
Sudah dua hari berlalu semenjak Exelle kembali ke Indonesia. Pelangi tetap menjalani
hari-hari seperti biasanya, berbeda dengan Lisa yang diam-diam sudah mulai
dekat dengan seorang laki-laki di kampus dari jurusan yang bereda. Begitupun
Exelle, selama jauh dari Pelangi dia jadi lebih semakin posesiv. Namun itu
hanya sesekali saja saat Pelangi meresponnya.
“Ehhem!” Lisa berdehem ketika menghampiri Pelangi yang
sedang berkutat dengan sebuah pulpen dan buku di depannya. Sesekali dia melirik
ke arah buku yang ada di dekatnya.
“Ada apa, Sa? Ngomong aja langsung jangan pakai kode
segala.” Ujar Pelangi menanggapi sikap sahabatnya itu.
“Hehehe, aduh… kau membuatku malu, iiih Princess cold.” Lisa
mendecak pelan kemudian.
“…….” Pelangi hanya meliriknya saja dengan senyuman tanpa
kata.
“Itu, ehm.. aku, aku akan pergi dinner bersama kenalan
baruku. Dia dari jurusan bisnis di kampus kita ini, tapi…”
“Jangan bilang jika kau ingin mengajakku ikut serta, aku
tidak mau.” Ujar Pelangi menghentikan akifitas menulisnya.
“E,eh.. tidak, aku tahu kau akan menolaknya jika ku ajak.
Oleh karena itu, aku ingin kau membantuku untuk mendapat izin dari bibi Yasmin.
Karena jika kau yang meminta izin pasti akan langsung di iyakan oleh beliau.”
Pelangi menatap wajah sahabatnya itu kemudian, wajah Lisa
terlihat merengek dengan penuh harap.
“Hah, baiklah. Kau ini sungguh berani, bukankah kita baru
saja beberapa bulan disini? Tapi kau sudah berani berkencan dengan orang
asing.” Ucap Pelangi mengomelinya.
“Iih, apa kau lupa bagaimana aura kecantikan dari sahabatmu
ini? Mana ungkin ada yang tahan untuk tidak mengajakku kencan?”
“Lalu bagaimana dengan si cuek? Apakah iru berarti kau sudah
menyerah mengejarnya?”
“Sssst… jangan membuatku merasa bersalah, ini hanya makan
malam biasa Princess ku. Tidak ada yang istimewa, kami hanya berteman biasa.
Tolong rahasiakan ini dari Exelle dan si cuek, atau nanti mereka akan
menganggapku wanita yang mudah berpaling.”
“Hah, baiklah. Apapun itu, lakukan saja apa yang akan kau
lakukan. Tapi berhati-hatilah, jaga diri baik-baik.”
“Siap, tuan puteri.” Jawab Lisa dengan sigap lalu merangkul
leher Pelangi dengan gemas. Mereka saling melempar senyuman hangat dan saling
bersenda gurau kemudian.
.
.
.
.
.
Saat tiba jam pulang dari kampus, Lisa sudah lebih dulu
pergi untuk menghampiri pria yang mengajaknya dinner malam ini. Hari sudah
mulai petang, Pelangi sedang berjalan melangkh keluar dari halaman kampus.
Diluar dugaan, Lucky menghampirinya dengan sikap dingin dan kaku namun tetap
santun.
“Ha,hai.. maaf, tiba-tiba aku menghampirimu.” Sapa Lucky
dengan mmbungkukkan tubuhnya setengah, ia merasa bersalah ketika melihat sikap
Pelangi yang dengan seketika menghentikan langkahnya saat melihat Lucky datang
menghampirinya.
“E,eh.. Tida apa, aku hanya sedikit terkejut saja kau
tiba-tiba menghampiriku. Karena sebelumnya kita tidak pernah bertemu lagi.”
Jawab Pelangi gugup.
“Aku, ehm… aku tidak nyaman jika menghampirimu tanpa suatu
alasan yang tepat, sebab.. Saudaraku Exelle masih belum kembali.”
“Aah, ehm. Ya, aku mengerti. Lagipula kita tidak memiliki
satu urusan yang penting untuk di bahas berdua bukan?” Ujar Pelangi, dan kini
mereka saling memandang satu sama lain.
Dag dug dag dug dag dug.
Suara detak jantung mereka seakan sudah tak bisa terkontrol
lagi. Dengan cepat mereka saling memalingkan wajah dan menunduk, untuk
menyembunyikan wajah mereka yang kini mulai memanas dan berasap.
“Apakah ada hal yang penting?” tanya Pelangi kebih dulu.
terlihat santai.
“Ah, itu. Aku, ehm aku melihat temanmu sedang mengunjungi kelas
seniorku. Tapi aku takut ada yang salah dengan penglihatanku. Maka itu aku
ingin memastiknnya padamu, apakah memang benar?” tanya Lucky sembari melihat
ke kanan dan kiri sisi Pelangi.
Oh astaga, Lisa. Kau sangat ceroboh, kau pikir dengan
begini aku akan mudah menyelesaikan masalah mu? Aku harus jawab apa? Awas aja,
kau!!!
Pelangi semakin gugup ketika Lucky kini menatapnya dengan
mengerutkan kening.
“Dia, ehm.. sejak kapan kau menjadi peduli lalu mencarinya?
Bukankah kau selalu ersikap dingin pada Lisa?”
“E,eh… maafkan aku, aku hanya ingin memastikan saja. Tidak
ada maksud lain, karena jika itu benar aku… apakah kita bisa pulang ber-sama sa-ja?”
ujar Lucky dengan suara kian melirih dan tertunduk malu.
Bisa kau bayangkan, tentu saja ini membuat Pelangi mematung
di tempat tanpa suara, seakan bungkam seribu bahasa. Kini pun mereka saling
terdiam tanpa berani berbicara lebih dulu.
“E,eh.. maafkan aku, aku hanya… Menjalankan tugas dari
saudaraku selama dia belum kembali, aku sudah berjanji tidak akan membiarkanmu
sendiri.” Jelas Lucky memulai suara lebih dulu dengan gugup dan sekujur
tubuhnya mulai keluar keringat dingin.
“Aku, aku bisa pulang sendiri. Jadi, kita.. kita bisa pulang
secara terpisah.”
“Bolehkah, aku… aku menolak, aku akan tetap mengantarmu
pulang.”
“Hah, terserah. Tapi aku bisa pulang sendiri, bukan kah aku
tinggal cukup dekat dengan kampus ini?” bantah Pelangi, dia terus menolak.
Namun dalam hatinya, entah kenapa sangat mengiyakan meski detak jantungnya kini
kian melompat-lompat.
Pelangi melangkah kembali melewati Lucky yang berdiri di
depannya, tanpa menoleh lagi ke arah belakang. Yang tak terduga Lucky mengikutinya
hingga keluar dari halaman kampus, bahkan sudah memasuki jalanan menuju
apartemen Pelangi tinggal. Hampir saja Pelangi terjatuh karena hari sudah
gelap, tanpa sengaja kaki kanannya tersandung.
“Hati-hati.”
Dengan sigap. Lucku menangkap tubuhnya dari arah samping.
Lalu dengan cepat pula Pelangi menghindar dan melepaskan diri dari dekapan
Lucky.
“Maaf, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyentuhmu,
maafkan aku.” Berkali-kali Lucky membungkukkan badannya meminta maaf pada
Pelangi. Dan sontak itu membuat Pelangi marah tanpa alasan hingga menitikkan
air matanya.
“Stop! Hentikan! Kenapa kau terus saja meminta maaf begitu
hah? Ini bukan salahmu.” Bentak Pelangi, membuat Lucky terhenti, menatap dengan
terkejut wajah Pelangi yang menangis menatapnya.
“Maaf, maafkan aku. Kau menangis pasti karena aku
menyentuhmu barusan,”
“Ku bilang berhenti minta maaf, jangan membuatku semakin
gila karena mengaggapmu orang yang sama.” Jawab Pelangi dengan teriakan
kembali.
“Aku, aku tidak mengerti. Sungguh aku minta maaf, ku mohon
jangan salah paham.”
“Hah, pergilah!!!” ujar Pelangi setelah dia menarik nafasnya
dalam-dalam.
“Tapi aku….”
“Pergi!!” bentak Pelangi sembari mendorong keras tubuh Lucky
yang kini tumbuh kekar dan tinggi.
Lucky terhuyung kemudian dengan mundur satu langkah dari
hadapan Pelangi, dalam benaknya mulai di serang banyak tanya yang sulit dia
lontarkan dari mulutnya. Melihat Pelangi yang berubah begitu bengis dengan
isakan tangis di depannya membuat Lucky semakin merasa bersalah serta ketakutan.
Ada apa dengan gadis ini? Kenpa? Apa salahku begitu besar
yang hanya ingin menolongnya tadi?