
Exelle merubah ekspresinya yang sejak tadi selalu tertawa nakal untuk meledek Pelangi, yang kini menatapnya lebih tajam dan...
Keplakkk!!!
Pelangi melempar salah satu snack berukuran besar ke arah Exelle yang kini berdiri berhadapan dengannya. Exelle sedikit menutupi wajahnya untuk menghindar walau tetap mengenai tubuhnya.
"Kau sudah puas menertawaiku?"
"Hah, baiklah. Aku tidak akan tertawa lagi, kali ini aku akan serius. Dasar, kau sungguh galak, tapi kenapa aku tetap suka ya?"
Pelangi kembali melototinya.
"Iya iya, ampun. Huh, kau sangat menyeramkan. Ehm, Mery baik. Dia sangat baik, memang sedikit manja karena dia hanya anak tunggal. Dan setahu ku, sejak lahir dia sudah bergelimangan harta. Jadi wajar bukan, sifatnya selalu seenaknya dalam berbicara. Saran ku, jangan terlalu ambil hati tapi pada cowok yang selalu mengaku pacar mu itu, kau justru juga harus teliti juga berhati-hati."
"Dia memang pacar ku."
"Aku tidak peduli. Karena aku bisa menjamin juga memastikan suatu hari kau akan menjadi pacar ku, apapun halangan dan rintangannya, hehe." Jawab Exelle dengan menyumbingkan bibirnya.
"Jadi, Maria apa sungguh sebaik itu?"
"Heem, itu dulu. Saat kita di bangku SMP, tapi Mery yang ku perhatikan malam tadi. Sepertinya, dia juga menyukai cowok kasar itu."
"Namanya, Joe. J-O-E, kau dengar itu?" Pelangi memoncongkan bibirnya menjabarkan huruf demi huruf nama Joe pada Exelle.
"Bisakah kau juga memanggil namaku dengan baik dan benar seperti kau menyebut namanya?"
"Tidak mau, dan tidak juga ingin. Minggir, aku mau lewat."
"Gak mau, aku masih ingin melihatmu."
"Kau mau aku melemparmu lagi?"
"Aku rela,"
"Kau..."
"Ternyata disini, duh Pelangi... Mama bingung mencarimu sejak tadi, mama pikir kau pergi kemana."
"****** gue, mama..." Dengan pelan Pelangi menggerutu serta kikuk. Sebab Exelle masih berdiri di hadapan Pelangi menahan troly nya.
"Ma-ma, hehe. Pelangi disini kok, Ma. Tadi lagi cari snack buat Rafa dan Rafi,"
"Wah, kau memiliki adik kembar? Dan dia mama mu? Woah, ku pikir kakak mu." Tanya Exelle menyela dengan mendekatkan wajahnya ke samping Pelangi, mulutnya membulat bentuk O setelah melihat ku menghampiri Pelangi.
"Dasar cowok gila, bisa gak sih pergi aja. Dan dia mama ku, bukan kakak ku." Bisik Pelangi dengan menggertakkan giginya.
"E,eh.. Pelangi, teman mu?" Tanya ku dengan heran. Sebab dia anak laki-laki seusia Pelangi dan wajahnya sedikit familiar bagiku.
"Bu..."
"Halo tante, aku Exelle. Teman Pelangi, khususnya calon pacar, hehe." Tanpa menunggu Pelangi berbicara kembali, Exelle menghampiri lalu berjabat tangan dengan ku. Tunggu, senyumannya manis. Tapi entah kenapa ada rasa sakit dan gelisah ketika aku menatap kedua mata anak ini. Sikapnya dan tutur katanya begitu berani menyampaikan diri pada ku, sebagai ibu Pelangi.
"Hahaha, kau lucu sekali, Nak. Ehm, panggil saja tante Fanny, aku ibu nya Pelangi."
"Cih, dasar menyebalkan." Ujar Pelangi membuang muka di belakang Exelle.
"Dia bukan teman Pelangi, Ma. Kami hanya tidak sengaja bertemu saat itu di mall, dia berlarian di kejar oleh teman-temannya kemudian dia jatuh menindihku. Dan dia juga pernah membuat onar di kantin sekolah, dia menyebalkan kan, Ma?" Jelas Pelangi dengan wajah cemberut, bibirnya sedikit manyun melirik Exelle yang mati kutu kemudian.
"E,eh.. Enggak tante, ini tidak seperti yang anak tante ceritakan. Astaga, cewek galak. Jangan begitu dong, jangan merusak reputasiku di depan mertua."
"Katakan sekali lagi, aku akan menghajarmu." Ancam Pelangi.
"Hehe, maaf tante. Maaf, anak tante sungguh galak."
"Hahaha, maafkan sikapnya yang sedikit dingin. Biasa, perkara perempuan setiap bulan." Bisik ku pada anak itu.
"Ups, aku paham soal itu tante. Hihi,"
"Ih, mama... Apaan sih, jangan membuatnya berharap lebih agar aku menerimanya sebagai teman." Pelangi mendecak kesal melihatku bersenda gurau kecil dengan Exelle.
"Sudah ah, ayo kita ke kasir dulu. Setelah itu kita masih akan belanja lainnya lagi, ehm.. Nak Exelle, tante dan Pelangi duluan ya."
"Eh tante, boleh ikutan belanja bareng gak?"
"Iih, apaan sih? Enggak boleh, Ma. Awas ya sampai mama izinin, Pelangi marah."
Aku memiringkan bibir ku ketika Pelangi mengancam demikian, sementara Exelle memasang wajah melas penuh harap. Ku pikir dia tidak bermaksud apa-apa, dia hanya berusaha ingin menjadi teman puteri ku, Pelangi. Ya, sebagai ibu tentunya aku tidak boleh bersikap menurut pada Pelangi.
"Ehm... Apa kau sendirian saja, Nak?"
"Iya, tante. Aku sudah biasa belanja segala kebutuhan yang ku inginkan sendirian, karena aku tidak punya orang tua."
Degh!!!
Mendengarnya berkata demikian entah ada apa dengan hatiku, aku ingin menangis. Sungguh malang, di balik sikapnya yang selalu cerita dan bertingkah konyol seperlrti tadi, ternyata dia seorang anak yatim tanpa ayah dan ibu.
Tampak Pelangi juga terkejut sepertinya, dia pasti belum tahu hal ini dari Exelle.
Bathin Pelangi bergumam...
Apa? Dia tidak memiliki ayah dan ibu, mungkinkah dia... Lucky? Ah tidak mungkin, namanya Exelle. Aku tidak mungkin tidak mengenali Lucky. Ya, dia bukan Lucky. Tapi kenapa dia bilang tidak memiliki ayah dan ibu???
"Kemana mereka? Lalu dengan siapa kau tinggal saat ini?"
"Aku tinggal dengan kakek dan nenek ku sejak kecil, karena ayah dan ibu ku sudah lama meninggal karena kecelekaan."
"Ups, maafkan tante Nak. Telah menyinggung kesedihan untukmu,"
"Ayo lah, tante. Aku sudah terbiasa, aku baik-baik saja. Jadi, apakah aku boleh menemani tante berbelanja?" Tanya nya kembali. Aku jadi tidak tega menolaknya, begitupun Pelangi. Sepertinya dia melemahkan kekesalannya setelah mendengar Exelle menjelaskan jati dirinya.
Pelangi menatapku dengan isyarat anggukan.
"Baiklah, ayo..."
"Yes!!! Terimakasih tante." Jawab nya dengan tersenyum ceria kembali. Lalu kemudian meraih troly di tangan Pelangi.
"Sini, cewek galak. Aku saja yang mendorongnya, nanti tangan mu lecet. Hehe,"
"Dih, dasar gila. Lebay tau gak?" Pelangi kembali bersikap cetus.
Aku hanya menggelengkan kepala melihat mereka yang sejak awal sepertinya memang tidak pernah berdamai.
"Hah, terimakasih Tuhan ku. Akhirnya aku bisa lebih lama bersama dengan cewek yang ku sukai saat ini,"
"Heh, bisa gak jangan selalu mengucapkan hal itu di depan ku?" Ujar Pelangi menegurnya saat berucap tadi.
"Memangnya salah, aku kan sudah bilang sejak awal kita bertemu. Aku menyukaimu, sejak saat itu aku juga tidak bisa berhenti memikirkan mu. Kau terus saja membayangi kedua mataku, sampai aku sulit tertidur."
Pelangi sedikit tercengang, dia salah tingkah dan kikuk, dalam hatinya berkata jika Exelle sungguh lebih menggila dari sikap konyol Joe padanya selama ini.