Because, I Love You

Because, I Love You
#120



Diruangan Rendy, Olivia terus saja mengganggunya dan menggodanya. Bagaimana Rendy bisa fokus kerja kalau begini. "Oliv, kamu bisa duduk dulu disofa? Aku nggak bisa fokus kalau kamu kaya gini." Ucap Rendy dengan halus sambil mengusap rambut panjang Olivia.


Posisi Olivia saat ini sedang duduk menyamping dipangkuan Rendy dengan merangkul lehernya. "Nggak mau! Aku lagi pengen peluk kamu terus. Apa kamu nggak suka aku peluk?" Olivia pun pura-pura merajuk.


"Bukan gitu. Aku lagi banyak kerjaan ini. Kapan selesainya kalau begini?" Rendy yang ingatannya hanya mengingat disaat hubungannya dengan Olivia sedang hangat-hangatnya, tentu saja dia akan selalu memaklumi sikap wanita yang sangat dicintainya.


Olivia akan melakukan segala cara untuk selalu berada didekat Rendy saat dirinya sedang free. Dia akan memanfaatkan keadaan Rendy yang masih amnesia. Dia juga berencana ingin membuat Rendy segera melamarnya kemudian menikahinya dalam waktu dekat sebelum ingatannya kembali.


"Baiklah, kalau begitu beri aku satu ciuman dulu. Setelah itu aku nggak akan ganggu kamu sampai kamu menyelesaikan pekerjaanmu." Pinta Olivia dengan manja.


Entah mengapa, Rendy merasa enggan melakukan itu. Mungkin dulu, tanpa Olivia memintanya pun Rendy akan langsung menciumnya dengan rakus. Tapi saat ini, hatinya menolak permintaan wanita cantik yang masih duduk di pangkuannya dengan memeluk mesra lehernya.


Tanpa menunggu persetujuan, Olivia pun langsung menempelkan bibirnya ke bibir Rendy kemudian **********.


Rendy sedikit terkejut dengan ini.Dia terpaku sejenak tapi dia juga membalas ciuman Olivia hanya sekali. Kemudian Rendy menyudahinya dengan mendorong pelan bahu Olivia.


Kebetulan disaat bersamaan saat Rendy menyudahi ciumannya, ponsel Olivia berdering didalam tas yang dia letakkan di sofa.


"Hape kamu bunyi. Angkat dulu gih." Rendy pun merasa tertolong oleh panggilan telepon dari ponsel Olivia.


Hal itu membuat Olivia sangat kesal dan ingin marah. Tapi, Olivia hanya bisa mengumpat dalam hati saja.


Olivia mendengus dan terpaksa bangkit berdiri dari pangkuan Rendy dan beranjak untuk mengangkat panggilan telepon dari seseorang.


Olivia terlihat sedikit panik saat melihat nama yang sedang memanggilnya. Dia sdikit menoleh kearah Rendy yang sedang membuka dokumen dimejanga. Olivia lalu menghela nafasnya pelan.


Rendy sempat melihat sekilas reaksi Olivia saat wanita itu tampak terkejut melihat ponselnya. Rendy memilih untuk tidak memusingkan dirinya memikirkan itu.


Sejujurnya, sejak semalam Rendy tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan foto seseorang yang cukup banyak ada di ponselnya. Dia juga belum sempat menanyakan kepada keluarganya ataupun kepada Beni.


Rendy juga tidak ingin terlalu memikirkan itu karena dia juga harus bisa mengendalikan keinginannya untuk tidak memaksa dirinya mengingat sesuatu yang masih belum bisa dia ingat. Dia hanya tidak ingin membuat repot orang-orang terdekatnya saat rasa sakit tiba-tiba muncul menyerang kepalanya.


Rendy hanya berharap, semoga semua ingatannya bisa kembali. Karena hatinya menolak untuk mempercayai Olivia yang selalu mengatakan kalau mereka sudah ingin bertunangan bahkan membahas pernikahan.


Meski ingatan Rendy belum sepenuhnya kembali, Rendy bukanlah orang bodoh yang bisa dibohongi. Kalaupun Olivia ingin bermain dengannya, mungkin Rendy juga akan mengikuti permainannya dulu untuk saat ini. Dia akan membiarkan Olivia selalu menemuinya kapanpun dia mau.


"Honey, i'am so sorry. Managerku memintaku untuk segera datang karena ada rapat dadakan." Ucap Olivia sambil berjalan mendekati Rendy kembali setelah menutup teleponnya.


Rendy menoleh menatapnya dengan tersenyum. "It's ok. Kamu bisa pergi. Aku minta Beni nganter kamu."


"Nggak perlu. Aku udah dijemput." Jawab Olivia dengan cepat membuat Rendy menatapnya heran. "Em..ada supir yang udah dikirirm managerku buat jemput aku, honey." Olivia pun mengoreksi ucapannya. "Ya, udah aku pergi dulu ya. Nanti malam kita jadi dinner kan? Aku akan pesan tempat yang romantis buat kita." Lanjut Olivia dengan tersenyum manis sambil sedikit membungkuk memeluk Rendy dari samping.


"Aku nggak bisa." Jawab singkat Rendy yang seketika membuat Olivia melepaskan pelukannya dan menegakkan tubuhnya menatap Rendy. "Malam ini, aku harus lembur karena banyak yang harus aku kerjakan." Imbuhnya.


Olivia membuang nafasnya dengan berat. Sebenarnya, dia masih ingin berlama-lama dengan Rendy. Dia harus selalu ada didekat Rendy untuk memastikan kalau Rendy masih amnesia dan tidak akan pernah mengingat Kirana.


Wajah Olivia tampak muram. Tapi, dia hanya bisa mengangguk lalu tersenyum yang dipaksakan. "Baiklah nggak apa. Kalau begitu aku pergi dulu ya." Ucap Olivia lalu mengecup pipi Rendy kemudian segera beranjak pergi.


Gerakan tangannya terhenti saat membuka laci dibawah mejanya dan melihat ada map dengan tulisan "Surat Perjanjian".


Dia mengernyit lalu mengambil map itu.


Rendy menutup lacinya setelah mengbil mapnya. Dia membuka dan kerutan di keningnya semakin dalam ketika membaca isi dari surat perjanjian tersebut.


"Kirana?" Gumamnya dengan lirih.


Tiba-tiba bayangan wajah seorang perempuan terlintas dipikirannya. Wajah perempuan yang sama persis di foto yang tersimpan di ponselnya.


Bayangan saat Rendy tersenyum kepada Kirana. Bayangan saat memeluk Kirana. Bayangan saat dia mencium Kirana. Bayangan saat bersama dengan Kirana kemudian bayangan kebersamaannya dengan Olivia hingga bayangan saat dirinya mengetahui perselingkuhan Olivia dengan teman baiknya-Andreas.


Bayangan-bayangan itu terus muncul secara bergantian dalam pikirannya begitu saja.


"Aaargh!" Rendy kemudian mengerang sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sangat menyakitkan.


'Tok Tok Tok!' Ceklek!


"Pak Rendy?! Bapak kenapa?!" Teriak Tania yang merupakan sekretaris baru Rendy sambil mendekati Bos tampannya dengan panik.


"Pang..gil, Be..ni." Ucap Rendy sambil menggigit giginya menahan kesaktiannya. "Cepat!"


"Hah? I iya Pak!" Tania segera menghubungi Beni dan tak lama Beni datang.


"Bos!" Seru Beni ketika masuk melihat Rendy yang sedang memegangi kepalanya sambil mengerang kesakitan. "Apa yang terjadi?" Tanyanya pada Tania.


Tania hanya menggeleng dengan cepat. "Saya juga nggak tau Pak. Pas saya masuk ingin memberitau jadwal meeting, tiba-tiba Pak Rendy udah begini." Jawab Tania.


"Bos!"


"Astaga Pak!"


Pekik mereka berdua bersamaan saat melihat Rendy hampir terjatuh dari tempat duduknya karena tiba-tiba pingsan. Untung saja Beni dengan sigap langsung menahan tubuh Rendy.


"Ayo bantu aku bawa Bos Rendy ke sofa!"


Tania pun mengangguk dan mereka memapah tubuh tinggi Rendy untuk dibaringkan disofa.


"Pak Beni, biar saya panggil dokter!" Ucap Tania dengan sigap dan langsung diangguki oleh Beni.


Tania beranjak keluar menuju mejanya dan menghubungi dokter pribadi Rendy menggunakan telepon kantor.


................