Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 175



Hari ini penerimaan raport. Libur panjang sudah di umumkan, Pelangi begitu bahagia mendapat nilai sebagai peringkat ke dua di kelas. Bahagia ku bukan lagi ingin teriak, bahkan ingin berguling-guling. Apakah seperti ini rasanya menjadi seorang ibu dari anak yang terpilih sebagai murid pintar? Meski bukan yang nomor satu di kelas.


"Ehm, Pelangi. Bagaimana dengan Lucky? Apakah orang tuanya datang kemari?" Tanya ku.


"Tidak ma, dia mengambil raport nya di temani tante suster. Tuh disana," Ucap Pelangi sembari menunjuk ke arah depan. Terlihat di pojok sana Suster Lulu seolah seperti sedang memberikan perkataan untuk menenangkannya.


"Ayo kita kesana nak," Ajak ku kemudian. Pelangi mengangguk dengan berpegangan tangan.


"Eh..." Ucap suster Lulu gelagapan dengan kedatangan ku dan Pelangi.


"Lucky, kok nangis?" Tanya Pelangi saat Lucky mengusap air matanya dengan cepat.


"E,eh nak. Kenapa kau menangis?" Tanya ku kemudian dengan menatap pada suster Lulu sesekali.


"Tuan muda hanya bahagia karena dia berhasil meraih peringkat pertama. Iya kan tuan? Ayo tersenyum lah." Bujuk suster Lulu.


"Waaah, selamat nak. Kau mendapatkan peringkat terbaik, itu berarti kau dan Pelangi sungguh murid teladan. Wah, kalian..." Aku semakin gemas melihat mereka mendapatkan peringkat terbaik.


Aku jadi berpikir jauh, apakah mereka ditakdirkan memang selalu bersama? Ah... Gemasnya.


"Langi, aku akan bertemu ayah dan nenek angkat. Aku hanya sedih karena lama tidak akan bertemu dengan mu lagi."


"Aku tidak mau. Kita kan hanya libur sekolah, nanti akan sekolah lagi." Jawab Pelangi dengan tegas.


"Tapi itu sangat lama."


"Oh.. Iya juga ya? Ehm.. Tapi kan kita sudah janji akan pergi bersama kemanapun?"


"Eh bibi. Apa aku bisa membawa Pelangi berlibur bersama ku?"


"Tuan muda, maafkan bibi. Tolong jangan memohon begitu, tuan muda sendiri tahu aturannya sejak awal."


"Tapi bi.."


"Ehm, Lucky. Dengarkan tante nak, Pelangi akan tetap menjadi teman mu sampai kapan pun. Kalian kan hanya libur sekolah sebentar, jadi saat sudah sekolah kembali kalian akan bertemu lagi nanti. Atau, kau bisa menyimpan nomor ponsel tante jika mau. Saat rindu Pelangi kau bisa meneleponnya."


Tampak Lucky semakin sedih akan ucapan ku. Membuatku semakin heran, apakah aku salah berbicara???


"Ayah angkat melarangku untuk berhubungan dengan orang luar melalui ponsel sekalipun." Jawabnya menundukkan wajah.


"Suster, apakah separah itu dia di kekang? Ini keterlaluan namanya. Apakah tidak kasihan dengan anak seusianya hah? Menyebalkan orang tua yang seperti itu."


"Tidak tidak, jangan berkata seperti itu tante pada ayah dan nenek angkat. Mereka adalah orang baik yang mau menjaga dan merawatku hingga seperti ini."


"Tapi Nak..."


"Maaf nona, saya harap anda mengerti yant di maksud oleh tuan muda."


Rasanya aku ingin meneriakinya, aku semakin ingin tahu siapa sosok di balik sikap Lucky yang terkesan di kekang ini.


"Ayo tuan, kita harus segera berkemas setelah ini." Ucap suster itu kemudian.


"Ehm, Pelangi. Selamat berlibur, ku harap libur sekolah akan cepat berakhir agar kita bisa bertemu kembali."


"Hemm.. Janji kan kau akan kembali menemuiku?"


"Aku janji." Jawab Lucky.


"Tante, saya permisi. Sampai jumpa kembali di lain waktu," Ucapnya kemudian berpamitan dengan santun di susul oleh suster Lulu.


Pelangi melambaikan tangan dan tersenyum pada Pelangi, yang berulang kali Lucky menoleh ke belakang untuk melihat dan melambaikan tangan pada Pelangi. Aku yang menyaksikan ini, seolah merasa aku yang telah berada di ujung perpisahan.


🌻🌻🌻


Malam tiba...


Aku menemani Pelangi bermain seperti biasa di dekat ruang TV, sedangkan aku sibuk dengan segala cemilan di tangan ku sembari menonton sebuah acara live di TV. Kebetulan sebuah drama korea yang menceritakan tentang perbedaan kasta dari seorang laki-laki dan perempuan yang mengharuskan mereka terpisah begitu saja.


Seketika aku melirik pada Pelangi, aku bergidik. Pikiran ku mulai melayang jauh kembali, lagi-lagi aku bertanya dalam hati. Apakah begini perasaan seorang ibu yang memiliki seorang anak perempuan? Selalu khawatir tidak jelas dan berpikir konyol.


"Sayang," Panggil Irgy menghampiriku setelah dia usai membersihkan diri sepulang dari kantor.


"Houp, ugh.. Puteri papa sudah semakin besar."


"Iya dong, sebentar lagi kan mau punya adik kembar." Jawab nya. Aku bahagia dia berceloteh demikian, itu pertanda dia mulai menerima kenyataan jika dia akan memiliki adik.


"Ini.." Ucap Irgy sembari menyodorkan sebuah amplop berwarna putih bersih. Aku mengerutkan kedua alisku melihat ke arah amplop tersebuh.


"Gaji bulanan?" Jawab ku sembari tersenyum nakal.


"Hemm.. Tepatnya bonus." Jawab Irgy membalas kekonyolan ku.


Lalu aku membuka amplop tersebut. Kembali aku mengernyit melihat beberapa lembar kertas yang ku ketahui itu adalah sebuah tiket penerbangan.


"Tiket?" Tanya ku menatap wajah Irgy yang sudah lebih dulu menatapku, menanti reaksiku selanjutnya.


"Hmm.. Tiket, kita akan berlibur ke Luar Negeri. Ini hadiah untuk mu dan puteri kita Pelangi,"


"Kyaaaaaaaaaa... Sayaaaaang, aaaah.. Thank you suami ku, ih sejak kapan sih?"


"Untuk kedua bayi ku di dalam sana, dan untuk puteri kita yang sudah berhasil meraih peringkat kedua di sekolah. Aku tidak menyangka, sekolah ini adalah perkumpulan para anak-anak hebat. Dan puteri kita berhasil ada diantara nya."


"Sayang, terimakasih banyak. Akhirnya aku merasakan baby moon kehamilan kali ini,"


"Apa kau suka kejutan ini?"


"Sangat suka.." Jawabku merangkul Irgy kemudian.


"Ih mama, jangan peluk-peluk papa." Ucap Pelangi tiba-tiba mencubit lengan ku.


"Astaga. Mama sampai lupa. Maafkan mama Nak, sini.."


Aku tertawa cekikikan saat melihatnya membuang wajah dari ku ketika mencoba memeluknya.


"Hahaha, aduh tuan puteri papa. Mmh, besok kita akan naik pesawat loh. Dan kita akan jalan-jalan ke Luar Negeri, dan kita akan bermain puas sepuasnya. Siapa mau ikut?" Ucap Irgy mencoba merayu Pelangi yang seketika mendapat sambutan sumringah dari Pelangi.


"Naik pesawat pa? Luar Negeri? Yeay, asyiiiik... Apa kita akan kerumah ayah angkat Lucky, Pa?" Ujarnya sembari menari-nari riang gembira memutar-mutar tubuhnya di depan kami.


"Eh, Nak. Kita bukan kerumah Lucky, kita akan jalan-jalan dan liburan sepuas hati Pelangi bermain." Jawab ku dengan cepat menyela.


"Yaaah, Pelangi ingin bermain dengan Lucky ma. Kasian Lucky,"


Pelangi terlihat menundukkan wajahnya dengan sedih tanpa menjawab kembali.


"Sayang, nanti kita akan cari Lucky disana. Sekarang Pelangi pergi tidur dulu ya, besok pagi kita akan melakukan perjalanan yang menyenangkan lagi seru."


"Yeay asyiiik... Besok ketemu Lucky," Kembali Pelangi berseru dengan riang.


"Ayo non, bibi antar ke kamar." Kemudian bibi asisten datang dan menuntun Pelangi menaiki tangga menuju kamar pribadinya.


"Sayang, serius kau akan mempertemukan Lucky dengan puteri kita?"


"Astaga, apa kau pikir aku sehebat dan sedekat itu dengan anak itu?"


"Cih, kau mendidik anak kita untuk belajar berbohong. Bagaimana jika dia meminta kau menepati janjimu besok?"


"Percaya saja, puteri kita akan melupakan segalanya saat sudah tiba di Luar Negeri."


"Baiklah, apapun itu yang jelas aku bahagia. Akhirnya aku bisa berkunjung ke Luar Negeri seperti halnya para wanita karir diluar sana."


"Hemm... Aku pun bahagia sayang. Kalian adalah harta yang paling berharga bagiku, apapun akan aku lakukan untuk membuat kalian bahagia."


"Tapi bagaimana dengan urusan kantor sayang?"


"Semua sudah ku serahkan pada sekretarisku dan mas Khery. Jangan khawatir, kondisi di perusahaan sudah aman terkendali. Oleh sebab itu, suami mu yang tampan ini butuh liburan juga untuk melepas penat selama di kantor."


"Cih, dasar.. Ya ya, kali ini aku akui. Kau bukan hanya tampan, tapi juga terbaik. Mmuach..." Jawab ku mengecup bibirnya lebih lama. Membuat Irgy tersipu malu, kemudian dia memeluk dan mengecup keningku dengan mesra.


Ya, aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata lagi selain... Aku, sangat bahagia.