
Rendy terus menarik Kirana hingga masuk kedalam lift turun kelantai dasar yang merupakan basement parkiran mobil.
"Mas, lepasin! Sakit!"
Rendy hanya sedikit melonggarkan genggaman tangannya saja, tidak melepaskannya. Ada Beni yang langsung keluar dari mobil menatap kearah Rendy dan Kirana.
Dia hanya sedikit bingung, karena tadi Rendy masuk kedalam Mall bersama. adiknya. Tapi, kenapa keluar menggandeng Kirana? Lalu dimana Nayla?
Rendy membukakan pintu mobil untuk Kirana. Dia mendorong pelan Kirana agar masuk kedalam mobil. Tapi Kirana menahan dan tidak mau masuk. "Mas! Aku lagi belanja bulanan! Kamu kenapa sih? Dari semalem nggak ada kabar, tiba-tiba nongol dan marah nggak jelas gini?!" Kirana bicara dengan wajah marah.
Beni yang menyaksikan mereka hanya menghela nafas. Sudah lama sekali tidak melihat mereka bertengkar seperti ini. Dia merasa heran.
Suara Kirana yang terdengar keras menarik perhatian beberapa orang disana yang terus memperhatikan kearahnya.
Rendy menghela nafasnya dalam-dalam kemudian memaksa Kirana masuk kedalam mobil. "Masuk!"
"Nggak! Aku masih mau belanja!" Kirana menolak dan mendorong Rendy kesamping kemudian pergi.
Tapi baru selangkah berjalan, Rendy meraih tangan Kirana dan menarik paksa Kirana hingga Kirana jatuh tersungkur kedalam jok mobil. "Aawh! Mas! Kamu kasar banget sih?!" Pekik Kirana sambil bangkit duduk dan masih berusaha ingin keluar dari mobil.
Rendy masuk dan menahan Kirana kemudian menutup pintunya disusul dengan Beni yang masuk dibagian kemudi. "Jalan Ben!"
"Eh tunggu! Aku nggak mau!" Kirana memberontak dan meminta turun.
"Bos, Nona Nayla?" Tanya Beni sambil melajukan mobilnya.
"Kamu anter aku dulu ke apartemen, setelah itu kamu balik lagi temeni Nayla belanja." Ucap Rendy sambil mengambil dompet disaku celananya lalu mengambil kartu ATM miliknya dan menyodorkan ke Beni. "Ini, berikan ke Nayla."
Beni menerimanya dan langsung menyimpannya disaku jaketnya.
Sejujurnya, Beni enggan kalau harus bertemu dengan Nayla. Nayla merupakan gadis yang paling bawel dan cerewet yang pernah dia ditemui. Ini malah Rendy memintanya untuk menemaninya belanja? Beni menghela nafas pelan mencoba menenangkan hatinya sendiri.
"Kamu bener-bener keterlaluan Mas!"
"Kamu yang keterlaluan! Kamu jalan sama laki-laki lain pake gandengan tangan segala, apa maksudnya? Itu sama aja kamu selingkuh Ki!" Ucap Rendy dengan emosi.
Kirana mengatupkan bibirnya. Dia hampir lupa kalau Rendy akan sangat marah saat tau dirinya bersama Haris. Tapi, Kirana juga tidak bisa menjauhi Haris hanya karena Rendy cemburu.
Lagi pula, Kirana hanya menganggap Haris sebagai kakaknya, tidak lebih. Dan selama ini Harislah yang selalu menghiburnya disaat Rendy tidak ada kabar setelah kecelakaan itu.
Meskipun Kirana merasa sangat bersalah sudah berpikiran buruk tentang Rendy selama ini.Tapi, dia juga tidak suka dengan sikap Rendy yang menurutnya sangat egois seperti ini. Apa dia tidak ingat saat datang ke kantor menggandeng mantannya kemarin pagi? Bahkan memperkenalkan mantannya sebagai calon tunangannya.
"Kenapa diam?" Tanya Rendy yang menbuat Kirana tersadar dari lamunannya.
"Kamu egois!" Ucap Kirana sambil memalingkan wajahnya tidak ingin menatap Rendy.
Rendy mengerutkan alisnya. "Aku egois?"
"Iya! Apa kamu lupa kemarin kamu datang sama 'calon tunangan' kamu?!" Ucap Kirana dengan menekankan kata 'calon tunangan'. Dia semakin emosi.
Rendy terdiam. Mungkin dia menyadari kalau dirinya memang egois. Tapi, kemarin ingatannya masih belum pulih. Kalau tidak, mana mungkin Rendy mau menerima Olivia kembali.
Tiba-tiba ponsel Rendy berdering. Dia mengambil dari saku jaketnya. Mengernyitkan kening saat melihat nama Olivia sedang memanggilnya.
Kirana melirik dan dia juga melihat nama Olivia sedang menelpon Rendy. "Panjang umur dia." Cibir Kirana dengan wajah sinis.
Rendy menolak panggilan dari Olivia. Dia ingat kalau dia sempat menyimpan lagi nomor baru Olivia karena yang lama sudah dia blokir. Pantas saja, Olivia masih bisa menelepon dan mengirim pesan mepadanya sejak semalam.
Panggilan ditolak oleh Rendy, kemudian Olivia mengirim pesan. Rendy membuka dan membacanya.
"Honey, kamu lagi dimana? Aku lagi dirumah kamu sekarang. Kata Bibi kamu pergi sama Nayla?"
Rendy enggan membalasnya. Tapi, kalau Rendy tidak membalas pesannya, wanita itu akan terus menanyakannya.
"Sebaiknya kamu pulang nggak usah nunggu aku." Balas Rendy terkesan acuh tidak peduli.
Kirana memalingkan wajahnya, menatap keluar jendela.
Dasar egois! Ternyata masih suka kirim-kiriman pesan sama mantannya!
Tak lama, mobil sampai di basement parkiran apartemen. Rendy turun dan membukakan pintu lagi untuk Kirana. "Ayo turun." Ucap Rendy sambil mengulurkan sebelah tangannya.
Kirana hanya diam dan turun dari mobil tidak menghiraukan uluran tangan Rendy. Dia masih sangat kesal dan menahan kemarahannya.
Sedangkan Beni langsung pergi setelah Rendy dan Kirana turun.
...
Sesampainya di unit apartemen, Rendy menekan sandi dan pintu terbuka. Dia mempersilahkan Kirana masuk lebih dulu.
Kirana masuk kemudian Rendy masuk dan menutup pintunya.
Kirana sudah tidak asing dengan apartemen ini karena dia pernah beberapa kali kemari.
Rendy tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Udah ya, jangan marah dan jangan bikin aku marah lagi. Aku capek Ki." Ucapnya sambil memeluk Kirana.
Kirana terpaku dan terdiam menerima pelukan dari Rendy.
Dia juga lelah selalu bertengkar hanya karena masalah yang sepele seperti ini. Dia berharap hubungannya dengan Rendy akan selalu baik-baik saja meski mereka sering bertengkar.
Melihat Kirana hanya diam mematung, Rendy melepas pelukannya dan memutar tubuh Kirana. "Aku minta maaf kalau aku punya salah sama kamu saat ingatanku belum pulih kemarin." Ucap Rendy sambil menatap serius Kirana.
Entah mengapa menatap Rendy saat meminta maaf seperti ini, hatinya langsung luluh. Rasa kesal dan marahnya dalam sekejap hilang.
"Ki, jangan diem aja."
Kirana mengerjapkan matanya dan tersadar dari lamunannya. "Em..aku..aku laper Mas." Ucapnya dengan pelan dan gugup.
"Astaga Ki! Aku baru aja ngomong serius sama kamu, tapi kamu malah...." Rendy menghela nafasnya lalu mengusap wajahnya dan terkekeh pelan.
"Nanti aja minta maafnya, aku udah kelaperan dari tadi." Ucap Kirana dengan polos membuat Rendy memakluminya.
"Oke, aku pesan makanan dulu."
Rendy kemudian mengajak Kirana duduk disofa ruang tengah menonton drama kesukaan Kirana sambil menunggu pesanan makanan datang.
Ponsel Rendy kembali berdering. Olivia menelponnya lagi. Dia melirik Kirana yang sedang serius menonton drama korea favoritnya.
Rendy mengangangkat teleponnya dan sengaja menyalakan loudspeaker agar Kirana bisa mendengarnya. "Ya, kenapa lagi?"
"Honey, kamu pulang kapan? Aku masih nungguin kamu. Aku lagi bantuin Bibi masak makanan kesukaan kamu."
Seketika Kirana menoleh dan mengerutkan alisnya mendengar suara perempuan yang terdengar begitu genit dan manja. Dia tau kalau itu suara Olivia.
Rendy melirik Kirana, dia melihat rekasi wajah Kirana yang sudah tidak enak dilihat karena cemburu, dia pun menariknya dan merangkulnya. Tapi, Kirana langsung mendorong Rendy dan menggeser duduknya menjauhi Rendy.
"Hallo! Honey! Kamu denger aku nggak sih?"
Kirana yang mendengar Olivia memanggil Rendy dengan sebutan honey merasa risih. Dia mendengus sambil bangkit berdiri dan pergi ke dapur.
"Iya aku denger. Udah dulu ya, aku lagi sibuk. Ada urusan yang sangat penting!" Jawab Rendy kemudian langsung menutup teleponnya tanpa menunggu Olivia bicara.
Dia tidak peduli Olivia mau memunggunya sampai kapan. Biarkan saja. Tidak ada yang menyuruhnya menunggu. Lagi pula, Olivia juga sudah memanfaatkan dirinya dengan cara membohonginya, mengaku kalau mereka hampir bertunangan. Bodohnya Rendy yang mempercayainya. Tapi sekarang? Jangan harap lagi!
................