
Isi persyaratan dari Rendy. Yang pertama: Harus mematuhi semua peraturan darinya. Yang kedua: Jika melanggar syarat yang pertama, maka harus siap untuk menerima hukuman darinya.
Selesai membaca, Kirana menutup berkas persyaratan tersebut dengan perasaan yang kembali gelisah sekaligus kesal.
"Gimana? Kamu udah selesai bacanya?" Tanya Rendy dengan tersenyum.
"Pak, ini...
"Jangan panggil Pak!" Tegas Rendy menyambar ucapan Kirana dengan wajah yang sudah berubah menjadi dingin.
Seketika Kirana merasa takut. Meski persyaratan yang diberikan Rendy hanya dua syarat saja, tapi entah mengapa hatinya merasa tidak tenang.
"Emm..bisa dijelaskan apa peraturannya dan juga hukumannya?" Tanya Kirana dengan gugup dan menggigit bibir bawahnya.
Saat Rendy ingin menjelaskan, ponselnya yang ia letakkan diatas meja kerjanya bergetar dan berdering. Rendy menoleh pada Beni.
"Ben, kamu jelasin ke dia!" Titah Rendy sambil bangkit berdiri lalu berjalan menuju mejanya untuk mengambil ponsel dan menjawab telepon.
Beni berdehem saat memperhatikan Kirana yang terus menatap Rendy. Seketika, Kirana menoleh kearah Beni dan Beni menjelaskan tentang persyaratan dari Rendy.
"Begini mbak Kirana. Untuk syarat yang pertama, mbak Kirana harus patuh dengan apa yang diminta Bos Rendy apapun itu. Dan yang kedua aku rasa mbak Kirana paham. Emm..untuk hukuman, aku nggak tau hukuman apa yang akan Bos Rendy berikan kalau mbak Kirana melanggarnya." Ucap Beni memberi penjelasan kepada Kirana dengan wajah serius.
"Kalau mbak Kirana udah mengerti, silahkan tanda tangan dibawah sini." Lanjut Beni sambil menunjuk dimana Kirana harus menanda tangani persyaratan tersebut sebagai bukti kalau dia setuju dan menerima dengan persyaratan tersebut.
Kirana membuang nafasnya dengan kasar. "Kenapa perasaanku jadi nggak enak gini ya?" Gumamnya pelan merasa gelisah.
"Kenapa mbak?" Tanya Beni.
"Emm..enggak kenapa-kenapa kok Pak." Jawab Kirana dengan menyengir lalu segera menandatangani persyaratan tersebut diatas materai.
Setelah selesai menandatangani,a ia merasakan getaran dari dalam tasnya.
Kirana merogoh isi dalam tasnya dan mengambil ponselnya. Ada panggilan masuk. Kak Haris? Batin Kirana saat melihat layar pada ponselnya yang menunjukkan nama Haris sedang memanggil.
Tanpa ragu, Kirana mengangkat telepon dari Haris.
"Hallo Kak Haris? Ada Apa?"
Rendy yang juga sedang bicara dengan seseorang ditelepon, ia mendengar Kirana menyebut nama Haris dan ia menoleh menatapnya.
"Mam, nanti Rendy telepon Mama balik. Rendy masih ada urusan." Ucap Rendy yang ternyata sedang bicara dengan Mamanya lalu langsung mengakhiri panggilan teleponnya dan memperhatikan Kirana yang sedang bicara dengan Haris ditelepon sambil duduk ditepi mejanya bersedekap.
"Nggak perlu jemput Kak, aku pulang sendiri aja." Ucap Kirana kepada Haris.
Entah apa yang dikatakan Haris karena setelahnya bisa membuat Kirana menerima ajakannya.
"Ok deh kalau gitu aku tunggu." Ucap Kirana dengan tersenyum kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
Beni hanya diam memperhatikan Kirana lalu memperhatikan Rendy. Ia bisa melihat perubahan wajah Rendy yang melihat Kirana menerima telepon dari Haris. Wajah Rendy berubah menjadi dingin.
Kirana bangkit berdiri.
"Apa aku boleh pulang sekarang?" Tanya Kirana dengan tersenyum menatap Rendy dan Beni secara bergantian.
"Silahkan mbak."
"Belum boleh!"
Jawab Beni dan Rendy bersamaan tapi jawaban mereka tidak sama membuat senyum dibibir Kirana perlahan memudar menatap Rendy yang juga sedang menatapnya.
Kirana terpaku dan terdiam saat menyadari perubahan wajah Rendy yang menjadi dingin seperti ingin memarahinya.
"Emm..apa nggak bisa besok aja Pak?" Tanya Kirana dengan gugup.
Beni yang bisa menebak dari sikap Rendy yang terlihat cemburu terhadap laki-laki yang menelpon Kirana barusan.
Apa Bos udah beneran jatuh cinta sama mbak Kirana? Aah entahlah. Aku cuma bisa berdoa yang terbaik aja buat Bos Rendy.
Gumam Beni dalam hati.
Rendy menghela nafasnya panjang lalu berjalan mendekati Kirana. "Belum lama menandatangani persyaratan dariku, sepertinya kamu udah nggak sabar ingin dapet hukuman dariku." Ucap Rendy terus menatap Kirana sambil berjalan perlahan mendekati Kirana.
"Memangnya..a apa salah sa saya Pak?" Tanya Kirana sambil perlahan melangkah mundur membuat Rendy semakin menatapnya lekat.
"Syarat yang pertama, kamu harus patuh dengan aturanku yang artinya apappun yang aku perintahkan, kamu harus lakukan. Aku minta kamu untuk nggak panggil aku Pak. Tapi dari tadi, kamu terus aja panggil aku Pak!" Ucap Rendy masih menatap Kirana dan melangkah mendekatinya.
Kirana terdiam. Ia merasa takut melihat Rendy yang seperti ini. Terlihat galak dan arrogant. Berbeda dengan Rendy yang sebelumnya yang terlihat ramah dan selalu tersenyum.
"Dan aku paling benci dikhianati!" Imbuh Rendy yang semakin mendekat pada Kirana.
Punggung Kirana sudah membentur tembok dan ia tidak bisa mundur lagi. Rendy menguncinya dengan mengungkungnya ditembok.
"Emm..ma maaf Pak. Emm maksudku mmmas. Ta tapi aku nggak mengkhianati kamu." Ucap Kirana dengan pelan sangat gugup dan terdengar bergetar sambil kedua tangannya menahan dada bidang Rendy agar tidak lagi mendekat.
Rendy menyeringai. "Lalu dengan kamu yang nerima telepon dari laki-laki lain didepanku dan kamu mau pergi dengannya, apa itu bukan pengkhianatan?" Tanya Rendy yang membuat Kirana kembali terbelalak.
Ia benar-benar tidak sadar dan lupa kalau ia sudah menjadi pacarnya Rendy. Dan ia juga mengingat permasalahan mengapa Rendy mengakhiri hubungannya dengan Olivia. Karena Olivia mengkhianatinya dengan berselingkuh. Mungkin Rendy menjadi sangat sensitif setelah dikhianati.
"Tapi, aku dan...
"Aku nggak mau denger apapun alasanmu Kirana! Gimanapun juga, kamu udah jadi pacarku dan aku nggak suka kamu deket dengan laki-laki lain! Tolong hargai aku!" Sahut Rendy memotong ucapan Kirana.
"Aku dan kak Haris nggak ada hubungan apa-apa! Aku udah nganggep dia seperti kakakku sendiri! Kamu jangan egois dong!" Ucap Kirana dengan marah karena ia merasa tidak tahan dipojokkan dan disalahkan seperti ini.
"Aku egois?" Tanya Rendy dengan mengernyit.
Kirana hanya diam enggan menjawab malah memalingkan wajahnya dengan kesal.
Ponsel Kirana yang masih digenggamnya kembali bergetar. Kirana mlihat siapa yang menelponnya. Rendy juga bisa melihat siapa yang sedang menelpon Kirana.
Kak Haris?
Gumam Kirana dalam hati lalu melirik Rendy yang sedang menatap layar ponselnya.
Kirana tidak segera mengangkat telepon dari Haris. Setidaknya tidak dihadapan Rendy. Ia mengunci layarnya dan memalingkan wajahnya kembali.
"Kenapa nggak kamu angkat?" Tanya Rendy dengan menatap Kirana dan Kirana masih diam. "Bilang sama dia kalau kamu udah ada yang nganter." Lanjut Rendy sambil menurunkan kedua tangannya yang masih mengungkung Kirana lalu mundur selangkah.
Kirana menoleh dan menatapnya. "Aku nggak bisa!" Ucap Kirana dengan tegas.
Kirana tidak mungkin mengatakan itu dan membuat Haris kecewa karena tadi ia sudah menerima ajakan Haris yang berniat baik ingin menjemputnya. Kenapa sekarang tiba-tiba ia harus mengatakan kalau ia sudah ada yang mengantar dan membuat Haris pulang lagi dengan perasaan yang kecewa?
Lagi pula, Kirana telah menganggap Haris sudah seperti kakaknya sendiri tidak lebih. Haris dan keluarganya sangat baik kepadanya. Terutama Bunda Siti yang terlihat begitu perhatian dan menyayanginya. Ia belum bisa membalas kebaikan keluarga Bunda Siti, setidaknya ia juga harus bisa selalu bersikap baik kepada keluarga Bunda Siti termasuk Haris.
Hanya menjemputnya saja, apa masalahnya?
................