Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 160



Tanpa mengetuk pintu lebih dulu aku membuka pintu kemudian memasuki ruangan pribadi Irgy. Lalu Irgy terkejut, terperanjat membuka matanya dengan lebar melihatku datang.


"Sayang..."


"Kenapa? Kau terkejut atau terganggu dengan kedatangan ku?" Jawab ku cetus.


Irgy terdiam kemudian. Membuatku rasanya sudah ingin menjambaknya saja, kenapa dia justru diam dengan sikap cetus ku ini.


"Mau sampai kapan kau diam begitu hah? Apa kau sengaja membuatku semakin berpikir buruk tentang mu Irgy. Apakah seminggu belum cukup untuk mu berpikir bagaimana kau akan menjelaskan nya padaku? Tapi kau justru acuh dan jarang pulang kerumah. Kau berhasil meluluh lantahkan hati ku Irgy.."


"Maafkan aku Fanny."


"Apa hanya kata itu yang bisa kau ucapkan hah?"


"Aku tidak tahu harus menjelaskan dari mana tentang semua ini. Aku, aku takut memulainya di depan mu. Aku tidak ingin kau pergi meninggalkan ku, aku tidak ingin kau menganggapku sama seperti para lelaki mu sebelum nya."


Aku tersenyum kecut tanpa menatapnya sedikitpun.


"Nyatanya, kau sama seperti mereka Irgy."


"Tidak Fanny, tolong jangan kau samakan aku dengan mereka. Ini hanya salah paham saja, teman-teman ku hanya melebih-lebihkan saja di depan mu. Mereka memang suka menprovokasi, tapi ini tidak seperti yang kau pikirkan."


"Lalu bagaimana dengan Hana? Apa dia sungguh wanita pertama yang kau cintai selama ini? Apakah kalian sungguh seromantis itu dulu? Katakan, katakaaan !!!"


Aku kian memuncak, meneriakinya dengan lantang. Hingga suaraku terasa mencekik leherku, beruntung ruangan pribadi Irgy di desain kedap suara. Jika tidak, kami sudah pasti jadi tontonan.


"Kami, kami hanya dekat dan saling mensuport satu sama lain. Bahkan aku tidak tahu apakah hubungan kami saat itu terbilang sepasang kekasih atau tidak, maka dari itu aku tidak ingin menganggapnya suatu cerita di masa lalu."


"Tapi kau mencintainya Irgy, kau pernah jatuh cinta pada Hana di masa lalu mu. Kau juga pernah melakukan segalanya untuk membahagiakan hati nya, lalu apa bedanya?"


"Tapi aku tidak pernah menganggap kami sebagai sepasang kekasih, kami hanya dekat."


"Kau pikir aku bodoh? Aku bisa membaca dari semua sikap mu yang gusar ketika berada di dekatnya malam itu. Bagaimana dia menatapmu, bagaimana dia tersenyum padamu, bagaimana dia masih bergetar bila berkata di depan mu, dan aku melihat itu semua juga terjadi padamu. Kau pembohong besar Irgy, kau pengkhianat."


Tangisku pecah di hadapan Irgy, hingga nafasku terasa sesak oleh tangisan yang tak mampu ku luapkan segalanya.


"Maafkan aku Fanny."


"Berhenti meminta maaf, berhenti merasa bersalah, terlambat Irgy. Terlambat, bagaimana kau begitu tega padaku yang selama ini mempercayaimu sepenuh hati. Aku sungguh bodoh, mempercayaimu benar-benar tulus dan tidak akan tergoyahkan oleh apapun. Tapi aku salah, aku salah..."


"Fanny, tolong jangan berpikir seperti ini. Aku salah aku salah, aku salah. Aku tidak pernah jujur dan bercerita tentang Hana sebelumnya pada mu, karena aku pikir kita sungguh tidak akan pernah bertemu lagi." Jelas Irgy menghampiriku, memelukku dengan lembut.


"Jangan menyentuh ku, jangan berlagak seolah aku yang egois. Salahkah aku jika bersikap begini? Apa aku salah hah?" Aku meronta dan mendorongnya untuk melepaskan ku dari pelukannya.


"Tidak, kau tidak salah. Kau berhak marah, kau berhak mengataiku kau berhak mengumpatku, atau jika perlu tampar aku sepuasmu Fanny. Lakukan, lakukan. Tapi ku mohon jangan pernah membenciku dan meninggalkan ku, aku hanya mencintaimu saat ini dan sampai kapan pun itu."


"Bohooong, kau bohong. Kau tidak pernah bersungguh-sungguh mencintaiku, kau.. Kau brengsek, kau sama saja dengan yang lainnya. Kau sama dengan mereka..."


"Tidak ku mohon jangan pernah menilaiku sama dengan nya, aku tidak sudi. Aku tidak akan pernah sama seperti mereka memperlakukan mu, tidak Fanny."


Kembali Irgy memaksa untuk terus memelukku tak peduli aku memukuli nya, tak peduli walau berkali-kali aku sudah menggigitnya agar tak terjatuh dalam pelukannya.


"Kau tau Irgy, setiap cerita keburukan ku di masa lalu aku sudah meluapkannya padamu tanpa sedikitpun aku tutupi. Aku memang wanita hina, aku wanita kotor, kau menikahi wanita yang sudah ternoda kehormatannya. Tapi apa kau percaya saat kau berkata dengan tegas, jika hanya aku yang membuat hatimu bergetar, jika hanya aku yang berhasil membuatmu merasakan indahnya cinta, jika hanya aku, aku dan aku yang merubah semua warna hidupmu dalam bercinta. Aku merasa wanita yang paling beruntung di dunia ini Irgy, tapi nyatanya kau..."


"Fanny, demi tuhan. Aku tidak pernah menganggap Hana kekasihku walau aku mencintainya dulu."


Jleb !!!


Kau belum tahu bagaimana rasanya hati yang tertembak sebuah sniper angin bukan? Seketika menusuk tepat dan cepat mengenai relung hati ku. Ini rasanya sangat sakit, sangat sakit. Hingga rasanya kedua kaki ku tidak lagi merasakan menginjak bumi saat ini.


"Kau terlambat mengakuinya saat ini Irgy, aku sudah melihatnya sendiri tanpa mendengarnya langsung dari mulutmu. Itu justru semakin menoreh luka lama ku tergores kembali. Egois bukan, diriku ini?" Jawab ku dengan menatap wajah Irgy kali ini yang berdiri di hadapan ku, air mata ku sudah kering terasa. Suaraku kian serak terdengar...


"Tidak sayang, tidak.. Kau tidak egois. Kau berhak seperti ini, aku yang salah, aku yang membuatmu semakin merasa trauma. Tapi percayalah, saat ini dan selamanya aku tidak akan pernah mencintai wanita lain selain kau Fanny."


"Jangan terus berbicara seolah kau sungguh mengerti rasa trauma ku di masa lalu, jangan pernah berbicara kau hanya akan mencintaiku. Nyatanya kau sudah goyah Irgy, hanya dengan kehadiran Hana di malam itu. Aku memang bukan wanita baik-baik dan perfect seperti Hana, tapi apa pernah kau memikirkan bagaimana usaha ku untuk menjadi yang terbaik meski aku sudah ternoda di masa lalu, aku mengatakannya padamu dengan jujur. Aku tidak ingin kau semakin terluka dan risih ketika cerita burukku kau dengar dari orang lain."


"Sayang, cukup. Jangan selalu merasa kau wanita tidak pantas untuk ku. Hanya kau, hanya kau Fanny. Kau wanita hebat, kau wanita kuat, kau menakjubkan."


"Tidak, aku hanya wanita kotor. Berulang kali aku terjebak di masa lalu, tapi pernahkah kau melihat bagaimana aku berusaha untuk tetap berdiri kokoh dengan cinta ku pada mu Irgy. Dan kau memilih diam tanpa mengatakan apapun sebelumnya, jika saja... Andai saja, kau berani mengutarakan kisah masa lalu mu dengan Hana. Aku tidak akan merasa menjadi wanita terbodoh di dunia ini."


"Maafkan aku dan maafkan semua teman-teman ku Fanny, aku janji aku tidak akan hadir lagi di acara reuni itu. Aku janji mulai detik ini aku akan mencoba menjadi laki-laki jujur dan selalu terbuka padamu sayang. Aku janji, hem... Tapi tolong jangan pernah membenci dan meninggalkan ku."


"Selama ini, aku tidak pernah berpikir kau akan membuatku kecewa bertubi-tubi seperti ini Irgy. Kau suami ku, kau selalu aku kagumi, kau selalu aku agungkan, kau selalu ku puja puji dalam hati. Tapi kau, sungguh pembunuh berdarah dingin. Rasanya aku sudah mati sejak malam itu hingga kini aku kembali harus bertemu dengan Hana disini."


"Ha,hana? Disini?" Irgy terkejut akan ucapan ku.


"Cih, kau bahkan masih terkejut mendengarnya ada disini. Apa kau ingin menemuinya lagi? Kau bisa mengejarnya ke bandara. Dan jika kau ingin mengejarnya untuk bertemu yang terakhir kali nya, tak apa. Ku anggap semua nya telah usai.."


"Tidak tidak tidak. Aku tidak akan pernah beranjak pergi darimu detik ini, meski itu hanya jarak sejengkal saja." Jawab Irgy sembari menciumi kedua tangan ku dalam genggamannya tanpa henti sejak tadi.


Kemudian ponsel Irgy berdering yang tergeletak di atas meja kerjanya. Irgy ragu untuk meraih ponselnya, dia menatapku dengan gelisah.


"Kenapa? Apa kau bahkan takut aku mengetahui dengan siapa saja kau berhubungan selama sibuk beberapa hari ini, mungkin kah kau sibuk dengan Hana?"


"Sayang, bagaimana mungkin kau menuduhku demikian buruk. Aku sungguh sibuk, keadaan kantor dan penjualan mengalami penurunan bulan ini. Aku harus lembur untuk memgembalikan semua keadaan normal kembali. Percayalah... Aku hanya mencintaimu, pikiranku kacau hanya karena memikirkan mu seorang saja."


Aku kembali menyumbingkan bibirku, ternyum tipis mengalihkan tatapan ku dari nya. Lalu kembali ponsel Irgy berdering, ini sudah yang ke tiga kalinya. Irgy mendecak kesal, ia seolah terganggu oleh suara nada ponselnya yang terus berdering berkali-kali sejak tadi. Kemudian meraihnya dan tampak Ia menatap sejenak dengan mengerutkan kedua alisnya.


"Halo..." Jawabnya ketika menerima sebuah panggilan di ponselnya sejak tadi.


Entah apa dan siapa tapi ekspresi wajah Irgy berubah kesal.


"Hana, kita sudah usai. Jangan lagi menganggapku seperri dulu, jalani saja hidupmu menuju masa depan yang lebih baik. Aku ingin hidup tenang dan bahagia bersama keluarga kecilku saat ini, terimakasih sudah memberikan perhatian dan nasehat yang sudah lebih dulu istriku melakukannya untuk ku."


Darah ku bagai berdesir kembali, panas terasa sekujur tubuh ku mendengar dan mengetahui siapa di balik penelepon itu. Ya, Hana Hana dan Hana lagi. Dan lebih terkejut lagi, saat Irgy menutup ponsel nya begitu saja. Membuka sebuah card yang terpasang di ponselnya selama ini, kemudian Irgy mematahkannya hingga berkeping-keping. Ia banting ponselnya ke arah tembok, hancur terpecah belah.


Inikah sisi yang sebenarnya dari suami ku selama ini??? Oh Tuhan, dia tak tanggung-tanggung membanting ponsel yang ku tahu puluhan juta harganya. Dia mempecah belah berkeping-keping sebuah card yang selama ini di gunakannya bersama rekan-rekan penting lainnya. Dia menghancurkan dan rela memutuskan segalanya demi apa? Demi membuatku percaya?


Aku sedang kecewa Irgy, bukan lagi marah padamu... Bagaimana aku membenahi kekecewaan yang terselimuti trauma ini, semua begitu terasa menerjangku tanpa ampun.