Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 226



Dan pada akhirnya, Pelangi memilih untuk pergi menemui Exelle dan teman-temannya di kantin. Agar mereka segera pergi sebelum membuat keributan lain, sebelum Joe menemuinya dan membuat suatu perkara. Akan semakin rumit tentunya, begitu gumam Pelangi dalam hatinya.


"Bro..." Panggil salah satu teman Exelle dengan gelagapan setelah melihat Pelangi berjalan ke arah mereka. Dengan tersenyum lebar Exelle berdiri menyambut Pelangi yang kemudian di kawal oleh Jeni dan Lisa.


"Hai, cewek galak. Haha, lihat. Aku beneran datang kan, ke sekolah mu ini."


"Lalu apa? Kau mau pamer jika sudah berhasil mengusikku?"


"Oh, jadi mulai terusik nih? Bagus lah. Aku jadi punya kesempatan banyak masuk ke dalam hatimu nantinya,"


Pelangi menatapnya dengan kedua mata melotot tajam. Dia kian tersenyum puas dan merasa menang menggoda Pelangi kembali.


"My God, dosa apa sih Princess cold kita.. Bisa bertemu dengan cowok gila seperti dia?" Bisik Lisa pada Jeni.


"Gue jadi pengen hajar dia lagi, Sa."


"Tunggu aba-aba Jen, ingat.. Ini sekolah kita, jangan sampai mereka lebih nekat menyebar fitnah sekolah kita jadi buruk nama nantinya."


"Gue gak tahan, Sa."


"Tolong, aku lagi malas berdebat. Bisakah kau pergi sekarang dari sekolah ini?"


"Wow, kau mengusirku?"


"Kau bahkan memakai seragam dari sekolah lain ke tempat ini, apa kau sungguh menantang kami disini?"


"Ok, fine! Aku akan pergi, dengan stu syarat."


"Hei, kau..." Jen mulai meneriakinya. Menguarkan jari telunjuknya hingga hampir mengenai kedua mata Exelle.


"Wo wo wow. Berani lu nyentuh bos kami, nyesel lu."


Bantah salah satu teman Exelle yang sedang berdiri di sisi kanannya.


"Ups, sory. Aku tidak ada urusan dengan kalian kecuali si cewek galak ini. Dan aku akan pergi dari sekolah ini sekarang juga asal kau mau menerima panggilan telepon ku setiap saat. Mudah kan?"


Gila!!! Apa dia sungguh segila ini.. Oh Tuhan, aku ingin menjadikannya menu sarapan pagi ku saja.


"Langi!" Panggil Joe dari arah belakang. Terdengar suara langkah kaki Lucas yang sangat jelas sedang mengejarnya.


Aaaaarght... Sial!!! Akhirnya Joe datang kan, duuuh bagaimana ini???


"****** kita, Jen." Bisik Lisa dengan suara lirih.


"Ini bagus, Sa. Jadi gue bisa bantuin Joe menghajar mereka semua." Ucap Jeni dengan menggertakkan giginya.


Exelle mengerutkan kedua alisnya melihat sosok Joe datang menghampiri Pelangi lalu melempar senyuman hangat. Tampak Pelangi kikuk dan salah tingkah, Exelle sedikit menyeringai menyaksikannya.


"Joe, eehm.. Itu, aku.."


"Oh, jadi dia pacarmu? Heh, bukan saingan berat sih."


Joe melempar tatapan tajamnya pada Exelle setelah mendengar ucapan barusan. Dengan tanggap Joe berpikir bahwa Exelle adalah cowok yang di ceritakan oleh Pelangi saat di mall kemarin.


"Ooh, jadi dia yang kalian ceritakan di mall kemarin? sampai nekat datang ke sekolah ini? Cari mati!!!"


"Woah, kata-kata yang manis. Eh cewek galak, apa kau yakin dia pacar mu? Kasar dan tidak sopan."


"Mau lu apa, hah?" Joe mulai mendorong keras tubuh Exelle. Membuatnya sedikit terhuyung, dengan kesal kedua teman Exelle mencoba melawan Joe.


"Stop!!!" Titah Exelle menghentikan aksi kedua temannya.


"Tapi bos, dia sudah kasar."


"Ah, ayo lah. Ini bukan wilayah kita, lagi pula jangan mengotori tangan kalian. Tujuan kita kesini bukan mencari masalah dengan dia, tapi dengan... Calon pacar ku, si cewek galak itu." Ujar Exelle dengan lantang, membalas tatapan Joe seolah menantangnya.


"Daebak!!! Jen, perang dunia dimulai." Ucap Lisa mendecak cemas, kaki nya tiada henti menari-nari bak kuda di atas lantai.


"Apa, lu bilang? Coba katakan sekali lagi." Joe semakin murka, dengan menarik kerah baju seragam sekolah Exelle dengan kedua tangannya. Suasana semakin ricuh, para siswa siswi mulai membuat lingkaran untuk menyaksikan mereka.


"Joe, jangan nekat. Ini di sekolah," Ujar Pelangi kemudian, berusaha menahan amarah pacar nya yang lepas kontrol.


Joe mencengkram kedua kerah baju Exelle dengan sangat kuat, sementara Exelle melempar senyuman sinis menatap Joe tanpa memberikan perlawanan. Lalu Pelangi mencoba melepaskan cengkraman tangan Joe dari Exelle, perlahan mulai melemah dan mendorong kembali tubuh Exelle dengan kasar.


"Joe, ayo kita ke kelas saja. Biarkan yang lain melaporkan mereka pada guru, jangan terancing emosi dengan orang gila sepertinya."


Joe menarik nafasnya dalam-dalam dan mengangguk tanda setuju, sejenak melempar kembali tatapan tajam ke arah Exelle dan memberikan isyarat mengancam dengan mengeluarkan jari teluntuknya sejajar dengan jari jempol.


"Cih, hai cewek galak. Dan kalian semua disini, ingat ya. Aku akan menjadikan mu milikku, kau akan menjadi pacar ku cewek galak!!!"


Mendengar hal itu, Joe yang kini melangkah sedikit jauh beriringan dengan Pelangi kembali menoleh ke belakang dan melangkah maju lebih cepat dengan menghuyungkan sebuah tinjuan tepat mengenai pelipis mata Exelle. Terjadilah baku hantam diantara mereka tanpa mempedulikan sekitarnya.


Dengan kesal Pelangi meraih segelas air dingin yang dimintanya pada penjaga kantin, kemudian digunakannya untuk menyiram mereka yang kini saling bergumul seperti dua ekor kucing yang beradu kekuatan.


"Hah.."


Seketika mereka terhenti dan beranjak bangun setelah merasakan sesuatu yang dingin membasahi mereka. Joe dan Exelle melihat ke arah Pelangi bersamaan, lalu mengusap wajah mereka yang kini sudah basah oleh cipratan air.


"Kalian sudah selesai?"


"Ikut aku, ayo."


"Aku belum puas memberinya peringatan agar dia tidak sungguh-sungguh merebutmu."


"Joe!!! Ikut aku. Apa kau dengar?"


Joe tidak bisa lagi membantah melihat ekspresi wajah Pelangi berubah merah padam. Dia menurut dengan meraih tangan Pelangi untuk di genggamnya.


"Dan kau, ini terakhir kalinya kau membuat masalah baru di sekolah kami." Pelangi melontarkan kata ancaman pada Exelle.


"Hah, kau pikir aku takut cewek galak. Pacar mu ini bukan masalah besar untuk ku, kau akan menjadi milikku nantinya." Jawab Exelle kembali dengan menekan nada bicaranya.


"Brengsek!!!" Joe mengumpat. Dengan erat Pelangi menggenggam tangan Joe agar tidak berulah kembali, kemudian menarik nya untuk berjalan mengikutinya yang hendak pergi ke ruang kesehatan.


"Cewek galak, aku tidak akan menyerah. Kita akan sering bertemu lagi nantinya, oke!!!" Teriak Exelle dari arah belakang. Pelangi terus berjalan menuntun tangan Joe agar terus menurutinya dari arah belakang.


Hingga sampai di ruang kesehatan. Pelangi segera meraih kotak obat dan membersihkan dahulu ujung bibir bawah Joe yang sedikit robek dan berdarah. Di pelipis matanya pun mulai tampak lebam, Pelangi mengoleskan sedikit salep untuk meringankan sakitnya.


"Aw!!!" Joe sedikit merintih.


"Jangan manja. Aku sudah melakukannya dengan sangat pelan dan hati-hati." Ujar Pelangi yang masih mengoleskan salep di bagian luka pada wajah Joe.


Kini, tanpa mereka sadari wajah mereka berdua begitu dekat. Suasana diruang itu sepi, sesekali Pelangi meniup bekas luka di bibir Joe tadi. Wajah Joe berubah ekspresi, merah jambu. Dengan detak jantungnya yany terdengar tidak beraturan, dia mulai gelisah dan memalingkan tatapan matanya dari wajah Pelangi.


"Menjauhlah sedikit." Ujar Joe dengan suara lirih.


Pelangi mengernyit, mulai bertanya-tanya apakah Joe marah dengan kedatangan Exelle di sekolah itu saat ini. Pelangi mencoba menepis pikiran itu, dan masih enggan menjauhkan wajahnya dari hadapan Joe yang begitu dekat.


"Kau marah padaku, Joe?" Pelangi mulai bersuara pelan.


"Tidak, untuk apa?"


"Kau pasti marah bukan?"


"Tidak!!!" Bantah Joe dengan singkat, dengan wajah yang masih berpaling dari wajah Pelangi.


"Jika tidak kenapa kau membuang wajahmu begitu, hah?"


"Aku.. Aku hanya... Hah, pergilah lebih dulu ke kelas." Titahnya.


Dengan lembut Pelangi menyentuh kedua pipi Joe untuk dihadapkannya kembali pada nya. Joe menurut meski detak jantungnya kini kian membludak ingin meledak saja.


"Kau percaya pada ku kan, Joe? Bukan aku yang memberitahu dimana alamat sekolah kita ini. Aku tidak pernah menanggapinya sejak awal. Meski dia selalu menelepon ku semalaman."


".........."


Joe masih terdiam, mencoba menetralisir dan menormalkan kembali detak jantungnya yang sejal tadi melakukan demo aksi di dalam. Kemudian perlahan melepaskan kedua tangan Pelangi yang menyentuh pipinya.


"Aku percaya, Langi. Kau tidak mungkin semudah itu, terlebih kau baru mengenalnya. Maafkan aku, maafkan sikap kekanakan ku tadi yang telah menghajarnya di hadapan teman-teman."


"Gapapa, Joe. Aku memahaminya, tapi lain kali tolong kontrol emosimu. Kendalikan amarahmu, aku tidak ingin kau terluka seperti ini nantinya. Wajah tampan mu jadi terlihat jelek, huh." Pelangi mencoba menggoda Joe untuk menghiburnya agar tersenyum kembali.


"Sungguh? Apakah wajah tampan ku jelek saat ini, aakh..." Joe merintih memegangi bekas luka di bibirnya.


"Joe, pelan-pelan saja. Jangan banyak bicara, dasar kau. Sini ku tiup," Dengan cepat Pelangi menyentuh luka di bibir Joe dan meniupnya dengan pelan.


Bathin Joe bergumam...


Tuhan, maafkan aku. Izinkan aku untuk menyentuh kembali kekasihku yang polos ini, tolong jangan menghukumku ya. Pliss, dia sungguh menggemaskan.


Dengan cepat Joe menarik leher Pelangi kemudian mengecup bibirnya. Pelangi terhentak dan membelalakkan kedua matanya setelah Joe mengecup bibirnya. Detak jantungnya seakan terhenti sejenak, dengan cepat dia mendorong tubuh Joe.


"Joe..."


Kemudian Pelangi menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Tatapannya sayu, dia sedang menahan rasa malu dan salah tingkah.


"Oh Tuhan. Langi, maafkan aku." Joe menjambak rambutnya kemudian berbalik badan membelakangi Pelangi. Ia merasa takut dan juga malu, ia cemas jika Pelangi akan menamparnya saat ini.


"Kau nakal, kau sudah dua kali mencuri ciuman ku diam-diam Joe." Ujar Pelangi dengan suara yang begitu lembut.


"Maafkan aku, Langi. Aku, aku hanya.. Aaarght, sulit di jelaskannya. Tapi jujur, berciuman dengan pacar sendiri itu wajar bukan? Apakah harus izin dulu? Lagian, barusan aku kita tidak sedang berciuman. Itu hanya kecupan singkat,"


"Bagiku itu ciuman, dan kau harus izin dulu." Pelangi mulai menekuk wajahnya meski masih terlihat jelas memerah di kedua pipinya.


"Itu bukan ciuman, itu hanya kecupan singkat. Ya ampun, dasar bodoh."


"Apa? Kau baru saja mencuri ciuman ku, lalu masih mengataiku bodoh?"


"Kau memang bodoh, itu bukan ciuman. Titik!!! Ehm... Apa perlu ku contohkan ciuman itu seperti apa, hah?"


Pelangi berdiri dari posisi duduknya di hadapan Joe, dia berusaha menghindar dan sedikit kikuk serta salah tingkah mendengar ucapan Joe yang terdengar mengancamnya.


"Hahaha, astaga. Aku tidak akan melakukannya disini sekarang, lagipula bibir ku masih luka. Hahaha," Joe berdiri kemudian dan dengan sengaja menggoda kekasihnya itu.


"Joe, kau menyebalkan." Pelangi beranjak pergi lebih dulu, meninggalkan Joe di ruang kesehatan yang menertawakannya tanpa henti.


Iiih, Joe. Cowok mesum, ciuman ya ciuman. Lalu apa bedanya lagi? Dia sudah dua kali mencuri ciuman bibir ku tanpa izin dulu. Membuatku malu saja, jantung ku hampir copot. Aaaaarght... Perasaan apa ini, berisik sekali di dalam sana. Tapi hatimu bagai berbunga-bunga...