Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 212



"Langi, aku mau bicara sebentar." Joe menghampiri Pelangi yang tengah duduk menyantap makan siangnya di kantin, di temani oleh Lisa dan Lucas.


"Langi..." Joe memanggil Pelangi untuk yang kedua kalinya setelah gadis yang kini membuatnya jatuh cinta masih terduduk tanpa menghiraukan suara Joe.


"Princess cold, ayo lah." Bisik Lisa mencoba menegur Pelangi.


"Si kumis tipis, sama aku aja ayo.." Seperti biasa Lucas selalu menggoda Joe dalam keadaan apapun. Namun kali ini tidak, Joe hanya tersenyum tipis meliriknya sesekali.


"Joe, bicara disini saja. Sama aja kan?" Jawab Pelangi kemudian.


"Kamu yakin, aku mau menyampaikannya disini?"


Pelangi menolehnya dengan mengerutkan kedua alisnya.


"Apaan?"


"Maka itu aku mengajakmu berpindah sebentar, saja."


"Hah, baiklah." Jawab Pelangi kembali di sela helaan nafasnya yang begitu dalam, Ia pun berpikir sudah saatnya menyelesaikan ini semua. Ia tidak ingin semua semakin berlarut di penuhi rasa yang tidak dia mengerti selama ini.


Kemudian Pelangi berjalan lebih dulu, di susul oleh Joe yang mengajaknya menuju taman di sekolah. Joe pikir hanya itu tempat yang cukup bebas untuk nya menyampaikan hal yang ingin di sampaikannya.


Saat tiba di sebuah Taman sekolah, Pelangi berdiri dengan memberanikan diri menatap wajah Joe. Joe memberinya senyuman hangat, namun tidak dengan Pelangi. Di balik hatinya yang mulai ia sadari, bergetaran setiap kali dekat dengan sosok lelaki yang selama ini dianggapnya sebagai sahabat.


"Cepat bicara!!!"


"Ada apa dengan mu, Langi?"


"Aku? Memangnya kenapa dengan ku?"


"Beberapa hari ini kau terlihat jelas seolah menjauhiku."


"Perasaanmu saja, Joe." Pelangi memalingkan tatapan nya dari wajah Joe.


"Katakan jika aku berbuat salah, Langi. Aku akan memperbaikinya, tapi pliss jangan menjauhiku."


"Kau tidak salah, Joe. Aku hanya, aku hanya.. Sedang belajar untuk membiasakan diri."


"Membiasakan diri apa? Apa hah?" Joe mulai meninggikan suaranya.


"Saat kau mulai menerima cinta sahabat kita, Jeni. Kita tidak akan bisa selalu berdekatan, harus ada jarak diantara kita Joe."


"Oh ya ampun, dasar bodoh. Bagaimana bisa kau berpikir atas kemauanmu sendiri hah?"


"Itu faktanya, Joe."


"Lihat aku, Langi." Titah Joe kemudian setelah Pelangi terus saja membelakanginya sejak tadi.


"Enggak!!!" Jawab Pelangi dengan cetus.


"Lihat aku, ku bilang."


"Enggak, aku enggak mau melihatmu." Kemudian Joe membalikkan tubuh Pelangi dengan sedikit kasar untuk menghadapnya.


"Awh, sakit Joe. Apaan sih?" Pelangi memekik pelan akan cengkraman Joe yang begitu kuat di bahunya.


"Ma,maafkan aku. Maafkan aku, Langi."


Pelangi menundukkan wajahnya di hadapan Joe meski kini jarak mereka sudah sangat dekat. Kemudian perlahan Joe memberanikan diri mengangkat dagu Pelangi untuk menengadah menatap wajah Joe.


"Kau hanya berpura-pura, kau berbohong dengan jarak diantara kita saat ini, Langi."


"A,apa maksudmu?" Bibir Pelangi kembali gemetaran dan berusah untuk mengalihkan tatapan kedua matanya yang kini semakin dekat dengan Joe.


"Jangan mengalihkan tatapan mu dari ku, tatap aku Langi. Lihat aku, lihat."


"Jangan konyol, lepasin gak tangan mu itu. Kita, kita ter-lalu dekat. Aku tidak ingin menimbulkan salah paham jika ada yang memperhatikan kita."


Joe tetap enggan melepaskan dagu Pelangi yang menopang pada jemari Joe.


"Kau sungguh ingin aku menerima cinta Jeni?"


"Hemm.." Jawab Pelangi singkat.


"Darimana kau mengetahuinya, Jika Jeni mencintaiku?"


"Li-sa. Lisa yang memberitahuku," Jawab Pelangi dengan gugup.


"Kau bohong, Langi." Suara Joe terdengar lirih namun bagaikan di tekan intonasi nadanya.


"Kau mendengar semuanya saat di kelas hari itu, bukan?"


"Sudah lah, Joe. Jangan membahas ini lagi, lepaskan aku." Dengan cepat Pelangi melepas tangan Joe dan menepisnya. Ia mundur satu langkah dari hadapan Joe, tampak dia seolah menarik nafasnya dalam-dalam akibat degub jantungnya yang kian semakin cepat.


"Bagaimana jika aku sungguh serius dengan perkataan ku saat itu, Langi."


Degh !!!


Pelangi terenyuh, kembali di kejutkan hingga kedua mata nya terbelalak membelakangi Joe. Dengan cepat ia menyadarkan diri untuk menetralisir kegusarannya saat ini.


"Per,perka-ta-an apa yang.. Kau maksud? Aku tidak mengerti." Walau Pelangi berusaha tetap santai namun suara yang dia keluarkan tidak bisa terkontrol. Sangat jelas dia begitu gugup berbicara.


"Aku jatuh cinta pada mu, Langi. Aku menyukaimu dan mungkin aku telah mencintaimu sejak lama."


Dug dug dug dug dug...


Degub jantung Pelangi semakin terasa bagaikan bedug yang di tabuh siang hari. Sekujur tubuhnya sudah tak bisa lagi mentolerir segala perasaan yang sejak tadi dia kendalikan. Sekujur tubuhnya terasa bagai di sengat aliran listrik, wajahnya memanas terasa.


Oh Tuhan, perasaan apa ini? Kenapa begini? Ada apa dengan ku? Disatu sisi ada perasaan bahagia mendengarnya, meski aku sudah berusaha mengendalikannya. Tapi di sisi lain, aku.. Aku sungguh tidak mengerti.


"Apa kau mendengarku, Langi?"


"Joe, jangan gila. Kita bersahabat sejak kecil, bahkan kita sudah seperti kakak beradik bukan?"


Lagi lagi Joe menarik tubuh Pelangi untuk menghadapnya kembali. Namun kali ini, Joe mendekatkan tubuh Pelangi dengan menarik pinggangnya sehingga terkesan Joe sedang memeluk tubuh Pelangi dalam dekapannya.


"Itu kita saat kecil dulu, lalu kenapa? Memangnya kenapa? Apakah sepasang sahabat di masa kecil tidak boleh saling jatuh cinta dan mencintai satu sama lain?"


"Joe, jangan konyol. Lepaskan aku, kau pasti hanya menggodaku saja aku tidak lagi menjauhimu. Lepasin aku, Joe."


Pelangi berusaha meronta untuk mendorong tubuh Joe yang kini menempel ke tubuhnya. Itu semakin membuatnya gugup hingga rasanya, deguban jantungnya akan meledak.


"Kenapa? Jika kau hanya menganggapku sama seperti sahabat yang lainnya, kau akan berani menatapku dalam jarak sedekat ini. Katakan, jika kau juga memiliki perasaan yang sama sepertiku."


Pelangi semakin gusar. Dia kebingungan mencari cara untuk melepaskan diri dari sikap Joe yang saat ini begitu erat memeluk pinggangnya. Dia tidak ingin menyakiti dan merusak persahabatnnya dengan Jeni, sebelum dia memgetahui siapa Joe sebenarnya.. Dia sudah menyerahkan Joe untuk sahabatnya, Jeni. Karena ia tahu bahwa Jeni telah jatuh cinta pada Joe, cinta pertamanya.


"Joe, aku tidak mungkin menyakiti perasaan Jeni saat ini. Dia jatuh cinta padamu jauh sebelum aku mengetahui siapa dirimu sesungguhnya." Pelangi mulao bersuara dengan lirih, sikapnya yang meronta sejak tadi mulai melemah.


"Lalu bagaimana dengan hatimu, Langi? Bagaimana perasaan mu padaku sejak kita bersama? Apakah kau sungguh menganggapku hanya sebatas sahabat saja? Iya?"


Pelangi terdiam sejenak, lalu ekspresi wajahnya seperti kebingungan untuk mencari alasan yang lebih tepat.


Teeeet... Tet, teeet...


Terdengar suara bel masuk kelas, membuat Pelangi menghempaskan nafas lega di hadapan Joe detik ini. Sehingg dia merasa lolos untuk tidak memberikan jawaban yang membuatnya kebingungan dan ketakutan detik ini.


"Cih, kau pikir aku akan melepaskan mu sebelum kau memberiku jawaban, Langi?"


Pelangi menatap Joe kembali dengan sedikit geram, Joe membalasnya dengan senyuman menyeringai. Membuat Pelangi semakin kesal.


"Baiklah, Joe. Katakan satu hal pada ku, apa yang akan kau pilih.. Cinta atau persahabatan?"


"Cinta."


"Kau bahkan menjawabnya tanpa berpikir lebih dulu, apa kau sungguh se egois ini?"


"Karena bagiku, cinta adalah sahabat. Sahabat adalah cinta, sam seperti kita. Sejak kita kecil, kita memang bersahabat. Lalu ketika kita terpisah dan tumbuh remaja, cinta itu hadir melengkapi persahabatan kita. Jadi aku berniat akan mempertahankan cinta dan sahabat ku."


"Kau... Kau memang gila."


Pelangi mendorong nya dengan keras lalu melewatinya, melangkah dengan sedikit berlari hendak menuju kelas. Joe tersenyum puas melihat Pelangi pergi meninggalkannya sendirian di taman, sementara ini sudah jam masuk kelas.


"Huh, aku hampir saja mati menahan degub jantungku yang tidak karuan saat menatap wajahnya begitu dekat. Dasar payah kau, Joe. Kau sok cool, padahal dalam hatimu pun akan meledak rasanya menahan jantungku yang berdetak lebih cepat. Hah, apakah seperti ini orang yang jatuh cinta?"


Joe berkata pada dirinya sendiri lalu menertawainya hingga terbahak-bahak. Sementara Pelangi sudah tiba di kelas dengan wajah memerah, berkali-kali dia menepuk kedua pipinya dan menekan bagian dadanya. Menarik nafasmya dalam-dalam, sembari bathinnya bergumam.


"Aku hampir saja mati karena ulah Joe tadi. Dia gila, dia gila. Aaaaaarght...."