Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 259



"Woey bro, tolongin. Exelle dalam masalah kali ini, oh ya ampun." Ujar salah satu teman Exelle dengan panik, mereka saling menatap sejenak satu sama lain lalu berlarian menghampiri Exelle yang masih mematung.


Joe yang tergeletak begitu saja sudah di kelilingi oleh banyak orang.


"Ex, sebaiknya kita..."


"Panggil ambulance." Titah Joe menyela ucapan temannya.


"Ex, elu dalam masalah kali ini. Sebaiknya kita kabur diam-diam." Bantah salah satu temannya lagi.


"Enggak, gue gak akan ninggalin dia. Cepat panggil ambulance!!!"


"Aaakh..." Begitu kesal kedua teman Exelle harus terpaksa menuruti apa yang Exelle perintahkan. Lalu Exelle berjalan dengan langkah gontai mendekati kerumunan orang di depannya.


"Ex, elu mau kemana?" Tanya salah satu temannya lagi. Exelle tetap berjalan mengabaikan pertanyaan kedua temannya.


"Exelle!!!"


Salah satu temannya menarik bahu Exelle hingga ia menolehnya seketika. Wajahnya begitu pucat, kedua tatapannya sayu. Begitu kacau ekspresi nya, menampilkan segala ketakutannya. Kedua teman Exelle lalu merangkulnya, seakan memahami apa yang kini Exelle rasakan.


"Elu tenang ya, ini bukan kesalahan lu, Ex."


Dia mengangguk pelan.


Tak berapa lama kemudian mobil ambulance datang lalu dengan sigap mengangkat tubuh Joe ke dalam nya. Exelle hendak menemaninya ke dalam mobil, namun di tahan oleh kedua temannya.


"Hei, kau tidak perlu disana. Kau sedang tidak fokus, kami akan menemanimu ke rumah sakit tempatnya di bawa saat ini. Kita ikuti dari belakang, hem..." Ujar salah satu teman Exelle. Lagi-lagi Exelle hanya mengangguk pelan menuruti ucapan temannya.


Selama dalam perjalanan, Exelle hanya diam dan berkali-kali dia memijit-mijit batang hidungnya. Mengusap wajahnya dengan penuh rasa cemas. Hingga beberapa saat kemudian sudah tiba di rumah sakit terdekat.


Exelle dan kedua temannya mengikuti para perawat yang berlarian menangani kedatangan Joe dirumah sakit. Lalu mereka langsung memasuki ruang Unit Gawat Darurat, membuat Exelle dan kedua temannya semakin cemas dan panik menunggu hasil.


Beberapa menit kemudian seorang perawat menghampiri Exelle dan kedua temannya.


"Apakah kalian kerabat pasien kecelakaan barusan?"


"Ka,kami temannya. Yah, kami temannya. Ada apa? Bagaimana dengan kondisinya?"


"Pasien sedang kritis. Kami harus segera melakukan operasi secepatnya. Tolong hubungi keluarga pasien." Ujar perawat tersebut kemudian kembali memasuki ruang itu kembali.


Mendadak kedua kaki Exelle lemah dan tidak mampu berdiri tegak. Kedua temannya dengan sigap memapahnya agar tidak terjatuh.


"Ex, kau baik-baik saja?"


"E,eh.. Ya, aku... Aku baik-baik saja." Jawab Exelle dengan suara parau.


"Elu punya nomor yang bisa dihubungi untuk dia?" Tanya salah satu temannya sembari menunjuk ke ruangan yang ada di depannya.


Exelle mengabaikan lalu meraih ponselnya, jari jempol yang menyentuh layar ponselnya seolah begitu lihai menari dengan cepat. Exelle melakukan sebuah panggilan kemudian. Tentunya dia menelepon Abel, sebagai ibu dari Joe.


Sementara dokter sudah memindahkan Joe ke ruangan lain untuk melakukan operasi. Exelle dengan setia mengikuti kemanapun dokter membawa Joe, begitupun dengan kedua teman Exelle.


"Dok, ku mohon selamatkan dia. Apapun itu caranya, aku akan menanggung semua biayanya berapapun itu, Dok." Ucap Exelle pada salah satu dokter dengan pakaian lengkap yang sudah di ketahui dia lah yang akan ikut menangani kondisi Joe di dalam.


Dokter itu hanya tersenyum tipis tanpa menjawab satu kata pun.


Sudah 30 menit berlalu, namun Abel belum juga datang. Saat Exelle menelponnya, dua langsung mengakhiri panggilan tersebut. Exelle semakin cemas, berkali-kali ia menggosok kedua telapak tangannya, lalu dia gunakan untuk menutupi setengah bagian wajahnya.


Tik tak tik tak tik tak...


Lima menit kemudian, terdengar suara langkah kaki gontai yang begitu berat, dengan setengah berlari. Exelle menolehnya, Abel datang dengan deraian air mata di papah oleh seorang wanita setengah baya di sampingnya, yang tak lain asisten rumah tangganya.


"Tante... Aku..."


Abel menatap wajah Exelle dengan tajam sejenak. Dilihatnya luka lebam di pelipis mata Exelle, membuat Abel menarik nafasnya dalam-dalam lalu...


Plak!!!


Abel menampar wajah Exelle sangat keras hingga ujung bibir Exelle berdarah.


"Ex..."


Kedua teman Exelle menghampirinya dengan cepat.


"Tante, apa-apaan inu hah? Beraninya kau menampar Exelle."


"Jika saja anak ku mengalami hal buruk, aku yang akan membunuhmu dengan tangan ku sendiri. Camkan itu!!!" Ujar Abel dengan menggertakkan giginya.


Tak berapa lama kemudian, datang dua orang menyusul Abel hingga tiba di sisi Abel. Exelle taj berani menatapnya, dia hanya memandangi dua pasang sepatu yang berjajar di sisi Abel. Dia Ammar dan Hana. Ammar menatap wajah Exelle yang menunduk dengan air mata yang menetes mengalir di kedua pipinya.


Melihat Ammar dan Hana datang, Abel kian menangis menderu-deru di depan ruang operasi.


"Abel, tenanglah..." Ujar Ammar dengan melingkarkan tangannya di bahu Abel.


"Maaf tante, tapi ini bukan salah teman kami Exelle. Joe yang lebih dulu datang dan menuduh nya menggoda tante, dia menghajar wajah Exelle dan terus mengumpat kasar padanya. Lalu dia tergel..."


"Ex-xelle???" Ammar terkejut mendengar serta menyebut nama Exelle.


Dengan kasar Abel menepis tangan Ammar yang memeluknya, sementara Exelle mendongakkan kepalanya seketika saat mendengar suara Ammar menyebut namanya.


"Kenapa? Kau terkejut mendengar nama itu, Tama?" Ujar Abel menyeringai memandang wajah Ammar.


Semua tampak hening seketika. Begitupun Exelle yang mematung menatap wajah Ammar di depannya. Hana yang berdiri di sisi Ammar sudah meregangkan rangkulan tangannya pada Ammar.


"Oh my God. Dia kah Exelle yang kau maksud selama ini, tuan?"


Ammar berlinangan air mata menatap wajah Exelle, kedua mata mereka saling memandang dan bertemu satu sama lain.


"Apa kau mengenal nama Eliez dan Ammar, nak?" Tanya Ammar dengan bibir gemetaran menatap wajah Exelle.


Exelle mengangguk ragu.


"Oh, hahaha... Hahaha." Ammar tertawa dalam tangisnya. Air matanya semakin meluap, dengan tanpa aba-aba lagi, Ammar meraih tubuh Exelle dalam dekapannya erat-erat. Exelle kebingungan tanpa berani menolaknya.


Kedua teman Exelle saling menatap satu sama lain. Sementara Hana tersenyum tipis mengelus rambut Exelle yang berantakan.


"Tuhan, hah... Aku sudah menantikan hal ini begitu lama, aku sangat merindukannya, aku rindu dekapan hangat ini darinya." Ammar melenguh mendongakkan kepalanya ke atas. Air matanya kian mengalir desar, dia ciumi kepala Exelle dengan penuh kasih sayang, sebagai tanda kasih dan rindu serta kebahagiaan yang ingin sekali Ammar luapkan segalanya malam ini.


Ammar tak mampu mengatakan secara langsung siapa dia, sedangkan Exelle masih mematung dengan penuh tanda tanya mendapat perlakuan Ammar yang demikian padanya.