
Rendy yang baru saja masuk kedalam ruangan kantornya dengan tersenyum karena sedang merasa bahagia, ponselnya berdering disaku jasnya. Dia mengambil dan melihat layar ponselnya siapa yang menelponnya. Kemudian segera menerima panggilan telepon tersebut.
"Ya Ben? Gimana? Udah beres kan?"
Ternyata Beni yang menelpon Rendy.
"Udah Bos. Tapi ada masalah lagi. Dibawah, mbak Kirana..." Jawab Beni dari seberang telepon.
"Ada apa dengan Kirana?" Tanya Rendy dengan cepat menyambar ucapan Beni yang belum selesai di ucapankannya.
Tiba-tiba rahangnya mengeras saat Beni memberitau kalau dilantai bawah sedang ramai dan Kirana menjadi korban bullyan para karyawan.
Rendy langsung beranjak keluar dari ruangannya dan menuju ke lantai bawah.
"Minggir kamu! Atau kamu mau aku siram juga?!" Seru salah satu karyawan pada Yolanda yang masih berusaha menghalangi aksi brutal mereka yang ingin menyiram Kirana dengan minuman.
"Yola, sebaiknya kamu menyingkir. Aku nggak mau mereka juga akan menyerang kamu karena membela aku." Ucap Kirana dengan pelan dan menunduk sambil memeluk tubuhnya sendiri karena merasa kedinginan.
Rambut dan bajunya sudah basah terkena siraman berbagai macam minuman dari mereka. Kemeja yang berwarna soft pink sudah berubah warna karena terkena noda dari minuman mereka.
"Hey! Aku pastikan kalian akan mendapatkan hukuman yang setimpal dari Bos Rendy!" Seru Beni dengan tatapan tajam kepada mereka setelah masuk dan menghampiri Kirana.
Rendy yang keluar dari lift, tatapannya langsung tertuju pada Kirana. Dia berjalan dengan cepat mendekati Kirana sambil melepas jasnya lalu memakaikan kepada Kirana.
Seketika Kirana mengangkat wajahnya dan melihat Rendy dengan tersenyum. Kirana bisa melihat raut wajah Rendy yang sedang menahan kemarahan. Tentu saja bukan kepadanya melainkan kepada mereka yang sudah berlaku buruk kepada dirinya. "Kamu baik-baik aja?" Tanya Rendy dengan tatapan dingin dan merangkul Kirana.
Kirana hanya mengangguk pelan dan berusaha untuk tetap tersenyum menunjukkan kalau dirinya memang baik-baik saja. Kirana bukan gadis yang lemah atau akan menangis karena mendapat serangan dari mereka seperti ini. Dia hanya berharap, Rendy akan membalaskan perlakuan mereka terhadapnya ini.
Tatapan Rendy beralih menatap semua karyawan yang masih berdiri diam dengan wajah yang ketakutan. Rendy menatap tajam pada mereka. "Apa alasan kalian membuat Kirana seperti ini?! Apa dia pernah mengganggu kalian?! Apa dia pernah berbuat salah kepada kalian?!"
Rendy berbicara dengan suara lantang dan penuh emosional.
Mereka semua menunduk saling menyenggol teman disampingnya dan saling menyalahkan.
"Siapa dalang yang merasuki otak kalian sampai kalian tega memperlakukan Kirana seperti ini?!"
Rendy bertanya dengan membentak mereka semua membuat mereka semakin menunduk terutama dua karyawan wanita yang tadi sempat melihat Kirana dan Rendy pergi bersama.
"Sepertinya dua orang itu Bos!" Seru Beni menunjuk kearah dua karyawan wanita yang sejak tadi diperhatikan gerak geriknya yang lebih terlihat ketakutan diantara mereka semua.
Dan kedua karyawan wanita itu seketika mengangkat wajahnya dengan keringat dingin yang sudah membasahi keningnya. Mereka semua juga langsung menatap kearah kedua wanita yang berdiri diantara mereka.
"Iya, tadi Citra mengirim foto juga rekaman video Kirana sedang bersama Pak Rendy digrup chat karyawan Pradipta Grup!" Seru salah satu teman mereka sambil menuding Citra yang tadi diam-diam mengikuti Kirana.
"Iya itu benar! Citra dan Dewi yang membuat kami menjadi berpikiran buruk tentang Kirana karena mereka mengatakan kalau Kirana memakai susuk atau pelet untuk menjerat Pak Rendy!" Sambung teman lainnya dengan keras.
"Iya benar Pak!"
"Benar itu!"
Semua serentak membenarkan dan menyoraki Citra dan Dewi yang merupakan dalang penyebab mereka menjadi membenci Kirana.
"Pak Rendy, ini kalau Anda ingin melihat foto dan rekaman video Anda bersama Kirana juga perkataan dari Citra dan Dewi. Semua masih ada di obrolan grup chat." Yolanda menyerahkan ponselnya kepada Rendy dan Rendy melepaskan rangkulannya pada Kirana lalu mengambil ponsel Yolanda, melihat foto dan video juga obrolan mereka digrup chat mereka.
"Dimana otak kalian sampai bisa berpikir sepicik itu hah?!" Rendy membentak kedua karyawan cantik yang telah menyebar isu tentang Kirana. "Aku minta sekarang juga kalian minta maaf kepada Kirana! Permintaan maaf juga berlaku untuk kalian semua yang telah membuat Kirana seperti ini! Kalau tidak, silahkan buat surat pengunduran diri kalian karena saya nggak sudi punya karyawan berotak picik macam kalian!" Lanjut Rendy penuh emosional.
Citra dan Dewi pun saling bergandengan melangkah maju dengan menundukkan kepalanya tidak berani menatap Rendy ataupun Kirana. Dasar pecundang! Sebelumnya, mereka paling heboh mencaci maki Kirana. Sekarang nyalinya langsung menciut.
"Ma maaf. Kirana, aku..aku minta maaf. Aku yang udah diam-diam mengambil foto kamu bersama Pak Rendy tadi."
"Aku juga minta maaf sama kamu Kirana."
Ucap mereka berdua bergantian dengan sangat gugup dan malu karena terpaksa harus meminta maaf sekaligus mengakui kesalahannya terhadap Kirana. Mereka terlalu takut melihat sorot mata Rendy yang seolah ingin membunuhnya saat ini juga.
Mereka juga masih ingin bekerja diperusahaan ini. Selain selalu bisa melihat Presdir tampannya ini, mereka juga sangat bangga bisa menjadi karyawan Pradipta Grup dengan gaji yang besar.
"Iya, aku udah maafin kalian kok. Aku harap, nggak akan terulang lagi kejadian seperti tadi." Ucap Kirana yang membuat Rendy meremas pundaknya karena merasa sangat kesal dan marah.
Kirana mendongak menatap Rendy dan Rendy hanya diam dengan wajah super dinginnya tidak menghiraukan tatapan Kirana.
Setelah mereka berdua meminta maaf, semua karyawan yang tadi ikut menyerang Kirana juga melangkah maju untuk minta maaf secara bergantian. Kecuali...Siska!
Sekertaris Rendy ini memiliki dendam dan kebencian yang mendalam terhadap Kirana. Mana sudi dia terlihat bodoh dengan meminta maaf kepada perempuan kampungan seperti Kirana. Sangat tidak level.
Kirana yang memiliki hati selembut sutra pun langsung memaafkan mereka. Malah dirinya menjadi tidak enak sendiri karena semua orang meminta maaf kepadanya. Terkecuali si nenek lampir itu alias Siska. 😁
"Aku peringatkan kepada kalian semua! Kalau sampai ada yang berani menyakiti Kirana atau bersikap buruk kepadanya, saat itu juga kalian akan menerima surat pemecatan. Dan kalian tau setelah kalian dipecat dari perusahaan ini? Tidak akan ada perusahaan lain yang akan mau menerima kalian bekerja disana!" Tegas Rendy yang masih merasa sangat emosi.
Setidaknya, Kirana merasa lega karena Rendy sudah menjadi malaikat pelindungnya lagi untuk yang kesekian kalinya. Mungkin memang Rendy sudah ditakdirkan untuk selalu bersama dengan Kirana. Selalu menjaga dan melindunginya ketika Kirana ada masalah.
"Aku anter kamu pulang." Ucap Rendy melembut pada Kirana dan merangkulnya lagi. Kirana hanya mengangguk pelan.
"Aww!" Kirana meringis dan mendesis pelan ketika ingin melangkahkan kakinya dan merasakan pergelangan kaki kanannya sangat sakit.
"Kakimu sakit lagi?" Tanya Rendy sambil menahan tubuh Kirana agar tidak terjatuh. Kirana mengangguk dengan wajah yang menahan rasa sakit.
"Tadi Bu Siska mendorong Kirana sampai Kirana jatuh Pak!" Seru Rossa dengan keras dan seketika membuat Siska melotot kepadanya tapi Rossa melengos tidak peduli dengan pelototan dari Siska. Bodo amat kalau Bu Siska mau marah! Biar tau rasa dia dimarahin sama Pak Rendy! Batin Rossa yang sangat tidak menyukai Siska.
Rendy menatap tajam pada Siska. "Sepertinya kamu sudah tidak menginginkan menjadi sekertaris saya lagi Siska?!"
Siska menunduk dengan menggigit bibirnya merasa ketakutan. Sialan kamu Rossa! Awas aja kamu nanti! Batin Siska mengumpat geram pada Rossa.
"Kebetulan, saya sudah menyiapkan posisi baru untuk kamu diperusahaan ini!" Lanjut Rendy dan kemudian Siska langsung berjalan menghadap Kirana dengan wajah piasnya berusaha untuk menyingkirkan rasa malunya ingin meminta maaf demi agar Rendy tidak memecatnya sebagai sekertarisnya dan memindahkan posisinya diperusahaan ini.
"Pak Rendy, saya mohon jangan lakukan itu! Kirana, maafkan saya ya? Saya terlalu emosi tadi setelah membaca obrolan mereka di grup chat!" Seru Siska yang meminta maaf kepada Kirana.
Kirana terdiam sejenak dan menatap Siska dan rasanya ingin sekali menertawakan si nenek lampir yang terlihat begitu takut dan panik.
Bagaimana tidak panik? Untuk menjadi sekertaris dari President Direktur diperusahaan ini sangatlah tidak mudah. Siska sangat bersyukur dan bangga karena dirinya terpilih menjadi sekertaris Rendy yang membuatnya langsung merasa jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi, Kirana menghancurkan harapannya untuk bisa dekat dengan Bos tampannya ini. Sial!
"Saya akan memaafkan Bu Siska kalau Bu Siska benar-benar tulus meminta maaf kepada saya bukan karena takut dengan ancaman Pak Rendy." Ucap Kirana dengan menahan kekesalannya pada si nenek lampir didepannya ini.
................