Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 188



Joe kembali lebih dulu menghampiri ke tiga sahabat Pelangi. Dari jauh, mereka menatap Joe dengan cemas meski ekspresi wajah Joe tidak menunjukkan suatu hal yang di takutkan oleh mereka.


"Si kumis tipis, apakah kau baik-baik saja? Bagaimana dengan wajah tampan mu ini, aduuh..." Ujar Lucas seketika menyentuh wajah Joe. Membuat Joe sedikit menjauh untuk menghindarinya.


"Apaan sih, aku baik-baik aja. Hahaha," Jawab Joe yang kemudian duduk di tempatnya semula.


"Kau pasti menemui Pelangi bukan?" Tanya Jeni.


"He'em. Kau pasti berusaha mengajaknya berbicara, iya kan Joe?" Ujar Lisa menambahkan.


"Yah, begitulah. Aku hanya berusaha untuk lebih akrab berteman dengan nya, terlebih lagi bisa dekat. Haha,"


"Jangan mimpi !!!" Jawab mereka serentak.


"Cih, kalian menantangku?"


"Ssssttt..." Sesaat mereka terdiam ketika melihat Pelangi berjalan menuju ke arah mereka kembali hingga akhirnya duduk di tempat nya semula.


"Ada apa? Kenapa kalian diam semua? Lagi ngomongin aku?"


"E,eh... Tidak, Princess Cold. Kami tidak sedang membicarakan mu, kami hanya membahas hal yang serius tadi." Jawab Lisa dengan gugup, menoleh ke arah Jeni dan Lucas. Mereka menanggapinya dengan anggukan, kecuali Joe. Dia tampak tertawa cekikikan melihat sikap para sahabat Pelangi yang ketakutan.


"Tentang apa? Aku gak boleh tahu nih?"


"Ehm, eh.. Ah, ini tentang.." Lisa kebingungan mencari-cari alasan.


"Tentang ku, mereka penasaran apakah aku menyukaimu atau tidak. Ku bilang, siapa yang akan menyukai gadis dingin dan cuek sepertimu. Hahaha,"


Lagi-lagi Pelangi terdiam dan mengabaikan ucapan Joe begitu saja. Membuat suasana selalu hening saat Joe berusaha mengajak Pelangi berbicara. Mereka berkumpul sudah dua jam lama nya, namun ada yang berbeda. Sesekali Pelangi tanpa sengaja melirik mata Jeni yang selalu diam-diam mencuri pandang ke arah Joe.


"Jen," Panggil Pelangi yang sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk menegurnya setelah berberapa kali melihat sahabatnya itu menatap ke arah Joe.


"Ah, ya? Eeh, ehm.. ke-napa?" Sontak Jeni gelagapan.


Pelangi menatapnya sejenak, Jeni tampak semakin gelisah dengan wajahnya yang mendadak berubah memerah di pipi.


"Ehm, lupakan. Aku hanya ingin memanggilmu saja,"


"Aaah, dasar. Apaan? Jangan membuatku penasaran deh, princess cold." Ujar Jeni memaksa.


"Aku pun lupa. Dengan apa yang akan aku katakan barusan,"


Joe melirik ke arah Pelangi dengan mengerutkan kedua alisnya. Pelangi kemudian menyeruput kembali minumannya, tanpa melanjutkan ucapannya pada Jeni.


"Sudah waktunya, ayo balik." Perintah Pelangi.


"Uuuft.. Kenapa jam itu berputar sangat cepat, aku bosan dirumah. Padahal besok adalah weekend, huu huu." Ucap Lisa mengeluh yang di susul oleh lainnya beranjak untuk pergi.


"Hey, kalian mau kemana? Ini masih sore."


"Ya, kau benar Joe. Ini memang masih sore, tapi apalah daya. Sejak awal Princess cold kita sudah membuat aturan kita tidak boleh pulang kerumah di atas jam 10 malam," Ujar Lisa menjelaskan.


"Hahaha, ayolah. Aturan di buat ialah untuk kita langgar, hehe. Kita nikmati dulu waktu kebersamaan kita disini,"


"Kau !!!" Pelangi membentaknya. Membuat Joe terhentak kali ini.


"Pelangi, ehm.. Bisakah aku melanggar aturan itu sekali ini saja, aku masih ingin disini. Ehm, 15 menit saja, aku janji. Setelah itu aku akan langsung pulang kerumah, boleh ya?"


"Jeen... What do you mean?" Tanya Lisa dengan menekan nadanya.


"Aku, aku hanya ingin duduk santai saja. Aku juga sedang menunggu seseorang, Sa."


Pelangi menatap Jeni dengan lekat, Ia tahu jika sahabatnya kali ini berbohong. Dalam hati Pelangi bertanya, mungkinkah Jeni ingin berduaan dengan Joe? Ah, tidak mungkin. Selama ini Jeni selalu jujur pada kami dengan siapa dia ingin dekat, namun kali ini...


"Tapi siapa? Kau tidak menceritakannya pada kami tadi," Tanya Lisa kembali dengan mendesaknya.


"Aaah, jangan-jangan Jeni kita diam-diam sudah memiliki pacar? Aw, kau tega pada ku."


"Eeergh, diam lu. Gue jitak nih pala lu," Jawab Jeni dengan kasar.


"Aw, jangan. Princess cold, Jeni tuh..." Lucas bersembunyi di balik bahu ku.


Dengan menarik nafas ku dalam-dalam aku menatap ke arah Joe.


"Tolong jaga sahabat ku, Jeni. Setelah kami meninggalkannya disini, ayo.." Ucap Pelangi mengajak Lisa dan Lucas kemudian.


"Tapi, Pelangi. Tu,tunggu... Bukan itu maksudku," Unar Jeni salah tingkah.


"Hey, Langi.." Panggil Joe kemudian.


Pelangi terus berjalan keluar dari ruangan, sementara Lucas dan Lisa menyusulnya dari belakang dengan melangkah ragu. Sesekali mereka menatap ke arah Joe dan Jeni hingga tiba di halaman parkir. Dimana pak supir yang mengantar Pelangi tadi sudah menunggu kepulangannya.


"Princess cold, tunggu. Ada apa dengan mu? Kau membiarkan Jeni kita sendiri di kafe ini begitu saja?"


"Ehm? Apakah aku meninggalkannya sungguh sendiri? Bukan kah disitu masih ada Joe, Lisa?" Jawab Pelangi sebelum memasuki mobilnya.


"Tapi Princess..."


"Iiih, aku cemburu. Jeni berduaan dengan pangeran ku si kumis tipis." Ujar Lucas mendecak kesal.


"Apa kalian sungguh tidak mengerti?"


"Mengerti apa?" Tanya Lisa kebingungan.


Namun Pelangi belum berani memberikan penjelasan apa yang saat ini tengah di yakininya, dia tidak mau berasumsi yang nantinya akan berakibat fatal untuk persahabatan yang sudah mereka bina selama hampir dua tahun ini.


"Sudah lah, lupakan saja. Aku harus pulang, kalian juga. Hem, hati-hati lah di jalan. Dan Jeni, kalian bisa terus mrnghubunginya nanti dan memastikan apakah dia sudah sampai dirumah atau tidak. Bye," Jawab Pelangi yang kemudian memasuki mobilnya tanpa menoleh lagi.


Lucas dan Lisa masih berdiri mematung dan menatap mobil Pelangi yang kemudian melaju hingga menghilang jauh dari hadapan mereka.


"Lucas, apakah kau melihat hal yang aneh pada princess cold kita? Terlebih lagi pada Jeni, ada apa dengan mereka berdua." Ucap Lisa.


"Aduh.. Kepala ku pusing dengan sikap kalian para gadis. Uuugh, terserah. Ayo kita pulang saja, Lisa." Jawab Lucas dengan memijit-mijit kedua ujung keningnya.


"Yeee... Dasar, apa kau juga tidak membuat kami kebingungan dengan gaya mu yang ganda itu? Ah, sudah lah." Lisa menuju mobil pribadinya yang di susul oleh Lucas yang mengomelinya kemudian akan ucapannya tadi. Lisa menutupi kedua telinganya akan ocehan Lucas yang bak seorang ibu mengomeli anak-anaknya.


Sedangkan dalam perjalanan Pelangi pulang, ia ternung menatap kerlap kerlip cahaya lampu di jalanan kota di balik jendela mobil yang di naikinya di kursi belakang. Kemudian dia kembali terbayang sikap sahabatnya tadi, Jeni.


"Hah.. Sepertinya, sahabatku yang kaku selama ini sudah mulai jatuh cinta. betapa senangnya jika biss merasakan hal yang sama dari diriku ini."