
Di suatu Mall terbesar di kota kami tinggal, Pelangi dan Joe beserta para ketiga sahabatnya berjalan-jalan mengelilingi serta mengunjungi setiap store yang ada di dalamnya. Pelangi berjalan dengan selalu menggandeng tangan Joe layaknya pasangan kekasih remaja lainnya yang berkeliaran di dalam mall tersebut.
"Aduh, gue lapar nih. Cari makan yuk, sekalian nongkrong." Ajak Lisa di sela keluhannya setelah puas berkeliling untuk shopping banyak barang-barang branded.
"Iya nih, aku juga haus banget. Kalian gimana?" Tanya Jeni melihat kearah Pelangi dan Joe.
"Hmm.. Boleh deh, yuk."
"Iih, kenapa baru sekarang kalian merasa lapar dan haus. Aku sudah sejak tadi mengeluh pada kalian yang pada asyik sendiri. Nyebelin," Ujar Lucas protes.
"Aduh, baby ku. Jangan marah dong, ayo kita cari tempat tongkrongan yang asyik." Joe mulai menggodanya dengan merangkul tubuh Lucas beranjak pergi dahulu.
"Cih, apa-apaan ini? Joe begitu memanjakan Lucas, yang benar saja saingan mu saat ini justru si Lucas yang memiliki kelamin ganda. Hahaha,"
Kali ini pun Lisa giliran Lisa yang menggoda Pelangi karena hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah konyol Joe pada Lucas.
"Lisa, kau menyebalkan!!!"
"Hahaha, elu bener Sa." Jeni menambahkan untuk menggoda Pelangi.
"Dih, kalian. Aku akan merubah Lucas menjadi sosok yang berbeda setelah ini, Joe akan membantu nya. Awas saja jika kalian nanti akan jatuh cinta padanya, hahaha aku tidak akan membiarkan Lucas di miliki oleh para cewek-cewek nakal seperti kalian." Ancam Pelangi sembari berjalan mundur di hadapan kedua sahabatnya itu. Lisa dan Jeni terus menggodanya tidak mau kalah, membuat pelangi semakin gencar melawan godaan mereka dengan berbagai ancaman.
Tanpa terduga dari arah berlawanan di belakang Pelangi seorang remaja cowok datang berlarian, yang sepertinya melakukan hal yang sama dengan Pelangi dan kedua sahabatnya.
"Pelangi, awas!!!" Ucap Jeni berusaha menghindari Pelangi dari arah cowok itu, namun sudah terlambat.
Bukh!!!
Pelangi yang berjalan mundur mengerjai kedua sahabatny tadi di tubruk oleh cowok remaja yang berlarian di kejar oleh teman-temannya. Pelangi terjatuh tersungkur di lantai sementara cowok itu menindih punggungnya.
"OMG, Princess cold. Kau tidak apa-apa?" Lisa segera menolong Pelangi di bantu oleh Jeni.
"Minggir, lu. Lihat-lihat dong kalau jalan, gak punya mata ya?" Ujar Jeni dengan nada marah. Kemudian cowok itu pun berdiri di bantu oleh kedua temannya.
"So,sory. Teman gue gak sengaja, kami juga terlalu asyik bercanda barusan sampai tidak lihat kalian datang dari arah berlawanan." Jawab salah satu temannya.
"Heh, kenapa lu yang minta maaf brow. Mereka juga sama, tentu mereka lebih dulu melihat kita tapi sengaja bukan untuk menarik perhatian kami. Ya gak?" Jawab cowok yang terjatuh dengan Pelangi tadi.
"Heh, GR ya lu. Minta tabok nih?"
"Jen, sudah lah. Mereka bukan orang yang penting, untung saja Princess cold kita baik-baik saja." Lisa mencoba mengahalangi Jeni yang sudah mengepalkan tangannya untuk memberikan satu pukulan pada cowok itu.
"Cih, Princess cold apaan? Hahaha. Tapi, hemm... Cantik sih, cuma.. Apakah dia bisu? Sejak tadi dia diam saja." Kembali cowok itu berkata dengan congkaknya menunjuk ke arah Pelangi yang terdiam mengibas-ngibas pakaiannya, mengabaikan para cowok di depannya saat ini.
"Hey!!!" Bentak Jeni kembali. Membuat Pelangi terhentak lalu menatap cowok di depannya dengan tajam dan dingin.
"Kau bilang aku apa barusan?"
"Wow, ternyata kau bisa bicara. Hahaha, maafkan aku. Kau diam saja sejak tadi,"
"Kau sudah selesai bicara?"
"Belum. Hehe,"
"Ayo, Jen. Sa, Joe sudah pasti menungguku." Ajak Pelangi pada kedua sahabatnya itu, tanpa pedulikan kembali cowok yang menubruknya tadi.
"Ayo, huh.. Untung saja kalian cowok-cowok tampan. Urusan kita anggap selesai, ok. Bye..." Ujar Lisa dengan sikap genit nya memainkan jemari lentiknya untuk mengucapkan selamat tinggal.
"Eh, tunggu!!!"
Pelangi menatapnya dengan wajah lebih dingin lalu menepis tangan cowok itu yang mencengkram tangannya cukup keras.
"Wow, kau sungguh galak dan dingin. Pantas saja kau di juluki Princess cold tadi, haha. Menarik!!!"
"Kau masih ada urusan lain dengan ku? Jika tidak tolong jangan sembarangan menyentuh tangan ku seperti tadi. Kita tidak saling mengenal,"
"Wow, apa ini? Apa kau sungguh merasa jijik karena sentuhan tangan ku hah?"
"Dasar gila!!!"
Pelangi mengumpatnya lalu hendak pergi kembali namun cowok tadi menghadang langkahnya. Tersenyum menyeringai dengan memainkan salah satu matanya, memberikan kedipan nakal pada Pelangi.
"Kau sungguh menarik!!! Aku suka cewek yang galak sepertimu. Namaku Exelle, kau?" Ujarnya dengan mengulurkan tangan lebih dulu pada Pelangi.
Pelangi mengerutkan kedua alisnya menatap sosok cowok yang kini berdiri di hadapannya, postur tubuhnya yang tinggi. Hampir sejajar dengan postur tubuh Joe, namun kedua tatapan matanya sedikit tajam, kulitnya kuning langsat, rambut cokelat tua yang di biarkan acak-acakan membuatnya memang sedikit terlihat fresh dengan perpaduan pakaian yang di kenakannya bak remaja masa kini.
"Halo.. Apa kau berniat untuk menolak bersentuhan dengan ku lagi?" Tanya nya kembali, mengagetkan Pelangi yang sejak tadi mencoba menatapnya dengan penuh keheranan.
"Ayo, Jen. Sa, cepat." Lagi lagi Pelangi mengabaikan cowok yang bernama Exelle itu, namun Lisa dan Jeni sedang mematung menatap wajah Exelle yang memainkan rambutnya sesekali di rapikan ke arah belakang. Membuatnya terlihat lebih cute saat tersenyum meski perangainya terlihat sedikit nakal.
"Lisa, Jeni. Aku tinggal nih," Pelangi meninggikan nada bicaranya sehingga menyadarkan Lisa dan Jeni, dengan kebingungan mengatupkan kedua bibirnya lalu melangkah lebih dekat dengan Pelangi.
"Ma-af Princess cold." Ucap mereka dengan lirih.
"Hahaha. Ya ya, baik lah. Sepertinya aku harus memakai cara yang sedikit memaksa untuk mengetahui namamu,"
Exelle mulai mengancam, dan dengan sigap dia meraih ponsel Lisa yang sejak tadi di genggamnya.
"Aah, ponsel gue. Balikin, brengsek. Balikin gak?" Lisa mulai panik dan berusaha merebut ponselnya, namun kedua kakinya tidak begitu tinggi walau dia berjinjit untuk meraih ponsel yang sengaja dilambaikan oleh tangan Exelle ke atas.
"Hei, kau!!!" Jeni menghuyungkan satu tinjuan mengenai perut Exelle. Sontak ponsel Lisa terjatuh dan di tangkap oleh Pelangi.
Kedua teman Exelle geram dan hendak membalas perlakuan Jeni. Namun di cegah dengan cepat oleh Exelle yang kini meringis menahan bekas tinjuan Jeni.
"Elu baik-baik aja, Ex?"
"Aw, gapapa. Gue baik-baik aja, gila. Hahaha, mereka semua cewek manis bro. Jangan di kasarin," Ujar Exelle dengan membungkuk menyentuh bagian perut bekas tinjuan Jeni tadi.
"Pelangi, Lisa, ayo cepat pergi. Jika tidak aku akan semakin menghabisi mereka semua. Para cowok genit," Ajak Jeni dengan sedikit kasar.
"Wo wo wo... Cepat tarik kata-kata lu barusan, Exelle bukan cowok yang seperti itu. Kita memang nakal dan terlihat jahil, tapi kami tidak sembarangan pada lain jenis apa lagi seperti kalian yang galaknya minta ampun. Cantik-cantik tapi kelakuan seperti nenek sihir, hiiih..." Ucap salah satu teman Exelle menggetarkan tubuhnya.
"Sialan!!! Apa lu bilang? Kita seperti nenek sihir? Makin berani lu, ya!!!" Kembali Jeni dibuat berapi-api dengan emosinya.
"Apa lu, hah? Nenek sihir."
Kini kedua teman Exelle beradu cekcok dengan Lisa dan Jeni, sementara Pelangi menghela nafas panjang dan menepuk keningnya. Ini sudah bukan hal aneh lagi baginya, jika melihat Jeni dan Lisa akan begitu marah ketika mendengar mereka mendapat julukan yany buruk dari seorang cowok. Percuma, Pelangi tidak akan bisa melerai dan menghentikan amarah mereka.
"Oh astaga, hahaha. Lihatlah, mereka sepertinya cocok sekali. Hahaha," Exelle tertawa dengan menunjuk ke arah para temannya yang saling menuding dan beradu cekcok.
Namun Pelangi masih mengabaikannya lalu meraih sebuah ponsel, mengutak atiknya untuk melakukan sebuah panggilan pada Joe dan Lucas. Namun dengan cepat Exelle meraih ponsel Pelangi lalu mengutak atiknys begitu cepat jemarinya bermain di layar ponsel Pelangi.
"Hei, ponsel ku."
Kemudian ponsel Exelle berdering. Dia tersenyum puas lalu mengembalikan ponsel Pelangi kembali.
"Aku sudah menyimpan nomor ponselmu, terimakasih. Ehm, Pelangi. Ya, itu kan namamu. Cantik dan unik, hehe. Bye.. Jangan lupa angkat telepon ku ya." Dengan penuh percaya diri dia mengucapkan titahnya lalu menarik kerah leher kedua temannya dari arah belakang. Sementara Jeni dan Lisa masih mengomel tanpa jeda sedikitpun.