
Tiba dirumah duka, aku masih enggan melangkah masuk menapaki halaman rumah yang begitu megah. Ini hampir sebanding dengan rumah mama dan papa Irgy, pikirku.
Begitu banyak kerumunan orang yang berlalu lalang di depan sana. Aku semakin gemetar, tubuhku terasa tergoncang hebat.
"Fan, jika kau ragu..."
"Abel, bagaimana kau tahu alamat rumah ini?"
"Yaelah.. Kau ini mencurigaiku atau apa? Aku di beritahu teman-teman ku di group. Tapi jika kau ragu, aku saja yang masuk ke dalam. Kau bisa menunggu disini saja, hem..." Ucap Abel dengan lembut sembari memapahku.
"Aku, aku takut jika Ammar melihatku nantinya."
"Lalu tekadmu datang kemari untuk apa? Bukan kah tadi kau begitu tegas jika kau hanya ingin berbela sungkawa pada keluarga Eliez?"
Aku mengangguk pelan. Dan tanpa sengaja kedua mataku tertuju pada sosok lelaki yang tak asing lagi bagiku, aku menghentikan langkah Abel yang menarik tanganku berjalan lebih dulu di depanku.
Abel menoleh kembali ke belakang, ketika tatapan ku mulai fokus menatap ke depan ketika kedua mata kami bertemu dengan sosok lelaki itu.
Dengan setengah berlari di menghampiri dan berdiri tepat di depanku tanpa kata.
Abel mulai kebingungan akan sikapku, saat air mata mulai membendung.
"Kevin, aku..."
Tanpa mendengar ucapanku selesai Kevin sudah memeluk tubuhku dengan erat. Entah kenapa aku justru merasa Tuhan telah mengirimkan seorang malaikat yang akan ku jadikan benteng perlindungan.
Aku menangis sesunggukan di pelukan Kevin, ada perasaan bercampur aduk yang bergemuruh dalam hatiku. Seharusnya aku tidak begini dalam pelukan Kevin, tapi bagiku saat ini.. Kevin adalah pengganti kehadiran kak Rendy yang akan selalu melindungiku.
"Jangan menangis lagi, aku disini bersamamu." Ujar Kevin setelah melepas pelukannya dan menyentuh kedua pipiku dengan tangannya yang selalu lembut.
"Hey bung, siapa kau ini? Main peluk istri orang segala..." Tiba-tiba Abel mendorong tubuh Kevin dengan sedikit kasar.
Kevin mengernyit menatap ke arah Abel.
"Eh, Vin. Maaf, dia.. Dia Abel, dia tidak bermaksud kasar. Dia hanya.."
"Abel? Tunggu, dia wanita penyebab kau putus dengan Ammar dulu kan?"
Oh my God, Kevin... Bicaramu...
"Fanny, jadi kau pernah menceritakan aku seburuk itu?" Tanya Abel dengan wajah sedih menatapku.
"Eh, tidak tidak. Tidak begitu, lagi pula itu masa lalu. Kau yang saat ini tidak lagi seburuk itu," Jawab ku dengan salah tingkah meraih tangan Abel dalam genggaman ku.
Abel mengangguk pelan.
"Kevin, aku tidak bisa menceritakan semuanya hari ini. Tapi yang jelas, Abel dengan ku sudah berteman baik beberapa bulan yang lalu."
Kevin menatap Abel kembali dengan serius.
"Fan, elu selalu di kelilingi laki-lak tampan. Busyet dah, mau juga gue mah. Tapi sepertinya, aku tidak asing dengan namanya. Tama pernah menyebutnya di depanku." Bisik Abel di telingaku, aku menolehnya cepat dengan terkejut.
Abel mengangguk mantap, seolah dia mengerti akan ekspresi wajahku yang menyimpulkan tanya.
"Fan, sebaiknya... Jangan masuk ke dalam. Keadaan sedang buruk," Ujar Kevin menyela.
"Buruk?" Tanya ku dengan Abel spontan bersamaan. Membuat Kevin kembali terkejut akan sikap kami berdua.
"Nia sedang di dalam, dia mengabariku jika kondisi kedua orang tua Eliez begitu shock, mereka tidak terima akan kepergian Eliez. Sehingga mereka melarang Ammar untuk berada di dekat jenazahnya."
"Oh my God, Tuhan benar-benar menghukummu kali ini Tama." Ucap Abel menghembuskan nafasnya begitu panjang.
Oh Tuhan... Ini akan semakin rumit. Entah bagaimana kondisi Ammar saat ini, semoga ini akan membuatnya mengerti dan berubah setelah ini.
"Jadi, aku minta sebaiknya mau menunggu disini saja. Mungkin kau bisa bersikap biasa saja di depan keluarga Eliez, tapi bagaimana jika Ammar mengetahui hal ini lalu menggila di hadapan keluarga Eliez? Apa kau bisa membayangkannya?" Ucap Kevin kembali.
"Baiklah, aku menunggu disini saja." Balasku.
Setelah Abel melangkah maju untuk memasuki rumah duka, di depan sana telah berdiri seorang wanita setengah baya. Ku lihat Abel begitu dekat dan akrab hingga berkali-kali memeluknya.
"Tante, astaga. Tante Lina, kau masih mengingatku bukan? Aku Abel."
Di sisi lain Abel menyapanya.
"Astaga, Nak. Kau apa kabar? Kau begitu lama menghilang, apakah kau datang kemari untuk Ammar?"
"Aku baik tante. Iya, aku begitu terkejut dan langsung kemari untuk menemuinya. Tapi, tante kenapa di luar?" Tanya Abel.
"Pemakaman akan segera di langsungkan sebentar lagi. Sedangkan Ammar, entah dimana dia saat ini. Tante sangat khawatir. Tapi kau dengan siapa datang kemari?" Tanya ibu Ammar.
"Ehm, aku.. Aku bersama.. Fanny tante, tapi aku melarangnya masuk ke dalam. Karena situasi di dalam, apakah benar seburuk itu?"
"Dimana nak Fanny sekarang, tante ingin bertemu dengannya. Tolong antarkan tante menemuinya sekarang juga."
Abel gelagapan akan sikap mama Ammar yang seolah terguncang ketika mendengar nama Fanny. Abel kebingungan sementara aku harus melindunginya dari segala resiko apapun itu.
Dan di lain tempat, Kevin masih menatapku dengan pilu. Mengusap sisa air mata yang membasahi pipiku sejak tadi, aku tersenyum tipis menatapnya.
"Nak Fanny, akhirnya... Tuhan memberikan kesempatan aku bertemu kembali dengan mu nak. Huhuhu..."
Tiba-tiba datang wanita setengah baya yang ku lihat tadi memelukku, merangkul ku dengan tangis sesunggukan. Aku terkejut bukan main, begitu juga dengan Kevin. Abel salah tingkah tak mampu berkata di belakang wanita ini.
"Nak, ini tante Lina. Apa kau mengingatnya?"
Degh !!!
Dia mama Ammar. Oh Tuhan...
"Tan-te.." Ucapku tertahan karena mama Ammar terus saja memelukku berkali-kali.
"Maafkan tante nak, maafkan tante... Semua yang telah kau lalui saat itu pasti sangat menyakitkan, pasti sangat melukaimu. Maafkan anak tante, maafkan tante telah gagal mendidiknya jadi laki-laki yang baik." Ujarnya lagi dengan isakan tangis bersimpuh di bawahku. Membuatku ketakutan akan sikapnya ini.
"Tante, tante... Pliss jangan begini, tante ayo bangun. Jangan lagi membahas masa lalu tante, Fanny sudah memaafkan dan melupakan semuanya." Jawab ku memapahnya untuk kembali berdiri.
"Tidak nak, tidak.. Tuhan pasti sedang menjatuhkan hukumannya yang adil akan sikap anak tante dulu. Tapi, kenapa Tuhan tega pada cucu tante exelle. Dia masih begitu kecil dan butuh kasih sayang seorang ibu."
Aku tidak tega mendengar tutur katanya bersama tangisan pilu di depan ku. Apakah Tuhan begitu murka hingga seorang ibu yang begitu tulus dan baik sepertinya ikut merasakan sakit seperti ini?
Tanpa sadar aku menitikkan air mata, begitu juga dengan Abel yang menatap kami dengan kaku.
"Eh, tante. Pemakaman akan segera berlangsung, ayo kemari dulu." Ucap Kevin memapah mama Ammar. Ketika terlihat beberapa orang membawa sebuah peti jenazah keluar dari rumah mewah tadi.
Saat tiba di depan kami, seorang anak kecil menyeru memanggil dengan sebutan nenek. Dia terus meronta memanggil kata nenek dalam dekapan seorang wanita setengah baya.
"Exelle, cucu nenek..." Ujar mama Ammar dengan isakan tangis dan menghampirinya.
Tak terduga, wanita setengah baya yang menggendong anak tersebut mendorong keras tubuh tante Lina hingga terjatuh. Beberapa orang yang menyaksikan nya berseru dan saling berbisik dengan tatapan hina.
"Jangan sentuh cucu ku, kau ibu yang bejat. Sama seperti putera kesayangan mu itu, menjauhlah dan jangan pernah mencoba hadir di pemakaman puteri kami." Teriak wanita itu.
Dengan cepat aku dan Abel bergerak memapah untuk membantu tante Lina berdiri kembali di tengaj kerumunan orang. Aku hendak menyahuti ucapan kasar wanita itu, namun Kevin menahan pundakku dari belakang. Aku mengurungkan niatku, menahan diri untuk tidak berkata satu apapun.
Sementara tangisan pilu anak kecil yang di dekapnya terus berteriak memanggil nenek. Hatiku bagai tersayat mendengar teriakan tangisnya, mama Ammar semakin menderu tangisannya.
Oh Tuhan, seharusnya aku tidak disini bukan? Suasana macam apa ini? Apa kau sengaja menunjukkannya di depan mataku secara langsung?
Aku tidak tahan...