Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 291



POV Joe


Dengan wajah lebam dan bengkal, hampir seluruh wajahnya di penuhi dengan perban oleh dokter. Joe melangkahkan kakinya dengan tertatih-tatih setelah turun dari taxi, perasaannya saat ini sudah tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata.


Dia hancur, dia marah, dia benci, dia dendam, dia menyesal, takut, gelisah, semua jadi satu.


Rasanya aku tak ingin hidup lagi.


Ujarnya dalam hati. Lalu memasuki ruangan, tak ada siapapun karena sudah pasti seisi rumah sedang tidur pulas menjelang pagi. Untung saja dia membawa kunci cadangan rumah, karena saat seperti ini itu akan sangat berguna.


Dengan bersusah payah Joe menaiki anak tangga untuk sampai di kamarnya. Satu langkah dua langkah tiga langkah, dia berhenti sejenak. Nafasnya terasa sesak hingga kembali ia melangkah dan melewati kamar Abel.


Sialnya, terdengar suara desahan dan erangan manja dari kamar Abel. Sontak Joe teringat kembali ucapan Exelle tadi, ingin rasanya Joe mendobrak kamar itu. Namun rasanya akan sangat tidak sopan, dia masih berusaha untuk tidak mudah terhasut oleh ucapan Exelle.


Hingga memasuki kamarnya, Joe langsung membanting pintu. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan menatap kosong langit-langit kamarnya.


"Hah, apakah seperti ini rasanya di tolak yang sebenarnya? Apakah sesakit ini perasaan Pelangi saat Maria selalu menempel padaku saat itu? Aku hampir saja tidak bisa menahan sakit ini. Hikzt... Langi, aku mencintaimu. Aku mencintaimuuuuu...!!!" Joe berteriak dan menangis dalam kamarnya.


Joe beranjak bangun lalu dia kembali meluapkan segala emosinya. Dia berteriak, dia meninju sebuah cermin hias yang baru saja di ganti di kamarnya, dan kini kamarnya pun hancur berantakan beberapa barang miliknya ternodai darah di tangannya tadi. Lalu Joe menangis tersedu-sedu menutupi wajahnya, meringkuk duduk di tepi bawah ranjang tempat tidurnya.


Tentu suaranya sampai terdengar ke kamar Abel, membuat Abel menghentikan aktifitasnya dengan sang suami. Dia menyadari jika puteranya baru sampai dirumah. Hanya dengan memakai piyama tidur dengan rambut sedikit berantakan, Abel hendak keluar kamar.


"Sayang, kita lanjutkan nanti. Putera kita sudah datang, sepertinya suasana hatinya sedang buruk."


"Honey, nanggung nih..." Suaminya menahan Abel untuk tidak dulu keluar kamar. Namun Abel mengabaikannya, ia tak ingin puteranya kembali menyakiti dirinya.


"Aaaaaakh... Joe!!!" Teriak Abel ketika dia langsung mendobrak pintu kamar puteranya. Dilihatnya seluruh ruangan yang hancur berantakan dan lagi-lagi ada banyak noda darah dimana-mana. Sementara Joe duduk meringkuk menenggelamkan wajah di kedua lututnya.


"Baby boy mami, ada apa lagi sih? Kenapa kau lagi-lagi mengamuk hah?"


Joe masih terdiam menekuk tubuhnya. Abel berjalan mendekatinya lalu menyentuh pundak Joe.


"Jawab mami, ada apa? Siapa yang membuatmu marah seperti ini lagi?"


"Keluar, Mi. Aku ingin sendiri, jangan terus menanyaiku." Jawab Joe dengan masih terisak tangis menyembunyikan wajahnya.


Abel sedikit meringis melihat darah kental merembes dari setiap ujung jarinya.


"Tanganmu terluka lagi, apa kau tidak kasihan pada anggota tubuhmu ini?" Tanya Abel kembali.


"Aku bilang keluar, Mi. Keluaaar, aku sedang tidak ingin bicara."


"Lihat mami dulu dong. Lihaaat, kau sedang menangis bukan? Apa ini karena Pelangi lagi, hum?"


"........."


Joe terdiam. Namun semakin sesunggukan dalam tangisnya.


"Hah, sudah mami bilang. Kau harus berani berkorban dan berani melakukan satu hal untuk mempertahankan Pelangi disisimu. Apa kau begitu bodoh?"


"Mami!!!" Bentak Joe mengangkat wajahnya.


"Aaaaarght... Joeee, apa.. Apa ini??? Kenapa wajah tampan my baby boy mami hancur begini?" Abel sungguh terkejut lalu berteriak dan panik.


"Sayang, sayaaaang. Cepat kemariii!!!" Abel teriak lagi manggil suaminya yang sejak tadi masih membersihkan diri. Lalu dengan berlari terbirit-birit dengan hanya menggunakan celana boxer dan handuk yang menutupi pundaknya dia memasuki kamar puteranya itu.


"Astaga. Jagoan daddy, ada apa ini? Siapa yang membuamu begini hah, bilang sama daddy." Ayah Joe pun terkejut dan panik.


"Katakan, siapa yang berani merusak wajah tampan anak mami. Heh?"


Joe menatap tajam kedua orang tuanya saat ini, lalu menyeringai dengan sangat sengit di depan mereka.


"Daddy dan mami marah melihatku hancur begini?" Tanya nya kemudian.


"Lalu bagaimana jika ini hasil dari perbuatan anak Mami atau Daddy yang lainnya diluar sana?"


Jleb!!!


Abel terhentak, hatinya bagai tertusuk pisau belati. Seketika sesak dan sakit sekali di rasakannya.


"A,apa maksudmu, Nak?" Tanya ayah Joe. Sementara Abel masih terdiam kaku, wajah dan bibirnya pucat seketika. Sangat mudah bagi Joe menangkap ekspresi ketakutan Abel saat ini.


"Kenapa, Mi? Mami kaget aku bicara seperti ini?" Tanya Joe kemudian.


"A,apa yang kau bicarakan itu.. Joe?" Abel mulai kikuk.


"Apa aku anak haram disini?"


"Joe!!!" Panggil Abel dengan lantang.


"Tidak, siapa yang bilang begitu hah? Kau putera kami, kau anak Daddy satu-satunya." Jawab ayahnya kemudian.


"Jawab Mi!!!" Joe berteriak sembari berdiri menjambak rambutnya sendiri.


Abel berdiri pula dengan menundukkan wajahnya. Sekujur tubuhnya begitu gemetaran, kedua kakinya terasa tak mampu dia berdirikan.


"Nak, sudah. Jangan terus membantah, kau anak kami. Putera kami satu-satunya, jangan pikirkan hal lainnya. Sebaiknya kau istirahat saja, ayo..." Ayah Joe masih berusaha menenangkannya.


"Hentikan, Daddy. Aku mau mami menjawabnya sekarang juga, aku tahu mami menyembunyikan sesuatu dari ku selama ini. Atau jangan-jangan Daddy juga tau tapi sengaja bersekongkol dengan mami, iya?"


Kini ayahnya pun terdiam tanpa berani menjawabnya lagi. Karena nyatanya di dalam hati dia mengakui jika Joe, memang bukan darah dagingnya. Saat itu dia hanya kasihan pada Abel, lambat laun dia benar-benar jatuh hati kepada Abel sehingga mau menerima Joe dan menganggapnya seperti anak sendiri. Abel tidak bisa lagi memberinya keturunan karena di masa lalu Abel terlalu banyak mengkonsumsi obat anti hamil.


"Cukup, Joe. Hentikan!!!" Abel membuka suara.


"Jadi benar, yang Exelle katakan itu." Ujar Joe dengan suara lirih.


Aku sudah menduganya. Jika suatu saat Exelle akan membongkar rahasia ini, dia akan mengungkapkan jati diri Joe dengan nya. Aaarght... Brengsek!!!


"Tidurlah, jangan membahas ini lagi. Mami malas, mami capek. Buang saja semua pikiran konyolmu itu, kau putera mami dan Daddy mu. Tidak perlu penjelasan dan alasan detail lainnya lagi." Jawab Abel dengan marah lalu beranjak pergi meninggalkan Joe begitu saja. Namun baru saja melangkah menuju pintu kamar, Joe berteriak.


"Kalian jahat. Kalian sengaja menyembunyikan ini dariku, kalian orang tua yang tidak bertanggung jawab, kalian egois, kalian hanya ingin bahagia sendiri."


Abel menoleh ke belakang menghentikan langkah kakinya. Lalu kembali menghampiri Joe kembali.


"Lalu apa maumu, Joe? Apa? Jangan membuat mami pusing. Mami tidak mengerti mengapa kau berubah seperti ini hanya karena satu wanita saja. Diluar sana kau bisa mendapatkan seribu wanita yang lebih dari Pelangi."


"Cih, apakah mami memintaku mengikuti jejak mami di masa muda dulu, begitu?"


"Joeee..."


Plak!


Diluar kendali Abel telah menampar pipi Joe, sontak suami Abel terkejut dan menarik tangan Abel untuk menjauh dari hadapan puteranya itu. Abel terhempas mundur satu langkah.


"Akhirnya mami menjawabnya. Apakah laki-laki yang datang saat sebelum aku mengalami koma, adalah bagian dari masa lalu mami?"


"Kyaaaaaaaaa... Kau memang anak nakal, tidak tahu di untung, berani-beraninya kau menghina mamimu sendiri, kau tidak sopaan, apa begini caramu membalas budi pada mami yang mengandungmu, bertaruh nyawa melahirkan mu hah?"


Abel berteriak sembari mengamuk hendak menjambak dan memukuli tubuh Joe. Namun terhalangi oleh tubuh suaminya yang tinggi besar merangkul tubuh Joe untuk tidak tersentuh oleh Abel, maminya sendiri.


Kini Abel terus saja mengamuk tanpa henti berteriak layaknya orang gila. Joe menangis dalam dekapan ayahnya. Ingin sekali dia membalasnya namun rasa kecewa yang dia alami saat ini, rasa sakit yang dia rasakan membuatnya tak mampu lagi mengungkapkan dengan amarahnya.


Kenapa, kenapa harus Exelle... Kenapaaa? Lalu aku harus apa saat ini, harus apa?"


Bathin Joe seakan tersiksa tak tertahankan lagi. Abel pun tak mau mengalah, walau hatinya pun merasakan sakit dan kecewa yang sama. Bertahun-tahun dia merahasiakan ini semua dengan sempurna tanpa celah sedikitpun, sejak bertemu Exelle seketika semua hancur berantakan.