Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 271



Pelangi masih berlari berusaha menangkap Joe yang menjahilinya dengan menyembunyikan kunci mobilnya. Pelangi sedikit geram karena Joe bersikap seperti biasa, setelah mencoba menyentuh bibir Pelangi tadi.


Pelangi kelelahan mengejar Joe, sementara ketiga sahabat Pelangi hanya menyaksikan mereka berdua yang berkejaran seperti anak kecil. Hingga kaki Pelangi mendadak terhuyung lemah, dia hampir terjatuh tersungkur. Ketiga sahabat Pelangi sontak berteriak, Joe hendak menangkapnya. Namun terlambat, seseorang sudah menarik tangan Pelangi hingga tidak terjadi terjatuh.


"Ex..."


Pelangi terkejut melihat Exelle berada di hadapannya, menyelamatkannya agar tidak terjatuh tersungkur ke halaman sekolah.


Joe kesal melihat Pelangi berdiri di hadapan Exelle begitu dekat.


"Kau hampir terjatuh barusan." Jawab Exelle dengan cemas.


"Ah, kaki ku mendadak lemas. Sejak tadi aku berlarian mengejar Joe."


Mendengar hal itu Exelle langsung membungkuk dan duduk tepat di bawah Pelangi. Dia mencoba memeriksa kedua kaki Pelangi, lalu Pelangi mundur satu langkah. Ia merasa kikuk dan salah tingkah akan sikap Exelle demikian.


"Ex... Apa yang kau lakukan?" Tanya Pelangi.


"Aku sedang mencoba memeriksa kedua kaki mu, barangkali ada yang terluka." Jawabnya dengan mendongakkan wajahnya menatap Pelangi yang sedang berdiri di hadapannya.


"Brengsek. Beraninya kau menyentuh Pelangi..." Joe menghampirinya lalu mencengkram kerah baju seragam sekolah Exelle.


"Oh ya ampun, lagi-lagi mereka." Lisa menepuk keningnya lalu berjalan menghampiri Pelangi di susul oleh Lucas dan Jeni.


Exelle menepis tangan Joe yang mencengkram bajunya dengan tatapan buas.


"Ada apa? Aku hanya ingin memastikan kedua kaki Pelangi baik-baik saja. Dia hampir terjatuh barusan."


Joe mengernyit. Lalu memberikan kunci mobil Pelangi dengan ragu-ragu. Dengan cetus Pelangi meraih kunci itu tepat di hadapan Exelle.


"Kau seperti anak kecil. Bisakah dewasa sedikit, Joe?"


"Kau baik-baik saja?" Tanya Joe pada Pelangi, mengabaikan perkataan Exelle padanya barusan.


"Hemm..." Jawab Pelangi singkat. Dia sedang malas untuk kembali berdebat dengan Joe yang saat ini sering sekali hilang kendali.


"Sa, Jen, Lucas. Ayo, kita pulang." Ujar Pelangi hanya menyapa serta mengajak ketiga sahabatnya. Mereka menurut berlalu mengabaikan Joe dan Exelle.


"Pelangi..." Panggil Exelle.


"Hati-hati mengemudi." Ujar Exelle setelah Pelangi menoleh.


"Terimakasih, Ex. Jika ada hal penting bicarakan saja di telepon, aku tahu kau kemari ingin menemuiku bukan?"


Exelle hanya tersenyum tipis.


"Baiklah." Jawab Exelle dengan anggukan pelan. Joe yang berdiri di antara mereka mengepalkan kedua tangannya geram.


Setelah Pelangi dan ketiga sahabatnya berlalu pergi, Joe kembali menarik dan mencengkram tangan Exelle sangat keras. Tentu Exelle terkejut akan sikap Joe yang demikian kasar.


"Sampai kapan, hah?"


"Sudah ku peringatkan kau, Ex. Berhenti mengganggu dan mendekati Pelangi. Dia milikku."


Exelle menyeringai.


"Apa aku terlihat mengganggunya? Aku tidak sepertimu, Joe. Yang selalu menjahilinya tanpa pedulikan hal apa yang akan terjadi jika kau terus menjahilinya."


"Kau... Jangan selalu mengaku paling benar. Kau itu playboy, aku tahu semua tentangmu. Kau hanya sedang menjadikan Pelangi bahan percobaan bukan?"


"Apakah Mery yang mengatakannya padamu, Joe?"


"Tidak penting itu siapa. Tapi, jangan sekali-kali kau berharap akan mendapatkan Pelangi lalu menjadikannya wanita buruk seperti yang kau lakukan pada pacarmu yang lainnya lagi."


Hah... Ingin sekali aku memukulnya lagi. Tapi dia saudara ku, ya... Dia saudaraku.


Bathin Exelle.


"Joe, ayo lah. Tidak bisakah kita berteman saja?"


"Cuih. Berteman dengan mu? Jangan harap." Joe membuang ludahnya tepat di hadapan Exelle. Tentu itu membuat Exelle semakin geram.


"Baiklah, Joe. Jika memang itu kau tetap bersikeras begitu. Aku tidak akan bersikap baik lagi padamu, jika kau tetap membuat Pelangi hampir terluka seperti tadi."


"Kau menantangku?"


"Kau pikir aku takut?"


"Baiklah, aku menantangmu. Siapa yang akan di pilih oleh Pelangi nantinya, kau atau aku."


"Woah, rupanya kau akan menjadikan gadis yang kau sukai sebagai bahan taruhan saat ini."


Joe kian mendengus dengan kesal. Apapun yang Ia dengar dari Exelle perihal Pelangi selalu membuatnya terbakar api cemburu. Sepertinya Joe memang egois, dia tidak ingin menyerah begitu saja meski sudah tidak mungkin mendapatkan apa yang di inginkannya.


"Apa kau takut? Haha. Aku yakin kau pasti takut kalah dariku."


"Kau salah, Joe. Aku tidak pernah takut pada siapapun, aku hanya tidak ingin menjadikan wanita yang ku cintai saat ini sebagai taruhan atau boneka permainan."


"Kau terlalu sombong. Tapi mendengar mu berlagak seperti itu, aku anggap kau menerima tantanganku. Jika kau kalah, enyahlah dan jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapan kami lagi."


"Dan bagaimana jika justru sebaliknya yang terjadi?"


"Itu tidak mungkin. Dan jangan bermimpi kau akan menang dariku, itu hanya akan menyakitimu Ex."


"Hah... Baiklah, lakukan saja apa yang kau ingin lakukan. Bahagiakan lah dirimu sendiri, Joe. Aku pun punya cara sendiri untuk berbahagia dan membahagiakan orang-orang yang ku sayangi, terkhusus itu adalah Pelangi."


"Kau..." Joe melotot hendak memukul Exelle.


"Joe, sudah lah. Jangan selalu memakai cara kekanakan seperti itu. Kita bukan anak kecil lagi bukan?"


Setelah Exelle berkata demikian, Joe mengurungkan niatnya dengan ekspresi yang sudah jelas dia sedikit malu. Lalu Exelle beranjak pergi dari hadapan Joe. Sementara Joe masih berdiri dengan menatap Exelle tajam.