedang berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan karena tidak terdengar sampai pos satpam.
"Honey, tolong maafkan aku! Aku mau hubungan kita tetap berlanjut! Kamu udah janji kan sama aku kalau kamu mau nikahin aku secepatnya?" Ucap Olivia dengan tidak tau malu terus berusaha memaksa Rendy yang jelas-jelas sudah mengakhiri hubungan mereka dan sangat tidak mungkin bagi Rendy untuk kembali lagi menjalin hubungan dengan Olivia setelah apa yang telah dilakukan Olivia bersama Andreas dibelakangnya selama ini.
"Ya. Kamu benar. Mungkin aku pernah janji sama kamu untuk nikahin kamu. Tapi sebelum aku tau perselingkuhanmu dengan Andreas. Selain itu, orang tuaku juga nggak pernah setuju dengan hubungan kita Oliv. Nggak ada alasan lagi untuk aku melanjutkan hubungan kita." Ucap Rendy masih dengan sangat tenang.
"Honey, aku..."
"Mungkin kamu butuh waktu untuk berhenti memanggilku dengan sebutan 'honey'." Sahut Rendy memotong ucapan Olivia. "Aku harap saat kita nggak sengaja ketemu diluar nanti, kamu udah nggak lagi memanggilku dengan sebutan itu." Lanjut Rendy dengan menatap Olivia penuh peringatan.
"Ren, aku mohon..maafkan aku dan mari kita mulai lagi hubungan ini." Ucap Olivia sambil meraih tangan Rendy dan menatapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca penuh harap.
Rendy menghela nafasnya panjang. Ia benar-benar sudah lelah dan muak melihat wajah Olivia yang bersedih dan memohon seperti ini. Ia memang masih mencintai Olivia. Tapi rasa sakit dan kecewanya telah melebihi rasa cintanya.
"Udah malam. Sebaiknya kamu pulang. Lagipula aku udah nggak mau lagi bahas masalah ini. Semua udah jelas dan hubungan kita udah berakhir Olivia." Ucap Rendy sambil melepaskan tangan Olivia yang menggenggamnya.
"Aku nggak akan pergi sebelum kamu menerima aku lagi Ren!" Ucap Olivia yang masih terus memaksa Rendy.
"Oliv, aku udah berusaha untuk bersikap baik sama kamu. Jangan buat aku hilang kesabaran. Kamu ini seorang artis dan model yang banyak penggemar. Apa kamu nggak malu kalau ada penggemarmu yang lihat kamu seperti ini? Malam-malam dateng ke rumah laki-laki, lalu memohon seperti ini?" Ucap Rendy mengingatkan Olivia sebagai publik figur yang tidak sedikit penggemar dan pengagumnya diluar sana.
"Ben, tolong kamu anter dia!" Tegas Rendy lalu berbalik dan masuk kedalam begitu saja meninggalkan Olivia.
"Baik Bos!" Jawab Beni.
"Rendy! Tunggu Ren! Aku nggak peduli dengan mereka! Rendy!" Teriak Olivia lalu ingin mengejar Rendy masuk namun Beni dengan sigap menghalangi Olivia.
"Maaf Mbak Oliv. Anda dilarang masuk!" Tegas Beni sambil menghadang Olivia.
"Minggir kamu!" Olivia mendorong Beni dan berusaha ingin mengejar Rendy tapi Beni meraih lengannya dan memegangnya dengan erat.
"Aaawh!" Pekik Olivia karena Beni memegang begitu erat lengannya. "Sakit! Lepasin!" Olivia menghempaskan lengannya dan Beni melepaskannya.
"Maaf mbak. Sebaiknya anda pergi dari sini sekarang juga atau aku terpaksa akan menyeretmu keluar!" Tegas Beni sambil menghadang Olivia dengan waspada.
Olivia menahan seluruh emosinya. Ia hanya mengepalkan kedua tangannya lalu mendengus kesal dan berbalik, berjalan dengan cepat keluar dari sana. Ia kembali masuk kedalam mobilnya dan segera melajukannya dengan cepat.
................