Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 266



Tiba di rumah sakit kembali, Exelle dan Pelangi masih saling meledek satu sama lain. Pelangi akhirnya tersenyum ceria setelah beberapa hari mengetahui kondisi Joe dia begitu sedih dan selalu murung di wajahnya. Langkah Pelangi semakin di percepat ketika melihat beberapa dokter berdiri di depan ruangan Joe di rawat. Dilihatnya Abel sedang menangis dalam pelukan suaminya.


"Joe..." Ucap Pelangi dengan cemas. Ia setengah berlari melangkahkan kaki nya, di susul kemudian oleh Exelle.


"Baiklah, saya harap tuan dan nyonya memikirkan yang terbaik untuk putera kalian. Saya permisi." Ujar satu dokter yang kemudian berlalu pergi saat Pelangi sudah sampai di hadapan Abel.


"Ta,tante... Ada apa?" Tanya Pelangi dengan ketakutan.


"Ini semua karena mu, kau penyebab putera ku sampai seperti ini. Dokter bilang kita hanya memiliki 30% harapan untuk Joe bertahan hidup. Kau puas? Hah, apa kau puas???" Abel berteriak menarik bagian baju Exelle di lehernya, kemudian meronta-ronta tubuh Exelle dengan kasar.


"Sayang, tenanglah. Jangan terus menyalahkannya, hentikan." Suami Abel berusaha menghentikan amukan Abel yang histeris seraya memukul-mukul tubuh Exelle. Sementara Exelle hanya terdiam pasrah menundukkan wajahnya.


"Tidak, Joe. Tidak mungkin kau selemah itu." Pelangi menyeka air matanya ketika mendengar hal demikian, lalu memasuki ruangan tempat Joe kini terbaring lemah.


"Hei, kau. Brengsek, sejak kapan kau selemah ini hah? Apa kau ingin menghukumku karena telah menjauhimu selama ini? Apa kau kini berlagak menjadi Tuhan, Joe?" Ucap Pelangi dengan kasar. Ia berdiri menatap sekujur tubuh Joe yang masih terbaring lemah.


Kemudian ia menangis tersedu-sedu, menahan sesak dalam hatinya. Sejenak terbayang awal mereka bertemu di masa kecil, hingga dipaksa terpisah, lalu bertemu kembali sebagai sosok yang membuat Pelangi bangkit dari keterpurukan, hingga mereka harus kembali berpisah karena orang ketiga.


Pelangi menangis tanpa henti menggenggam tangan Joe, tak ada respon meski ini sudah berhari-hari serta berminggu-minggu.


"Joe, jangan membuatku takut lagi. Jangan membuatku merasakan sakit terpisah dengan orang yang ku sayang, kau sahabat ku, Joe. Jangan tinggalin aku, tetaplah hidup jikapun kita tidak bisa bersama seperti dulu lagi, Joe. Banguuun, banguuuun aku bilang banguuun..."


Joe meneteskan air mata meski kini dia sedang koma. Pelangi semakin terisak tangis melihat hal itu, perlahan dengan lembut Pelangi menyeka air mata yang mengalir dari kedua mata Joe yang terpejam.


"Aku tahu, kau mendengarku. Kau hanya ingin menghukumku bukan, baiklah. Aku akan menerimanya, tapi jangan sekali-kali kau berniat tidak kembali padaku lagi. Aku akan membencimu, Joe. Aku akan sangat membencimu, aku akan hidup bahagia dengan banyak cowok yang lebih tampan darimu. Apa kau dengar itu???" Pelangi kian meracau dengan tangisannya.


"Baiklah. Jika kau lemah seperti ini, aku tidak akan datang melihatmu lagi. Aku benci orang yang lemah sepertimu, kau tidak berhak menjadi sahabatku lagi, kau tidak berhak melindungiku jika begitu. Aku akan pergi, kau tidurlah sepuas mu saja." ujarnya lagi, dan beranjak berdiri hendak keluar dari ruangan.


Dan...


Entah lah, mungkin ini yang dibilang keajaiban dari kekuatan cinta. Dalam hati Joe, Pelangi masih memiliki tempat terdalam dengan cintanya. Meski di hati Pelangi tidak lagi demikian, yang Pelangi rasakan saat ini adalah rasa tak ingin kehilangan sahabat dari masa kecilnya. Pergi dengan cara seperti ini akan sangat mematahkan hati Pelangi tentunya.


Tangan Joe tergerak dan menahan jemari Pelangi yang menggenggamnya lalu hendak pergi. Sontak Pelangi menoleh dengan terkejut bukan main, dilihatnya jari jemarinya tergerak meski tidak keseluruhan.


"Joe... Kau..." Pelangi kebingungan kemudian berlari keluar ruangan.


"Tante, om. Joe menggerakkan tangannya, cepat panggil dokter." Ujar Pelangi membuat Abel yang sejak tadi menangis mengamuk, dengan cepat memasuki ruangan di susul oleh suaminya. Mereka mengabaikan ucapan Pelangi yang menyuruhnya memanggil dokter.


"Aku, aku akan memanggil dokter." Ujar Exelle dengan sigap Ia berlari hendak memanggil dokter.


Joe, terimakasih kau memberikan harapan besar bagi kami.


Ucap Exelle dalam hati, dengan linangan air mata. Dan dengan cepat dia hapus air mata itu, setelah berhasil menemui dokter untuk segera memeriksa Joe.


Saat semua dokter memeriksa Joe, Exelle tak berani masuk. Ia hanya berdiri mondar mandir dengan panik dan cemas di depan ruangan Joe di rawat saat ini.


Sementara di dalam, kebahagiaan tak dapat lagi terukir di hati Abel dan suaminya. Begitu pula dengan Pelangi, mendapat keajaiban dengan sadarnya Joe dari koma.


"Ini sungguh suatu keajaiban. Kami sudah hampir kehilangan harapan, tapi semua memang sudah menjadi kehendak Tuhan. Namun saat ini, pasien masih lemah. Bersyukur dia tidak mengalami amnesia, tolong jangan terlalu banyak mengajaknya bicara dulu. Kami masih harus terus memantaunya agar tidak terjadi hal lainnya lagi nanti." Jelas dokter setelah memastikan jika Joe sudah sadar dan melewati masa kritisnya saat koma berapa minggu belakangan ini.


"Putera ku, dimana... Dimana yang sakit, hah? Kau ingin makan sesuatu? Katakan?" Ujar Abel seketika menghujaninya dengan pertanyaan.


"Sayang, jangan terus menanyainya. Dia masih lemah, ingat apa kata dokter tadi." Ucap papa Joe kemudian.


Joe tersenyum paksa, terlihat di raut wajahnya dia masih menahan sakit. Entah dibagian mana itu. Lalu tatapan matanya mengarah ke Pelangi yang berdiri sejak tadi, berkali-kali mengusap air matanya.


Kedua mata mereka bertemu, Joe menggelengkan kepalanya perlahan ke kanan dan ke kiri. Mengisyaratkan agar Pelangi tidak menangis lagi.


Pelangi tersenyum menahan tangisnya, kedua bola matanya mengarah ke atas. Dan berjalan menghampiri untuk lebih dekat dengan Joe.


"E,eh.. Sepertinya, kami harus keluar sebentar." Ujar Daddy Joe dan maminya, Abel.


Pelangi tampak canggung mereka seolah sengaja membiarkan Joe dan Pelangi hanya berdua saja di dalam ruangan.


Sementara di luar, Exelle masih dengan setia menunggu terduduk dengan wajah lesu.


Seketika dia berdiri dengan sigap melihat Abel dan suaminya keluar dari ruangan. Joe kikuk, menahan diri untuk tetap tenang dan berani menatap wajah Abel yang sangat sinis.


"Kau, beruntung. Tuhan masih menolong mu, dengan menyadarkan Joe kembali. Jika saja tidak, aku akan menuntutmu hingga ke hadapan Tuhan." Ujar Abel dengan kasar.


"Maafkan aku, tante. Sungguh, sedikitpun aku tidak berniat untuk mendorong Joe hingga terjatuh dan tertabrak mobil malam itu. Saat itu, dia hanya berusaha menghindariku yang... Akan memukulnya, itu karena dia menghina papa dan mama ku. Apakah aku salah jika marah akan hal itu, tante?" Tanya Exelle dengan wajah meringis, kedua matanya berkaca-kaca.


Abel terdiam tanpa berani menjawab nya, sebab dia menyadari jika mereka... Adalah saudara satu ayah. Walau bagaimana pun, Abel tidak ingin terlihat hanya memihak sebelah saja, sedangkan Ammar sudah mau menerima Joe sebagai puteranya meski ini masih tetap menjadi rahasia besar mereka berdua.


"Maafkan aku, tante." Ucap Exelle kembali.


"Sudah lah, kau pulang saja. Jangan mengganggu Pelangi yang sedang berdua dengan Joe." Titahnya pada Exell.


"Baik, aku.. Aku akan pulang. Tapi, bisakah aku kembali menjenguk Joe besok tante?"


"Boleh, Nak. Kalian harus menyelesaikan masalah kesalahpahaman kalian." Jawab Suami Abel kali ini.


"Sayang. Apa-apaan ini?" tanya Abel dengan marah pada suaminya.


"Ssst... Sudah lah, mereka sama-sama lelaki. Kesalahpahaman sudah tentu wajar, tak apa. Mereka akan menjadi teman baik nantinya." jawab suami Abel.


"Tidak!!!"


"Sayang, aku yakin dia anak yang baik. Bukan kah dia yang membawa anak kita ke rumah sakit dengan cepat? Jika dia mau, bisa saja dia membiarkan putera kita tergeletak tanpa pertolongan cepat."


Lagi-lagi Abel terbungkam tanpa kata. Dalam hati kecilnya ia membenarkan hal itu, lalu menarik nafasnya dalam-dalam.


"Baiklah. Kau pulang saja dulu." Jawab Abel lagi dengan membuang muka di hadapan Exelle.


Exelle mengangguk cepat, tersenyum ceria dengan meneteskan air matanya. Kemudian berlalu pergi dengan langkah berat sembari menyeka air matanya yang merembes membasahi pipinya.


Pelangi. Aku harus meninggalkanmu tanpa berpamitan terlebih dahulu, aku tak ingin mengganggu kalian dulu. Semoga setelah ini semua membaik tanpa ada yang harus terluka.