
Joe menyapa ketiga sahabat Pelangi seperti biasa pagi ini, seolah tidak terjadi sesuatu diantara mereka. Pelangi yang sejak tadi ceria menyapa dan berbincang dengan ketiga sahabatnya, mendadak berubah dingin.
"Pa-gi." Sapa Joe kemudian melirik ke arah Pelangi dengan canggung. Tapi, Pelangi menanggapinya dengan senyuman tipis. Ini mengundang tanya diantara ketiga sahabatnya.
"Ehhem, bagaimana liburan kalian? Wah, pasti kalian puas berkencan berduaan tanpa ingat waktu, di tambah lagi orang tua kalian yang sudah merestui hubungan kalian. Kyaaaa... Aku geli membayangkannya saja, hihi." Lisa mulai memecah kecanggungan diantara mereka.
"Joe!!!" Panggil seorang wanita yang tak lain Maria, berjalan dengan gaya lekuk tubuhnya menghampiri Joe kemudian merangkul lengannya.
"Gila, apakah sesuatu telah terjadi???" Bisik Jeni menyenggol lengan Lisa.
"Princess Cold, siapa dia? Kenapa begitu genit pada pacarmu?" Tanya Lisa pada Pelangi dengan suara lirih.
"Maria, aku sudah bilang pulang saja." Ujar Joe menegurnya.
"Ih, ini hari terakhir aku di Indonesia. Besok aku sudah harus kembali ke LN, biarkan aku menikmati suasana sekolah mu." Jawab Maria dengan senyuman nakal.
Pelangi menyumbingkan ujung bibirnya. Baginya, pemandangan ini sudah bukan hal yang mengejutkan lagi.
"Oh My God, Pangeran ku... Siapa dia? Ih, genit sekali. Dan kau, oh waow. Ada apa dengan kumis mu itu hah, kau apakan? Kenapa menghilang?" Lucas mulai berceloteh menghujaninya dengan pertanyaan, meraba wajah Joe dan menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Hei, kau. Ih, jangan menyentuhnya begitu. Kau laki-laki bukan?" Maria menepis tangan Lucas dengan sedikit kasar.
"Maria, pulang lah. Jangan membuatku marah lagi, kau sudah berjanji." Joe melepaskan lengan tangannya dari rangkulan Maria, lalu Maria mendecak kesal.
"Joe, apa-apaan ini?" Bentak Lisa dengan nada lantang.
"Sa, sudah lah. Ayo ke kelas, ayo Jen, Luc..." Ajak Pelangi mengalihkan ketiga sahabatnya untuk tidak pedulikan kehadiran Joe dan Maria.
"Tunggu, bilang sama gue apa yang terjadi pada kalian selama liburan sekolah?" Jeni menahan bahu Pelangi yang hendak melewatinya untuk pergi ke kelas.
Pelangi sedikit takut, namun sebisa mungkin tetao tenang. Ia tidak ingin Jeni berbuat kasar untuk membelanya jika tahu Joe dan Maria begitu dekat sehingga Pelangi memutuskannya.
"Jen, ayo lah. Tidak ada yang terjadi,"
"Princess cold, katakan pada kami ada apa???" Lisa kembali bertanya dengan melipat kedua tangannya di atas perutnya.
"Oh my God, panggilan apa itu? Heh, itu terlalu manis untuknya." Ucap Maria mencibir.
"Aku dan Joe sudah putus." Jawab Pelangi tegas setelah ia menarik nafasnya dalam-dalam lebih dulu. Ia tatap wajah Maria dengan tajam.
"So what???" Sontak Lisa dan Lucas bersamaan menatapnya dengan wajah terkejut.
"Itu tidak benar. Aku tidak pernah mengiyakan kita akan putus begitu saja, Langi." Bantah Joe.
"Brengsek!" Umpat Jeni lalu kemudian menarik kerah leher Joe dan menatapnya dengan penuh amarah.
"Apa yang kau lakukan padanya hah? Aku tahu siapa Pelangi, dia tidak akan mudah memutuskan hubungan dengan mu jika kau tidak memulainya."
"Jen, jangan. Jangan lakukan apapun, ini di sekolah." Titah Pelangi dengan panik.
"Princess cold, sebaiknya kau jangan menghalangi Jeni. Biarkan kami mengurus ini semua." Bantah Lisa dengan nada marah.
"Iih, kasihan pangeran ku." Lucas merengek mundur satu langkah.
"Hei, kau. Kasar sekali, lepaskan tangan mu dari Joe. Atau aku akan teriak," Maria menarik-narik tangan Jeni untuk melepaskan cengkramannya dari kerah leher baju Joe. Sementara Joe hanya pasrah, dia tahu semua ini akan terjadi. Para sahabat Pelangi tentu akan marah jika mendengar hal ini.
"Diam kau, kuyang." Bentak Jeni pada Maria. Maria meringkuk di belakang tubuh Joe.
"Jen, dengarkan aku dulu. Ini hanya salah paham saja, ini masalah kami. Jangan ikut campur, aku tidak bermaksud menyakiti Pelangi. Kau tahu itu, aku tidak mungkin menyakitinya."
"Tapi kau membuatnya kecewa," Jawab Jeni menggertakkan giginya.
"Jen, lepasin dia." Titah Lisa dengan cetus.
"Sa, biarin gue memberinya pelajaran."
"Jen, lepasin dia gue bilang!"
Jeni menurut, meski dengan tatapan heran pada Lisa. Pelangi menghela nafas lega kemudian, melihat Jeni meregangkan cengkramannya lalu mundur satu langkah dari hadapan Joe.
Diluar dugaan, Lisa menampar wajah Joe. Membuat semua tercengang hingga mematung.
"Hai, kau. Gadis gila, apa yang kau lakukan barusan hah?" Maria mendorong Lisa kemudian hingga sedikit tersungkur.
Seakan tak mau kalah, Lisa menjambak rambut ikal Maria yang tertata rapi sejak tadi. Yang sengaja ia tampilkan secantik mungkin untuk menarik perhatian Joe.
Maria berteriak memohon ampun, sementara Joe dan Jeni berusaha melerai mereka yang saling bergulat. Pelangi masih berdiri terpaku menyaksikan Joe yang terlihat sedang melindungi Maria dan amukan Lisa yang di susul oleh Jeni hingga dress mini yang di kenakannya robek di bagian dadanya. Dengan sigap Joe menutupinya dengan tas rangsel yang ia selalu kenakan ke sekolah. Maria menangis tersedu setelah merasa kalah dan di permalukan.
"Joe, kenapa kau berteman dengan para gadis gila serta norak seperti mereka???""
"Hei, kau mulut berbisa. Coba katakan lagi?" Bantah Jeni hendak memberikan perlakuan kasar pada Maria. Dan ini membuat Joe kesal akan perlakuan mereka, sementara Pelangi hanya diam seolah menikmati pemandangan ini.
"Langi, kenapa kau hanya diam? Bantu aku jelaskan pada mereka sayang. Kita gak benar-benar putus kan?"
"Joe, apa yang kau katakan itu? Jangan berharap lagi pada gadis bodoh itu." Maria menegur nya dengan nada lantang setelah mendengar Joe demikian.
Pelangi menyeringai melempar tatapan mematikan pada Maria lalu bergilir pada Joe. Mereka tampak kikuk dan bibir Joe terlihat jelas gemetaran.
"Kau ingin aku menjelaskan apa pada mereka, Joe?"
"Dan kau, Maria. Sebaiknya kau simpan baik-baik segala umpatan mu itu padaku. Karena sebentar lagi, umpatan itu akan tertuju padamu."
"Kau..." Ucap Maria dengan menunjukkan jari telunjuknya pada Pelangi.
"Hah, ayo kalian. Sudah puas bukan bermain dengan mereka? Ayo kita masuk kelas, jangan lagi mengotori tangan kalian untuk orang seperti mereka."
Pelangi merangkul ketiga sahabatnya untuk kembali berjalan melewati halaman sekolah, meski Lucas masih sesekali menoleh dengan rengekan manja ke arah Joe.
"Langi!!! Kau sungguh egois. Kenapa kau masih saja menyalahkan ku dalam hal ini, bagaimana dengan kau dan cowok itu hah?" Joe meneriaki Pelangi dari belakang. Membuat langkah Pelangi terhenti seketika, lalu menoleh kembali ke belakang.
"Cowok? Maksudmu Ex?" Tanya Pelangi menebaknya tanpa ragu.
"Cih, kau pun masih mengingat namanya." Jawab Joe dengan membuang muka.
"Kau dengar kan Joe, dia tidak pantas menjadi pacarmu. Dia bukan gadis baik, dan Ex playboy. Mereka cocok bukan?" Ucap Maria seoalah ingin membuat Joe semakin marah.
Pelangi melangkah kembali menghampiri Joe dan Maria. Maria sembunyi di balik punggung Joe, wajah Joe tampak memucat.
Bugh!!!
Sebuah pukulan keras mengenai wajah Joe hingga ujung bibirnya berdarah dan Joe jatuh tersungkur. Ya, Jeni lebih dulu maju lalu melempar satu tinjuan mengenai wajah Joe.
"Aaakh, Joe. Joe, are you oke honey?" Maria panik mencoba membangunkan Joe.
Pelangi terkejut, ia hendak menolongnya namun di tahan oleh Jeni. Pelangi menampilkan ekspresi memohon, Jeni tetap menggelengkan kepalanya.
"Sory, Joe. Sepertinya tangan gue sudah gatal untuk tidak melukai wajah tampan yang selalu elu banggain itu. Dan ku rasa itu cukup mewakili jawaban yang akan Pelangi lontarkan." Ujar Jeni dengan menggertakkan giginya.
"Hahaha, Jeni... Sayang ku, aduh.. Joe, sebaiknya elu pulang dulu deh. Urusin tuh luka elu, sekaligus mandiin juga bayi lu di samping itu. Jangan lupa kasih mimik cucu, supaya berhenti rewel begitu." Lisa terbahak-bahak meledek Joe dan Maria.
"Hah, kalian memang terbaik." Ucap Pelangi memuji merangkul Jeni dan Lisa.
"Kau berubah Pelangi, kau liar seperti mereka."
"Oh ya? Hmm... Tapi sepertinya, disini kau yang berubah Joe. Kau seolah menjadi hewan peliharaan yang menurut, dan aku jijik melihat sikapmu yang seperti itu. Yaaah, mungkin memang aku bodoh. Seperti yang selalu Maria lontarkan padaku. Bodoh karena terlambat mengetahui sisi lemah mu ini."
"Jadi selama ini apa kau sungguh mencintaiku, Langi? Kenapa kau begitu terlihat membenciku dalam waktu sekejab mata."
"Sebaiknya kau tanyakan saja hatimu, Joe." Jawab Pelangi cetus. Kemudian berbalik badan kembali menuju kelas mereka.
"Joe, come on. Kita pulang saja, kau harus obati lukamu itu." Maria membantu Joe berdiri.
"Semua karena mu, Maria." Ucap Joe menepis tangan Maria.
"Joe, berhenti selalu menyalahkan ku."
"Lalu siapa yang salah? Semenjak kau datang ke Indonesia semua kacau." Ujar Joe sembari berjalan melewati Maria, meninggalkannya begitu saja. Maria berlari mengejar langkah Joe hingga mereka akhirnya kembali memasuki mobil berlalu pergi begitu saja.