
Jam terus berputar dengan cepat, menunjukkan pukul 11 malam. Mereka terlalu asyik bercanda ria, mengobrol, mengkhayal bersama, dan terkadang saling mencela ejekan sebagai bahan candaan mereka. Mengenang kembali awal masa mereka bertemu dalam satu sekolah, Jeni, Lucas, Lisa. Mereka saling merangkul satu sama lain di depan Joe.
"Sa, gue sedih deh harus terpisah bareng elu. Selama ini, kita sudah bersama-sama sejak kecil, elu jaga diri baik-baik di LN."
"Hei Jen. Lalu bagaimana dengan ku? Apa kau tidak sedih berpisah dengan ku?" Tanya Pelangi kemudian.
"Ih, tentu. Setiap hari aku tidak akan bertemu dan melihat kejutekan seorang Princes cold lagi."
"Eeeh, dasar. Apa hanya sikap burukku saja yang kau ingat?" Pelangi mendecak pelan.
"Eh, tidak ada yang akan merindukan ku nih?" Joe buka suara.
"Tidak dan jangan harap!" Ujar Lisa dan Jeni kompak. Lalu mereka nenertawai Joe bersamaan di susul Pelangi dan Lucas.
"Janji ya, kalian. Saat libur, harus pulang ke indonesia. Hikst... Rasanya berat berpisah dengan kalian para Princes ku." Kata Lucas saat ini.
"Dan kalian juga harus janji sesekali datang berkunjung menemui kami di LN. Iya kan, Sa?" Ujar Pelangi bertanya ke Lisa. Di tanggapinya anggukan cepat dan bibir yang manyun menahan sedih.
Kembali timbul rasa kesal di hati Joe mendengar Lisa dan Pelangi selalu berbicara tentang keyakinan mereka yang akan menjadi mahasiswa di luar sana.
Bagaimana, bagaimana jika aku gagal masuk nantinya? Aku sudah banyak mencaritahu tentang kampus itu dari teman-teman ku di LN, mereka bilang kampus itu tidak main-main soal syarat dan ketentuan karena memang terbaik di LN bahkan di dunia. Disana hanya perkumpulan orang-orang yang berprestasi selama duduk di bangku sekolah.
"Joe, Joe...!!!" Panggil Lisa dengan nada tinggi.
"Ah, ya. Hahaha, aduh aku jadi melamun. Ada apa, Sa?" Joe tersadar dari lamunan pikirannya yang kacau.
"Apa yang kau pikirkan, Joe?" Tanya Jeni dengan menatapnya tajam.
"Aku hanya memikirkan betapa sangat bangganya untuk bisa masuk ke kampus itu."
"Ah, tepat sekali. Ku dengar dari beberapa teman ortu ku, mereka tidak percaya aku bisa lolos masuk ke kampus itu. Mereka konyol sekali, bahkan mereka menakuti dan membuay orang tuaku mendetteku habis-habisan. Hanya karena aku pernah berpacaran lama dengan pacarku beberapa tahun yang lalu, tes keperawanan yang paling penting untuk melanjutkan impian kita menjadi dokter, dan mereka tidak bisa kita sogok dengan uang. Bukan kah itu menakutkan?" Lisa mulai nyerocos tanpa jeda sejak tadi, sehingga Pelangi dan yang lainnya menatapnya sangat serius.
"E,eh.. Apa, apa hah? Kenapa kalian melihatku seperti itu, apa yang kalian pikirkan?" Tanya Lisa lagi setelah tersadar dengan tatapan lara sahabatnya itu.
"Elu masih murni kan, Sa?"
"Mu,murni? Murni maksud lu apa Jen? Oh, aaaakh... Kau menyebalkan. Apa kau berpikir aku sudah kehilangan kesucianku?" Lisa mendecak sebal, wajahnya semakin di tekuk menjadi seribu lipatan. Jeni cekikian setelah puas menggoda sahabatnya itu.
"Hahaha, iya. Gue percaya, astaga. Jangan marah, hanya bercanda. Lagipula, jika sejak awal kita punya niat untuk menjadi dokter terbaik untuk menyelamatkan banyak orang, tentu kita sudah memegang teguh segala hal yang akan menjadi syarat di dalam nya tentunya bukan?"
"Huh, elu tahu itu. Lalu kenapa tidak memilih kampus yang sama saja?"
"Hahaha. Ya baiklah, Gue bakal sangat merindukan elu, Jen." Ujar Lisa dengan menggenggam hangat tangan Jeni. Mereka memang sudah bersahabat dan bersama selalu sejak kecil, tidak heran bukan jika kesedihan mereka terlalu dalam.
"Aaah, kalian membuatku sedih saja. Tapi oleh karena itu aku memilih mundur saja, mungkin aku akan melepaskan diri dari persyaratan sebagai dokter. Aku ingin menjadi pengusaha saja, seperti papi aku. Berjuanlah, Lisa." Ujar Lucas dengan wajah sedih.
Dan mereka menyadari satu hal, tentang Joe dan Pelangi. Mereka tahu jika Joe dan Pelangi dulu sangat lengket ketika berpacaran, dimana ada Joe disitu ada Pelangi. Begitupun sebaliknya, terlebih lagi mereka sudah mendapatkan restu dari orang tua masing-masing. Lisa dan Jeni beralih pandangan menatap Pelangi yang sejeka tadi sesekali bermain ponselnya di sela pembicaraan mereka.
"E,eh.. Ada apa lagi?" Tanya Pelangi setelah menyadari Jeni dan Lisa yang ternyata Lucas pun berpikiran sama.
"Hei, apaan sih? Kenapa kalian menatap kami seseram itu?" Tanya Joe kemudian.
Ketiga sahabat Pelangi masih terdiam tanpa kata namun tatapan mereka yang mewakilinya.
"Oh astaga. Aku baru mengerti, aku tahu apa yang kalian pikirkan. Tentu aku masih menjaga baik-baik kesucianku. Kalian berpikir terlalu jauh, jangan kan hal itu. Berciuman saja aku tidak sehebat kalian."
Sontak ucapan Pelangi membuat Joe bergetar hebat di hatinya. Terlintas di pikirannya bagaimana pertama kali mereka berciuman. Joe jadi salah tingkah.
"Kalau elu, Joe?" Jeni menyerang Joe kali ini.
"Ah, eh.. Gue? Cih, apaan kalian. Aku hanya mengenal pacaran sekali, dan itu hanya dengan... Pelangi. Aku pun masih berharap hanya dia saja yang menjadi terakhir. Kalian terlalu berpikir jauh, aku masih polos dan lugu. Tidak mungkin aku berani menyentuh Pelangi, kan?"
"Hah, syukurlah. Eh tapi, yang ku dengar itu adalah pekerjaan yang sangat nikmat dan mendebarkan. Kyaaaaa... Pikiran ku jadi kotor." Mendadak Lisa menggila dengan wajah memerah setelah mendenguskan nafas lega akan pernyataan Joe. Mereka jadi saling menahan gelisah dengan wajah memerah, hanya Pelangi yang terus teralihkan fokus pada ponsel yang sejak tadi berbunyi nada pesan.
"Aaaduh... Princess cold, sejak tadi kau hanya sibuk dengan ponselmu." Protes Lisa.
Belum sempat menjawabnya ponsel Pelangi berdering. Sebuah panggilan dari rumah, segera dia menerimanya karena tahu diapa yang menelponnya.
"Ya ma, aku masih di kafe dengan teman-teman. Mungkin akan pulang terlambat."
Sementara aku yang sedang berbicara dengannya di lain tempat, mendengar suaranya di ponsel sedikit membuatku lega. Tidak ada yang terjadi, tutur bahasanya sepertinya memang sedang happy dan bersantai ria. Pikirku.
"Tenang saja, Ma. Exelle akan mengiringiku saat pulang nanti. Aku akan berhati-hati mengemudi." Jawab Pelangi kembali, seakan sudah menebaknya apa yang akan aku tanyakan lalu mematikan panggilannya.
Dalam hati Joe mengumpat.
Brengsek si Exelle. Meski dia tidak ada disini, tapi dia licik. Dia tak ingin kalah dariku selangkah pun. Kau pikir aku akan diam saja, Ex? Kau terlalu meremehkan seorang Joe.
Lalu pikiran licik kembali merasukinya, setelah melihat Pelangi yang seakan mengabaikannya sejak tadi. Bukan, itu bahkan sejak Joe berniat mencium bibirnya kembali di kelas saat itu. Sejak itu, Pelangi terkesan menghindarinya meski itu dengan cara halus.
Salahkah aku jika terpaksa melakukan cara ini? Mami benar. Jika nyatanya saat ini hanya Pelangi yang ku inginkan terus berada di kehidupan atau bahkan masa depan ku, maka aku harus mempertahankan nya di hidupku. Atau, atau aku akan menyesal.