Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 218



Pagi ini ada yang berbeda dari raut wajah serta sikap Pelangi, puteriku. Terlihat dari caranya berjalan menuruni anak tangga dengan riang gembira melempar senyuman seolah dia berjalan di tengah taman bunga yang begitu indah. Bukan hanya aku yany menyadari hal itu, Irgy pun memberikan isyarat tanya padaku.


"Pagi ma, pagi pa. Dan selamat pagi adik-adik ku yang jelek," Sapa nya kepada kami telah duduk di menunggunya di meja makan.


"Kakak, ih. Kami tampan tauk, kan kakak kami cantik." Sahut Rafi dengan menyenggol lengan saudara kembarnya, Rafa.


"Ada apa? Apa kakak sedang memenangkan lotre? Kenapa begitu senang pagi ini?" Balas Rafa kali ini.


"Duuuh, anak kecil. Mulai kepo ya," Pelangi menjawabnya dengan mengacak-acak rambut Rafa.


"Ehhem, sudah.. Sudah, jangan menggoda kakak kalian lagi. Ayo sarapan dulu, nanti terlambat ke sekolah." Ujar Irgy menyela.


"Nak, apakah terjadi sesuatu yang menyenangkan pagi malam tadi? Sehingga pagi ini begitu ceria."


"E,eh.. Ah, eh, ih mama.. Apaan sih.." Pelangi tampak salah tingkah dan wajahnya berubah merah semu, senyumnya kali ini terlihat dia sedang menahan malu.


"Hmm... Ada apa dengan malam tadi, kenapa papa tidak tahu? Woah, mulai curang ya kalian."


"Tuh kan, mama sih.. Papa juga, ih. Apaan coba, memangnya salah jika Pelangi menyambut pagi dengan ceria pagi ini?"


"Hahaha, wah.. Sayang, dari aroma nya sih sepertinya ini menyangkut hati." Irgy mencoba menggoda puteri kesayangannya itu, dan di sambut tawa lepas oleh Fanny.


"Hahaha, kami lebih berpengalaman ya kan.. Hmm, ada apa ini?"


"Aaaah, mama.. Papa, ih. Kalian apaan sih, Pelangi kan jadi malu. Tidak ada hal yang terjadi, semua baik-baik saja dan aman terkendali." Jawab Pelangi dengan mengatupkan jari jempol dan telunjuknya membentuk sebuah lingkaran.


"Ya ya ya, lanjutkan sarapan mu Nak. Kami ikut senang dan bahagia jika melihatmu selalu happy seperti ini, berbahagialah selalu sayang." Ujar Irgy dengan tersenyum hangat menatap puterinya itu.


"Terimakasih, pa. Aku sayang papa,"


Lalu mereka melanjutkan untuk menyantap sarapan pagi dengan hikmat. Beberapa saat kemudian terdengar suara klakson mobil dari luar, sontak Pelangi terkejut dan kikuk. Dia hafal betul, itu suara klakson mobil milik Joe.


Aku dan Irgy mengernyit, tidak seperti biasanya sikap Fanny berubah kikuk setelah mendengar suara klakson mobil yang entah itu siapa. Pikirku dalam hati. Lalu dengan cepat bibi asisten berjalan setengah berlari menuju keluar rumah untuk melihat siapa yang datang.


Uugh.. Dasar konyol, Joe. Kau gila, sepagi ini sudah datang menjemputku? Apa-apaan sih.. Haduh, pasti mama dan papa bakal tambah curiga nih. Aaaakh, aku kan malu. Aku belum siap mengakui Joe sebagai pacarku saat ini di hadapan mama dan papa.


"Maaf, nona Pelangi. Ditunggu nak Joe di teras," Ucap bibi asisten kepada Pelangi. Dan aku sudah semakin bisa menangkap sesuatu hal yang berbeda, Pelangi kian semakin gusar dan salah tingkah.


"Oh ya, suruh masuk aja Bi. Bilang saja kami sedang sarapan," Jawab Irgy memberikan titah.


"Ah, baik tuan. Sebentar saya panggilkan."


Aaarght.. tuh kan, sial. Bakal mati kutu nih aku di kerjain mulu sama Joe.


Aku melempar senyuman nakal untuk menggoda Pelangi sembari melirik Irgy dengan kedipan mata tanpa sepengetahuan Pelangi. Irgy terlihat kebingungan, huh.. Dia memang selalu terlambat memahami.


Tak berapa lama kemudian, Joe datang menyapa dan memberi salam dengan santun kepada kami.


"Pagi om, tante. Maaf sudah mengganggu waktu sarapan kalian."


"Kemari, duduk lah Joe." Sapa Irgy kemudian.


"Halo, kakak tampan. Ayo kak, duduk disini." Si kembar pun menyapanya dengan hangat dan ramah.


"Hai, kalian. Lama tidak berjumpa ya, kalian makin pintar." Balas Joe sembari melangkah dan duduk tepat di sisi Pelangi. Sungguh puteri ku kian terlihat salah tingkah dan wajahnya berwarna merah jambu.


"Pelangi, kenapa diam saja Nak? Sapa dong, Joe. Tumben ah, atau.. Kalian tidak lagi berantem kan?" Aku mencoba menggoda mereka dengan pura-pura tidak mengerti bahasa tubuh mereka.


"Enggak kok, tante. Kita baik-baik saja, Justru malah lebih ba-ik. Hehe," Jawab Joe mendahului dengan suara lantang namun terdengar gugup. Rasanya aku sudah ingin tertawa lepas melihat tingkah mereka, ya ampun.. Gemas sekali. Aku hanya bisa menertawai mereka di dalam hati saja.


"Iya kan, say.. Eh, Langi."


Pelangi melototi Joe setelah mendengarnya hampir saja memanggilnya dengan sebutan yang mudah ku tebak.


"Hehe, ampun." Ujar Joe kembali dengan tersenyum nyengir.


"Sayang, sudah. Jangan menggoda mereka terus, biarkan Joe menikmati sarapannya dulu." Lagi-lagi Irgy menyela.


Setelah itu kami mulai melanjutkan sarapan kami kembali, di penghujung kami akan segera mengakhiri sarapan pagi, Irgy mengambil alih untuk memulai perbincangan.


"Joe, bagaimana di sekolah Pelangi? Apakah banyak cewek cantik? Haha, sejak awal om belum pernah bertanya kesan pertamamu di sekolah Pelangi."


"Cantik-cantik om, hehe. Namanya juga cewek kan, iya gak Tan?" Sahut Joe dengan melempar tanya pada ku. Pelangi meliriknya dengan tajam, Joe membalasnya dengan menyembikkan bibirnya.


"Hahaha, maksud om bukan seperti itu. Ehm, apakah kau memiliki pacar?"


Kau memang cerdik, suamiku. Diam-diam kau juga memperhatikan tingkah mereka sejak tadi bukan?


"Pa,pacar? Hahaha. Dih, om Irgy. Memangnya boleh om, pacaran?"


"Ya, gapapa dong. Asal pacarannya sehat, lebih bagusnya lagi jika berniat untuk saling mensuport satu sama lain. Berlomba-lomba untuk mendapat nilai yang bagus,"


"Siap om, itu sudah pasti akan Joe lakukan nantinya. Upz,"


"Hahaha, kau dengar itu suami ku? Dia berkata demikian, itu berarti dia sudah memiliki pacar di sekolah Pelangi. Hemm, apakah dia cantik Nak?" Tanya ku sembari melirik Pelangi yang berpura-pura menyantap sarapannya.


"Sangat tante, cuma.. Dia sedikit galak dan selalu melakulan hal yang bodoh, hehe."


"Uhuk, uhuk, uhuk.. Joe, kau menyebalkan. Siapa yang galak dan bodoh hah?"


"Pfffttt... Bukan aku yang mengakuinya lebih dulu, Langi. Tapi kau... hihihi,"


Sontak Pelangi mematung setelah menyadari apa yang baru saja di katakannya di hadapan kami. Tanpa ia sadari, ia mengakui bahwa Dia lah pacar yang di maksud oleh Joe sejak tadi. Ini membuatku geli, namun juga terasa ada hal yang sesak di dada ku.


Ya, dia.. Puteriku satu-satunya, yang pada akhirnya melabuhkan cinta nya pada Joe. Anak dari teman sekaligus sahabatku saat ini, Abel. Tapi jujur, aku masih ingin sekali memastikan apakah Joe sungguh bukan darah daging Ammar???


Oh, tidak. Semoga saja bukan Tuhan...