Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 128



"Fanny, hey kau baik-baik saja?"


Aku terjatuh dan terduduk kembali di kursi, dengan meremas kedua tangan ku. Aku merasa ketakutan yang hebat kali ini. Entah kenapa aku tidak tahu, Abel begitu terhentak menyentuh tangan ku.


"Fanny, tangan mu begitu dingin. Kamu tenang dulu ya, tarik nafas dalam-dalam. Kamu tenang ya, tenang... Gapapa, ini semua sudah menjadi takdir Tama."


Abel memelukku berusaha menenangkan ku yang sedang gusar. Mulutku bagai terkunci untuk berkata satu hal pada Abel.


"Abel, aku harus bagaimana saat ini?" Tanya ku kemudian setelah Abel terus menggenggam erat tangan ku dan menepuk-nepuk lembut punggung tangan ku.


"Aku, aku pun tidak tahu harus berkata apa. Tapi, sepertinya aku harus kembali ke kota B. Aku ingin mengucapkan bela sungkawa pada Tama, walau bagaimanapun kita pernah menjadi teman dekat."


"Apa aku boleh ikut Abel?"


Abel terperangah dan terdiam akan pertanyaan ku yang reflek keluar begitu saja dari mulutku.


"Ta,tapi... Apakah tidak apa-apa? Karena kau dan Tama..."


"Non, maaf mengganggu. Ada telepon dari tuan Irgy."


Tiba-tiba muncul bibi Asri memberikan sebuah telepon genggam padaku. Membuatku kikuk saat bertepatan Irgy menelpon ku. Ada apa? Hingga ia sampai menelpon ke telepon rumah ini.


"Halo, iya Irgy.."


"Apa kau baik-baik saja sayang, kenapa suaramu terdengar serak?" Jawab Irgy dari ujung ponselnya.


"Aku.. Aku..."


"Sepertinya, kau sudah mendengar kabar itu."


Degh !!!


Aku terhentak mendengar ucapan Irgy, mungkinkah dia juga mendengar atas kepergian Eliez? Aku kian semakin gelisah bertanya-tanya dalam hati.


"Apakah kau..."


"Ya, aku mendengarnya dari rekan kerjaku. Sepertinya kabar duka ini sudah meluas hingga sampai di telingaku. Siapa yang tidak mengenal Ammar dan Eliez? Keluarga Eliez adalah keluarga yang terhormat dan donatur di setiap sekolah."


"Sayang, apa aku boleh berbela sungkawa pada keluarga mereka?"


".........."


Lama Irgy terdiam tanpa jawaban, ku lirik Abel yang sejak tadi mendengar ucapanku. Dia menawarkan diri untuk menjawab telepon Irgy saat ini.


"Halo, tuan Irgy. Saya Abel, saat ini kebetulan sekali saya datang berkunjung untuk bertemu dengan Fanny. Dan kabar ini, Fanny mendengarnya dari ku. Eh tapi bukan aku sengaja, hanya kebetulan saja."


"Bisakah kau menjaga istriku?" Jawab Irgy spontan. Membuat Abel salah tingkah.


"Ma,maksud anda?"


"Walau bagaimanapun, berbela sungkawa pada orang yang pernah di ada di kehidupan kita itu tidak lah di larang. Tapi mengingat siapa Ammar dahulu, bisakah kau menjaga istriku untuk tetap jauh dari pantauan Ammar saat tiba di rumah duka."


"Ba,baik. Saya janji, akan menepati permintaan anda apapun alasannya aku akan selalu melindungi Fanny." Jawab Abel dengan gugup namun nada bicaranya begitu tegas menganggukkan kepalanya seolah sedang berbicara langsung dengan Irgy.


Dengan cepat aku meraih telepon genggam yang saat ini sedang di ambil alih oleh Abel.


"Sayang, apa kau mengizinkannya?"


"Tapi apa kau masih mengingat akan janji kita?" Tanya Irgy padaku.


"Aku mengerti. Aku akan menepati janji kita, tak peduli apapun itu." Jawabku mantap.


"Baiklah, aku akan menutup teleponnya."


Klik !!!


Panggilan berakhir begitu saja.


"Abel, ayo kita segera ke kota A." Ucapku bergegas dengan berdiri, menarik segera tangan Abel. Tapi Abel menghentikan ku, aku menolehnya dengan heran.


"Ada apa?" Tanya ku.


"Fan, kamu yakin?"


"Baiklah, tapi.. Tuan Irgy memintaku untuk menjagamu dan tidak memperbolehkan mu di dekati oleh Ammar."


"Aku mengerti, percayalah.. Aku akan baik-baik saja."


Abel mengangguk dengan tatapan penuh kekhawatiran padaku.


Sampai di dalam rumah kembali, ibu kebingungan melihatku bersama Abel tergesa-gesa melangkah. Tanpa pedulikan tatapan ibu yang keheranan aku menghampiri Pelangi yang sedang bermain dengan Tama kecil sejak tadi.


"Pelangi, ehm.. Mama dan tante Abel akan pergi ke suatu tempat. Pelangi disini bersama oma baik ya," Ujarku pada Pelangi.


"Ok Ma, kakak Tama dicini kan?" Tanya Pelangi menatapku.


"Eeeh..." Ucapanku terhenti melirik ke arah Abel yang tengah berdiri di sebelah ku.


"Tama, temani adik Pelangi bermain. Mami dan tante harus ke kota A, ada urusan penting."


"Tapi mami akan kembali kesini lagi kan?"


"Tentu Nak, nanti mami jemput kamu ya. Jangan nakal, jangan merepotkan oma Pelangi. Ok,"


"Siap mami !!!"


"Tunggu kalian, untuk apa ke kota A?" Tanya ibu ku dengan panik.


"Tante.. Kami, mendapat kabar duka yang tidak terduga sebelumnya. Eliez, istri Ammar meninggal tante." Ujar Abel mengambil alih menjelaskan lebih dulu pada ibu ku.


"Oh Tuhan, bagaimana mungkin?"


"Bunda, Fanny.. Akan ikut Abel untuk berbela sungkawa hadir dirumah duka keluarga Eliez."


"Tidak. Kau tidak boleh pergi kesana, ini tidak baik nak.."


"Tapi bunda, Fanny hanya... Ini murni dari sikap manusiawi. Walau bagaimanapun dulu Ammar pernah menjadi bagian dari hidup Fanny, lagipula.. Irgy sudah mengizinkannya."


Ibu terlihat menghela nafas dalam ketika aku menjelaskan alasan ku, bahkan Irgy menyetujuinya meski aku tau saat ini dia pasti sangat cemas dan khawatir.


"Tante, ada aku yang akan menjaga Fanny. Aku yakin semua akan baik-baik saja, aku juga tau betapa gilanya Ammar hingga saat ini terhadap Fanny. Tapi, kali ini aku yakin semua yang menimpanya tidak akan membuatnya fokus kepada Fanny."


"Tapi..."


"Bunda, percaya pada Fanny kali ini. Bunda yang selalu mengajarkan Fanny bahwa sifat manusiawi apapun rasa pahit yang kita rasa sebelumnya, kita harus tetap menjadi seorang hamba Tuhan yang pemaaf. Tapi Fanny hadir bukan untuk memaafkan semua yang pernah Ammar lakukan, Eliez tidak bersalah bunda."


"Baiklah, baiklah. Kau jaga diri baik-baik, jangan terpancing keadaan apapun itu nantinya. Jika terjadi sesuatu hal yang tidak baik," Ujar ibu ku dengan nafas panjang. Ku lihat dengan jelas ucapannya begitu terasa jika beliau sangat mengkhawatirkan ku.


"Abel, tante titip Fanny. Kali ini tante percaya padamu sepenuhnya, tante percaya kau bisa melindungi Fanny kali ini." Ucap ibu ku kembali menatap Abel dengan cemas.


"Tante... Aku janji, Fanny akan baik-baik saja bersamaku. Tante jangan khawatir ya, dan terimakasih tante mempercayaiku kali ini." Jawab Abel menanggapi.


Lalu kemudian aku dan Abel bergegas keluar rumah hingga di halaman depan, aku mencoba memesan sebuah taxi online. Sedang Abel terus merasa gelisah dan sesekali menatapku dengan ragu.


"Abel, ada apa? Kau selalu gelisah sejak tadi."


"Jujur, aku takut sayang ku." Jawab Abel dengan keringat yang mulai membasahi keningnya.


"Apakah kali ini Tuhan sedang menghukum Tama? Atau, ini karma yang selama ini sedang mengincarnya?"


"Hey, apa yang bicarakan ini? Soal kematian itu sudah menjadi rahasia dan takdir Tuhan, jika hal itu menimpa Ammar saat ini.. Mungkin, Tuhan sengaja memanggil Eliez lebih dulu karena dia adalah orang yang baik. Apa kau pernah mendengar pepatah bilang, orang yang sangat baik akan lebih cepat di panggil oleh Tuhan. Karena Tuhan tidak ingin melihatnya terus berbuat atau di kejar oleh dosanya."


"Aku percaya itu, jika begitu aku tak ingin jadi orang baik. Aku masih ingin hidup lebih lama bersama suami dan anak-anakku nantinya."


"So, kau ingin berubah binal lagi?"


"Sepertinya begitu, bagaimana jika aku menghancurkan saja kehidupan Andi dengan wanitanya sekarang? Aku sungguh merasa cemburu."


"Astaga, apa yang kau pikirkan ini? Sudah lah, jangan ngaco lagi. Ayo, taxi nya sudah mendekat kemari." Jawab ku mengalihkan pikirannya yang konyol itu.


Terkadang, aku memang masih tidak percaya sepenuhnya akan perubahan sikap Abel. Tapi terkadang, dia begitu tulus menunjukkan perubahan dirinya. Ah, entah lah.


Saat ini, aku bahkan belum bisa berpikir dengan benar. Bagaimana aku akan bersikap nantinya saat tiba di rumah duka.


Oh Tuhan, apakah saat ini kau sungguh menghukum Ammar???