
Kirana kembali terdiam. Ia masih merasa sulit untuk memaafkan Rendy. Mungkin ia akan memaafkan Rendy tapi ia tidak bisa melupakan sikap kasar dan kurang ajar Rendy kepadanya.
Rendy juga terdiam setelahnya. Ia bisa mengerti bagaimana perasaan Kirana. Kirana masih trauma dengan kejadian malam itu dan ia malah menambah rasa traumnya. Ia merasa kalau dirinya memang laki-laki berengsek.
Mungkin berciuman sudah menjadi hal yang biasa baginya. Tapi bagi Kirana tidak! Dan setelah mendengar pernyataan Kirana tadi, Rendy merasa beruntung menjadi laki-laki pertama yang menciumnya meski Kirana belum menjawabnya. Ia sudah tau jawabannya.
Tapi ia juga merasa sangat menyesal. Kenapa ia melakukannya disaat ia sedang terpengaruh alkohol dan tidak bisa mengendalikan dirinya malah bersikap kasar dan membuat Kirana semakin merasa trauma.
Selama perjalanan mengantar Kirana terasa sangat hening hanya terdengar suara mesin mobil sport Rendy yang melaju membelah jalanan kota metropolitan yang sudah sepi. Karena saat ini sudah jam tiga pagi.
Tak lama, mobil sport Rendy berhenti dipinggir jalan samping gang rumah Kirana.
"Makasih udah nganter." Ucap Kirana pada Rendy dengan wajah tanpa ekspresinya lalu membuka sabuk pengamannya.
Rendy masih diam dan menatapnya.
Kirana merasa kesulitan membuka sabuk pengamannya hingga ia berdecak kesal. Rendy memegang tangan Kirana lalu beralih memegang kaitan sabuk pengamannya dan membukanya tanpa bicara.
Kirana pun membuka pintu mobil tapi lagi-lagi ia kesulitan membukanya. Mungkin karena hati dan pikirannya sedang merasa kacau, Kirana menjadi serba salah. Bahkan membuka sabuk pengaman dan pintu mobil pun kesulitan.
Rendy masih diam dan terus memperhatikannya dengan tersenyum tipis. Kemudian Rendy mendekat dan membantunya membuka. Tapi saat ia mendekat, ia menoleh menatap Kirana dengan jarak yang sangat dekat.
Wangi parfum Rendy yang begitu menenangkan juga aroma mint dari nafas Rendy langsung tercium oleh Kirana.
Kirana mengerjapkan matanya lalu memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Rendy yang kembali membuat jantungnya berdegup kencang.
Rendy pun segera membuka pintunya lalu menegakkan kembali duduknya, membiarkan Kirana turun.
Kirana langsung turun. "Sekali lagi makasih." Ucapnya lalu menutup pintu mobilnya dan segera berjalan cepat masuk kedalam gang menuju rumahnya.
Rendy menghela nafasnya panjang lalu mengacak rambutnya. "****!" Umpatnya karena ia juga merasakan hati dan pikirannya kacau. "Apa aku udah jatuh cinta sama dia?" Gumamnya bertanya pada dirinya sendiri lalu mengusap wajahnya dan melajukan kembali mobilnya.
...
Pagi ini, Rendy ada rapat penting bersama para dewan direksi. Ia masih merasa pusing dan sedikit pucat karena semalam kebanyak minum dan hanya tidur dua jam saja.
"Bos, apa kamu baik-baik aja?" Tanya Beni yang sejak tadi memperhatikan Rendy dari kaca spion didepannya yang terlihat sedikit pucat dan muram tidak seperti biasanya.
"Aku baik-baik aja. Memangnya kenapa?" Jawab Rendy dan bertanya balik.
"Kamu terlihat pucat." Jawab Beni.
Rendy menghela nafasnya. "Cuma masih ngantuk aja." Ucap Rendy lalu kembali menatap layar macbooknya mengecek email yang masuk.
Tak lama, mobilnya sampai di basement perusahaan Pradipta Grup. Beni turun dan membukakan pintu untuk Bosnya. Rendy pun turun setelah menutup macbooknya lalu membenahi jasnya dan berjalan menuju lift diikuti oleh Beni.
Sesampainya dilantai atas dimana ruangan kantor Presiden Direktur berada, Rendy keluar dari lift dan berjalan menuju ruangannya.
"Selamat pagi Pak Rendy." Sapa Siska dengan hormat.
"Pagi." Balas Rendy kemudian masuk kedalam ruangannya diikuti Siska dengan membawa berkas ditangannya.
"Ini berkas untuk rapat pagi ini Pak." Ucap Siska sambil meletakkan berkas yang dibawanya diatas meja kerja Pak Presdir tampannya.
Rendy duduk dikursi kebesarannya lalu meraih berkas tersebut untuk ia periksa. Ia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Sepuluh menit lagi rapat dimulai. Ia pun dengan cepat membaca berkas tersebut kemudian berangkat keruang rapat untuk memimpin rapat diikuti Beni dan Siska.
Dilantai tiga tempat ruangan kantor Kirana berada, Kirana terlihat terus menguap dan merasa tidak fokus mengerjakan pekerjaannya.
"Semalem aku nggak bisa tidur Yol." Jawab Kirana dengan lemah.
"Aku mau pantry, ada yang mau ikut nggak?" Tanya Rossa sambil beranjak dari mejanya.
"Aku ikut. Mau bikin kopi." Jawab Kirana sambil bangkit berdiri.
"Yuk ah!"
Mereka berdua segera pergi kepantry untuk membuat kopi.
"Ki, sebenarnya hubunganmu dengan kak Harismu itu gimana sih? Kalian akrab banget dan aku rasa kalian cocok deh." Tanya Rossa sambil berjalan menuju pantry.
"Kamu ini. Aku sama kak Haris memang udah akrab. Kita udah kenal sejak kecil dan aku nganggep dia udah seperti kakakku sendiri." Jawab Kirana dengan tersenyum.
"Oh gitu. Pantes aja kalian akrab benget." Ucap Rossa. "Oya Ki, tapi kalo aku perhatiin, si Haris kayaknya suka deh sama kamu." Lanjut Rossa setelah masuk kedalam pantry.
"Suka gimana maksud kamu Ros? Jangan ngawur deh."
"Ya itu cuma pandanganku aja. Aku liat cara dia natap kamu tuh beda."
"Beda gimana?"
"Ya beda aja Ki. Kamu masa nggak ngerti sih?"
Mereka pun mengobrol membahas tentang hubungan Kirana dengan Haris di pantry sambil membuat kopi kemudian segera pergi dari pantry setelah selesai membuat kopi dan kembali keruangan kantor mereka.
Siang harinya saat jam makan siang, Kirana bersama Rossa dan Yolanda berjalan bersama menuju kantin yang ada dilantai bawah untuk makan siang.
Saat berjalan menuju kantin, mereka menghentikan langkahnya karena melihat Pak Presdir tampan mereka yang sedang berjalan kearah pintu keluar diikuti Beni.
"Selamat siang Pak Rendy, Pak Beni." Seru Rossa dan Yolanda menyapa Rendy dan juga Beni dengan tersenyum ramah.
Rendy hanya sekilas menoleh dan membalas sapaan mereka dengan wajah tanpa ekspresinya sambil terus berjalan melewati mereka. "Siang."
Tidak ada senyum diwajah tampannya yang mampu membuat semua karyawan wanitanya meleleh. Dan Beni hanya sedikit tersenyum dan mengangguk saja.
Sedangkan Kirana hanya diam dengan sedikit menundukan wajahnya seolah tidak ingin melihat Pak Presdir tampannya yang pada kenyataannya telah menjadi kekasihnya. Bahkan Rendy tidak melihat juga melirik Kirana sedikitpun.
"Eh, ada apa dengan Pak Rendy ya? Nggak seperti biasanya." Gumam Rossa sedikit berbisik pada Yolanda dan Kirana.
"Nggak tau." Jawab Yolanda sambil mengedikkan pundaknya.
"Tapi aku perhatiin, Pak Rendy keliatan pucet mukanya. Apa dia lagi sakit?" Tanya Rossa kembali pada Yolanda dan Rossa.
"Ros, perhatian banget sih kamu! Tapi sayangnya, kamu masih jomblo. Ahahaha!" Ucap Yolanda kemudian tertawa terbahak mengejek teman baiknya.
"Sialan kamu Yol!" Umpat Rossa sambil mendengus kesal dan Kirana ikut terkekeh geli. "Ki, kamu ikut ngetawain aku juga?" Lanjutnya sambil menatap sinis Kirana dan Kirana mengulum bibirnya sambil mengankat jari telunjuk dan jari tengahnya saja. ✌️🤐
"Udah ah. Yuk kekantin. Aku udah laper banget nih." Ucap Yolanda setelah puas tertawa.
Mereka bertiga pun melanjutkan langkahnya menuju kantin.
................