Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 272



Hari berganti hari, Pelangi merasakan perubahan pada Joe. Dia tak lagi bersikap konyol dan kekanakan seperti biasanya, terkadang masih suka menjahili Pelangi hanya untuk menarik perhatian Pelangi yang menjaga jarak darinya sejak hari itu. Pelangi takut jika Joe akan melewati batasnya lagi, jika hanya memeluk mungkin itu hal biasa. Tapi soal berciuman... Pelangi merinding membayangkannya saja.


"Ada apa dengan Joe? Kenapa sikapnya berubah lebih lembut dan terkadang dia menjaga jarak untuk tidak menyentuhku." Tanya Pelangi dalam hatinya.


Begitupun ketiga sahabat Pelangi yang melihat perubahan pada Joe saat ini.


"Joe, apa kau sedang sakit? Atau menjalani sebuah teraphy otak?" Tanya Lisa dengan ceplas ceplos.


"Eh, ada apa? Memangnya kenapa dengan ku hah?" Tanya Joe kebingungan.


"Kau berubah beberapa hari ini." Jawab Jeni kali ini.


Joe kembali kebingungan dan menatap ke arah Pelangi yang sudah menatapnya lebih dulu.


"Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dari kami Joe? Atau kau sedang melakukan kesalahan besar di belakang kami?" Kini Jeni yang bertanya dengan serius.


"Hah... Kalian membuatku bingung. Tidak ada yang aneh dengan ku, aku merasa hanya ingin menjadi lebih baik. Sebentar lagi kita akan menghadapi ujian akhir bukan, dan sekolah kita sedang mengadakan bea siswa untuk bisa masuk di universitas Harvard. Tentu aku harus berusaha bukan?"


Akh, sial. Apakah sikapku terlalu mencolok? Sehingga mereka mencurigai sikap ku yang sengaja ku rubah dan ku tahan demi mendapatkan Pelangi kembali.


"Tapi kau sedikit berlebihan. Kadang kau bersikap begitu manis pada Princess cold kita, kadang juga kau berubah pendiam dan cuek. Kau tidak lagi menjahilinya, kau tidak lagi suka mengganggunya. Atau... Kau sudah memiliki pacar, Joe?"


"Oh, eh... Hahaha, ya ampun bagaimana itu mungkin? Aku... Ehm, aku masih tetap mencintai Pelangi." Jawab Joe kemudian dengan mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat.


Pelangi terbelalak, dia tidak menyangka Joe akan kembali mengatakan hal demikian tepat di depan ketiga sahabatnya.


"O'ooh... Akhirnya kau mengakuinya." Ujar Lisa dengan mulut berbentuk O karena tercengang.


"Aaah, sudah lah. Jangan membahasnya lagi, lebih baik kita fokus belajar untuk mendapatkan beasiswa dengan kuliah di Harvard. Ugh, aku sudah terbakar semangat yang tinggi." Ujar Pelangi sembari menatap ke atas seolah dia sedang mengkhayal jauh ke angkasa.


Ujian di depan mata. Sikap Joe begitu gigih di samping sikapnya yang tetap menunjukkan segala kebaikan, lemah lembut, perhatian, dan peduli pada Pelangi. Namun Pelangi tetap mengabaikannya seperti biasa, ia tak ingin memberikan celah atau pun lengah sedikitpun dari atas sikapnya pada Joe.


Berbeda dengan Exelle, dia tetap bersikap seperti biasanya. Tak ada yang barubah, tentu itu membuat Pelangi lebih respect saat berada di dekat Exelle. Tanpa sepengetahuan Joe pun, Exelle dan Pelangi sesekali pergi berdua ke sebuah toko buku untuk belajar bersama walau mereka berbeda jurusan.


"Ex, terimakasih. Ehm, kau selalu mengajakku belajar diluar rumah. Di tempat yang nyaman seperti ini, jadi aku tidak begitu merasa jenuh dan tegang. Aku sungguh berharap bisa mendapatkan beasiswa ini. Meskipun mungkin, yaah... Papaku mampu membiayai kemanapun aku akan masuk universitas yang aku inginkan. Tapi aku benar-benar ingin berhasil dengan jerih payahku sendiri." Ucap Pelangi mencurahkan keinginannya dan semangatnya pada Exelle.


"Semangat, cewek galak. Yu hu, aku akan mendukungmu. Belajar lebih giat, aku akan menemanimu."


"Cih, dasar. Itu hanya mau mu saja, hahaha. Ehm, kau juga Ex. Berusahalah, agar nantinya kau bisa masuk di universitas yang kau inginkan."


"Pelangi..." Panggil Exelle dengan lirih.


"Hem, ya?" Jawab Pelangi singkat, menatap wajah Exelle.


"Kemanapun nantinya kau akan melanjutkan impian dan cita-citamu, aku akan tetap berada di sisimu."


"E,eh..." Pelangi termangu mendengar hal itu.


"Gapapa kan?" Tanya Exelle lagi.


"Hahaha, yah.. Baiklah. Sebagai teman tentu kita akan selalu bersama nantinya." Jawab Pelangi dengan tawanya.


Manis sekali, dia sangat cantik saat tertawa lepas begitu.


"Aku senang sekali mendengarmu memberiku semangat. Mari, kita sama-sama berusaha untuk menjadi yang terbaik demi cita-cita kita."


Pelangi mengangguk Cepat dengan tersenyum manis pada Exelle.