Because, I Love You

Because, I Love You
#9



Beberapa minggu kemudian.


Rendy sedang duduk di sofa ruang santai rumahnya sambil fokus pada laptopnya. Dia meraih ponselnya yang bergetar dan berdering di atas meja.


Dia menatap layar ponselnya, lalu tersenyum karena nama sang kekasih yang sangat dirindukannya saat ini sedang memanggilnya.


Rendy segera menggeser tombol warna hijau. "Ya honey?"


"Honey, aku mau minta maaf. Aku nggak bisa kembali minggu depan. Mendadak, aku harus pergi ke New York untuk promosi film. Aku harap kamu bisa mengerti." Olivia memberitau Rendy.


Sebelumnya, Olivia mengabari Rendy jika dirinya akan kembali minggu depan sebentar hanya untuk menemui Rendy sekedar ingin melepas rindu. Namun, mendadak Oliva dikabari untuk bersiap pergi ke New York untuk promosi film barunya.


Rendy menghela nafasnya berat dan tidak langsung menjawab Olivia. Dia sudah benar-benar merindukan sang kekasih tercinta dan selalu menunggu kedatangannya. Dia sebenarnya telah merencanakan sesuatu yang indah untuk Olivia saat datang nanti. Namun, dia harus merasa kecewa karena sang kekasih tiba-tiba memberi kabar tidak jadi datang.


Rendy selalu bisa mengerti dengan pekerjaan Olivia yang berprofesi sebagai publik figur yang jadwalnya memang begitu padat. Selalu banyak acara yang harus Olivia hadiri sampai ke berbagai daerah.


Itu sudah menjadi pilihannya dan Rendy juga sudah menerima konsekuensinya. Mereka selalu sama-sama sibuk, dan sekarang ini mereka terpisah jarak dan waktu yang akan semakin menyulitkan mereka untuk bisa bertemu walau hanya sebentar.


"Honey, apa kamu mendengarku?" Tanya Olivia karena tidak mendengar suara Rendy.


"It's ok, it doesn't matter." Jawab Rendy datar.


"Don't be angry, honey. Aku tahu kamu pasti kecewa dan marah, kan? Maafin aku ya."


"Aku nggak marah. Lakukan saja pekerjaanmu dengan baik and take care of yourself." Jawab Rendy menahan untuk tetap bersikap tenang dan memberi semangat pada sang kekasih, meski hatinya merasa kecewa.


"Thank you very much, honey. I love you so much."


"I love you too." Balas Rendy kemudian segera mengakhiri panggilan teleponnya dan menghela nafasnya kembali.


Bi Sumi yang tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Rendy dari dalam ruang makan, dia memperhatikan Rendy yang menjadi terlihat murung.


'Apa Den Rendy habis telponan sama pacarnya ya? Barusan bilang i love you, gitu. Terus panggil hani? Hani kalau nggak salah artinya kan sayang? Atau mungkin itu nama pacarnya ya. Kalau Nyonya Nadine yang telepon kan nggak mungkin.'


Gumam Bi Sumi dalam hati menebak-nebak sambil mengintip Rendy dari ruang makan.


Rendy menutup laptopnya lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ruang makan.


Brukkk!


"Aduh!" Pekik Bi Sumi yang terjatuh akibat tersandung sudut lemari besar di dekatnya.


"Bi? Astaga, kenapa bisa jatuh?" Rendy segera menghampiri Bi Sumi dan membantunya berdiri.


"Emm...ini Den, anu..." Bi Sumi gelagapan mencari alasan.


"Anu apa, Bi?"


"Anu, Den. Tadi...barusan ada kecoa. Bibi kaget dan takut." Jawab Bi Sumi dengan gugup dan salah tingkah.


Rendy mengernyit. "Mana kecoanya?" Rendy mengamati lantai di sekitar Bi Sumi tapi tidak melihat ada kecoa.


Mana mungkin ada kecoa di rumah ini. Sejak dia tinggal di sini, dia belum pernah melihat ada kecoa.


"CK! Bibi ini ada-ada aja." Rendy tahu jika Bi Sumi sedang berbohong, tapi dia sedang tidak ingin menanggapinya. Dia kembali berjalan menuju kulkas, membukanya dan mengambil minuman dalam kemasan kaleng lalu berbalik dan pergi dari sana tanpa menghiraukan Bi Sumi yang masih memperhatikannya.


"Pak, Den Rendy sepertinya punya pacar." Bisik Bi Sumi kepada Pak Salim yang baru saja masuk karena ingin meminta Bi Sumi untuk membuatkan kopi.


"Ibu tahu dari mana? Jangan asal bicara!" Tanya Pak Salim menatap Bi Sumi.


"ini barusan Ibu nggak sengaja dengerin Den Rendy telponan, Pak." Jawab Bi Sumi dengan serius.


"Ibu ini. Jangan sembarangan apalagi menguping pembicaraan orang. Nggak baik, Bu." Ucap Pak Salim mengingatkan Bi Sumi.


"iiih, Bapak ini. Ibu kan nggak sengaja dengernya, Pak. Tadi Den Rendy nyebut nama hani terus bilang i love you, gitu." Bi Sumi masih keukeuh memberitahu suaminya.


"Sudah, Bu. Itu bukan urusan kita! Sebaiknya Ibu bikinin Bapak kopi. Bapak tunggu di pos satpam ya. Jangan lama-lama." Ucap Pak Salim yang sama sekali tidak menghiraukan ucapan Bi Sumi lalu berbalik dan pergi keluar.


"Iiih, si Bapak kalau dikasih tahu malah sukanya milih tempe." Gumam Bi Sumi menggerutu lalu segera membuatkan kopi untuk Pak Salim juga beberapa satpam yang berjaga di pos.


...


Kirana yang baru saja keluar dari kamar ingin ke dapur, tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara ketukan pintu di depan.


Tok...Tok...Tok!


"Siapa yang datang malam-malam begini?" Gumamnya bertanya pada diri sendiri lalu berjalan menuju pintu dan membuka pintunya.


"Malam, Kirana." Ucap Haris begitu melihat sosok cantik dan manis membukakan pintu untuknya.


"Kak Haris? Malam juga, kak. Ada apa?" Jawab Kirana dengan tersenyum ketika tahu ternyata Haris yang mendatanginya.


"Biasa, disuruh Bunda. Nih, kamu habisin ya." Haris menyodorkan tempat makan yang berisi makanan pada Kirana.


"Ya ampun, koq jadi ngerepotin terus sih." Kirana menerimanya dengan tidak enak hati.


"Sama sekali enggak repot." Balas Haris.


"Makasih banyak ya, kak. Pasti aku habisin kok ini."


"Harus dong. O ya, Ki. Gimana kalau weekend nanti kita jalan-jalan keluar?" Tanya Haris yang memang sengaja datang ingin mengajak Kirana jalan-jalan saat weekend besok.


"Kak Haris mau ngajak aku jalan-jalan? Memangnya pacarnya nggak marah nanti?" Kirana setengah bergurau karena dia memang belum tahu apakah Haris sudah punya pacar atau belum. Takutnya, nanti akan menjadi masalah.


"Aku kan sudah pernah bilang sama kamu, aku masih jomblo, Ki. Jadi, kamu mau nggak nih?" Tanya Haris lagi dengan penuh harap.


"Hehe, iya deh iya, kak. Aku mau." Jawab Kirana diselingi dengan tawa.


"Ya sudah kalau begitu kamu masuk gih. Itu buruan dimakan mumpung masih anget. Jangan lupa dihabiskan ya, biar Bunda seneng." Haris tampak senang karena Kirana menerima ajakannya.


"Iya, Kak. Sampaikan ke Bunda makasih banyak."


"Beres."


................