Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 308



Sudah dua hari berlalu semenjak Exelle  kembali ke Indonesia. Pelangi tetap menjalani


hari-hari seperti biasanya, berbeda dengan Lisa yang diam-diam sudah mulai


dekat dengan seorang laki-laki di kampus dari jurusan yang bereda. Begitupun


Exelle, selama jauh dari Pelangi dia jadi lebih semakin posesiv. Namun itu


hanya sesekali saja saat Pelangi meresponnya.


“Ehhem!” Lisa berdehem ketika menghampiri Pelangi yang


sedang berkutat dengan sebuah pulpen dan buku di depannya. Sesekali dia melirik


ke arah buku yang ada di dekatnya.


“Ada apa, Sa? Ngomong aja langsung jangan pakai kode


segala.” Ujar Pelangi menanggapi sikap sahabatnya itu.


“Hehehe, aduh… kau membuatku malu, iiih Princess cold.” Lisa


mendecak pelan kemudian.


“…….” Pelangi hanya meliriknya saja dengan senyuman tanpa


kata.


“Itu, ehm.. aku, aku akan pergi dinner bersama kenalan


baruku. Dia dari jurusan bisnis di kampus kita ini, tapi…”


“Jangan bilang jika kau ingin mengajakku ikut serta, aku


tidak mau.” Ujar Pelangi menghentikan akifitas menulisnya.


“E,eh.. tidak, aku tahu kau akan menolaknya jika ku ajak.


Oleh karena itu, aku ingin kau membantuku untuk mendapat izin dari bibi Yasmin.


Karena jika kau yang meminta izin pasti akan langsung di iyakan oleh beliau.”


Pelangi menatap wajah sahabatnya itu kemudian, wajah Lisa


terlihat merengek dengan penuh harap.


“Hah, baiklah. Kau ini sungguh berani, bukankah kita baru


saja beberapa bulan disini? Tapi kau sudah berani berkencan dengan orang


asing.” Ucap Pelangi mengomelinya.


“Iih, apa kau lupa bagaimana aura kecantikan dari sahabatmu


ini? Mana ungkin ada yang tahan untuk tidak mengajakku kencan?”


“Lalu bagaimana dengan si cuek? Apakah iru berarti kau sudah


menyerah mengejarnya?”


“Sssst… jangan membuatku merasa bersalah, ini hanya makan


malam biasa Princess ku. Tidak ada yang istimewa, kami hanya berteman biasa.


Tolong rahasiakan ini dari Exelle dan si cuek, atau nanti mereka akan


menganggapku wanita yang mudah berpaling.”


“Hah, baiklah. Apapun itu, lakukan saja apa yang akan kau


lakukan. Tapi berhati-hatilah, jaga diri baik-baik.”


“Siap, tuan puteri.” Jawab Lisa dengan sigap lalu merangkul


leher Pelangi dengan gemas. Mereka saling melempar senyuman hangat dan saling


bersenda gurau kemudian.


.


.


.


.


.


Saat tiba jam pulang dari kampus, Lisa sudah lebih dulu


pergi untuk menghampiri pria yang mengajaknya dinner malam ini. Hari sudah


mulai petang, Pelangi sedang berjalan melangkh keluar dari halaman kampus.


Diluar dugaan, Lucky menghampirinya dengan sikap dingin dan kaku namun tetap


santun.


“Ha,hai.. maaf, tiba-tiba aku menghampirimu.” Sapa Lucky


dengan mmbungkukkan tubuhnya setengah, ia merasa bersalah ketika melihat sikap


Pelangi yang dengan seketika menghentikan langkahnya saat melihat Lucky datang


menghampirinya.


“E,eh.. Tida apa, aku hanya sedikit terkejut saja kau


tiba-tiba menghampiriku. Karena sebelumnya kita tidak pernah bertemu lagi.”


Jawab Pelangi gugup.


“Aku, ehm… aku tidak nyaman jika menghampirimu tanpa suatu


alasan yang tepat, sebab.. Saudaraku Exelle masih belum kembali.”


“Aah, ehm. Ya, aku mengerti. Lagipula kita tidak memiliki


satu urusan yang penting untuk di bahas berdua bukan?” Ujar Pelangi, dan kini


mereka saling memandang satu sama lain.


Dag dug dag dug dag dug.


Suara detak jantung mereka seakan sudah tak bisa terkontrol


lagi. Dengan cepat mereka saling memalingkan wajah dan menunduk, untuk


menyembunyikan wajah mereka yang kini mulai memanas dan berasap.


“Apakah ada hal yang penting?” tanya Pelangi kebih dulu.


terlihat santai.


“Ah, itu. Aku, ehm aku melihat temanmu sedang mengunjungi kelas


seniorku. Tapi aku takut ada yang salah dengan penglihatanku. Maka itu aku


ingin memastiknnya padamu, apakah memang benar?” tanya Lucky sembari melihat


ke  kanan dan kiri sisi Pelangi.


Oh astaga, Lisa. Kau sangat ceroboh, kau pikir dengan


begini aku akan mudah menyelesaikan masalah mu? Aku harus jawab apa? Awas aja,


kau!!!


Pelangi semakin gugup ketika Lucky kini menatapnya dengan


mengerutkan kening.


“Dia, ehm.. sejak kapan kau menjadi peduli lalu mencarinya?


Bukankah kau selalu ersikap dingin pada Lisa?”


“E,eh… maafkan aku, aku hanya ingin memastikan saja. Tidak


ada maksud lain, karena jika itu benar aku… apakah kita bisa pulang ber-sama sa-ja?”


ujar Lucky dengan suara kian melirih dan tertunduk malu.


Bisa kau bayangkan, tentu saja ini membuat Pelangi mematung


di tempat tanpa suara, seakan bungkam seribu bahasa. Kini pun mereka saling


terdiam tanpa berani berbicara lebih dulu.


“E,eh.. maafkan aku, aku hanya… Menjalankan tugas dari


saudaraku selama dia belum kembali, aku sudah berjanji tidak akan membiarkanmu


sendiri.” Jelas Lucky memulai suara lebih dulu dengan gugup dan sekujur


tubuhnya mulai keluar keringat dingin.


“Aku, aku bisa pulang sendiri. Jadi, kita.. kita bisa pulang


secara terpisah.”


“Bolehkah, aku… aku menolak, aku akan tetap mengantarmu


pulang.”


“Hah, terserah. Tapi aku bisa pulang sendiri, bukan kah aku


tinggal cukup dekat dengan kampus ini?” bantah Pelangi, dia terus menolak.


Namun dalam hatinya, entah kenapa sangat mengiyakan meski detak jantungnya kini


kian melompat-lompat.


Pelangi melangkah kembali melewati Lucky yang berdiri di


depannya, tanpa menoleh lagi ke arah belakang. Yang tak terduga Lucky mengikutinya


hingga keluar dari halaman kampus, bahkan sudah memasuki jalanan menuju


apartemen Pelangi tinggal. Hampir saja Pelangi terjatuh karena hari sudah


gelap, tanpa sengaja kaki kanannya tersandung.


“Hati-hati.”


Dengan sigap. Lucku menangkap tubuhnya dari arah samping.


Lalu dengan cepat pula Pelangi menghindar dan melepaskan diri dari dekapan


Lucky.


“Maaf, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyentuhmu,


maafkan aku.” Berkali-kali Lucky membungkukkan badannya meminta maaf pada


Pelangi. Dan sontak itu membuat Pelangi marah tanpa alasan hingga menitikkan


air matanya.


“Stop! Hentikan! Kenapa kau terus saja meminta maaf begitu


hah? Ini bukan salahmu.” Bentak Pelangi, membuat Lucky terhenti, menatap dengan


terkejut wajah Pelangi yang menangis menatapnya.


“Maaf, maafkan aku. Kau menangis pasti karena aku


menyentuhmu barusan,”


“Ku bilang berhenti minta maaf, jangan membuatku semakin


gila karena mengaggapmu orang yang sama.” Jawab Pelangi dengan teriakan


kembali.


“Aku, aku tidak mengerti. Sungguh aku minta maaf, ku mohon


jangan salah paham.”


“Hah, pergilah!!!” ujar Pelangi setelah dia menarik nafasnya


dalam-dalam.


“Tapi aku….”


“Pergi!!” bentak Pelangi sembari mendorong keras tubuh Lucky


yang kini tumbuh kekar dan tinggi.


Lucky terhuyung kemudian dengan mundur satu langkah dari


hadapan Pelangi, dalam benaknya mulai di serang banyak tanya yang sulit dia


lontarkan dari mulutnya. Melihat Pelangi yang berubah begitu bengis dengan


isakan tangis di depannya membuat Lucky semakin merasa  bersalah serta ketakutan.


Ada apa dengan gadis ini? Kenpa? Apa salahku begitu besar


yang hanya ingin menolongnya tadi?