Because, I Love You

Because, I Love You
#74



Kirana tidak menyadari kalau mobil Beni tidak mengartarnya ke arah tempat tinggalnya tetapi mengikuti mobil Rendy.


Setelah Kirana menutup panggilan teleponnya, dia mengangkat kepalanya dan menatap kejendela melihat keluar.


"Loh Pak, kita mau kemana?" Tanya Kirana yang baru menyadari arah mobil tidak mengarah ke jalan tempat tinggalnya.


"Cuma mau bantu kamu ngilangin rasa penasaran kamu aja mbak." Jawab Beni tanpa mengalihkan pandanganya.


"Ih Pak Beni apaan sih? Siapa juga yang penasaran? Udah ah, berenti aja disini, biar aku cari kang ojek aja!" Ucap Kirana dengan kesal.


"Tanggung mbak. Tuh liat!" Ucap Beni sambil menunjuk dengan dagunya kearah mobil Rendy yang berhenti didepan sana dipinggir jalan.


Kirana pun menatap kedepan dan melihat mobil Rendy berhenti. Ternyata Rendy menjemput seorang wanita cantik yang pernah sekilas dia lihat di Club malam waktu itu.


"Apa itu Lena?" Tanya Kirana pada Beni.


"Hmm." Jawab Beni sambil mengangguk menatap kearah Lena.


"Cantik dan sexy ya Pak?" Ucap Kirana seolah merasa iri melihat Lena.


"Biasa aja kalo menurutku." Sahut Beni yang terus menatap kearah Lena yang sudah masuk kedalam mobil Rendy dan mobil Rendy kembali melaju entah kemana.


"Kayaknya seleranya Mas Rendy cewek-cewek yang sexy gitu ya? Tapi, kenapa nggak minta Lena buat jadi pacarnya?" Tanya Kirana terdengar tentang tapi hatinya merasa panas karena cemburu.


"Jangan sok tau mbak. Kita nggak pernah tau isi hati seseorang seperti apa. Mungkin aja Bos sama perempuan itu cuma temenan dan Bos sukanya sama kamu. Kita nggak tau kan?" Ucap Beni sambil melajukan mobilnya masih ingin mengikuti mobil Rendy dari kejauhan.


"Nggak mungkin Pak. Aku ini cuma anak kampung dan kampungan. Mana mungkin orang seperti Mas Rendy suka sama aku." Ucap Kirana dengan tertawa menertawakan dirinya sendiri.


Beni tidak lagi banyak bicara dan kembali fokus mengikuti mobil Rendy.


Sebenarnya dia sudah tau bagiamana hubungan Rendy dengan Lena. Tapi dia pura-pura tidak tau dan ingin melihat bagaimana reaksi Kirana saat melihat Rendy bersama perempuan lain.


"Pak Ben, kenapa nggak muter balik aja? Nggak usah ngikutin Mas Rendy lagi lah Pak. Ntar kalo dianya tau terus marah? Ini salah Pak Beni dan jangan bawa-bawa aku ya?!" Seru Kirana yang merasakan hatinya semakin kacau.


"Siapa juga yang masih ngikutin dia? Aku cuma males mau puter balik, Mbak." Jawab Beni dengan santai dan sengaja mengambil jalan memutar.


Beni memperlambat laju mobilnya ketika melihat mobil Rendy berbelok dan masuk ke arah parkiran hotel.


Dia melirik ke belakang melihat Kirana dari kaca spion. Kirana juga sedang memperhatikan mobil Rendy yang masuk kearah parkiran hotel.


Beni sedikit menyunggingkan senyumnya saat melihat reaksi wajah Kirana yang jelas terlihat sedih dan ada kekecewaan.


Aku tau kamu cemburu dan itu artinya kamu memang punya perasaan ke Bos. Aku cuma mau mastiin aja gimana reaksimu Mbak.


Batin Beni sambil menambah kecepatan mobilnya lagi.


Kirana menyandarkan punggungnya kebelakang dan menghela nafasnya panjang untuk menormalkan segala rasa yang telah dia rasakan saat ini.


Ternyata aku salah menilai kamu Mas. Aku nggak nyangka, kamu suka main perempuan.


Batin Kirana dengan hati yang penuh kekecewaan.


...


Selesai mandi, dia duduk bersandar diatas tempat tidurnya dan merenung.


Bayangan Lena yang tersenyum ketika Rendy menjemputnya dipinggir jalan hingga melihat mobil Rendy yang masuk kedalam parkiran hotel, membuatnya berpikir yang tidak-tidak tentang apa yang dilakuan Lena dan Rendy di hotel?


"Aaargh!" Kirana mengacak-acak rambutnya sendiri merasa frustasi karena pikirannya terus memikirkan Rendy.


Kirana masih selalu mengingat saat Rendy menciumnya dan ingin menyentuhnya. Dia tidak bisa membayangkan kalau saat ini, Rendy dan Lena...mereka berdua di kamar hotel...


Kirana membaringkan tubuhnya, menarik bantal dan menutupi kepalanya dengan bantal lalu berteriak. Merasa sedikit lega setelah berteriak, Kirana kembali duduk dan nafasnya terengah-engah.


"Aku nggak bisa kayak gini terus!" Gumamnya dengan menahan segala emosinya.


Kirana melihat jam, masih jam tujuh. Dia ingin jalan-jalan keluar untuk sekedar menghilangkan pikiran tentang Rendy dan Lena.


Kirana beranjak dari tempat tidurnya, mengambil jaket dan tas kemudian pergi keluar.


"Kirana!" Seru Haris memanggil Kirana yang kebetulan juga baru saja keluar dari dalam rumahnya.


"Kak Haris!" Balas Kirana dan Haris tersenyum berjalan menghampirinya.


"Kamu mau kemana, Ki?" Tanya Haris dengan lembut.


"Aku cuma mau jalan-jalan aja Kak. Bosen dirumah terus sekalian mau beli keperluan sehari-hari disupermarket." Jawab Kirana sedikit tersenyum.


"Kebetulan aku juga mau keluar. Kita bareng aja." Dengan tersenyum penuh ketulusan, Haris menawarkan tumpangan pada Kirana.


"Wah, ayo kalo gitu kak!" Seru Kirana sambil melebarkan senyumnya.


Mereka pun pergi bersama dengan berboncengan dengan motor matic Haris.


"Kak, kebetulan aku udah gajian nih. Gimana kalo aku traktir kak Haris makan? Terserah deh, kak Haris mau makan apa dan dimana." Seru Kirana yang membonceng Haris.


"Udah bisa sombong kamu sekarang ya?" Mereka pun tertawa.


Setelah melalui jalanan yang lumayan macet, akhirnya motor Haris berhenti di parkiran sebuah Cafe atas permintaan Kirana karena dia ingin sekali makan di Cafe yang jaraknya tidak jauh dari gedung perusahaan Pradipta Grup.


"Banyak temenku yang bilang, kalo makanan disini enak-enak kak. Aku penasaran aja." Ucap Kirana sambil melepas helmnya.


"Emangnya, kamu belum pernah makan disini?" Tanya Haris sambil berjalan kearah pintu masuk Cafe.


"Belum kak. Makanya aku ngajakin kak Haris kesini." Jawab Kirana sambil menyengir.


Ada sepasang mata yang menatap mereka berdua saat mereka masuk kedalam Cafe.


"Ren,itu..kayaknya aku pernah liat cewek itu deh." Ucap Lena kepada yang duduk dimeja paling ujung sambil memicingkan matanya memperhatikan Kirana.


................