Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 203



Tiba di pantai, terlihat sedikit ramai di tepi nya. Mungkin karena ini weekend, sejak tadi Pelangi dan Joe selalu ribut seperti anak kecil yang rebutan permen. Saat kecil mereka terlihat manis dan akur, saat mereka tumbuh remaja kenapa justru seperti tikus dan kucing???


"Ayo, Ma. Kita duduk disana aja, lumayan tempatnya agak sepi. Disini ramai banget,"


"Hemm, ayo." Jawab ku menanggapi ajakan Pelangi. Kevin dan Joe menurut dari belakang tanpa kata.


"Woah, benar kata Lisa. Pantai ini memang sangat indah, kita bisa menikmati sunset secara dekat. Saatnya abadikan moment ini, yeay." Ujar Pelangi dengan riang setelah menyeru akan keindahan pantai disini.


Kemudian Pelangi merogoh kamera ponsel nya untuk mengambil foto wajahnya yang di ekspresikan se cute mungkin, semanis mungkin. Sesekali dia mengajak ku selfie, bergantian dengan Kevin dan terakhir...


"Aku juga dong, Langi." Pinta Joe pada Pelangi setelah sejak tadi dia hanya menyaksikan saja.


"Ih, bayar dulu dong foto bareng cewek cantik. Hehe," jawab Pelangi menggodanya.


"Wah, tante. Pelangi mulai matre tuh,"


"Pelangi, sudah. Ayo foto dengan kakak Tama, kemarikan kamera mu Nak." Jawab ku sembari meraih kamera traveling milik Joe.


"Yes, makasih tante.." Ujar Joe dengan tersenyum puas.


Setelah puas mengambil foto mereka dengan berbagai gaya di balik hadirnya sunset sore ini, kemudian Joe mengajak Pelangi untuk berpindah posisi untuk mengabadikan setiap moment keindahan pantai disini. Mereka berada sedikit lebih jauh dari ku, yang kini di temani Kevin. Kami duduk sedikit berjauhan, karena sepertinya Kevin menjaga jarak kami.


"Fanny, setiap weekend apakah selalu sendiri dirumah?" Tanya Kevin memulai perbincangan lebih dulu.


"Oh, ehm.. Tidak, kebetulan Irgy harus keluar kota dan si kembar di jemput oleh mertua ku sabtu malam kemarin. Jadi, aku hanya berdua saja dengan Pelangi. Biasanya kami berlima selalu pergi ke suatu tempat untuk menemani si kembar bermain sampai puas."


Aku sedikit canggung Kevin masih saja sama seperti dulu ketika kami berbicara. Dia menatap ku tanpa berkedip sedikitpun lalu melempar senyumannya yang manis.


"Betapa bahagianya jika aku bisa pergi weekend bersama anak-anak ku yang sesungguhnya." Ia kemudian berucap dengan nada serius menatap lepas ke tengah lautan. Ini membuatku sedih, dia orang yang baik. Tapi kenapa Tuhan mengujinya seperti ini.


"E,eh.. Vin, bersabarlah. Tidak akan ada kata terlambat jika Tuhan sudah memberikan keajaibannya. Semoga kelak kau dan Nia bisa merasakan menjadi sosok orang tua yang sebenarnya."


"Huhft... Ya, semoga saja Fanny. Jadi bagaimana rencana Peri kecilku ke depannya? Dia tetap bersikeras ingin menjadi dokter bukan?"


"Heem, padahal aku ingin dia meneruskan cita-citaku menjadi seorang guru. Tapi dia menolak nya,"


"Aku tidak setuju jika dia menjadi seorang guru seperti mu dulu."


Aku mengernyit mendengar jawabannya demikian. Tampak terdengar begitu tegas di telinga ku.


"Itu hanya akan semakin membuatku mengingat mu di masa lalu dengan Ammar."


"Vin..." Panggilku sedikit meneriakinya.


"Fanny, walau bagaimanapun aku sudah menganggap Pelangi seperti puteri kandung ku. Sungguh betapa aku sangat takut saat dia tumbuh dewasa nanti akan terjebak di lingkaran seperti masa lalu mu."


"Tidak, Vin. Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi."


"Lalu bagaimana dengan sosok Lucky yang sudah dia tanam di hati kecilnya?"


"Itu hanya perasaan anak kecil yang belum mengerti apa-apa, Vin."


"Jangan terlalu menakannya, Fanny. Pelan-pelan saja, aku pun akan tetap mengawasinya nanti. Walaupun, aku tidak akan selalu di sisinya."


"Maksud mu?"


"Hem, ya. Lusa aku harus segera kembali ke Dubai, masa cuti ku di kantor sudah habis." Jawab nya dengan tersenyum kembali menatap hangat padaku.


Ada rasa sedih saat dia berkata akan kembali ke luar negeri.


"Pelangi pasti sedih mendengar hal ini," Jawab ku lirih menundukkan wajah.


"Hmm... Mungkin dia akan sedih, tapi penawarnya sudah dia genggam." Balas Kevin sembari menengadahkan dagunya seolah menunjuk ke suatu tempat. Aku mengerti dan menoleh ke arah yang dia maksud.


Dari kejauhan ku lihat Pelangi dan Joe saling berkejaran berlarian seperti sepasang kekasih, mereka sangat manis. Aku dibuat tersenyum oleh mereka berdua, oh puteri ku..


"Sangat manis. Mereka seolah mengingatkan masa lalu kita dulu, kau ingat saat di pantai waktu itu Fanny? Kau hanya duduk melamun ketika kau baru saja putus dari..."


"Jangan sebut namanya lagi, Vin. Bukan kah saat itu kau juga yang berhasil mengobati hati ku?"


Seketika kami saling menatap satu sama lain, wajah merona menahan malu, canggung, salah tingkah, kikuk, tiba-tiba datang menyerang.


"Hahahaha, apa-apaan sih kita ini?" Jawab ku mencoba mengalihkan meski dengan bibir gemetaran.


"Hahaha, ya. Kita sudah tua, bukan saatnya lagi bersikap labil seperti remaja. Hah, terimakasih Fanny. Kau masih bersedia menerimaku sebagai teman, setelah apa yang sudah ku perbuat padamu di masa lalu."


"Tidak, Vin. Seharusnya aku yang berterimakasih, kau begitu baik. Kau luar biasa, aku tahu.. Dalam hatimu, cinta itu masih tersimpan." Jawab ku dengan suara lirih.


Ya tuhan, rasanya aku seperti tertangkap basah. Kenapa aku mengeluarkan kata seperti ini. Oh tidak !!!


Aku tidak berani menatap Kevin lagi, aaaaaaarght...


"Cih, ternyata diam-diam kau menguping pembicaraan ku dengan peri kecil saat di halaman atap malam itu. Iya bukan?"


"E,eh.. Ehm, ah.. Ti-tidak. Aku salah bicara, aku hanya menebak saja. Hahaha, konyol ya aku ini.." Jawaban ku mulai gagap.


"Kau tidak pernah berubah Fanny, kau masih saja kekanakan seperti itu perihal perasaan."


"Ih, apaan sih Vin? Jangan mulai deh."


Ku palingkan wajah ku dari hadapannya, yang sudah bisa ku pastikan jika dia menatapku dengan lekat saat ini.


"Cinta itu memang masih melekat, Fanny. Aku tidak tahu sampai kapan aku akan mampu menguburnya dan menggesernya dengan posisi Nia saat ini. Aku sudah berusaha, tapi tak sedikitpun aku berniat untuk merebutmu kembali dari Irgy. Biakan lah, cinta ini aku kemas cantik sebagai tanda kasih sayang untuk per kecilku, Pelangi. Dia akan menjadi pengobat semua nya, aku ingin dia tumbuh dengan baik, penuh kasih sayang dan cinta. Semampu ku, aku tidak akan pernah membiarkan hatinya tersakiti oleh siapapun nanti."


Jleb !!!


"Vin, aku..."


"Gapapa, Fanny. Aku tidak memintamu untuk memikirkan ku dalam hal ini, aku sudah terbiasa. Bahkan lebih bahagia rasanya, saat kita masih bisa saling bertatap muka seperti ini. Cinta yang sebenarnya tidak harus memaksa untuk kita miliki bukan?"


Lagi, dan lagi. Akh, sepertinya hanya dia yang jago membuat hatiku menangis. Tidak, aku harus menahan diri agar tidak menjatuhkan air mata ini di depannya lagi.


"Hey, astaga.. Aku membuat Nyonya Irgy menangis sore ini." Ucap nya kembali, membuatku menyadari jika air mata ku sungguh telah menetes.


"Aku, aku hanya.. Hah, kenapa Vin? Kenapa kau begitu mencintaiku? Apa yang membuatmu begitu mempertahankan cinta itu, sedangkan kini aku.. Tidak ada untungnya bersikap bodoh demikian, Vin. Jangan menyiksa dirimu, kita sudah tidak mungkin bersama. Aku tidak ingin selalu menjadi bayangan diantara kau dan Nia."


"Tidak ada yang menyalahkan mu, Fanny. Aku akan merasa sangat berdosa jika masih mengharapkan hubungan kita lebih dari ini, mencintai seseorang tidak perlu mengharap sesuatu yang menguntungkan untuk kita. Itu bukan cinta, melainkan ambisi dan ego. Lihat, aku bahagia hidup dengan Nia saat ini bukan?"


Aku terdiam, mencoba memberanikan diri menatap kedua matanya yang sendu. Di saat seperti ini dia masih melempar senyuman untuk meledekku yang mudah menangis di hadapannya.


"Kau menyebalkan, Vin."


"Haruskan aku memeluk mu lagi saat sedang menangis seperti itu?"


"Coba saja lakukan, jika kau berani menyentuhku lagi aku akan..."


Tanpa mendengarkan ucapan ku lagi untuk mengancamnya, Kevin sungguh menarikku dalam dekapannya. Dia begitu erat namun hangat memeluk tubuhku.


"Vin, lepaskan. Jangan gila, kita bukan sepasang kekasih lagi. Bagaimana jika ada yang melihatnya, Vin. Lepasin gak?"


"Hah, Fanny.. Fanny, aku sudah menganggapmu seperti adik ku sendiri. Berhentilah bersikap kekanakan dan cengeng seperti itu, kau sudah menjadi ibu dari tiga anak sekaligus. Aku ini kakak mu, sama seperti Rendy terhadapmu. Oleh sebab itu, aku ingin hubungan kita tetap baik dan selamanya selalu seperti ini. Jangan pedulikan cinta ku yang masih begitu dalam, aku sudah mengemasnya di tempat tertentu dan tidak akan pernah mengusikmu."


Perlahan aku melemahkan sikap ku yang sejak tadi meronta dengan keras. Aku sungguh takut terjadi hal lainnya yang tak ku inginkan. Namun sepertinya kali ini, sungguh sebuah pelukan dari nalurinya sebagai kakak terhadap adik nya.


"Berjanjilah, Vin. Kau tidak akan pernah menyakiti Nia, dia begitu sangat mencintaimu. Jangan pernah melukai dan mengecewakannya." Ucap ku dengan lirih dalam dekapan hangatnya.


"Hem, aku janji. Dan kau juga harus berjanji, berbahagialah selalu dengan Irgy. Tetaplah jadi wanita yang mengagumkan dan tangguh, tidak peduli apapun hal yang akan berusaha merusak kebahagiaan rumah tanggamu, suami, dan anak-anak mu. Kau harus berusaha mempertahankan apa yang sudah menjadi hak mu."


"Iya, aku berjanji. Terimakasih, Vin. Terimakasih dengan semua yang kau berikan ini, terimakasih selalu ada untuk ku dan keluarga ku. Khususnya Pelangi, sejak dia lahir kau sudah menemaninya di sisinya. Kau sungguh baik, Vin."


Perlahan Kevin melepaskan pelukannya dari tubuhku, lalu dia menatapku. Aku pun menatapnya dengan tatapan sendu, aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku selalu mati kutu di depannya, karena dia sungguh baik.


"Bolehkah aku jujur satu hal lagi, Fanny." Tanya nya di sela tatapannya yang begitu lekat padaku.


"Hem, ya? Katakan."


"Sepertinya kau harus lebih rutin lagi perawatan, kau sedikit mulai keriput. Kau harus tetap cantik agar papa nya anak-anak semakin mencintaimu."


Blushhh...


Mendengar nya menggodaku demikian aku ingin menjambak rambutnya.


"Aaaaaarght... Keviiiiin, kau sungguh keterlaluan."


Kevin tertawa lepas ketika aku meneriakinya, sesekali aku melempar pasir ke arah nya. Dia berusaha menutupi wajahnya. Kami saling tertawa ria, layaknya kakak beradik yang bermain tanpa ada yang mengganggunya.


🌻🌻🌻


Di tempat lain...


Joe tengah duduk di samping Pelangi yang sejak tadi duduk dengan terus melempar senyumannya ke arah sunset yang hendak menenggelamkan dirinya.


"Hei, apakah sebegitu senangnya menatap sunset itu?"


"Jujur ini pertama kalinya aku menatap sunset, Joe. Itu pun karena om Kevin yang mengajakku, katanya sunset itu sangat indah. Suasana senja lebih indah dari pada menatap langit malam yang di taburi cahaya bintang."


"Hemm... Emang benar. Kau saja yang terlalu asyik mengurung diri selama ini, kemana saja kau?"


"E,eh.. Semua ini juga karena mu, Joe. Kau tahu, saat kau meninggalkan ku begitu saja ke LN. Aku kesepian Joe, meski mama dan papa selalu ada untuk ku. Kau pergi begitu saja dengan tawa riang, kau bahagia untuk berpisah dengan ku dan tinggal di LN."


"Jadi itu yang kau pikirkan tentang ku selama ini, Langi?"


"Hem, kau pergi tanpa menoleh lagi. Tanpa menemuiku lagi, kau hanya memberitahu ku perpindahan mu ke LN melalui telepon."


"Huhft..."


"Apa, apa itu hah? Apa kau mengeluh kesal barusan, Joe?" Tanya Pelangi menatap dengan wajah cemberut ke arah Joe.


Kemudian Joe menyentuh kedua pipi Pelangi dengan telapak tangannya yang lembut dan hangat.


"Apa kau tahu, Langi. Butuh waktu begitu lama, saat aku baru pindah di LN. Agar bisa terbiasa hidup dengan lingkungan baru ku, dengan teman-teman baru ku, yang ku rindukan dan ku ingat hanya saat-saat bermain bersamamu."


"Cih, kau bohong. Kau bahkan tidak mengabari ku sekalipun."


"Saat kami tiba di LN, di bandara kami kecopetan. Ponsel dan beberapa aset kami di hilang, jadi aku benar-benar kehilangan kontak teman-teman di Indonesia. Saat papi dan mami bilang akan kembali ke Indonesia, aku sangat bahagia. Yang pertama ku pikirkan adalah kau, Langi."


"Dan kau masih sempat mengerjaiku." Jawab Pelangi menepis kedua tangan Joe yang menyentuh pipinya dengan hangat sejak tadi.


"Karena kau berubah, kau bukan Pelangi yang ku kenal saat kecil dulu. Kau tidak akan percaya berapa duit yang papi keluarkan untuk menyewa detektif demi mencari dimana kau bersekolah saat ini." Jawab Joe dengan lirih, ia menundukkan wajahnya mengingat kembali usaha kerasnya saat itu.


"Hahaha, dasar. Sekonyol itu kah???"


Pelangi tertawa keras mendengar ucapan Joe dengan nada serius sejak tadi. Kemudian Joe menatap Pelangi yang tertawa lepas, itu membuat Joe sangat bahagia melihat wanita yang ia kenal begitu dingin saat tiba di Indonesia. Namun kini kembali ceria seperti masa kecil dulu, yang selalu tertawa keras dan lepas tanpa beban saat di hadapan Joe.


Aku bahagia melihatmu kembali, dengan mudah tertawa lepas seperti itu, Langi.


Bathin Joe bergumam.