
Dua hari kemudian.
Kaki Kirana sudah pulih. Selesai sarapan, dia segera bergegas pergi untuk mendatangi perusahaan tempat Haris bekerja.
Sebelumnya, Bunda Siti sudah memberitahu kepada Haris tentang Kirana yang sedang mencari pekerjaan. Kebetulan, di perusahaan tempat Haris bekerja sedang membutuhkan seorang karyawan di bagian departemen pemasaran.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, Kirana pun menerima tawaran Haris. Yang terpenting baginya, dia bisa mendapatkan pekerjaan di kota ini.
"Pagi, Kirana!" Seru Haris saat melihat Kirana keluar dari rumahnya.
"Pagi juga, kak Haris." Balas Kirana.
"Udah siap berangkat?"
"Siap dong, kak."
"Semangat banget." Haris terkekeh menatap Kirana.
"Harus semangat dong." Ucap Kirana.
"Ya udah, ayo kita berangkat!" Ajak Haris kemudian pamit kepada Bundanya. "Bun, aku berangkat dulu ya!" Teriaknya dan terdengar jawaban dari dalam rumah: "Iya hati-hati!"
Haris segera melajukan motornya dengan memboncengkan Kirana.
"Kita bisa berangkat bareng terus nih tiap hari." Ucap Haris mengajak Kirana berbincang.
"Kan belum tahu aku bakal diterima atau enggak, kak."
"Jangan pesimis gitu dong. Harus semangat katamu."
"Iya iya. Makasih banyak ya, kak." Kirana tertawa.
Haris tersenyum. Dalam hati dia merasa sangat senang jika seandainya bisa selalu bersama Kirana seperti ini.
Sejujurnya, Haris memang sudah menyayangi Kirana sejak Kirana masih kecil. Dan sekarang ini mereka sudah tumbuh dewasa, perasaan Haris pun semakin tumbuh dan serius terhadap Kirana semenjak pertama kali melihat Kirana datang kembali menempati rumah yang dulu pernah menjadi tempat tinggal gadis itu bersama orang tuanya.
Menurut Hais, selain manis dan cantik, Kirana adalah gadis yang sangat ramah juga baik hati.
Setelah hampir dua puluh menit, motor yang dikendarai Haris bersama Kirana telah sampai di parkiran kantor tempat Haris bekerja.
Haris langsung mengantar Kirana untuk bertemu dengan manajer departemen pemasaran.
"Nggak usah takut. Bu Firda, manajer pemasaran di sini meskipun terlihat galak, dia baik kok." Ucap Haris menenangkan Kirana yang terlihat gugup.
"Iya kak. Tenang aja." Kirana berusaha tersenyum.
Tok...Tok...Tok!
Haris mengetuk pintu.
"Masuk!"
Haris mendorong pintu kaca ruangan manajer departemen pemasaran setelah mendengar suara Bu Firda dari dalam. Dia kemudian masuk bersama Kirana.
"O-oh, Haris? Akhirnya, kamu datang juga." Ucap Bu Firda dengan tersenyum ramah.
"Pagi, Bu Firda." Sapa Haris dengan tersenyum ramah juga.
"Ya, pagi. Ada yang ingin saya bicarakan sama kamu." Bu Firda tampak serius.
"Baik, Bu." Jawab Haris lalu menoleh ke arah Kirana. "Ki, kamu tunggu dulu di depan sebentar ya."
Kirana mengangguk dan tersenyum. "Iya, Kak."
Haris menutup pintu ruangan Bu Firda dan duduk di depan meja kerja Bu Firda. "Ada apa ya, Bu?"
"Begini, sebelumnya saya minta maaf. Mengenai teman yang kamu rekomendasikan, belum bisa diterima karena sudah lebih dulu ada yang menempati posisi di bagian penelitian pemasaran. Saya harap, kamu tidak kecewa."
Haris terdiam sejenak, dia merasa bingung sekaligus tidak enak hati pada Kirana karena dirinya sudah meyakinkan Kirana bahkan langsung mengajak Kirana datang ke perusahaan tempatnya bekerja untuk bisa bekerja di perusahaan ini.
"Haris, sekali lagi saya minta maaf. Mungkin dilain kesempatan, jika ada lowongan pekerjaan lagi, saya akan membantu teman kamu." Ucap Bu Firda kembali dengan sungguh-sungguh.
"Oh, tidak apa-apa, Bu. Terima kasih banyak untuk tawarannya. Saya akan coba bicara dengan teman saya." Jawab Haris dan Bu Firda mengangguk. "Kalau begitu, saya permisi dulu."
"Iya, silahkan."
Haris keluar dari ruangan Bu Firda dan menghampiri Kirana dengan wajah lesu dan bersalah.
Kirana tersenyum saat melihat Haris menghampirinya. "Gimana, Kak? Aku nggak diterima ya?" Tebaknya yang melihat raut wajah Haris berubah menjadi lesu tak bersemangat seperti sebelumnya.
Kirana masih tersenyum. "Nggak perlu minta maaf, Kak. Lagipula, ini bukan salah Kak Haris juga. Ya udah, kalau gitu aku pamit dulu ya, kak. Kak Haris kan harus kerja."
"Aku anter kamu sampai ke depan."
...
Di Perusahaan Pradipta Grup.
Rendy sudah mulai melakukan pekerjaannya sebagai seorang pimpinan perusahaan.
Hari ini selain memeriksa dan menandatangani beberapa dokumen, dia juga menghadiri rapat di beberapa tempat hingga malam hari pukul sebelas malam dia baru tiba di rumahnya.
"Baru pulang, Den?" Tanya Bu Sumi menyambut kedatangan Rendy.
"Iya, Bi. Banyak rapat di luar hari ini." Jawabnya sambil melonggarkan dasinya.
"Pasti capek ya, Den? Udah makan belum, Den? Biar Bibi siapin ya?"
"Nggak usah Bi, aku udah makan bareng. Aku mau mandi dan istirahat aja. Bibi juga istirahat. Lain kali nggak usah nungguin aku pulang." Jawab Rendy kemudian segera naik menuju kamarnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.
Selesai mandi, ponselnya berdering.
'Olivia.' Rendy tersenyum saat melihat nama dan foto cantik sang kekasih muncul di layar ponselnya.
"Ya, honey? Gimana kabar kamu?" Tanya Rendy begitu menerima panggilan dari sang kekasih.
"Aku baik. Aku kangen banget sama kamu, Ren." Jawab Olivia dengan suara manjanya.
"Ya udah buruan datang gih."
Terdengar helaan nafas lelah dari ujung telepon. "Ada apa?" Tanya Rendy.
"Aku lagi sedih nih." Rengek Olivia.
"Sedih kenapa? Masalah project kamu?" Tanya Rendy menebak.
"Iya." Jawab Olivia.
"Kenapa?" Tanya Rendy.
"Ada project baru dengan bayaran gede." Jawab Olivia.
"Terus, kenapa kamu sedih? Harusnya seneng dong." Rendy mencoba menghibur meski dirinya bingung kenapa Olivia sedih.
"Aku bingung mau di terima atau tidak?" Olivia meminta pendapat dari sang kekasih.
Rendy mengernyit mendengarnya. Dia tersadar dan mengingat jika project film yang sedang dimainkan Olivia sebentar lagi selesai dan Olivia akan segera datang menyusul dirinya. Tapi, setelah mendengar jika Olivia mendapat tawaran project baru lagi, raut wajah Rendy menjadi berubah.
Tapi, dia tetap berusaha tenang dan menenangkan Olivia. "Kalau menurutmu itu baik dan sangat menguntungkan, ya udah ambil aja. Kenapa harus bingung dan sedih?"
"Tapi Ren, bentar lagi syuting filmku selesai dan aku udah janji sama kamu kalau aku akan nyusul kamu. Kalau aku terima project baru ini, aku nggak jadi nyusul kamu dan kamu pasti kecewa sama aku karena aku ingkar janji." Olivia mengeluh dengan suara terdengar begitu sedih.
Rendy terdiam sejenak lalu berkata, "Kamu terima aja. Kamu nggak harus selalu menanyakan ke aku setiap kali kamu mendapat tawaran yang menguntungkan buat kamu. Semua keputusan juga ada di kamu, Oliv. Kamu itu masih bebas."
Rendy tidak ingin ambil pusing dan dia juga bukan tipe pria yang suka mengatur wanitanya. Selain itu bisa membuat wanitanya senang, maka dirinya juga tidak boleh egois. Lagipula, mereka masih belum menikah. Rendy ataupun Olivia masih tidak berhak mengatur kehidupan masing-masing.
Mendengar ucapan Rendy, membuat Oliva merasa jika Rendy tidak peduli padannya. Bukan ini yang diharapkan Olivia. Tapi, Olivia hanya bisa menghela nafas lelah dan tidak berbicara lagi.
Dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Karirnya di dunia hiburan sedang bagus. Jika dia menerima tawaran ini, dia akan dipromosikan ke beberapa negara untuk menjadi pemeran utama di film-film berikutnya. Ini kesempatan dia untuk meraih impiannya yang sebentar lagi akan segera terwujud, karena kesempatan mungkin tidak akan datang dua kali.
"Hallo, Oliv? Kamu masih di sana?" Panggil Rendy yang tidak mendengar suara kekasihnya.
Rendy tahu, Olivia pasti sedang melamun dan memikirkan ucapannya. Dia sadar dengan apa yang dia ucapkan pada Olivia yang mungkin begitu menohok bagi kekasihnya itu.
Rendy memang sengaja mengatakan bahwa Olivia masih bebas, karena memang di antara mereka belum ada ikatan apapun. Hanya sekedar pacaran. Meski Rendy berharap bisa mengikat Olivia dan menginginkan Olivia selalu berada di dekatnya.
Namun, rasanya tidak mungkin. Dengan pekerjaan Olivia sebagai publik figur yang namanya sudah semakin dikenal banyak orang, Rendy bukan orang yang egois, yang hanya mementingkan perasaannya saja.
Dia sudah mengenal bagaimana Olivia, bagaimana perjuangan wanitanya ini saat mengejar impiannya untuk menjadi seorang bintang terkenal.
Rendy juga harus bisa memahami perasaan Olivia. Tidak baik jika dirinya terlalu mengatur apalagi mengekangnya.
"Kamu pasti marah kan sama aku?" Tanya Olivia.
"Aku sama sekali nggak marah. Ya udah ya, aku capek banget, baru pulang. Aku mau istirahat dulu." Rendy kemudian langsung memutuskan sambungan teleponnya begitu saja, membuat Olivia yang di ujunga sana menghela nafas panjang dan meletakkan ponselnya kembali.
................